MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Menjadi Orang Asing



Prothos yang tertahan di apartemen Wilda terus memutar otaknya untuk keluar dari situasinya sekarang ini. Gadis polos yang ada di depannya mengancam dirinya dengan sangat berani. Prothos tidak bisa berpikir bagaimana dia harus menolaknya tanpa gadis itu membeberkan rahasianya dengan Widia ke pihak sekolah.


"Kau harus menjawabnya sekarang juga, kalau tidak besok rahasia kalian akan jadi konsumsi publik yang akan berakibat fatal." Seru Wilda terdengar sangat kejam walau suaranya gemetar. "Aku sangat menyukaimu, kak. Semalam aku bermimpi jika aku jadi pacarmu semua akan menjadi lebih baik. Semua orang akan menyukaiku dan memandangku sangat beruntung karena memiliki pacar sepertimu."


Prothos berpikir kalau Wilda sebenarnya hanya membutuhkan seseorang yang melindunginya, untuk membuatnya menjadi gadis yang percaya diri. Dia mulai berpikir jika saja dia melakukan semua keinginan Wilda, dia hanya harus melakukannya hingga dirinya lulus sekolah. Selain itu dia juga ingin membantu gadis itu keluar dari perundungannya hingga gadis itu tidak butuh pengakuan dari siapapun lagi kalau dirinya berharga.


"Aku punya syarat." Jawab Prothos. "Aku akan mengikuti semua permainanmu, tapi aku akan bilang ke Widia kalau aku hanya menjadi pacar pura-puramu. Di sekolah kau bisa bilang pada siapa saja kalau kau adalah pacarku, tapi hubungan kita sebatas itu."


Wilda berpikir sesaat karena yang diinginkannya bukan seperti yang dikatakan Prothos namun gadis itu tersenyum menyetujuinya.


"Tapi kau harus menemuiku setiap kali aku memanggilmu."


"Baiklah." Jawab Prothos.


Wilda maju mendekati Prothos untuk memberikan handphone yang dipegangnya. Namun tiba-tiba gadis itu memeluk Prothos. Prothos hanya membatu dipelukan Wilda.


Tidak berapa lama Prothos keluar dari apartemen Wilda dan berjalan meninggalkan gedung tersebut sambil berpikir semoga keputusan yang diambilnya tidaklah salah.


Ketika Prothos berada di luar gedung apartemen Wilda yang ada di seberang gedung apartemen Widia, Prothos melihat Widia yang menatapnya dari seberang. Widia memperhatikan Prothos sejak pemuda itu keluar dari gedung apartemen tersebut.


"Bu guru?" Ucap Prothos terkejut.


Prothos langsung menyeberangi jalan dan menghampiri Widia yang berjalan masuk ke gedung apartemen-nya.


"Bu guru, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ujar Prothos mengikuti Widia.


Mereka berdua sampai di kamar apartemen Widia. Mereka saling berhadapan duduk di meja bulat. Prothos hendak memberitahunya mengenai kesepakatan yang dilakukan Prothos dengan Wilda barusan.


Prothos terdiam sesaat untuk mencari hal mana yang sebaiknya dia katakan pada kekasihnya itu.


"Bu guru, sekali lagi aku minta kepercayaanmu." Ucap Prothos menatap dalam Widia. "Semuanya jadi kacau saat istirahat sekolah tadi. Aku menunggumu dan saat seseorang mengetuk pintu aku langsung menariknya masuk karena aku kira itu adalah kau. Tapi ternyata orang itu adalah Wilda."


Widia melihat kejadian itu. Dia tidak berekspresi dan hanya menatap Prothos.


"Lalu semakin kacau saat Wilda bilang menyukaiku, dan dia salah sangka dengan bilang kalau aku juga menyukainya. Secara sepihak dia menganggapku pacarnya. Lalu dia memberikan ini yang dititipkannya pada Melo." Ujar Prothos sambil meletakan sebuah handphone ke atas meja. "Dia mengancamku untuk menemuinya di apartemennya dengan gambar wallpaper handphone itu."


Widia menghidupkan handphone-nya dan melihat gambar dirinya dengan Prothos disana.


"Aku bingung harus berbuat apa. Tapi aku berniat untuk mengembalikan handphone itu dan menjelaskan agar Wilda mengerti. Aku datang ke apartemennya. Dan akhirnya dia mengancamku kalau tidak mau berpura-pura menjadi pacarnya saat di sekolah besok dia akan memberitahu pada pihak sekolah tentang kita." Lanjut Prothos menjelaskan. "Akhirnya aku setuju tapi dengan syarat aku boleh memberitahumu."


Prothos terdiam karena Widia hanya menatapnya. Dengan segenap rasa cintanya, dia menggenggam tangan kekasihnya dan bersimpu di hadapannya, menatap dekat Widia.


"Semoga kau tidak marah dengan keputusanku ini, Widi." Ujar Prothos. "Aku hanya harus berpura-pura menjadi pacarnya hingga aku lulus. Bagaimana menurutmu?"


"Aku akan mengikuti semua keputusanmu." Jawab Widia dengan tersenyum.


Prothos merasa lega mendengar jawaban kekasihnya itu. Tanpa pikir panjang dirinya langsung menyambar bibir Widia untuk menciumnya. Pemuda itu bersyukur memiliki kekasih yang sangat pengertian.


"Aku percaya padamu sepenuhnya." Ucap Widia memegang wajah Prothos dengan kedua tangannya.


Widia kembali mencium Prothos, lalu memeluk kekasihnya itu. Gadis itu memberikan rasa percaya pada kekasihnya dan tidak ingin memikirkan hal-hal yang buruk.


...***...


Melody yang duduk di meja belajar sedang membelai kucingnya menoleh ke jendela saat lampu kamar Lion menyala. Dia menjadi tahu kalau Lion baru saja pulang.


Melody merasakan sakit di hatinya. Dia merasa sangat ingin kembali seperti dulu lagi bersama Lion. Setelah Lion bersikap asing padanya, gadis itu tetap tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Lion.


Dengan lirik, Melody mulai mengeluarkan air matanya. Dia tidak bisa lagi membendungnya saat ini. Rasa sedih yang selalu dia tahan setelah pelukan perpisahan itu pada akhirnya tak terbendung lagi. Melody menangis menatap kucingnya.


"Mimi, bagaimana ini? Aku sangat merindukan Lion. Aku tidak bisa menghilangkannya dari pikiranku." Ucap Melody dengan air mata yang terurai. "Apa dia tidak merindukanku? Apa kebersamaan kami selama ini bukan apa-apa untuknya? Hatiku sangat sakit, Mimi. Aku sangat merindukannya. Bahkan aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun dan tidak memberi hadiah padanya. Aku sangat merindukan Lion, Mimi."


Melody kembali menoleh ke arah kamar Lion. Menatap pada jendela kamar Lion yang tirainya tidak pernah lagi terbuka. Itu membuat dirinya semakin bersedih.


"Bahkan sekalipun dia tidak pernah membuka tirai kamarnya. Apa dia membenciku sekarang? Apa selamanya kami akan menjadi orang asing seperti ini, Mimi? Ini sangat menyakitkan sekarang."


...***...


Lion yang baru saja selesai mandi langsung duduk di sisi tempat tidurnya. Dia membuka handphone-nya untuk melihat beberapa pesan dari teman-temannya. Banyak sekali pesan yang dia Terima dari teman-temannya yang mengajaknya bertemu.


"Baiklah, besok kita atur jadwal siapa yang akan aku temui ya?" Ucap Lion membuka satu per satu pesan dari teman-temannya.


Lion, sudah lama kita tidak bermain sepak bola.


"Kapan ya aku terakhir bermain sepak bola?" Pikir Lion.


Besok temui aku, ayahku baru saja membeli helikopter baru.


"Dia ini suka sekali pamer. Tapi sepertinya seru juga kalau besok aku mencobanya."


Ayo kita bertanding anggar lagi, kali ini aku pasti mengalahkanmu. Kita bertaruh seharga motormu.


"Huh, kalau aku menang aku langsung kaya, tapi tidak tidak."


Kudamu mencarimu, dia sangat merindukanmu. Kapan kau datang melihatnya lagi?


"Toni? Astaga aku lupa melihatnya. Sudah enam bulan aku tidak menengoknya. Aku jadi merindukannya."


Tiba-tiba handphone-nya mendapat panggilan telepon. Muncul nama Nausha di layar handphone-nya.


"Astaga, kenapa dia meneleponku?" Gumam Lion menjatuhkan handphone-nya ke tempat tidurnya.


Namun Lion mengambilnya lagi untuk menjawab telepon tersebut.


"Ya tak sil'no skuchayu po tebe, moya lyubov' (Aku sangat merindukanmu cintaku)". Ucap Nausha di ujung telepon.


"Nomer yang anda tuju tidak terdaftar. Silakan periksa kembali nomer tujuan anda." Ujar Lion setelah itu mematikan handphone-nya. "Setiap kali dia ke negara ini kenapa selalu menghubungiku? Aku masih kecil dan kau sudah dewasa. Kau mengerti? Dasar wanita pedofil." Gumam Lion pada handphone yang berada di atas tempat tidurnya.


Tiba-tiba dari seberang kamarnya dia mendengar suara Melody sedang bermain gitar. Walau terdengar samar-samar, tapi Lion mendengar suara Melody yang bernyanyi.


"Sudah lama sekali aku tidak mendengarkan suaranya." Lion menatap ke arah tirai kamarnya.


Lion langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur dengan menghela napasnya. Dia kembali teringat mengenai perkataan Niko padanya tadi. Hal itu menjadi memenuhi benaknya saat ini.


"Menikah ya? Apa dia akan mau menikah dengan Niko?"


...@cacing_al.aska...