
Sesampainya di rumah, Melody langsung masuk ke dalam dan Lion mengikutinya. Di dalam rumah hanya ada kakek yang sedang duduk di meja makan bersama Tasya.
"Melody sudah pulang." sapa Tasya tersenyum. "Lion, juga ada."
Melody menoleh dan Lion jalan di belakangnya.
"Ayo duduk dulu, aku membawa makanan. Pasti kalian lelah kan?" tanya Tasya membawa Melody duduk di kursi di hadapan kakek dan Lion duduk di sampingnya.
"Donat?" kata Lion langsung mengambil dan melahapnya. "Kenapa kau di sini, Tasya? Kakek sudah sehat?"
"Kakek selalu sehat kan?" jawab kakek dan langsung tertawa dengan Lion.
"Kak Athos masih di sekolah."
"Iya, dia bilang agar aku menunggunya di sini, agar aku juga bisa menemani kakek." jawab Tasya tersenyum pada Melody.
"Melo, ayo makan donatnya, sayang." ujar kakek memberikan donatnya pada Melody.
Melody menerimanya dan memakannya.
"Baiklah, kakek mau istirahat dulu di kamar." ucap kakek langsung beranjak dari duduknya.
"Aku bantu ya kek." ujar Lion menuntun kakek menaiki tangga.
"Lion baik sekali ya, Melo." ucap Tasya menatap Melody.
"Kak Tasya, apa kakak akan menikah dengan kak Athos?" tanya Melody. "Sejujurnya aku senang kalau kalian menikah secepatnya, biar ada yang menemaniku dan menjaga kakek juga seperti tadi."
"Kalau begitu mintalah kak Ato untuk menikahiku secepatnya." jawab Tasya.
"Ayah tidak akan setuju, dia ingin kakak-kakakku kuliah dan bekerja, baru mereka bisa menikah." kata Melody.
"Ya, sebaiknya memang seperti itu..." ujar Tasya tersenyum ceria. "Melody, kenapa tidak pacaran saja dengan Lion?"
"Apa?"
"Kalian sangat serasi." ucap Tasya. "Lion juga pria yang baik, ditambah dia sudah akrab dengan semua keluargamu."
"Tidak!!" jawab Melody mengelak.
"Kakek langsung tertidur." ujar Lion menuruni tangga. "Aku pulang dulu ya, sepertinya aku tidak perlu menemanimu disini."
Lion berjalan menuju pintu keluar, dan Tasya melambai padanya.
"Kak Tasya, aku akan ke kamarku dulu. Apa tidak masalah?" tanya Melody.
"Tidak apa-apa, kau pasti ingin istirahat kan?" ujar Tasya tersenyum.
"Kalau kakak lelah, kakak istirahat saja di kamar kak Ato."
...***...
Pertandingan telah usai dan tim Prothos memenangkan pertandingan.
Sedikit demi sedikit para wanita pergi setelah Prothos masuk ke ruang klub basket bersama timnya. Padahal masih ada tiga pertandingan lainnya setelah ini.
Setelah menyerahkan posisi ketua klub pada juniornya, Prothos yang sudah mandi dan berganti pakaian keluar ruangan.
Pertandingan kedua sudah dimulai kembali, sehingga sekolah semakin sepi. Dia melihat Widia berjalan sendirian di jarak yang tidak jauh dari belakang gedung sekolah.
Dengan cepat Prothos menggapai lengan gurunya tersebut dan menariknya ke belakang gedung sekolah.
Anna yang sedang berjalan melihat mereka dengan penuh tanda tanya.
"Bukannya itu Oto?" tanya Anna. "Kenapa dia..." Anna tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena teringat akan sesuatu.
Widia berdiri di dekat tembok dan Prothos menatap lekat gurunya tersebut, hingga Widia bisa mencium wangi sabun bercampur shampoo dari rambut Prothos yang masih basah.
Widia tidak berani menatap muridnya itu dan membuang mukanya ke samping.
Prothos menyadarkan dirinya karena posisinya sangat dekat dengan Widia.
"Bu guru, menghindariku ya?" tanya Prothos agak menjauh. "Aku minta maaf untuk perbuatanku kemarin lusa."
Widia mendorong pelan Prothos hingga mundur dan agak menjauh.
"Ingat ya, aku ini gurumu!!" seru Widia. "Jangan mempermainkan aku atau mengerjaiku, mengerti?"
"Baiklah, aku mengerti tapi bu guru tidak boleh menghindar dariku!!" jawab Prothos.
Widia hanya mengangguk ragu, dan setelah itu berjalan namun tak berapa lama berhenti.
"Selamat ya atas kemenangan timmu." ucap Widia setelah itu pergi.
Prothos mengusap wajahnya, karena dia sempat merasa ingin mencium gurunya tadi.
"Apa yang aku pikirkan?" gumam Prothos.
...***...
Athos, Prothos, Aramis dan Anna sampai di depan rumah mereka tepat pukul dua belas siang.
Athos dan Prothos langsung masuk ke dalam rumah.
"Ars, ikutlah ke rumahku!!" seru Anna.
Athos dan Prothos yang masuk ke rumah, dikejutkan karena banyak sekali makanan di meja makan dan di sana hanya ada Tasya.
"Kau membeli ini semua?" tanya Prothos.
"Untuk merayakan kemenanganmu." jawab Tasya tersenyum.
"Maksudku, untuk perayaan berakhirnya masa jabatanmu sebagai kapten klub basket." lanjut Tasya.
"Kau pasti sudah memberitahunya kan, Ato?" tatap Prothos pada Athos yang duduk di antara dirinya dan Tasya.
"Lain kali kau tidak perlu membeli makanan sebanyak ini." ucap Athos.
...***...
Aramis mengikuti Anna masuk ke dalam rumahnya. Ketika Aramis berbalik sehabis menutup pintu, Anna melayangkan tendangannya ke pipi kiri Aramis,
Aramis hanya diam saja walau sebenarnya dia bisa menghalaunya.
Anna pun menghentikan tendangannya sebelum mengenai Aramis.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Anna.
"Kalau aku menghalaunya, kau pasti tidak akan berhenti menyerangku." jawab Aramis setelah itu berbaring di sofa. "Otakku sepertinya konslet setelah menjawab soal-soal tadi."
"Kenapa kemarin kau menutup teleponnya?" tanya Anna yang berdiri memperhatikan Aramis yang rebahan di sofa. "Dan kemana kau kemarin?"
Aramis hanya diam dan menutup matanya.
"Kenapa kau seperti seorang pengecut, Ars?"
"Diamlah, Anna!!" seru Aramis duduk dengan kesal. "Aku bilang jangan ikut campur!! Harus berapa kali aku katakan?"
"Aku akan bilang pada ayahmu tentang bakatmu itu."
"Jangan ikut campur!!"
"Tidak bisa!! Aku harus ikut campur!!"
Aramis mendekati Anna dan menarik kerah baju Anna kasar.
"Lebih baik kau diam saja, dan urus urusanmu sendiri. Kau mengerti?" ucap Aramis menahan emosinya. "Dasar cerewet!!" Aramis melepaskan Anna.
"Oke, baiklah, kita jangan saling ikut campur masalah masing-masing." ucap Anna tersenyum.
Tiba-tiba bel rumah Anna berbunyi. Dengan segera Anna membuka pintu.
Aramis terkejut melihat yang datang adalah David.
"Ars, kau disini?" tanya David mengernyitkan dahinya.
"Dia baru akan kembali ke rumahnya." jawab Anna. "Masuklah, David."
"Jadi benar kalau kalian bertetangga depan rumah?" ujar David. duduk di sofa.
Aramis langsung pergi keluar meninggalkan rumah Anna.
"Ars, makanlah... aku membeli banyak makanan." ucap Tasya pada Aramis yang pulang.
Namun Aramis tidak meresponnya dan hanya berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kenapa dengannya?" tanya Prothos pada Athos.
Athos tak menjawab karena juga tidak tahu.
Di kamarnya, Aramis duduk termenung di atas tempat tidur. Dia tidak mau peduli dengan apa yang dilakukan David di rumah Anna karena ucapan Anna tadi.
Kita jangan saling ikut campur masalah masing-masing.
Namun usahanya sia-sia, dia sangat merasa keberatan dengan keberadaan David di rumah Anna.
"AARRGGHH..." teriak Aramis sambil keluar kamarnya.
Melody melongok dari pintu kamarnya setelah teriakan dan suara pintu kamar Aramis yang dibanting.
Aramis menuruni tangga dan tidak peduli pada mereka yang menatapnya aneh, dan masuk ke rumah Anna dengan membuka pintu dengan kasar.
Dia menatap David dan Anna yang sedang tertawa di sofa namun menatapnya ketika Aramis datang.
"Kau, pergilah!!" ucap Aramis dingin pada David. "Cepat, pergi!!"
"David, nanti aku akan meneleponmu... sepertinya ada yang mau Ars bilang padaku." ujar Anna.
"Baiklah." jawab David setelah itu keluar.
"Ada apa, Ars?" tanya Anna berdiri. "Aku sudah setuju kalau kita jangan saling ikut campur masalah masing-masing."
"Tidak boleh seorang pria masuk ke rumah wanita yang hanya tinggal sendiri." kata Aramis mencari alasan.
"Lalu kau? Kenapa kau sendiri tidak masalah datang ke sini? Kau juga pria kan?"
"Tidak, aku terkecuali!!" jawab Aramis. "Dan jangan hubungi David, mengerti?"
Anna diam saja tidak menjawab dan malah menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya.
"Kau dengar tidak?" seru Aramis.
"Kenapa aku tidak boleh menghubunginya?" tanya Anna yang ada di dalam kamarnya.
"Ikuti saja kata-kataku, bodoh!!"
"Aku tidak mau!!" tegas Anna berbaring di tempat tidurnya. "Aku akan menghubunginya!!"
Tiba-tiba Aramis masuk ke kamarnya dan menarik kerah baju Anna yang sedang berbaring.
"Kau adalah milikku!!" tatap Aramis tajam pada Anna. "Hanya aku yang boleh berada di dekatmu, mengerti?"