
Niko berjalan bersama Nausha kakaknya setelah keluar dari ruang guru. Guru memanggil orangtua Niko karena menegur pemuda itu yang sering datang terlambat ke sekolah. Dan Nausha mewakili orang tua Niko untuk menghadap Widia, wali kelasnya.
"Kau sangat membuatku malu. Baru sebulan kau pindah sekolah ke sini, tapi kau sudah telat lima belas kali dari dua puluh satu hari dalam sebulan." Seru Nausha. "Aku kesini untuk berlibur bukan untuk mengurus adik payah sepertimu."
"Kapan kau kembali ke Rusia?" Tanya Niko yang berjalan berdampingan di koridor sekolah bersama kakaknya.
"Secepatnya. Aku tidak suka disini. Zdes' ochen' zharko (Disini sangat panas)." Gumam Nausha. "Papa dan mama akan datang bulan depan, kau serius mau bertunangan dengan Melody? Jaman sekarang kau ingin nikah muda? Sayang sekali, kau pasti akan menyesal suatu hari nanti."
"Vpervyye ya byl tak ser'yezen (Aku tidak pernah seserius ini)." Jawab Niko dengan senyum.
"Padahal kalian baru kenal." Ucap Nausha berhenti berjalan. "Baiklah, aku pergi duluan, temanku sudah menungguku sejak tadi."
Nausha memeluk Niko setelah itu berjalan cepat meninggalkan Niko.
Niko yang berjalan santai melihat Anna yang baru saja keluar dari ruang OSIS dengan membawa tasnya karena hendak pulang setelah selesai mengerjakan tugas OSIS nya.
"Bonnie, kau baru mau pulang?" Tanya Niko tepat di depan pintu ruang OSIS dimana Anna sedang mengunci pintunya. "Menjadi ketua OSIS sibuk sekali."
"Tapi sangat menyenangkan." Jawab Anna. "Kau harus ingat, namaku Anna!!"
"Kau ingin tumpangan? Aku bisa mengantarmu dulu. Kau terlihat sangat pucat." Ujar Niko.
"Aku akan mampir ke minimarket di ujung jalan, tidak perlu." Ucap Anna setelah itu berjalan meninggalkan Niko.
Anna berjalan keluar hendak menuju minimarket yang berada di ujung jalan tidak jauh dari sekolah. Dia berniat mampir untuk sekedar membeli mie instan dan memakannya karena gadis itu harus segera meminum obat. Kepalanya terus menerus sakit sejak pagi, bahkan ketika rapat OSIS dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
Ketika Anna hendak sampai di minimarket, Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. Lalu tiga orang pria yang memakai jaket untuk menutupi seragam mereka keluar dari mobil tersebut. Anna tahu siapa mereka karena dirinya pernah berkelahi dengan mereka saat membantu Aramis.
"Kalian mau apa?" Seru Anna bingung karena ketiga pria itu mendekatinya.
Tanpa basa-basi mereka mendorong Anna masuk ke mobil, dimana seseorang sudah siap siaga di kursi setir yang langsung menjalankan mobilnya saat teman-temannya berhasil memasukan Anna ke mobil tersebut.
Niko yang baru saja lewat dengan mobilnya melihat apa yang terjadi. Dia merasa curiga karena Anna masuk dengan dipaksa ke mobil tersebut.
"Mau apa mereka pada Bonnie?" Tanya Niko bingung.
Anna dikeluarkan dari dalam mobil di sebuah pabrik tua yang sudah tak terpakai. Disana sudah menunggu beberapa pria lainnya, dan salah satunya adalah Ryan, musuh Aramis. Ryan terlihat senang dengan kedatangan Anna yang berhasil diculik oleh teman-temannya.
"Lihat siapa yang datang?" Ujar Ryan mendekati Anna. "Astaga, kau terlihat sangat tampan dengan celana olahraga itu."
Anna hanya diam saja karena sakit kepalanya membuatnya tidak terlalu fokus. Dia menjadi sangat kesal pada Aramis, karena ulahnya sekarang dirinya berada di situasi ini di tengah-tengah para musuh Aramis. Anna tidak tahu apa yang akan dilakukan mereka padanya tapi yang dia tahu itu pasti sesuatu yang buruk.
Anna menghela napas mencoba mengatur napasnya untuk siaga melawan jika saja mereka mencoba melakukan hal yang buruk padanya. Walau dia tahu dia tidak akan bisa mengalahkan mereka semua, tetapi dia tidak ingin pasrah pada keadaannya.
"Apa mau kalian?" Tanya Anna yang berada di tengah-tengah pria yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang.
"Tidak ada. Kami hanya ingin bersenang-senang." Jawab Ryan dengan diiringi tawa dirinya bersama para teman-temannya. "Sepertinya akan seru jika Ars tahu kalau wanitanya bersenang-senang dengan kami."
"Apa aku boleh ikut bergabung?" Tanya Niko yang tiba-tiba muncul dengan tangan kirinya yang berada di saku mantelnya.
Ryan bersama teman-temannya terkejut dengan kehadiran Niko, bahkan mereka yang semula mengelilingi Anna menjadi mundur dan berdiri di belakang Ryan dan Anna.
"Sepertinya akan sangat menyenangkan." Lanjut Niko dengan menyeringai.
"Niko, ada apa kau kesini? Sepertinya kau tidak perlu ikut bergabung dengan kami." Jawab Ryan. "Walau aku tahu kau pun punya dendam pada Ars, tapi kau memiliki hubungan dengan adiknya. Ars pasti tidak akan tinggal diam begitu saja. Kau tahu kan siapa wanita ini?"
Niko tertawa, dan membuat Ryan beserta teman-temannya saling menatap bingung. Sedangkan Anna hanya bisa diam dalam situasi dengan kondisi tubuh yang tidak baik seperti sekarang ini.
"Kau salah, aku tidak bertanya padamu." Ucap Niko. "Heh Bonnie, apa aku boleh bergabung denganmu?"
Anna tersenyum pada Niko yang juga tersenyum padanya. Gadis itu sedikit merasa lega.
"Maksudmu kau ingin melawan kami untuk menyelamatkannya?" Tanya Ryan. "Astaga, apa yang kau pikirkan, Niko? Pergilah, jangan ikut campur. Siapapun boleh menantang Ars tanpa memedulikan rumus pertemanan Lion 'kan?"
"Kau benar, tapi sayangnya aku rasa perbuatanmu salah. Saat ini yang kau lakukan bukan menantang Ars." Seru Niko. "Sebaiknya hentikan saja semua ini, kalau kau melakukan hal-hal buruk padanya ku pastikan nasibmu akan sama seperti Mario. Gadis ini juga termasuk dalam rumus Lion."
"Benarkah?" Ryan mulai terlihat goyah dan ketakutan.
"Apa perlu aku panggil Lion sekarang?" Tanya Niko mengeluarkan handphone-nya.
Dengan segera Ryan bersama gerombolannya melepaskan Anna dan segera pergi dari tempat itu. Anna merasa tidak mengerti apa yang terjadi, tapi dia merasa lega karena bisa keluar dari situasi yang bisa saja menjadi situasi yang paling buruk di hidupnya. Semua itu berkat Niko yang datang menolongnya.
"Lain kali jika kau ada di situasi seperti ini, gunakanlah nama Lion. Hanya mendengar namanya saja mereka akan langsung kabur." Ujar Niko. "Dan aku sarankan jangan pernah ikut campur lagi ketika siapapun menantang Ars. Kau tidak perlu membantu pacarmu itu dalam sebuah pertarungan. Mereka pasti akan langsung mengincarmu."
"Apa Lion begitu sangat ditakuti oleh mereka?" Tanya Anna.
"Tidak, mereka tidak takut pada Lion. Mereka segan karena pengaruh Lion membawa dampak besar jika mereka membuatnya marah. Teman-teman yang setia dengannya tidak akan diam ketika Lion menginginkan sesuatu. Jumlah mereka sangat banyak dan datang dari berbagai kalangan, dan aku salah satunya." Ujar Niko. "Tapi posisimu tidak bagus, teman-teman Lion kebanyakan adalah musuh pacarmu. Mereka semua pasti akan mengincarmu karena itu jika ini terjadi lagi sebaiknya gunakan nama Lion."
Anna tertawa mendengarnya. Dia tidak mengerti dengan kerumitan yang dibuat oleh para pria itu. Kepalanya semakin sakit mendengar ocehan Niko. Dia masih berusaha agar dapat menahan rasa sakitnya dengan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kau tidak akan mengerti." Gumam Niko. "Cepatlah, aku akan mengantarmu pulang. Ars harus berterimakasih padaku untuk semua yang aku lakukan padamu."
Niko berbalik dan berjalan hendak keluar dari tempat itu. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar seauatu. Dia segera menoleh dan melihat Anna sudah terjatuh ke tanah karena pingsan.
...@cacing_al.aska...