
Anna sedang ada di minimarket dekat sekolah, dia mampir sebentar untuk membeli keperluan sebelum pulang ke rumah, setelah ujian selesai.
Tiba-tiba Athos meneleponnya.
"Apa kau bersama Ars?"
"Tidak, aku belum melihatnya hari ini." jawab Anna. "Apa dia tidak ke sekolah tadi?"
"Tadi pagi anak itu berangkat bersama kami, tapi di saat jam kedua ujian dia pergi entah kemana." ujar Athos. "Dia juga tidak menjawab teleponnya."
"Aku akan mencoba menghubunginya." jawab Anna setelah itu menutup teleponnya.
Anna mencoba menghubungi Aramis namun berkali-kali dia teleponnya tidak dijawab.
"Pergi kemana dia?" gumam Anna khawatir.
...***...
Di saat semua orang mencarinya, Aramis duduk di pinggir danau di suatu kawasan yang sangat sepi, seorang diri. Di sampingnya tergeletak tas miliknya dimana handphone-nya ada di atasnya. Handphone itu terus saja bergetar namun diabaikannya.
Aramis hanya duduk sambil meminum minuman kaleng tanpa melakukan hal lainnya. Itu merupakan kebiasaannya ketika dia sedang malas atau sedang menghindari apapun. Menyendiri di tepi danau, jembatan layang atau atap gedung tua yang kosong. Biasanya dia akan membuat sketsa lukisan di bukunya, namun kali ini dia hanya diam saja.
Muncul segerombol preman yang memantau Aramis beberapa menit lalu, jumlahnya tujuh orang dan di antaranya ada yang membawa pisau. Preman-preman tersebut mengincar handphone, jam tangan serta semua yang dipakai Aramis.
"Cepat serahkan handphone dan jam tangan, serta sepatu yang kau pakai!!" seru salah satu preman yang membawa pisau.
Aramis menoleh ke belakang, para preman tersebut sudah siap untuk menggertak Aramis, namun Aramis masih bersikap santai.
"APA KAU TIDAK DENGAR? CEPAT SERAHKAN KALAU TIDAK MAU TERLUKA!!"
"Berisik sekali." gumam Aramis mengorek kupingnya sambil bangkit berdiri.
Aramis memandang satu persatu dari para preman untuk membaca gerak-geriknya. Dia tertawa mengejek.
"Aku bukan putri tidur dengan tujuh kurcaci..." sebut Aramis membuat para preman tersulut emosi.
"Apa katamu?"
"Majulah!!" seru Aramis mengisyaratkan dengan tangannya.
Para preman itu pun tanpa ragu menyerang Aramis secara bersama.
Setelah melalu pertarungan yang sengit dengan para preman, Aramis berhasil melarikan diri. Dia kabur dan bersembunyi, hingga preman-preman tersebut pergi.
"Dasar para kurcaci..." ucap Aramis keluar dari tempat persembunyiannya.
Aramis berjalan dengan wajah yang babak belur dan sebuah goresan pisau di tangannya, namun dia mengabaikannya dan hanya mengusapnya dengan tangan satunya.
Tiba-tiba handphone-nya berbunyi lagi, kali ini dia merogoh sakunya, mengambil handphone tersebut untuk menjawabnya.
"Dimana kau?" tanya Anna. "Kami semua mencarimu!!"
"Dasar cerewet!!" jawab Aramis. "Sudah aku bilang, jangan ikut campur masalahku!!"
Setelah berkata demikian Aramis langsung menutup teleponnya.
"Kenapa dia harus kembali?" tanyanya pada takdir. "Hidup damaiku jadi berantakan karena si cerewet itu selalu ikut campur masalahku!!"
...***...
Walau ayah tidak berkata apapun tetapi Melody tahu kalau ayah sangat marah kali ini pada kakaknya tersebut.
Satu jam kemudian Aramis datang dengan wajah yang babak belur penuh luka.
Ayah dan paman Ronald menghadangnya setelah masuk ke pintu. Kakek sudah tidur di kamarnya, Athos sedang membaca buku di ruang tamu sedangkan Prothos mendengarkan musik dengan earphone sambil berbaring di sofa, dan Melody duduk di salah satu sofa melihat kehadiran Aramis.
Melody merasa kalau keadaan seperti ini tidak bagus. Ayah sangat marah pada kelakuan kakaknya Aramis dan sepertinya kali ini Aramis akan mendapat masalah serius karena pergi ketika ujian sedang berlangsung.
"Dari mana saja kau?" tanya ayah menatap Aramis dengan wajah dingin. "Mereka tidak mematahkan lehermu sampai tidak bisa menjawab pertanyaanku 'kan?"
"Maaf." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Aramis.
"JAWAB PERTANYAANKU!!" teriak ayah dengan geram.
Melody terkejut dan merasa takut mendengar teriakan ayahnya tersebut. Dia merasa kasihan pada Aramis dan ingin membantunya. Melody menatap Athos dan Prothos berharap kedua kakaknya itu menghentikan kemarahan ayahnya namun mereka berdua bersikap tidak peduli dan terus melanjutkan kegiatannya.
Melody menghampiri ayahnya dan memegang lengan ayah berharap ayah menghentikan kemarahannya.
"Ayah, jangan marah lagi!" ucap Melody memohon dengan mata yang berkaca-kaca. "Ayah lihat kan, kak Ars sudah penuh luka seperti itu?"
"Oto, bawa adikmu masuk ke kamarnya!" seru ayah mengabaikan perkataan Melody, karena saat ini kesabarannya sudah mencapai batas.
Prothos langsung menggiring Melody masuk ke dalam kamarnya. Melody hanya bisa menurut karena takut membantah dan tidak ingin memperburuk keadaan.
"Kau pergi di saat ujian dan pulang dengan babak belur seperti ini." lanjut ayah. "Apa kau ingin jadi brandalan, begitu?!" tatap ayah namun Aramis tetap tidak bergeming dan menundukan kepalanya. "Ron, beri anak ini pelajaran sampai dia merasakan bagaimana kemarahanku saat ini!!"
Paman Ron yang dari tadi ada di samping ayah, maju mendekati Aramis sambil menggulung kain di telapak tangannya.
"Jangan salahkan aku Ars, salahkan kelakuanmu yang bodoh itu." ujar paman Ronald setelah itu menarik baju Aramis dan siap memukuli Aramis seperti perintah ayah.
Di dalam kamar Melody mendengar apa yang terjadi di lantai bawah. Suara pukulan, rintihan Aramis yang kesakitan, dan suara ayah yang begitu dingin. Dia hanya duduk di sisi tempat tidur dengan bingung harus melakukan apa agar keributan di bawah berhenti.
"Melo..." panggil Prothos yang duduk di kursi meja belajar menghadapnya.
Tiba-tiba Prothos memakaikan earphone ke telinga Melody. Alunan musik klasik langsung memenuhi benaknya.
"Dengarkan saja musik ini, jangan pedulikan yang terjadi di bawah."
...***...
Keributan di bawah sudah tidak terdengar lagi. Melody segera keluar kamar dan turun dari lantai dua untuk mengetahui keadaan Aramis, namun tak ada siapapun di ruang tamu dan hanya ada Athos yang masih membaca buku.
"Kak Ato, dimana kak Ars?" tanya Melody menghampiri kakaknya tersebut.
"Ayah mengusirnya." jawab Athos menatap adiknya tersebut. "Melo, jangan khawatirkan dia, saat amaran ayah reda Ars juga akan kembali."
"Tapi, kak Ars harus diobati kalau tidak dia bisa mati, kak." jawab Melody setelah itu bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya.
Dia mengambil handphone-nya dan berpikir untuk menghubungi Lion. Entah kenapa dia berpikir untuk meminta bantuan Lion mencari Aramis.
"Lion, tolong bantu aku, aku harus menemukan kak Ars." ucap Melody mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Aku ini bukan 911 yang menerima bantuan dalam keadaan darurat." gumam Lion.
"Tolong aku, dia bisa mati kalau tidak diobati."
"Tenang saja dia tidak akan mati, malah aku yang akan mati karena tidak bisa tidur karena di ganggu olehnya." jawab Lion. "Dia ada disini dan membajak tempat tidurku, cepat bawa dia pulang sekarang karena aku sudah mengantuk!!"