MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Masalah Baru



Beberapa minggu kemudian...


Semua berjalan dengan seperti biasanya. Tak ada sesuatu yang terjadi dan itu justru adalah hal baik bagi siapapun. Hubungan diantara ketiga Musketeers bersama para kekasihnya juga semakin dekat dengan cara mereka masing-masing.


Tapi tidak dengan Melody dan Lion, mereka masih saja seperti biasanya dekat namun masih sering membuat kesal satu sama lain.


Café sudah membuka dua cabang lainnya sehingga saat ini memiliki empat café yang berada di kota mereka tinggal dan kota sebelah yang tidak jauh. Mereka juga sudah memiliki belasan karyawan sehingga ketiga Musketeers jarang ke café.


Semua itu berkat kerja keras Athos yang selalu bekerja tanpa pernah istirahat. Dia memiliki tujuan yang harus dia capai secepat mungkin karena itu dia tidak akan berhenti sebelum tujuannya tersebut tercapai.


Athos selesai membuat sarapan di pagi hari, Prothos sudah duduk di meja makan sambil menyeruput susu yang dibuatkan Athos, sambil membaca buku pelajarannya.


Athos duduk di kursi di depan Prothos dan melihat kembarannya tersebut karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.


"Katakan saja!!" seru Prothos yang sadar kalau Athos menatapnya. "Ada apa?" tatap Prothos meletakan bukunya dan membenarkan kacamata yang dipakainya, kacamata pemberian Widia dulu.


Saat ini kemanapun Prothos memakai kacamata tersebut untuk mengingatkannya agar tidak menebar pesona lagi dengan tersenyum kepada siapapun.


"Pinjami aku uang." jawab Athos.


"Apa?" ujar Prothos terkejut karena tidak biasanya Athos meminjam uang padanya. "Kau tidak bercanda kan? Untuk apa kau meminjam uangku? Bukannya kau punya banyak tabungan?"


"Aku memberi Tasya hadiah sebulan yang lalu, laptopku bermasalah sepertinya aku sudah harus beli baru." ucap Athos sedikit malu.


"Kau memberi Tasya hadiah apa sampai menghabiskan tabunganmu?"


"Pinjami saja, aku masih butuh sepuluh juta untuk membeli laptop baru."


"Aku tidak punya sebanyak itu." tatap Prothos. "Minta saja uang pada ayah, atau kau pakai uang hasil pendapatan café."


"Tidak! Ayah tidak boleh tahu kalau aku menguras semua tabunganku." jawab Athos. "Ini urusan pribadi, aku tidak akan memakai uang café."


"Apa yang kau berikan pada Tasya?"


Athos menggeleng.


"Setidaknya aku harus memberinya sesuatu yang mendekati dengan harga jam tangan itu. Ya, meskipun harganya masih sangat jauh." jawab Athos.


"Apa aku harus mengembalikan jam tangan itu?"


"Tasya pasti akan marah kalau kau melakukannya." jawab Athos menyeruput kopinya. "Uangku juga terpakai untuk project yang sedang aku siapkan."


"Aku hanya bisa meminjamimu lima juta. Aku akan bilang Ars untuk sisanya."


"Ada apa?" tanya Aramis yang tiba-tiba masuk ke rumah. "Kau butuh uang?" tatap Aramis yang duduk di sebelah Prothos.


Seperti biasa Aramis habis menginap di rumah Lion, semalaman bermain games atau menonton pertandingan sepak bola.


"Apa kau punya?" tanya Athos.


"Aku akan kirim ke rekeningmu." jawab Aramis membuka handphone-nya. "Sudah aku kirim."


Athos mengecek saldo di rekeningnya dan langsung beranjak dari duduknya mendekati Aramis. Athos langsung memeluk kembarannya tersebut.


"Aku sangat menyayangimu, Ars." ucap Athos memeluk Aramis walau Aramis mencoba mendorongnya.


Prothos langsung mengambil handphone Athos yang ada di atas meja, dan melihat jumlah yang dikirim Aramis. Dua puluh juta.


"Tidak aku sangka kau punya tabungan sebanyak itu, Ars." ujar Prothos.


"Kemarin aku menjual jam tangan hadiah dari Tasya. Sebagai ucapan terimakasih makanya aku berikan dua puluh persen padamu, Ato." jawab Aramis.


Athos langsung memukul kepala Aramis karena kesal dengan jawabannya. Sedangkan Prothos hanya menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan mereka berdua.


...***...


Di sekolah, ketika bel masuk belum berbunyi Lion menidurkan kepalanya ke atas meja. Dia mengeluh pada Melody dengan meracau kalau badannya terasa pegal semua. Melody yang duduk di sebelah kanannya tidak menghiraukannya dengan duduk sambil sibuk dengan handphone-nya.


"Kau mendengarku tidak, Melon?" tanya Lion melihat Melody dengan kepala masih berada di atas meja. "Kenapa kau tidak menjawab?"


Melody meletakkan handphone-nya dengan kesal, namun tetap tidak meresponnya. Melody hanya memandang keluar jendela. Dia melihat kakaknya Aramis hendak berjalan keluar pagar sekolah dan dihentikan oleh Anna.


"Aku bukan ibumu!!" seru Melody kesal. "Jelas saja badanmu pegal semua, setiap malam kau selalu kelayapan naik motor dan pulang pagi. Jangan mengeluh untuk tindakan bodohmu sendiri. Kau selalu pergi setiap kali temanmu menghubungimu!! Diamlah!!"


Lion hanya memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Melody.


Drrtt drrrttt


Handphone Lion berbunyi, dan membuat Melody jadi semakin kesal karena tahu pasti salah satu temannya yang menghubunginya.


Lion membuka pesan dari salah seorang teman.


Ryan dan teman-temannya menantang Ars lagi.


"Arrrggghhh..." keluh Lion saat membaca pesannya.


Lion menunjukan isi pesannya pada Melody.


"Kakakmu yang membuat masalah, aku hanya mengatasi masalah tanpa masalah (author : kaya slogan pegadaian)." ujar Lion.


...***...


Datanglah ke tempat biasanya.


Aramis keluar kelasnya setelah menerima sebuah pesan tantangan dari seseorang bernama Ryan. Dia hendak membolos hari ini dan pergi memenuhi tantangan tersebut.


Ketika dia hendak keluar pagar sekolah, Anna menghentikan langkahnya.


"Kau mau kemana, Ars?" tanya Anna menghampiri Aramis yang berhenti berjalan. "Sebentar lagi bel masuk. Kau mau bolos?"


Aramis menoleh pada Anna.


"Perutku tiba-tiba sakit." jawab Aramis.


"Pergi ke UKS."


"Aku akan istirahat di rumah saja. Tolong beritahu wali kelasku ya, ketua OSIS." ucap Aramis setelah itu langsung berjalan keluar pagar.


Anna tahu kalau Aramis berbohong padanya, tapi dia tidak bisa menghentikannya.


"Aku akan mematahkan kakinya biar tidak bisa bolos Sekolah terus." gumam Anna sambil berjalan kembali. "Hah, si bodoh itu!!" seru Anna menghentikan langkahnya dan menoleh ke keluar pagar.


...***...


Aramis berdiri di tepi danau tempat biasanya dia berada. Dia menatap ke danau yang terlihat indah di pagi hari. Udara terasa sejuk karena matahari tertutup awan.


"Hoam, aku jadi ngantuk." Aramis meregangkan tubuhnya.


"Sepertinya Lion selalu membuatmu duduk manis di kursimu." seru Ryan bersama empat orang temannya datang, berdiri di belakang Aramis dengan jarak yang lumayan jauh.


Aramis berbalik dan melempar tasnya ke bawah. Sebuah senyum sinis mengembang di bibirnya. Dia merentangkan tangannya dan menggeleng.


"Apa ini Ryan?" tanya Aramis. "Kau hanya membawa empat helai temanmu? Kau lupa? Terakhir kali aku menghajar kalian hanya dalam durasi lima menit?"


Tidak berapa lama muncul lima orang teman Ryan lainnya.


Aramis tertawa dan masih terlihat santai.


"Seharusnya kau datang bersama salah satu temanmu, Ars." ujar Ryan tersenyum mengejek. "Aah, aku lupa, kau tidak punya teman yang mau membantumu."


"Aku tidak butuh bantuan siapapun. Menghadapi kalian semua cukup dengan kedua tanganku saja." seru Aramis menaikan lengan kemeja seragamnya di pundaknya. "Majulah!!"


Tanpa pikir panjang Ryan menyerang Aramis bersama teman-temannya. Aramis sangat kuat dan gerakannya sangat cepat, dia bisa menghadapi mereka hanya seorang diri. Namun Aramis memiliki kekurangan di dirinya. Lagi-lagi staminanya semakin lama semakin habis. Dia harus segera mengalahkan musuh-musuhnya sebelum staminanya benar-benar habis.


Akan tetapi, jumlah musuhnya berkali-kali lipat dari dirinya yang seorang diri. Jika semakin lama perkelahian berlangsung, Aramis akan kalah telak.


Ryan menendang Aramis hingga akhirnya Aramis terjatuh. Namun Aramis langsung bangkit berdiri hendak membalas. Belum sempat dia sampai ke Ryan, muncul seseorang yang menendang Ryan hingga tersungkur di tanah.


"Sehabis ini, aku akan benar-benar membuat perutmu sakit, Ars." ujar Anna menoleh pada Aramis.