MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Hari Pembalasan



Hari minggu pagi semua berkumpul di meja makan. Ketiga Musketeers, Melody, Lion dan Anna menyantap sarapan pagi mereka.


"Nasi gorengmu yang terbaik, Ato." kagum Lion sambil menyantap makanan di piringnya. "Aku mencium kau memasak ini dari rumahku, makanya aku langsung berlari kesini."


"Kau sangat tidak tahu malu, selalu menumpang makan." ujar Aramis ketus melihat sahabatnya itu melahap makanannya.


Lion hanya tersenyum pada Aramis, mengejek.


"Kapan ayah pergi tadi?" tanya Melody pada kakak-kakaknya.


"Tadi pagi-pagi sekali." jawab Athos. "Ayah minta maaf karena tidak bisa menghadiri kompetisi paduan suaramu, Melo."


"Tidak apa-apa, kak Oto saja yang menemani sudah cukup. Aku juga tidak ingin kalian semua berbondong-bondong datang dan membuat keributan di sana." jawab Melody. Karena ketiga kakaknya akan selalu jadi pusat perhatian jika mereka berjalan bersama di mana pun.


"Lion kau tidak ikut dengan kami?" tanya Prothos menatap Lion.


Melody menunggu jawaban Lion karena sejujurnya dia ingin Lion ikut menemaninya. Lion tersenyum dan menggeleng dengan seteguk jus melon memenuhi mulutnya.


"Habis ini aku akan ke kota sebelah menemui temanku." jawab Lion setelah menelan yang ada di mulutnya.


"Boleh aku ikut denganmu, Lion?" tanya Anna yang menoleh pada Lion yang duduk di samping kirinya.


Aramis menoleh pada Anna dan Lion, dia duduk di samping kanan Anna. Lion melihat Aramis yang menatapnya, dia tahu jika sahabatnya itu memberikan isyarat tidak boleh padanya.


"Aku rasa tidak." jawab Lion tersenyum lagi. "Aku sedang menjalankan misi rahasia jadi tidak boleh seorangpun tahu."


"Misi rahasia apa, kau ini." gumam Anna. "Setiap hari kau hanya bersenang-senang."


Lion hanya nyengir menjawab Anna.


...***...


Anna yang berada di café hanya duduk di salah satu meja pengunjung. Sebenarnya dia enggan ke café karena tangan kanannya belum sembuh jadi dia tidak bisa bekerja, tetapi Aramis memaksanya ikut ke café agar Anna tidak sendirian di rumah.


Waktu menunjukan pukul lima sore ketika pengunjung café mulai berdatangan. Tasya menghampiri Anna dan duduk bersamanya di meja itu.


"Aku dengar kau menjalani pemeriksaan yang lainnya ya?" tanya Tasya. "Apa hasilnya sudah keluar? Bagaimana hasilnya?"


"Aku baik-baik saja. Paman Ron hanya terlalu berlebihan. Tapi ternyata aku baik-baik saja." jawab Anna.


Aramis yang sedang mencatat menu di salah satu meja pelanggan menyimak perbincangan Anna dengan Tasya.


"Ya, kau sudah terlihat lebih sehat sekarang." ujar Tasya. "Kau tinggal sendiri di rumahmu, kalau kau mau aku bisa menemanimu. Dengan begitu setiap hari aku bisa membangunkan Ato." bisik Tasya pada Anna.


"Kau ini." gumam Anna.


"Anna, tanganmu kenapa?" tanya seorang pengunjung wanita lainnya. "Pantas saja kau tidak ada beberapa hari ini."


"Aku berkelahi dengan beruang besar." jawab Anna bercanda.


"Benarkah? Lalu bagaimana kondisi beruangnya?"


...***...


Grup paduan suara Melody memenangkan kompetisi juara pertama. Lion menelepon Melody tepat setelah acara selesai untuk menanyakan hasilnya. Dia berhenti di pinggir jalan hanya untuk menelepon Melody, karena dia tahu jika Melody sebenarnya ingin dirinya ikut tadi.


"Selamat ya, Melon. Aku memang yakin kalau grupmu akan memenangkan juaranya." ucap Lion yang berada di tepi jalan di atas motornya. "Kalau kalian mau merayakan kemenangannya, aku akan ikut lagi. Boleh kan? Sepertinya ke tempat karaoke lagi juga bagus."


"Kau ini." jawab Melody kesal.


"Baiklah, aku tutup teleponnya, aku sedang dalam perjalanan pulang. Apa mau aku jemput?"


"Aku bersama kak Oto."


"Astaga, aku lupa." jawab Lion. "Baiklah, sudah dulu ya."


Melody menutup telepon dari Lion, bersamaan dengan kehadiran Monik yang menghampirinya.


"Kau habis menelepon siapa, Mel?" tanya Monik.


"A... ayahku." jawab Melody berbohong.


"Melo, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Prothos yang datang. "Jalanan pasti macet, sebaiknya kita pulang secepatnya."


"Mel, dia kakakmu?" bisik Monik yang melihat Prothos.


Melody hanya melihat Monik habis itu menatap Prothos. Dia yakin sekali kalau Monik tertarik pada kakaknya itu.


"Ya, aku kakaknya Melody." senyum Prothos yang mendengar bisikan Monik dan mencoba bersikap sopan karena adiknya tidak menjawab pertanyaan Monik.


"Aku Monik." ucap Monik bersalaman dengan Prothos.


"Aku rasa kau bisa memanggilku kak Oto, seperti Melo. Kalian seumuran kan?"


"Kak Oto, boleh aku minta nomer handphone-mu?" tanya Monik.


"Hah, kenapa kau pun juga tidak punya handphone?" keluh Monik. "Melody bilang Lion juga tidak punya handphone. Jaman sekarang anak muda kenapa tidak punya handphone?"


Mendengar ucapan Monik tentang Lion, Prothos menatap Melody.


"Sudah ayo kita pulang." seru Melody langsung berjalan.


"Monik, kami pulang dulu ya." pamit Prothos setelah itu mengikuti Melody dari belakang.


"Dia tampan sekali." ucap Monik melihat kepergian Prothos.


Belum Melody melangkah jauh, Kevin datang menghampiri Melody. Prothos langsung berjalan cepat melihat adiknya dihampiri seorang pria.


"Ada apa?" tanya Prothos menatap Kevin.


"Tidak kak, kami hanya saling mengucapkan selamat saja atas kemenangan grup kami." jawab Melody pada Prothos.


Kevin melihat Prothos dengan tatapan bertanya akan siapa dirinya.


"Aku kakaknya Melo." senyum Prothos. "Baiklah Melo, ayo kita pulang." rangkul Prothos pada Melody dan menuntun adiknya pergi.


Kevin melihat kepergian Melody tanpa bisa menghentikannya, walaupun sebenarnya masih ada hal lain yang ingin dibicarakannya dengan Melody.


...***...


Melody diam saja di perjalanan pulang bersama Prothos. Dia berharap kakaknya tidak membahas mengenai Monik yang berbicara tentang Lion yang tidak memiliki handphone. Namun itu tidak mungkin, Prothos pasti membahasnya.


"Sejak kapan Lion tidak punya handphone?" tanya Prothos.


"Aku bilang begitu padanya karena Lion bilang aku tidak boleh memberitahu nomer handphone-nya pada Monik." jawab Melody menatap ke luar jendela menghindari tatapan Prothos karena saat ini dia berbohong.


Prothos tertawa kecil, namun dia tidak berniat membahasnya lebih jauh lagi, karena dia tidak ingin adik tersayangnya membencinya.


Hari mulai gelap ketika mobil mereka keluar dari jalan tol dan memasuki kawasan perkantoran yang sepi di hari minggu. Prothos melihat ke belakang spion dan merasa beberapa motor mengikuti mereka.


"Melo, ambil handphone-mu dan share lokasi kita pada Ato dan Ars." seru Prothos masih memantau ke spion belakang dan tetap menjalankan mobilnya.


"Ada apa?" tanya Melody.


Melody memperhatikan Prothos dan melihat ke belakang juga, lebih dari sepuluh motor ada di belakang mereka. Dia pun mengikuti perkataan Prothos dan memberikan lokasi mereka saat ini pada kedua kakaknya.


...***...


Aramis yang habis mengantar pesanan membuka handphone-nya dan melihat pesan dari Melody. Dia merasa curiga dan segera menghubungi Melody sembari berjalan masuk ke dapur menghampiri Athos.


"Melo, ada apa?" tanya Aramis.


Athos berhenti dari kesibukannya dan menyimak Aramis yang menelepon Melody.


"Kak Ars, ada yang mengikuti kami." jawab Melody dengan bergetar. "Itu lokasi kami saat ini."


Aramis langsung menutup teleponnya.


"Ayo Ato!! Mereka diikuti. Pasti si berengsek itu." seru Aramis berlari keluar.


"Sandy, aku serahkan café padamu." ujar Athos sambil membuka apron dan melesat keluar.


Anna dan Tasya yang melihat kedua anak kembar itu keluar dengan terburu-buru ikut keluar café juga.


"Ada apa?" tanya Anna pada Athos. "Aku ikut kalian." tanpa dijawab Anna langsung masuk ke mobil yang di dalamnya sudah ada Aramis di kursi setir.


"Tasya, kau pulang saja, nanti aku kabari." tatap Athos pada Tasya.


...***...


Lion berhenti di pinggir jalan kembali saat salah satu sahabatnya yang bernama Ivan menelepon-nya.


"Lion, kau tau? Hari ini Bara membawa teman-temannya akan menghabisi Prothos." seru Ivan.


"Bara?" Lion terkejut setelah itu mematikan teleponnya.


Lion menghubungi Melody kembali secepatnya.


"Melo, berikan handphone-nya pada Oto!!" seru Lion dengan cepat.


Melody memberikan handphone-nya pada Prothos yang mengerem mendadak.


"Oto, berhati-hatilah, Bara berniat menghabisimu hari ini."


"Sepertinya peringatanmu terlambat, Lion." jawab Prothos.


Prothos melihat di salah satu dari tiga mobil yang menghadang mobilnya keluar pria yang sudah lama mencarinya, Bara.