
Lion duduk di meja belajarnya di dalam kamar. Dia memainkan games di perangkat komputernya dengan sangat serius. Headset terpasang di telinganya dengan volume yang keras. Namun tidak berapa lama dia berhenti dan melepas headset-nya dengan membanting ke meja.
Dia sangat bosan saat ini. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, ini waktu yang terlalu cepat untuknya tidur. Dia mengambil handphone-nya dan menelepon sahabatnya.
"Ars, datanglah ke kamarku. Aku baru membeli game baru, aku ingin mencobanya denganmu."
"Tidak, aku sedang tidak ingin main game sekarang." jawab Aramis di ujung telepon dan langsung mematikan teleponnya.
Lion membuang napasnya dan menatap ke arah beranda kamarnya. Hanya tirai yang dilihatnya karena menutupi jendela kamarnya.
"Hhuft... ini sangat membosankan."
Tiba-tiba dia berpikir sesuatu, dia ingin melakukan sesuatu yang menurutnya akan seru. Dia melihat handphone-nya. Lalu dia segera membuka laptop yang ada di samping komputer PC dan mengambil handphone-nya.
"Kita lihat apa yang terjadi nanti kalau ini tersebar." gumam Lion mengirim sesuatu dari handphone-nya ke laptop.
...***...
Prothos selesai belajar setelah mengisi kuis dari salah satu website pembelajaran yang diikutinya. Sebelum mematikan laptopnya dia membuka forum sekolah yang dimana biasanya selalu update berita terbaru seputar apa yang terjadi di sekolah mereka.
Biasanya dirinya dan kedua saudaranya menjadi topik di forum tersebut. Apalagi jika para wanita yang sedang berkumpul. Namun semenjak kehadiran Niko, wanita-wanita di sekolahnya membicarakannya. Dia menjadi idola baru dengan sebutan sang vampir karena kulitnya yang pucat ditambah selalu memakai mantel panjang melapisi seragam sekolahnya dengan tangan kiri yang selalu dimasukan ke saku mantel.
"Vampir apa? Dia lebih cocok disebut mayat." gumam Prothos mengomentari salah satu foto yang diunggah seorang murid wanita yang diam-diam memotret Niko di sekolah.
Lalu seorang wanita mengunggah sebuah foto Niko yang sedang mengeluarkan tangan kirinya dari saku mantel dengan menggunakan sarung tangan kulit. Caption foto tersebut adalah Apa kalian tahu kenapa dia memakai sarung tangan?
"Kalian akan sangat terkejut kalau tahu alasannya." gumam Prothos lagi.
Tiba-tiba seseorang mengunggah sebuah video dengan caption Bukankah ini mantan OSIS? Aku baru saja melihat video ini tersebar di sosial media.
Dengan penasaran Prothos menghidupkan video tersebut dan sangat terkejut ketika melihat saudara kembarnya, Athos memukuli seorang pria di dalam video tersebut. Tasya juga berada di dalam video tersebut.
Prothos mengerti kalau itu adalah video di saat Athos menghajar tunangan Tasya setelah tunangannya tersebut melakukan kekerasan pada Tasya hingga Tasya mengalami lebam di wajahnya.
Tapi yang jadi masalah adalah video ini akan membuat dampak buruk bagi Athos. Lalu siapa yang menyebarkannya?
Prothos mendengar Athos yang berbicara dengan Aramis di luar, dengan segera dia beranjak keluar kamarnya.
Athos baru saja pulang dari café dan menaiki tangga sedangkan Aramis baru keluar dari kamarnya hendak turun saat Prothos keluar kamar.
"Ato, ada masalah gawat." ucap Prothos.
Mereka bertiga masuk ke kamar Prothos untuk melihat hal yang ditunjukkan Prothos di laptopnya. Prothos segera memutar video yang didapatkannya.
"Apa yang akan terjadi Ato?" tanya Aramis menoleh pada Athos yang berada di sampingnya.
"Sepertinya Lion sudah memulainya." jawab Athos.
Prothos menoleh pada Athos.
"Maksudmu, yang menyebarkan video ini Lion?" tatap Prothos. "Apa Lion melakukannya karena mengkhianati kita?"
Athos menggeleng.
"Aku juga tidak tahu apa yang mau dilakukannya, tapi aku percaya padanya." jawab Athos.
"Sepertinya kau terlalu mempercayainya, Ato." ujar Prothos.
"Apa kau masih meragukan Lion setelah dia membantumu untuk masalah waktu itu?" tanya Athos.
Athos menoleh pada Aramis.
"Kau lupa apa yang kau lakukan pada Niko dua tahun lalu?" tanya Athos membuat Aramis mengubah ekspresinya. "Aku yakin kali ini Lion juga sudah memikirkan langkahnya."
...***...
Keesokan harinya, video yang viral membuat kehebohan di sekolah. Athos di panggil ke ruang kepala sekolah untuk diinterogasi tentang kebenaran video tersebut. Anna selaku ketua OSIS bersama beberapa guru ada disana.
"Video itu terlihat jelas kalau itu adalah kau Athos." ujar kepala sekolah yang duduk di hadapan Athos. "Apa kau ingin membela dirimu?"
"Itu memang aku." jawab Athos. "Itu terjadi sekitar tiga bulan lalu."
"Kenapa kau melakukannya? Kau tahu kan mereka bisa memasukanmu ke penjara dengan video ini?" tanya kepala sekolah lagi.
"Aku rasa dengan kejadian yang sudah lama itu kemungkinannya kecil jika dilakukan pemeriksaan." jawab Athos dengan tenang.
Semua guru yang berdiri di belakang Athos duduk tampak berbisik membahas masalah ini.
"Apa yang seharusnya kita lakukan untuk masalah ini?" tanya kepala sekolah kepada para guru yang berada disana. "Apa kita harus mengeluarkan dia dari sekolah ini? Tapi anak ini adalah murid terbaik sekolah kita."
"Itu benar pak." seru Anna yang berdiri di samping Athos. "Sebaiknya kita tidak gegabah mengambil keputusan. Athos adalah murid teladan di sekolah ini, jika kita terlalu cepat mengambil keputusan takutnya itu malah akan jadi bumerang. Untuk sekarang, bagaimana jika kita melihat opini masyarakat terlebih dahulu untuk kasus ini dan menunggu dari pihak korban akan melakukan apa."
Kepala sekolah setuju dengan masukan dari Anna, maka dari itu Athos tidak dikeluarkan dari sekolah.
"Aku tidak pernah salah menilaimu, Anna." ucap Athos saat berjalan bersama Anna setelah keluar dari ruang kepala sekolah. "Kau memang sangat pintar dan dengan kata-katamu kau mampu mempengaruhi siapapun. Itu yang tidak bisa aku lakukan. Ars sangat beruntung sekali."
"Kau ini kenapa harus membicarakan si bodoh itu." gumam Anna tertawa. "Lalu sebenarnya apa yang terjadi Ato? Apa itu video disaat kau memberi pelajaran pada tunangan Tasya? Saat mata Tasya lebam waktu itu."
Athos mengangguk.
"Astaga kau memang keren sekali. Tapi seharusnya bukankah disana ada CCTV? Tunangan Tasya pasti akan langsung menuntutmu setelah kau menghajarnya seperti itu." ujar Anna. "Apa jangan-jangan itu juga perbuatanmu? Jangan bilang kau merusaknya ya?"
Tiba-tiba Lion datang menghampiri Athos dan Anna yang sedang berjalan bersama.
"Nanti malam di tempat yang sama, dia memintamu bertemu." ucap Lion. "Apa aku harus berada disana?"
"Bagaimana menurutmu?" tanya Athos.
"Aku rasa dia tidak akan bisa berbuat apapun. Kau tenang saja, sudah aku bilang aku akan membantumu menyingkirkan bidak lainnya. Tapi sebaiknya kau datang sendiri jangan libatkan kedua kembaranmu. Aku akan ada di sana."
"Baiklah, Lion." jawab Lion. "Aku tidak pernah ragu dengan langkah yang kau ambil."
"Aku anak baik, kalian harus ingat itu." ujar Lion setelah itu pergi.
Anna terus berpikir dengan apa yang dikatakan Lion. Awalnya dia merasa bingung dan tidak mengerti dengan perkataannya.
"Ato, jangan bilang kalau Lion yang..."
"Itu benar, Anna. Lion membantuku. Dia juga yang merusak CCTV di tempat itu sebelum kejadian. Dan yang menyebarkan video itu pun, adalah Lion juga."
Anna tidak percaya mendengar perkataan Athos.
"Sebenarnya apa yang kalian rencanakan?"
"Lebih tepatnya Lion. Aku pun tidak tahu apa yang dia rencanakan." jawab Athos. "Aku hanya mengikutinya saja. Dia tidak pernah mengambil langkah yang salah, seperti saat bermain catur."
Anna hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan yang didengarnya.