MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Aku Akan Mati



Prothos sedang melayani pengunjung ketika Wisnu menghampirinya untuk memberikan handphonenya pada Prothos karena Aramis mencarinya.


"Oto, Ars menelepon." ujar Wisnu memberikan handphone-nya.


Prothos mengambilnya dan langsung berjalan ke meja kasir diikuti Wisnu.


"Ada apa Ars?" tanya Prothos.


"Lion memintamu ke hotel Kharisma Rose kamar 305." jawab Aramis.


"Kenapa bocah itu menyuruhku ke sana?"


"Katanya double U." ucap Aramis.


Prothos memikirkan maksudnya, dan tidak butuh waktu lama untuknya mengerti. Double U adalah inisial dari Widia dalam bahasa Inggris.


Secepatnya Prothos langsung bergegas pergi.


...***...


Di perjalanan Lion menghubungi David sambil mengebut sangat cepat dengan motornya meski hujan turun masih belum berkurang intensitasnya.


"David, kau bisa menyebar foto-foto itu sekarang." seru Lion.


...***...


Widia masuk ke dalam kamar hotel setelah seseorang membuka pintu untuknya.


"Selamat datang Widia."


Widia sangat terkejut saat melihat rekan gurunya adalah orang yang menerornya selama ini.


"Masuklah." ujar Pak Surya menarik tangan Widia agar masuk mengikutinya.


"Pak Surya? Kau yang menerorku?" tanya Widia sangat terkejut. "Kau tahu tentang hubungan kami?"


Pak Surya tersenyum licik.


"Ya, sejak awal aku tahu." jawab Pak Surya santai. "Aku mendengar anak itu saat masuk ke ruang guru untuk memberikan formulir kandidat OSIS temannya. Dari cara bicara kalian siapapun akan tahu kalau kalian bukan saja guru dan murid biasa."


Widia benar-benar sangat tercengang. Guru yang waktu itu sedang tertidur di tempatnya memang adalah pak Surya tetapi dia tidak mengira kalau guru tersebut mendengar percakapannya dengan Prothos waktu itu. Yang lebih membuatnya tidak percaya adalah orang itu sampai menerornya.


"Baiklah, kalau begitu aku ke sini untuk mengambil semua foto-foto itu. Seperti katamu di telepon tadi, kau akan memberikannya padaku." ujar Widia polos.


Pak Surya tertawa mendengarnya.


"Kau sangat naif Widia, pantas saja kau memacari pria yang adalah muridmu tersebut." tawa pak Surya yang berdiri di jarak tiga meter dari Widia berdiri. "Aku janji tidak akan memberitahu pihak sekolah."


"Benarkah? Syukurlah, pak. Kalau begitu apa kau sudah menghapus semua foto-foto yang kau ambil?"


Pak Surya tertawa lagi sambil membuka kemejanya.


Widia menjadi takut melihat pak Surya membuka kemejanya. Gadis itu mundur beberapa langkah.


"Ke- kenapa kau membuka kemejamu, pak?"


"Aku akan hapus semuanya dan tidak memberitahu pihak sekolah, kalau kau mau melakukan syarat yang aku ajukan."


Pak Surya mulai membuka kaos dalam yang dikenakannya dan memperlihatkan kerutan-kerutan dikulitnya yang sudah agak mengendur karena usia.


Widia semakin takut hingga berjalan mundur dan membuat kakinya terpentok meja.


"Hentikan pak!! Jangan seperti ini!!"


"Layani aku dulu, baru aku akan melakukan semua yang kau inginkan, Widia." senyum pria paruh baya tersebut.


Pak Surya mulai melepas celana panjangnya dan sisa celana pendeknya.


Widia mencoba berlari ke pintu masuk, namun pak Surya menariknya dan mendorongnya ke tempat tidur. Widia segera beranjak dari tempat tidur untuk menghindari pria itu mendekatinya.


Widia terus menghindar saat pak Surya mendekatinya. Dengan menahan rasa takutnya Widia hanya bisa menangis.


Lion sampai di depan hotel dengan kondisi basah kuyup. Dia langsung berjalan tanpa berhenti menggapai kartu akses pemberian salah satu temannya yang merupakan pemilik hotel tersebut. Dia berlari ke lift namun lift tidak juga terbuka.


Dengan kondisi tubuhnya yang sedang sakit, dia memaksanya berlari ke tangga darurat karena lift tak kunjung terbuka. Dia menahan rasa sakitnya untuk menyelamatkan wali kelasnya yang dalam bahaya saat ini.


"Tidak apa-apa, hanya sekali saja setelah itu kau bisa melanjutkan hubunganmu dengan murid itu." ucap pak Surya yang mendekap Widia mencoba menciun Widia namun Widia terus menghindar.


Pria bengis itu kesal hingga mendorong Widia ke atas tempat tidur sangat keras. Sebelum Widia sempat bangun dan menghindar, pria itu sudah lebih dulu meloncat ke atas Widia dan memegangi kedua lengan Widia.


Widia terus mencoba lepas dari jeratannya, namun sia-sia. Terkadang rasa takut menimbulkan ke tak berdayaan seseorang. Widia hanya bisa menangis ketika pria biadab itu menarik kemejanya hingga semua kancingnya terlepas.


BRAKK!!


Suara pintu terbuka dengan sangat keras, dan Lion langsung menarik guru biadabnya itu dari atas wali kelasnya. Lalu melayangkan tinju ke wajah pria paruh baya tersebut.


Widia beranjak duduk dan menutupi kemejanya yang robek dengan selimut.


Lion menatap pak Surya yang jatuh terduduk di lantai setelah menerima bogem mentahnya.


"Kau kan yang di ruang UKS tadi?" ujar pria itu.


"Sudah aku bilang, aku menyukai wali kelasku, jadi aku tidak akan membiarkan orang sepertimu menyakitinya." jawab Lion.


Lion menarik pria yang sudah tak berdaya itu walau baru mendapatkan sekali pukulan darinya. Dia kembali memukul wajah pria itu.


Prothos datang dan langsung melihat yang terjadi.


Melihat Widia di tempat tidur, dia langsung menghampiri kekasihnya tersebut dan memberikan jaketnya pada Widia.


"Kau baik-baik saja?" tanya Prothos yang berdiri di samping tempat tidur dan Widia yang masih duduk di tempat tidur memeluknya.


"Untung Lion datang tepat waktu." jawab Widia menangis.


Prothos mengecup kepala Widia dan setelah itu berjalan mendekati pak Surya yang mencoba berdiri. Dengan kesal Prothos memukulinya berkali-kali.


"Beraninya kau melakukan hal buruk pada pacarku!!" seru Prothos setelah itu memukulnya sekali lagi hingga pria tua itu tersungkur.


"Kalian semua akan dikeluarkan dari sekolah!! Aku akan memberitahu semua guru dan kepala sekolah mengenai hubungan kalian berdua, dan penyerangan ini juga." seru pak Surya bangkit berdiri.


Prothos hendak menyerangnya lagi, namun Lion menahannya kali ini.


"Jangan menahanku, Lion!! Aku akan membunuh-"


"Hentikan, Oto!!" ucap Lion.


Lion mengambil handphone-nya dari saku celana dan membuka sebuah video. Dia memperlihatkannya pada pak Surya.


"Aku punya banyak bukti tentang hubunganmu bersama beberapa murid wanita yang sering kau ajak tidur. Bahkan ada beberapa yang kau ancam." ujar Lion menatap tajam pak Surya. "Aku rasa kita impas. Jika kau membocorkan masalah ini pada sekolah maka aku juga akan mengirim video-video ini ke sekolah."


"Jangan mengancamku!!" seru Pak Surya.


Lion menoleh mencari sesuatu. Dia melihat handphone pak Surya berada di atas meja, dengan segera dia mengambilnya. Lalu menginjaknya hingga hancur.


Pak Surya tertawa tidak takut.


"Aku masih punya salinannya di laptopku di rumah." jawab Pak Surya. "Aku tetap akan melaporkan kalian semua ke sekolah." setelah berkata begitu pria itu mengambil pakaiannya dan berjalan pergi.


Lion membuang napas karena tubuhnya makin terasa lemah. Dia tetap mencoba menguatkan dirinya saat ini.


Sedangkan Prothos kembali menghampiri Widia dan memeluknya yang masih menangis.


Tiba-tiba handphone Lion bergetar.


"Aku sudah menghapus semuanya. Kau tenang saja, Lion."


"Terimakasih, Ivan." jawab Lion.


Lion menoleh pada Prothos dan Widia yang sejak tadi dia punggungi.


"Kalian tidak perlu khawatir, dia tidak punya foto-foto itu lagi." ucap Lion tersenyum. "Hubungan kalian akan aman. Besok dia pasti akan dikeluarkan dari sekolah."


Prothos dan Widia hanya menatap Lion yang berjalan keluar kamar. Namun tiba-tiba tubuh Lion goyah. Prothos segera memeganginya dan menyadari kalau tubuh Lion sangat panas dengan pakaian yang basah.


"Kau baik-baik saja?" tatap Prothos.


Lion tertawa kecil menjawabnya. Dirinya sudah tak sadarkan diri walau masih bisa berdiri.


"Aku akan mati, Melon." racau Lion tanpa menyadari dia berkata begitu karena rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya seperti berhalusinasi melihat Melody. Setelah itu Lion tumbang.