MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Gadis yang Merepotkan



Setelah pulang sekolah, Lion bersama Niko berada di sebuah kawasan yang cukup sepi. Mereka berada di atas motor mereka masing-masing.


"Kau ini kenapa tidak memberitahu aku sebelumnya kalau ingin pindah sekolah?" kata Lion setelah membuka helm-nya.


"Aku sudah minta maaf kan tadi." senyum Niko yang juga melepas helm-nya.


"Kau memang suka pamer, Niko. Kau baru beli motor lagi? Astaga, anak orang kaya memang mengerikan." gumam Lion turun dari motornya dan memperhatikan motor Niko yang berwarna biru gelap. "Ini BMW keluaran terbaru. Kau buat aku iri."


"Tukar saja dengan motormu."


"Apa?" tatap Lion memasang wajah terkejut. "Aiiss, aku tidak akan mengganti Meganku dengan apapun."


Niko tertawa mendengarnya.


"Aku tidak bodoh, Lion. Kau juga baru mengganti motormu kan? Seberusaha apapun kau membuatnya mirip dengan sebelumnya, siapapun tetap akan tahu." ujar Niko bersandar di motornya.


"Kapan aku menggantinya?" ujar Lion masih mengelak. "Kenapa kau pindah sekolah? Padahal sekolahmu sebelumnya jauh lebih bagus."


"Mungkin biar aku naik kelas."


Niko menatap Lion yang tertawa, lalu dia ikut tertawa melihat sikap bodoh Lion.


"Padahal kau juga tahu alasan aku pindah kan? Masih pura-pura bertanya." ujar Niko.


"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan tadi, mana aku tahu."


Niko menggelengkan kepalanya menanggapi kebohongan Lion. Sebenarnya Lion juga menguasai bahasa Rusia karena ketika Niko pindah ke negara ini beberapa tahun yang lalu, Niko mengajarkannya bahasa tersebut pada Lion. Bahkan sebenarnya mereka sudah berteman sejak dulu karena keluarga mereka bersahabat.


"Bagaimana menurutmu?" tatap Niko yang saling berhadapan dengan Lion.


"Mengenai apa?"


"Melody." jawab Niko cepat. "Aku menyukainya."


Lion diam menatap Niko namun saat ini dia sedang berpikir.


"Kau dekat dengannya kan?" tanya Niko. "Apa kau menyukainya juga?" selidik Niko pada Lion yang diam.


"Kau mengatakan menyukainya padaku untuk minta dukungan atau bantuanku?" tanya Lion.


"Keduanya." jawab Niko. "Kau adalah temanku, aku yakin kau akan mendukungku."


"Siapa bilang?" tatap Lion naik ke motornya. "Kalau kau lebih dulu sampai ke gedung itu, aku akan mendukung dan membantumu." Lion menunjuk sebuah gedung tinggi lalu memakai helm-nya.


"Baiklah." senyum Niko memakai helm-nya juga.


Mereka berdua mulai menggeber gas motor mereka lalu melesat bagai roket beriringan. Mereka tidak memedulikan pengendara lainnya yang merasa terganggu oleh mereka demi bisa lebih dulu sampai di gedung target mereka.


Lion dan Niko saling susul menyusul dan salip menyalip. Ketika akan sampai Lion yang lebih unggul tiba-tiba tersalip dengan mudah oleh Niko.


Dan Niko sampai lebih dulu, menang.


"Astaga, kenapa di saat seperti ini aku yang kalah." gumam Lion membuka helm-nya ketika sampai.


"Kenapa kau melambatkan laju motormu saat akan sampai?" tanya Niko kesal.


"Kau tidak lihat tadi ada kucing menyebrang?" ujar Lion. "Karena itu aku agak melambat."


Niko tertawa kesal karena Lion berbohong padanya lagi.


"Aku akan mendukung dan membantumu, Niko." jawab Lion menatap Niko. "Seperti yang kau bilang, aku ini temanmu."


Niko tersenyum mendengar jawaban Lion.


"Aku rasa kau tidak akan kuat dengannya."


"Kenapa begitu?"


"Semua sifat buruk ketiga kakaknya ada di dia. Kaku, dingin, sombong, kata-kata yang tajam dan pendiam. Siapapun tak akan ada yang bisa betah dengannya. Dia gadis yang merepotkan."


"Tapi kenapa selama ini kau betah?" tanya Niko menatap Lion.


Lion menggeleng.


"Sejujurnya aku pun tidak betah." jawab Lion setelah itu tersenyum bodoh.


"Aku rasa semua yang kau katakan tidak membuatku takut. Kau tahu? Mungkin karena itu aku menyukainya. Setelah mendengar perkataannya padamu sewaktu di bandara, dia wanita yang keren."


Lion terdiam mendengar ucapan Niko.


"Niko, ingatlah kau jangan pernah memaksanya untuk hal apapun, kalau kau tidak mau membuatnya membencimu seterusnya." seru Lion dengan serius.


"Baiklah, akan aku ingat." jawab Niko. "Masalahnya ketiga Musketeers."


"Jangan khawatir." ucap Lion. "YA mogu s etim spravit'sya (Aku bisa mengatasinya)."


...***...


Jam Lima sore Anna yang baru selesai rapat OSIS, berjalan keluar sekolah hendak pulang. Namun ketika dia menoleh ke samping gerbang sekolah, Aramis berdiri bersandar di tembok sekolah sambil menundukan kepalanya dan memainkan kakinya.


"Ars, sedang apa kau?" tanya Anna terkejut melihat Aramis.


Aramis mengangkat kepalanya dan melihat Anna dengan senyum tipis.


"Kau tidak sedang menungguku kan?" tatap Anna pada Aramis yang berjalan mendekatinya. "Seharusnya kau menghubungiku biar aku bisa lebih cepat pulang."


"Temani aku untuk mencari ide untuk lomba itu." jawab Aramis.


Aramis mengajak Anna ke sebuah sungai yang berada tidak terlalu jauh. Mereka hanya duduk di kursi yang terbuat dari kayu yang ada tidak terlalu jauh dari bibir sungai.


"Berada di pinggir sungai saat senja benar-benar sangat menyenangkan." ucap Anna tersenyum pada Aramis. "Ngomong-ngomong, aku pun tidak percaya kalau Niko pindah sekolah hanya untuk mendekati Melo."


"Kau mengingatkan aku lagi dengan bocah tengik itu." ujar Aramis kesal. "Kau tahu, dia berkata apa padaku?"


"Apa?"


"Dia bilang kalau sekarang aku berlindung di belakangmu. Bahkan dia menyebut kalau kita merasa seperti Bonnie and siapa ya tadi?


"Bonnie and Clyde maksudnya." jawab Anna.


"Nah, itu. Tapi kau tahu kisah mereka? Kenapa si tengik itu bilang semoga saja akhir dari kita tidak seperti mereka. Memangnya seperti apa akhir dari kisah mereka?"


"Mereka berdua mati." jawab Anna. "Mereka sepasang kekasih yang terkenal karena selalu berhasil kabur setelah mencuri banyak bank."


"Dasar bocah tengik sialan. Dia menyamakan aku dengan pencuri." gumam Aramis kesal.


"Sudah gelap, ayo kita pulang." seru Anna bangkit berdiri.


Mereka berdua berjalan ke jembatan besar yang terbuat dari batu bata yang kuat dengan lebar batu bata sekitar dua puluh sentimeter. Mereka menyeberangi jembatan tersebut di pinggir karena di tengahnya, kendaraan bermotor ramai berlalu lalang.


Tiba-tiba Anna menaiki pinggiran jembatan yang terbuat dari batu bata tersebut. Aramis yang berada di bawah menjadi khawatir.


"Anna, turunlah!!" seru Aramis pada Anna yang berdiri tegak di pembatas sungai membelakanginya. Saat ini dia melihat ke arah sungai.


"Arus sungainya deras sekali." ucap Anna.


"Karena itu turunlah!!" seru Aramis.


"Ars, aku pernah berbohong padamu." ucap Anna lagi. "Sebenarnya aku bisa berenang."


Aramis tidak menjawab perkataan Anna dan hanya menatap Anna yang berdiri membelakanginya.


"Aku merasa bersalah karena kau terlihat sangat khawatir saat aku tercebur di kolam renang waktu itu. Maaf ya aku sudah berbohong."


"Aku sudah lupa. Turunlah sekarang!!"


Anna menoleh dan hendak berbalik, namun langkahnya terlalu lebar hingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke arah Aramis. Beruntung Aramis menangkap tubuh Anna dalam pelukannya.


"Sudah aku bilang 'kan?!" ucap Aramis kesal menatap Anna yang masih berada di gendongannya.


"Aku tahu kau akan menangkapku." senyum Anna.


"Tapi bagaimana kalau kau jatuh ke sungai tadi?"


"Aku juga yakin kau akan menangkapku."


"Bagaimana kalau aku juga terseret dan kita jatuh berdua, bodoh?!" tatap Aramis yang masih menopang tubuh Anna di pelukannya.


Anna menatap Aramis dalam-dalam.


"Aku senang jika kita mati bersama."


Aramis terdiam mendengar ucapan Anna. Namun setelahnya Anna tertawa dan langsung turun dari pelukan Aramis.


"Pantas saja aliran lukisanmu Romantisisme, kau sangat suka sekali drama, Ars." ledek Anna berjalan menjauh dari Aramis.


Aramis hanya menatap kesal gadis itu yang berjalan pergi darinya.


...***...


Melody keluar tempat kursusnya. Tadi pagi Lion bilang akan menjemputnya dan mengajak Melody untuk makan ramen setelah pulang kursus. Saat kursus tadi dia ingin sesi latihan segera berakhir secepatnya.


Dengan langkah semangat dan perasaan yang senang Melody berjalan keluar. Namun dia terkejut ketika bukan Lion yang menunggunya, melainkan Niko.


Niko melambaikan tangannya pada Melody di atas motornya dengan sebuah senyuman.


"Dimana Lion?" tanya Melody pada dirinya sendiri.