MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Penebusan Dosa



Sepeninggalan ayah mereka, ketiga Musketeers menatap tajam Niko. Mereka bertiga terlihat sangat marah dengan rencana Niko yang ingin menikahi adik tersayang mereka. Mereka sudah tidak bisa menahan emosi mereka lagi sekarang.


"Niko sebaiknya kau pulang." Ujar Melody takut ketiga kakaknya akan lepas kendali.


"Tenang saja, ada yang aku ingin bicarakan dengan ketiga kakakmu." Jawab Niko tersenyum pada Melody.


"Melo, masuk ke kamarmu!!" Seru Aramis yang masih duduk di meja makan. "MASUK KE KAMARMU, MELO!!"


Melody terhentak mendengar bentakan Aramis dan segera naik ke atas. Gadis itu sangat gemetar karena Aramis terlihat sangat marah sekali.


"Masuk ke kamarmu, Melo!!" Seru Prothos melihat Melody berdiri di lantai dua masih memperhatikan mereka.


Dengan langkah berat Melody masuk ke kamarnya. Walau sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Niko bersama ketiga kakaknya yang terlihat sudah sangat menahan emosi dari tadi. Gadis itu sangat yakin Niko dalam masalah saat ini.


Melody berpikir harus melakukan apa. Dia tidak ingin ketiga kakaknya menghajar Niko. Niko pasti tidak akan bisa menghentikan mereka untuk tidak menghajarnya. Apalagi Aramis terlihat sangat marah tadi.


Melody menoleh ke kamar Lion. Saat ini lampu kamar Lion sudah menyala, kalau begitu dia pasti sudah di rumah. Tanpa memikirkan apapun Melody mengambil handphone di dalam tasnya, lalu mencari nomer Lion di daftar panggilan telepon untuk menghubunginya.


Lion sedang bermain game PC saat Melody menelepon. Telepon dari Melody membuatnya heran. Dia berhenti bermain dan membuka headset-nya lalu mengintip ke jendela kamarnya yang tertutup tirai. Dia melihat Melody berdiri di jendela kamarnya dengan air mata berlinang sambil meneleponnya.


"Ada apa?" Tanya Lion dingin menjawab telepon Melody.


Melody sangat bersyukur Lion menjawab teleponnya.


"Tolong Niko, saat ini dia berada di bawah hanya dengan ketiga kakakku. Mereka pasti memukulinya karena semua yang dikatakannya barusan." Jawab Melody.


Lion langsung menutup telepon. Dia berpikir sejenak apa yang akan terjadi pada Niko dan apa maksud ucapan Melody mengenai apa yang dikatakan Niko barusan pada mereka. Dengan segera pemuda itu bergegas ke rumah yang ada di samping kanan rumahnya.


Ketika Lion masuk Aramis sedang menghajar Niko, sedangkan Athos masih berada di tempat duduknya tadi di sofa ruang tamu dan Prothos hanya berdiri menonton kembarannya memukuli Niko.


"Hentikan!!" Seru Lion menahan Aramis agar berhenti memukuli Niko yang sudah terlihat babak belur. "Kenapa kalian masih saja bersikap seperti ini padanya?"


"Lion, apa kau tahu tentang keinginannya menikahi Melo?" Tanya Athos tanpa menoleh pada Lion yang berada di belakangnya bersama yang lainnya.


"Ya, dia sudah bilang padaku." Jawab Lion.


"Apa kau tidak masalah?" Tatap Prothos.


"Aku tidak ingin ikut campur." Jawab Lion.


"Kalian bertiga seharusnya tidak melakukan ini padaku. Sebelumnya aku sudah memperingatkan kalian kan mengenai hal ini?" Ujar Niko dengan sisi bibir yang berdarah. "Untuk membayar hutang dan menebus dosamu Ars, kau harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga bagi kalian!!"


Athos bangkit berdiri dan menoleh setelah mendengar perkataan Niko. Hal ini yang sangat dia takuti dan akhirnya tebakannya benar. Niko menginginkan Melody untuk menebus dosa Aramis kepadanya.


"Aku masih memegang perjanjian bermaterai itu." Senyum Niko. "Kalian tidak bisa berbuat apapun untuk menentang keinginanku untuk menikahi Melody."


"Ini antara aku dan kau!! Tidak seharusnya kau menyeret adikku dalam masalah ini!!" ujar Aramis.


Setelah berkata seperti itu, Niko keluar dari rumah. Keadaan sejenak menjadi hening setelah kepergian Niko.


"Lihat, hasil perbuatanmu Lion. Seharusnya kau membiarkannya mati waktu itu. Sekarang kau pun ikut merasakannya." Ujar Aramis.


Tiba-tiba Lion memukul wajah Aramis dengan sangat kesal.


"Kenapa kau menyalahkan aku atas tindakan bodohmu dulu?" Tanya Lion kesal. "Seharusnya kau berlutut minta maaf padanya dulu dan tidak membuat perjanjian bodoh itu untuk menebus dosamu!!"


Aramis hanya terdiam mendengarnya.


"Kau membuat hidupnya hancur karena kau membakar tangannya itu!!" Seru Lion sangat kesal pada Aramis.


Melody yang mendengarkan percakapan itu terasa tercekat mendengar semuanya. Dia duduk bersandar di dekat tembok pagar pembatas dengan memeluk kedua kakinya.


"Mimpinya sebagai atlet renang hancur karena tindakan kekanak-kanakanmu dulu, bodoh!!"


Air mata Melody semakin deras mendengar perkataan Lion. Dia tidak menyangka kalau orang yang membuat hidup Niko hancur adalah kakaknya sendiri, yang membakar tangan kiri Niko sehingga dia tidak bisa lagi menjadi atlet renang, dan harus melupakan mimpinya itu.


"Seharusnya dulu aku membiarkan Niko melaporkanmu ke polisi dan tidak mendengarkan permohonanmu." Lanjut Lion. "Sekarang kau tinggal pilih, Ars, membiarkan Niko menikahi adikmu atau kau harus kehilangan tangan kirimu juga?! Di perjanjian itu kau ingin menebus dosamu kan?"


Tak ada satupun dari ketiga Musketeers mengeluarkan suaranya. Mereka bertiga sudah tidak bisa berbuat apapun sekarang.


"Aku tidak mengerti dengamu, Ars. Kenapa setelah semua perbuatanmu pada Niko kau masih saja membencinya? Seharusnya Niko lah yang membencimu, bodoh!! Kalian berdua sama saja, aku tidak heran karena kalian bertiga saudara kembar. Kalian memang sama. Selalu sombong dan tidak pernah menurunkan ego kalian. Seharusnya kalian baik padanya bukan memusuhinya sehingga membuat semuanya jadi semakin rumit."


Melody merasa yang dikatakan Lion benar. Ketiga kakaknya sangat membenci Niko padahal seharusnya Niko yang lebih membenci mereka setelah hidupnya dibuat hancur begitu. Sikap Niko kepada ketiga kakaknya adalah wajar, malah Melody merasa kalau Niko terlalu baik pada ketiga kakaknya itu, terutama pada kakaknya Aramis yang selalu menunjukan kebencian pada Niko.


Melody menyadari kalau Niko memang pria yang baik dengan nasib yang malang. Dengan semua penderitaan yang didapatnya itu dia masih bersikap baik padanya dan ketiga kakaknya dengan membiarkan dirinya dibenci seperti itu oleh kakak-kakak Melody.


"Tapi kalian tenang saja." Ucap Lion. "Niko itu orang yang paling baik yang aku kenal. Kali ini pun semua keputusan ada pada adik kalian. Niko tidak akan berbuat apapun jika adik kalian menolaknya. Aku sangat yakin itu."


Ketiga Musketeers menoleh pada Lion setelah mendengar perkataannya.


"Tapi bukan berarti Niko melepaskanmu, Ars." Lanjut Lion. "Dia akan datang lagi meminta penebusan dosamu hingga dia mendapatkan yang diinginkannya."


Setelah berkata demikian Lion berjalan keluar meninggalkan ketiga Musketeers yang masih membisu.


Melody bangkit berdiri dan keluar dari tempat persembunyiannya. Dia akan melakukan sesuatu. Gadis itu berpikir harus mengatakan sesuatu kepada ketiga kakaknya yang sangat jahat itu. Dia menatap ketiga kakaknya dari lantai dua. Ketiga Musketeers melihat Melody dan tahu kalau adik mereka itu mendengarkan semuanya.


"Apa kalian tahu seberapa besar penderitaan seseorang yang kehilangan mimpinya?" Tanya Melody dingin pada ketiga kakaknya. "Bahkan aku saja yang tidak mengalaminya merasa sangat tidak bisa menanggung penderitaan itu. Seharusnya kalian memohon ampun padanya dan tidak membencinya. Tapi bahkan kalian masih bersikap tidak baik padanya? Untuk pertama kalinya aku menyesal memiliki ketiga kakak seperti kalian."


Melody menghapus air matanya dan mengatur napasnya sesaat sebelum melanjutkan apa yang ingin dikatakannya pada ketiga Musketeers.


"Aku akan setuju dengan semua yang diinginkan Niko." Ucap Melody. "Tapi bukan karena untuk menebus dosa siapapun, tapi agar kalian mengerti bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang paling kalian anggap berharga."


...@cacing_al.aska...