
Melody langsung bergegas menuju rumah Lion dengan membawa kotak obat. Lion membukakan pintu kamarnya dan Melody segera masuk.Dia melihat Aramis sedang tertidur di ranjang Lion dengan wajah yang masih babak belur.
"Aku tidak mengerti kenapa dia bisa tidur dalam keadaan seperti itu." ucap Lion.
"Kak Ars, bangunlah, lukamu harus di obati dulu!!"
Melody mengguncangkan tubuh Aramis namun dia tetap tidak bangun.
"Kak, dengar aku tidak?!"
"Percuma, dia tidak akan bangun kalau sudah tidur. Bahkan dia tidak memedulikan aku yang terus berteriak di telinganya." ujar Lion.
Melody meletakan kotak obat di samping Aramis yang tertidur. Dia mengambil tisu yang sudah di lumasi dengan alkohol lalu membersihkan darah yang ada di sisi bibir dan hidung Aramis. Lalu mengoleskan obat ke kening dan pipi yang membiru serta membalut tangan yang tergores pisau.
"Dia itu benar-benar seperti monster, aku dengar kalau dia berkelahi dengan para preman yang jumlahnya sangat banyak. Tapi dia berhasil mengalahkan mereka semua dan masih bisa berjalan pulang." ujar Lion yang duduk di atas karpet memperhatikan Melody yang sedang mengobati luka Aramis. "Bahkan dia masih bisa menerima pukulan-pukulan paman Ron. Padahal aku berharap dia tidak akan bisa jalan lagi agar tidak datang menggangguku seperti ini."
Melody menoleh pada Lion dengan tatapan kesal dengan ucapannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Lion.
"Bisa tidak kau tidak bicara seperti itu atau keluar saja dari sini?!" seru Melody.
"Ya ampun, ini kan kamarku, kenapa jadi kau mengusirku!!" ujar Lion. "Yang benar saja, kakakmu membajak tempat tidurku dan sekarang kau berani mengusirku dari kamarku sendiri. Benar-benar menyebalkan!!"
"Kalau menyebalkan memang kenapa? Kau pikir kau tidak menyebalkan? Kau bilang akan terus menggangguku tapi lihat bahkan kau tidak pernah lagi membuka tirai jendela kamarmu ini!!" seru Melody bangkit berdiri dan membuka tirai jendela.
"Apa yang kau lakukan? Sekarang sudah malam. Tutup tirainya!!" Lion bangkit berdiri dan menutup tirai jendela. "Setiap bersama dengan Ars, kau semakin menyebalkan, Melon!!" gumam Lion menatap Melody yang berdiri di hadapannya. "Aku benar-benar tidak mengerti denganmu, kau sangat membenci aku tapi kenapa kau selalu menghubungiku untuk meminta bantuan, aku ini bukan petugas 911 yang melayani panggilan darurat jadi jangan menghubungiku! Kau mengerti?!"
"Siapa bilang kau petugas 911? Lagi pula aku tidak menghubungimu dalam keadaan darurat apapun?!" protes Melody.
"Apa? Jadi kau lupa siapa yang meminta bantuanku saat di tengah hujan ketika kau bersama Felix dan kau juga lupa siapa yang meminta bantuan saat kau di kurung dalam toilet?! Kau tidak amnesia kan?" seru Lion. "Bahkan sebelum itu juga, saat di TK kau juga pernah berteriak memanggilku saat anak laki-laki menakutimu dengan kecoa, dua tahun yang lalu kau juga pernah meneleponku saat bukumu ketinggalan ketika kau khursus musik. Kalau di pikir-pikir kau terus saja menghubungiku ketika membutuhkan pertolongan, apa kau masih tidak mau mengakuinya? Aku tidak mengerti padahal kau punya tiga kakak laki-laki tapi kenapa selalu aku yang kau hubungi? "
"Itu, itu tidak benar!!" ucap Melody.
"Apa yang tidak benar? Apa perlu aku sebutkan satu per satu lagi?"
"Aku tidak membencimu." jawab Melody dengan sedikit malu.
"Lalu kenapa kau terus menyebalkan begini?" tatap Lion.
"Itu... itu karena aku... Melody terbata-bata mencari jawaban yang sesuai. Itu karena aku... aku..."
"Aku menyukaimu!!" seru Aramis dengan tiba-tiba membuat Melody dan Lion terkejut mendengarnya. "Aku menyukaimu apel besar..."
Ternyata Aramis hanya mengigau, dia memeluk guling dengan sangat erat lalu kembali tidur.
Melody berjalan mendekati Aramis untuk menghindari Lion.
"Kak Ars, sudah bangun? Ayo kita pulang, ayah pasti sudah tidak marah jadi kakak bisa pulang."
Aramis membuka matanya dan melihat Melody.
"Melo, ayo tidur dengan kakak!" ucap Aramis sambil memegang pergelangan lengan Melody dengan erat setelah itu kembali tidur.
Melody mencoba menarik tangannya dari genggaman Aramis tapi dia tidak bisa melepaskannya karena Aramis menggenggam tangannya sangat erat.
"Kak Ars, lepaskan tanganku!"
"Ars, jangan pura-pura tidur!! Cepat bangun!!" seru Lion mengguncangkan tubuh Aramis. "Sepertinya dia sudah tertidur lagi."
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa melepas tangannya." ucap Melody menatap Lion.
"Akan aku ambil pisau dan memotong tangannya." ujar Lion.
"Akan aku buka genggamannya dan kau tarik lenganmu!?" ujar Lion.
Setelah itu Lion membuka satu persatu jari tangan kanan Aramis namun percuma saja karena Aramis tidak membiarkan lengan adiknya lepas dari genggamannya.
"Saat aku buka jari-jarinya kau tarik tanganmu!!"
"Sudah, tapi dia tetap tidak melepaskannya." jawab Melody dengan cemas.
"Dia ini manusia atau monster sih, tenaganya seperti tukang bangunan!" gumam Lion. "Aku akan menarik tanganmu juga, jadi tidak masalah kan kalau tanganmu sakit?"
Melody mengangguk.
"Asalkan terlepas dan aku bisa segera pulang."
Lion langsung memegang lengan kanan Melody dengan tangan kirinya.
"Kau siap?"
Melody mengangguk menjawabnya.
Setelah itu tangan kanan Lion membuka jari-jari Aramis yang menggenggam Melody sedangkan tangan kirinya membantu menarik lengan Melody. Dengan sekuat tenaga mereka berdua mencoba melepas genggaman kuat tangan Aramis. Mereka terus menariknya sekuat tenaga.
Tanpa mereka duga tiba-tiba Aramis melepas genggamannya hingga Melody dan Lion terjatuh karena menarik dengan sekuat tenaga. Mereka berdua jatuh berbaring ke atas karpet, Lion menggunakan lengan kirinya sebagai alas agar kepala Melody tidak terbentur lantai.
Melody menoleh pada Lion yang tepat berbaring di sampingnya, dia merasakan kalau saat ini dia beralaskan lengan kiri Lion.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Lion.
Melody tersipu melihat wajah Lion.
"Aku, aku tidak apa-apa." jawabnya.
"Sekarang kau bisa pulang." ujar Lion.
Mata mereka saling bertatapan.
"Ayahmu akan segera mengecek kamarmu."
"Benar, ayah akan segera mengecek kamar." jawab Melody masih tidak sadar dan menatap Lion yang berada disampingnya.
Mereka berdua saling menatap sesaat dalam keheningan. Jantung Melody berdegup kencang menatap Lion sedekat ini. Begitu juga dengan Lion, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi agar Melody segera bangun dan pergi. Mereka berdua terhipnotis dengan keadaan saat ini.
"ADUH, BOKONGKU SAKIT SEKALI."
Tiba-tiba Aramis berteriak dan mengejutkan Melody dan Lion sehingga mereka berdua langsung bangkit berdiri. Aramis hanya mengganti posisi tidurnya dan menghadap ke arah tembok sambil mengusap-usap bokongnya.
"Sini apel besar biar aku cium." ucap Aramis mengigau lagi.
"Dia hanya mengigau." ucap Lion setelah itu menoleh pada Melody.
Melody menarik tatapannya dari Lion.
"Aku harus pulang sekarang." ucap Melody langsung bergegas keluar kamar.
...***...
Sesampainya di kamar, Melody langsung menutupi dirinya dengan selimut. Dia merasa bodoh setelah kejadian tadi. Rasanya wajahnya sangat malu kalau mengingat kebodohannya yang terus saja diam dengan berbaring beralaskan lengan Lion.
"Aku benar-benar bodoh, aku tidak akan bisa lagi menatapnya besok." gumam Melody di balik selimut sambil memukul-mukul kepalanya. "Apa yang ada di pikirannya setelah kejadian tadi ya? Ini sudah kedua kalinya kami sedekat itu. Seharusnya tadi aku segera bangun, dasar Melody bodoh!"