
Kabar kalau ketiga Musketeers berkelahi dan saat ini dirawat di rumah sakit sudah tersiar hari itu juga. Banyak spekulasi yang berhembus, kabar paling parah adalah kalau saat ini mereka bertiga dalam kondisi koma.
Seluruh grup chat di penuhi dengan kabar mereka. Widia yang membaca berbagai macam kabar yang menyebar, membuatnya jadi mengkhawatirkan kondisi Prothos saat ini.
"Apa aku harus meneleponnya?" tanya Widia pada dirinya sendiri. "Sepertinya kalau bertanya hanya untuk tahu kondisinya tak masalah."
Dia berniat menanyakan kondisi Prothos dengan meneleponnya. Dia mencari nama Prothos di daftar panggilannya, lalu menekan memanggil. Tidak berapa lama teleponnya dijawab.
"Prothos, apa kau baik-baik saja?" tanya Widia saat teleponnya tersambung.
"Apa? Protes? Kau ingin protes padaku? lakukan saja di aplikasi langsung." jawab seseorang di ujung telepon.
"Maaf, ini bukannya telepon Prothos?"
"Hah? Siapa? Bukan, bukan. Salah sambung."
Widia langsung menutup teleponnya dan menjadi bingung. Waktu itu Prothos menghubunginya dengan nomer ini, tapi kenapa bisa salah sambung?
Widia tidak tahu kalau Prothos tidak memiliki handphone, dan orang yang di teleponnya barusan adalah supir taksi yang teleponnya pernah dipinjam Prothos.
...***...
Ketiga Musketeers membicarakan video yang hilang di rekaman handphone Melody, keesokannya. Tadi pagi, Prothos meminta Melody untuk mengirim video tersebut tetapi ketika Melody hendak mengirimnya, video tersebut tidak ada.
"Melo bilang Lion yang mengembalikan handphone-nya." ucap Prothos. "Ars, sebenarnya siapa Lion? Ini pasti perbuatannya."
"Lion pasti punya alasan sendiri kenapa dia melakukannya." jawab Athos. "Anak itu memang beda."
"Kau tidak perlu takut, Oto!! Lion, ada bersama kita." ujar Aramis. "Dia bukan tipe pengkhianat."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncul Lion dari luar.
"Selamat siang, kalian pasti membicarakanku 'kan?" tanya Lion. "Ah mengenai rekaman itu, maaf sekali Oto, aku harus menghapusnya."
Ketiga Musketeers hanya menatap pada Lion.
"Mereka semua adalah teman-temanku, semua ini hanya masalah kesalahpahaman yang terjadi karena Mario mempengaruhi mereka. Jadi aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mereka juga, sama halnya aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kalian bertiga." jelas Lion.
"Sudah ku bilang jangan terlalu curiga, Oto." ujar Aramis mengubah posisinya jadi memunggungi mereka semua.
"Baiklah, maafkan aku." ucap Prothos.
"Aku yang minta maaf pada kalian." ucap Lion. "Bara bertanya padaku tentangmu, tetapi aku memperingatkannya agar tidak berbuat apapun padamu, tapi ternyata Mario berkhianat dan membocorkan tentangmu pada Bara dan dia membantunya juga. Itu semua salahku karena terlalu percaya pada Mario."
"Sudahlah Lion, itu juga bukan salahmu." jawab Athos.
"Karena kesalahanku, Melo jadi terluka." tambah Lion.
"Itu salahku karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku minta maaf padamu." ujar Prothos.
"Lho kenapa minta maaf padaku?" tanya Lion aneh. "Sudahlah, aku harus menemui David."
Setelah itu Lion keluar.
"Percuma saja kau mengetesnya." seru Athos pada Oto. "Anak itu sangat sulit dipahami. Bukan begitu, Ars?"
"Diamlah!! Aku mau tidur!!" seru Aramis.
Anna dan Tasya datang ke rumah sakit saat pulang sekolah. Mereka langsung masuk ke ruangan dimana Musketeers dirawat.
"Pacarku yang keren kenapa kau sampai babak belur begini?" peluk Tasya ketika melihat Athos di atas ranjang. "Aduh, pasti sakit ya?" Tambah Tasya menyentuh luka yang membiru di sudut bibir Athos. "Sini aku cium biar sembuh."
"Hentikan Tasya!! Menjijikkan sekali." ucap Prothos langsung berbaring.
Tasya tersenyum pada Prothos.
"Kalian sudah makan?" tanya Anna yang berdiri di tengah-tengah. "Ini ada bolu susu kiriman dari anggota osis."
"Berikan padaku!!" seru Aramis bangun.
Anna memberikannya pada Aramis dan Aramis langsung melahapnya.
"Sepertinya kalian baik-baik saja, kenapa kalian sampai di rawat?" tanya Anna.
"Kami minta di rawat, karena ayah kami akan membunuh kami kalau kami pulang sebelum Melo sembuh." jawab Prothos.
Anna dan Tasya tertawa mendengarnya.
"Aku dengar nanti beberapa guru akan datang menjenguk." ucap Anna melirik Prothos.
Prothos hanya diam tak tertarik.
...***...
"Buat apa kau kesini?" tanya David.
"Kau kan temanku, jadi aku datang menjengukmu." jawab Lion. "Terimakasih ya kau datang kesana. Aku kira kau tidak akan datang."
"Jangan berterimakasih diantara teman." ucap David.
"Aku juga minta maaf karena membuatmu harus ikut-ikutan babak belur seperti ini." ujar Lion. "David, aku mohon jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Kalau ada yang bertanya jangan menyebut nama siapapun."
"Maksudmu apa?" tanya David bingung.
"Semua ini salah paham karena orang bernama Mario dan Bara, mereka semua jadi ikut-ikutan terkena dampaknya. Mereka semua tidak tahu kalau mereka ditipu Mario dengan menggunakan namaku."
"Menggunakan namamu? Sebenarnya kau ini siapa?" tanya David menatap Lion curiga.
"Hanya seorang teman yang mau melindungi teman-temannya." jawab Lion tersenyum.
...***...
Handphone Lion berbunyi ketika dia keluar dari ruangan David dirawat. Seorang temannya bilang kalau Mario kabur ke kota sebelah.
Lion mencari daftar nama di handphone-nya, dan menghubungi seseorang.
"Niko, aku butuh bantuanmu." ucap Lion.
"Ne volnuysya (kau tidak perlu khawatir), aku sudah dengar, dan kami sudah mencarinya." jawab Niko di ujung telepon bercampur bahasa Rusia.
"Kau memang temanku." jawab Lion dengan senyum. "Tapi aku ingin dia ditemukan hari ini juga, dan bawa dia ke tempatku tapi jangan menyakitinya." lanjut Lion dengan nada serius.
"Net problem (tidak masalah)."
Setelah menelepon, Lion masuk ke ruangan Melody dirawat. Paman Ronald berada di sana sedang melepas infusan.
"Kenapa dilepas paman?" tanya Lion berdiri dekat ranjang samping kanan Melody.
"Aku akan memindahkan infusannya karena tangannya bengkak." jawab paman Ronald berjalan ke sebelah kanan Melody dan bertukar tempat dengan Lion.
"Ya ampun, kau baik-baik saja Melon? Kenapa jadi bengkak begini?" tanya Lion memegang lengan kiri Melody yang bengkak.
"Singkirkan tanganmu!!" seru paman Ronald.
Lion tertawa mendengarnya dan melepas lengan Melody. Dia hanya memperhatikan paman Ronald yang menusuk lengan Melody dengan jarum.
"Pasti sakit sekali ya, Melon?"
Seperti biasa, Melody tidak menjawab.
"Baiklah, aku harus kembali bekerja, banyak pasien sudah menungguku." ujar paman Ronald merapikan bekas jarum infusan. "Lion,, jagalah Melo, ya?"
Lion hanya menggangguk sedikit dengan menggigit bibirnya.
"Bagaimana Melon? Apa semalam kau mendengar sesuatu? Apa kau melihat hantu?" tanya Lion menakuti Melody.
"Jangan menakutiku, bodoh!" seru Melody kesal.
"Oh iya, selamat ya untuk kompetisi kemarin." senyum Lion. "Tunggu, aku punya sesuatu untukmu."
Lion mengambil sesuatu di tasnya, dan menyodorkan kepada Melody, sebuah permen lolipop.
"Kau tidak mau?" tanya Lion.
Melody tidak menjawab dan hanya menatap kesal Lion dan langsung berbaring tidak tertarik.
"Ya sudah kalau tidak mau." jawab Lion setelah itu membuka bungkus permen dan memasukannya ke mulut.
Lion berbaring di sofa besar yang berada di sebelah kiri ranjang Melody, sambil memainkan game di handphone-nya dengan headphone yang terpasang di telinganya.
"Bodoh!!" ucap Melody yang menatap Lion yang serius pada permainannya.
...----------------...
LION
Visual Model:
V (BTS) a. k. a Kim Tae-hyung