
Athos menghentikan motor yang dia naiki bersama Tasya di garasi rumahnya. Sebelum dia turun, dia membantu kekasihnya dahulu untuk turun, dengan memeganginya, dan melepaskan helm yang digunakan.
"Kau baik-baik saja?" tatap Athos setelah turun dari motor.
Tasya diam saja karena sejujurnya dia merasa malu kalau harus bertemu siapapun dengan lebam di matanya.
"Kau tidak perlu takut..."
"Aku terlihat jelek, Ato." potong Tasya. "Bahkan aku tidak suka melihat wajahku saat ini di cermin."
"Kau masih cantik seperti biasanya." ucap Athos dengan agak malu. "Tidak akan ada yang bilang kau jelek hanya karena lebam ini. Ayo masuk."
Tasya menundukkan kepalanya dan merasa sedih.
"Aku sangat malu padamu. Seharusnya aku tidak mempunyai tunangan seperti pria jahat itu, seharusnya aku bertunangan denganmu saja."
"Tenang saja, aku janji padamu. Dia tidak akan berani lagi menyentuhmu." jawab Athos. "Tunggu sebentar!!"
Athos mencari-cari sesuatu di saku bajunya dan saku celananya. Tasya memperhatikannya.
"Apa yang kau cari?" tanya Tasya.
Athos mengeluarkan tangannya dengan membuat bentuk hati dari jarinya 🫰 dan menatap Tasya dengan wajah malu.
Tasya tersenyum dan langsung memeluk Athos.
Siapa sangka, ternyata kedua kembarannya bersama Melody dan Anna menonton mereka dari jendela dalam rumah.
"Astaga, aku benar-benar malu memiliki kembaran sepertinya. Dia memakai cara kuno seperti itu." ucap Prothos melihat kelakuan Athos.
"Sangat menjijikkan caranya." tambah Aramis.
Anna dan Melody hanya tersenyum melihat pasangan itu.
"Kalian sedang apa?" seru ayah yang datang.
Mereka berempat terkejut. Ayah langsung berjalan keluar melihat apa yang mereka berempat lihat. Dan ternyata anak tertuanya sedang memeluk gadis di depan rumahnya.
Ayah berdehem.
Tasya langsung melepaskan Athos.
"Jangan bermesraan di depan rumah!!" seru ayah.
"Kalau di dalam rumah, apa boleh, ayah?" tanya Tasya mulai melupakan lebam yang ada di wajahnya.
Ayah memperhatikan Tasya dan menatap Athos, anaknya itu hanya berjalan masuk melewatinya.
"Jarang sekali ayah ada di rumah. Aku datang tidak membawa apapun." ucap Tasya. "Ayo masuk ayah."
Tasya malah merangkul lengan ayah kekasihnya dan berjalan masuk ke rumah.
Si keempat pengintip sudah di posisinya masing-masing di kursi meja makan. Mereka menatap Tasya yang masuk. Ayah langsung masuk ke kamarnya.
Prothos menatap Athos dengan maksud mempertanyakan lebam di wajah Tasya, Athos yang sedang minum di depan kulkas hanya mengedipkan matanya.
"Tasya, ya ampun... siapa yang berani melakukan itu padamu?" tanya Anna menghampiri Tasya melihat lebamnya. "Katakan padaku, biar aku hajar orang itu!!"
"Pasti sakit sekali ya, kak?" tanya Melody yang menoleh dari tempat duduknya yang memunggungi Tasya berdiri.
Tasya hanya tersenyum menjawabnya.
"Ada yang memukul kak Tasya?" tanya Melody lagi. "Kak Ato tidak berbuat sesuatu?" Melody melihat ke Athos.
"Tenang saja, kakakmu sudah menghajarnya habis-habisan dan hampir mematahkan tangannya." ujar Tasya pada Melody.
"Hampir?" ucap Aramis. "Seharusnya kau mematahkannya sekalian!! Kau bilang kau tidak suka hal yang setengah-setengah."
"Ya, aku setuju padamu, Ars." tambah Anna.
Athos tidak menanggapi dan naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya, diikuti oleh Prothos.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Prothos duduk di kursi meja belajar. "Siapa yang melakukannya?"
"Pecundang itu yang melakukannya." jawab Athos membuka bajunya dan duduk di sisi tempat tidur. "Tunangan Tasya."
Athos membuang napasnya.
"Apa semuanya aman?" tatap Prothos pada Athos yang memasang wajah kesal karena mengingat Dion.
"Aku rasa begitu." jawab Athos sambil mengambil kaos di lemari dan memakainya.
"Apa menurutmu aku tidak tega melakukannya setelah dia memukul pacarku?" tatap Athos kesal sambil duduk di posisinya tadi di sisi tempat tidur. "Tasya, menghentikan aku. Ya, untung saja dia menghentikan aku. Kalau tidak aku pasti sudah memukulinya sampai mati."
"Kali ini kau juga minta bantuan Lion kan?" tanya Prothos.
Athos mengangguk.
"Si pecundang itu tidak punya bukti jika ingin menuntutku atas penyerangan. Lion sudah mengurus semuanya." ujar Athos.
"Apa tidak seharusnya kau tidak terlalu mempercayai Lion?" tanya Prothos lagi.
"Bukan aku yang terlalu mempercayainya, tapi kau yang terlalu curiga pada Lion, Oto." jawab Athos. "Lion tidak akan pernah mengkhianati kita. Aku yakin sekali dengan itu."
"Bagaimana menurutmu, Ars? Lion itu sahabatmu apa kau mempercayainya?" Prothos menoleh pada Aramis yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aku rasa si bodoh itu tidak akan berkhianat." jawab Aramis duduk di sisi tempat tidur yang menghadap pintu masuk. "Dan lagi, keputusan untuk mempercayainya itu adalah pilihan kita dan urusan dia berkhianat atau tidak, itu haknya."
"Aku setuju dengan ucapanmu." tambah Athos.
"Tumben sekali kalian satu suara." gumam Prothos.
Athos menjatuhkan diri di tempat tidur dan membuang napas lagi.
"Karena sudah lama tidak menghajar orang seperti tadi, sekarang tangan dan badanku terasa sakit."
Aramis tertawa dan ikut merebahkan tubuhnya juga ke tempat tidur Athos.
"Kalian benar-benar saudara kembar." ujar Prothos berdiri hendak keluar.
Namun tanpa diduga olehnya, kedua kembarannya menariknya hingga dia ikut tertidur di tempat tidur di antara mereka berdua.
"Kalian berdua ini seperti anak kecil." ujar Prothos duduk.
"Kau yang terlalu bersikap seperti orang dewasa." seru Athos.
Prothos kembali berbaring.
"Sudah lama kita tidak bersantai bersama seperti ini." ujar Aramis.
"Ingat ya, kalian berdua jangan merahasiakan apapun padaku!!" seru Prothos. "Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu."
"Memangnya kau tidak?" balas Athos dan Aramis bersamaan.
"Aku rasa tidak ada yang aku sembunyikan pada kalian." jawab Prothos. "Hanya saja aku menunggu waktu yang tepat saat mengatakannya."
"Benarkah? Mengenai apa?"
"Kau dengarkan, kalau aku menunggu waktu yang tepat?" sela Prothos pada Athos. "Terutama kau, Ato, jangan menanggung semuanya sendiri, dan kau Ars, aku rasa aku dan Ato akan mempercayaimu."
"Astaga, sepertinya kecerewetan ayah menurun padamu, Oto." kata Aramis menoleh pada Prothos.
"Di antara kita bertiga, memang kau yang paling cerewet." tambah Athos tertawa. "Kalau para wanita tahu mereka pasti tidak akan menyukai wajah tampanmu lagi."
Prothos ikut tertawa mendengar ucapan Athos.
Sejenak mereka hening dan menikmati waktu kebersamaan mereka.
"Kalian bertiga sedang apa?" tanya ayah yang membuka pintu dan melihat ketiga anaknya bersikap aneh.
"Jangan ganggu kami!!" seru mereka bertiga bersamaan.
Ayah kembali menutup pintu dan pergi.
Tidak berapa lama Melody masuk ke kamar dimana ketiga kakak kembarnya sedang menghabiskan waktu bersama.
"Kalian sedang apa?" tanya Melody aneh melihat kakak-kakaknya. "Ayah memintaku bilang pada kalian untuk segera ke café. Kata ayah, kalian sedang kerasukan. Ayah takut kalian mengeroyoknya makanya memintaku yang mengatakannya pada kalian."
Melody berjalan masuk karena tidak ada respon dari ketiga kakaknya.
"Kalian bertiga baik-baik saja 'kan?" tanya Melody menatap satu per satu kakaknya. "Sepertinya aku harus memanggil paman agar kalian diperiksa."
...----------------...
ATHOS
Visual Model :
Kim Young-dae