MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Semua Kebohonganmu



Wisnu menghadang langkah Athos ketika Athos masuk ke café. Athos sudah bisa menebak dengan apa yang ingin dikatakan Wisnu padanya, mengenai hubungan kakak Wisnu dengan Prothos, kembarannya.


"Ato, aku ingin bicara denganmu." Ujar Wisnu langsung masuk ke ruang ganti karyawan dan Athos mengikutinya. "Kau tahu tentang Oto dengan kakakku? Maksudku, guru di sekolahmu."


"Aku baru tahu belakangan ini saat hubungan mereka sudah tidak baik." Jawab Athos. "Apa ada masalah?"


"Pagi ini Oto datang ke apartemen kakakku, tapi oleh kakakku dia diusir. Aku hanya tidak ingin melihat kakakku menderita karena ulah seorang pria lagi. Sebaiknya Oto jangan mendekatinya lagi, hubungan mereka tidak mungkin—"


"Wisnu, jangan ikut campur masalah mereka. Biarkan mereka yang memutuskan segalanya. Kau ingin kakakmu tidak menderita kan? Kalau begitu kau harus mendukung semua keputusannya." Ucap Athos.


...***...


"Ars, kau sudah makan siang?" Tanya Anna yang muncul di gedung tua, tempat Aramis sedang melukis. "Aku belikan makanan untukmu." Anna mengangkat kantong plastik yang dibawanya, berisi makanan untuk Aramis.


Aramis meletekan kuas dari tangan kirinya dan palette di tangan kanannya, dan membawa lukisannya ke pojokan dengan posisi menghadap pojokan ruangan.


"Biarkan aku lihat sebentar Ars." Pinta Anna sambil berjalan mendekati kanvas yang berdiri di pojokan.


Aramis langsung menghalangi Anna dengan tubuhnya, Anna tak mau menyerah dia mencoba menerobos namun Aramis mendorongnya.


"Kau pelit sekali." Gumam Anna.


Namu tiba-tiba Anna memeluk Aramis dan mencoba membawa Aramis menjauh setelah itu dia berlari menuju kanvas untuk melihatnya, tapi lagi-lagi Aramis tak tinggal diam.


"Aku tidak akan membiarkanmu melihatnya sekarang." Ucap Aramis yang memeluk Anna dari belakang untuk menghentikan gadis itu yang hendak melihat lukisannya. Tanpa diduganya Anna malah membanting Aramis. "Kau sangat pantang menyerah." Ucap Aramis yang terbaring di tanah.


"Baiklah, aku tidak akan lihat sekarang." Jawab Anna. Setelah itu dia membuka kantong plastik yang dibawanya lalu memberikan kotak berisi makanan pada Aramis yang mendekatinya.


"Kau sudah makan?" Tanya Aramis pada Anna yang sudah duduk di sisi gedung dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


"Sudah." Jawab Anna.


Aramis duduk di samping kiri Anna. Dia meletakan makanannya di samping kirinya.


"Berapa lama lagi akan jadi?" Tanya Anna menoleh.


"Sisa 20 jam lagi dari targetku untuk menyelesaikan. Dua minggu lagi sudah harus diserahkan."


Anna mengambil tas miliknya dan mengeluarkan tisu basah, lalu disodorkannya pada Aramis agar dia membersihkan tangannya sebelum makan karena tangannya terdapat banyak cat saat ini. Aramis melakukannya, dengan segera dia membersihkan tangannya dengan tisu basah tersebut.


"Bersihkan juga wajahmu." Seru Anna saat Aramis selesai membersihkan tangannya.


Namun Aramis malah lebih mendekatkan duduknya pada Anna, dan mencondongkan badannya agar wajahnya mendekat ke Anna. Dia ingin agar Anna yang membersihkannya.


"Astaga, kau jadi seperti anak kecil sekarang." Gumam Anna sambil mengeluarkan tisu basah dari tempatnya. Dengan segera Anna membersihkan wajah Aramis. "Aku dengar hadiah lombanya salah satunya adalah beasiswa di sekolah seni. Itu sangat bagus kan?"


Aramis menatap Anna yang membersihkan wajahnya. Tangan kiri Anna menarik rambut poni Aramis yang sudah memanjang ke belakang sedangkan tangan kanannya membersihkan dahinya yang terdapat cat warna. Anna berpikir kalau Aramis mengusap keringatnya dengan tangan yang terdapat cat, karena itu cipratan cat sampai ada di dahinya juga.


"Kau harus menang biar dapat beasiswa itu." ujar Anna. "Rambutmu kenapa cepat sekali panjang?"


"Aku tidak butuh beasiswa itu, aku hanya mau melihatmu dengan rambut yang panjang." Jawab Aramis.


Anna sempat tertegun, namun segera menyelesaikan tugasnya membersihkan wajah Aramis. Gadis itu tak berkata apapun menanggapi perkataan Aramis.


"Makanlah dulu sebelum makanannya dingin." Seru Anna memotong ucapan Aramis setelah itu mengambil makanannya dan meletakan ke tangan Aramis. "Setelah kau menyelesaikan lukisan itu kau harus fokus belajar agar bisa lulus. Kau mengerti, kan?"


"Kau harus membantuku belajar." Ucap Aramis. "Aku akan belajar kalau bersamamu."


"Kau ini sangat menyusahkan aku, tahu tidak?" Seru Anna kesal. "Cepat makan!"


Aramis menurut dan langsung memakan makanannya.


...***...


Lion berada di kamarnya, dia sedang memutar kembali rekaman percakapannya bersama Niko tadi siang. Dia sudah mengulanginya sebanyak lima kali. Lion berbaring di tempat tidurnya mendengarkannya.


"Ini sangat menyusahkan, aku harus mengingat semua kata-kata yang sudah aku ucapkan padanya." Keluh Lion. "Satu hal yang sangat menyusahkan saat berkata tidak jujur adalah kita akan melupakan semua yang sudah kita katakan. Karena itu aku harus merekamnya dan mendengarkan berkali-kali agar semua kebohongan itu tanpa sadar menjadi kebenaran yang ada diingatanku, sehingga jawabanku akan tetap sama saat dia bertanya lagi nantinya. Tapi ini sangat merepotkan. Kau benar-benar kurang kerjaan Lion. Kau menyusahkan dirimu sendiri dengan semua kebohonganmu." Racau Lion sambil memukul dahinya dengan tangan kanan yang terkepal.


...***...


Niko berada di pinggir kolam indoor miliknya. Dia duduk di sebuah kursi sambil menghisap rokok elektrik dan minuman kaleng di genggamannya. Dia menatap terus ke arah kolam dengan pikiran yang kosong. Terdengar samar-samar suara musik dari handphone miliknya yang menyetel sebuah lagu berbahasa Rusia yang berjudul Ptichka (Author : rekomen lagunya guys by HammAli and Navai).


Tak ada yang dipikirkannya, dia hanya mencoba mengosongkan pikirannya saat ini. Sejak kemarin dia terus memikirkan segalanya dan sejak berbicara dengan Lion, dia pun masih memikirkan segalanya. Hingga waktu sudah menunjukan pukul empat pagi Niko masih saja menikmati kesendiriannya, melamun di tempat favoritnya.


"Ada apa, Er?" Tanya Nausha yang tiba-tiba datang dan melihat adiknya yang melamun.


Niko tak menjawabnya. Nausha mengerti kalau adiknya selalu bersedih setiap kali berada di tempat itu. Dengan segera Nausha memeluk Niko dari belakang untuk mengurangi rasa sedih adiknya itu.


"Dalam minggu ini aku akan kembali ke Rusia. Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian, tapi aku harus kuliah, Er. Pindahlah juga bersama kami, papa dan mama ingin kau ke Rusia lagi dan tidak tinggal disini sendiri." Ucap Nausha masih memeluk Niko.


"Tidak, aku sudah punya rencana lain." Jawab Niko.


Nausha melepas pelukannya dan duduk di hadapan Niko.


"Atau kembalilah ke sekolahmu yang dulu dan tinggal lagi di penthouse paman. Disini kau akan selalu datang ke tempat ini dan kau menjadi sedih." ujar Nausha memegang pundak kiri Niko. "Aku sangat sayang padamu, aku tidak ingin melihatmu bersedih."


Niko diam saja dan tidak menanggapi perkataan Nausha. Dia sama sekali tidak ingin kembali ke Rusia ataupun ke sekolah lamanya, untuknya saat ini keinginannya hanyalah Melody.


"Er, pikirkan lagi juga tentang rencanamu dengan Melody, kau tahu gadis itu tidak menyukaimu. Itu hanya akan membuatmu menjadi semakin bersedih."


"Dia hanya belum menyukaiku. Aku akan membuatnya menyukaiku." Ucap Niko. "Kau tidak perlu mencemaskan aku, pulanglah ke Rusia, dan datang lagi saat aku dan Melody akan bertunangan. Dan jangan mengejar-ngejar Lion lagi, sekalipun dia tidak pernah melihat padamu."


"Iya, aku tahu." Jawab Nausha. "Tapi aku rasa aku akan kembali mengejarnya setelah lima tahun lagi." Senyum Nausha.


Niko menjadi tertawa mendengarnya.


"Saat itu dia akan menjadi lebih dewasa, dan pasti dia akan semakin berkharisma, aku akan mengejar-ngejarnya lima tahun lagi."


"Dan kau akan semakin tua. Carilah pria lainnya, kau bukan tipenya. Dia tidak suka dengan wanita mandiri sepertimu."


"Kata-katamu jahat sekali, Er." Nausha menatap kesal Niko. "Tidurlah, beberapa jam lagi kau harus berangkat ke sekolah. Aku tidak ingin dipanggil lagi karena kau sering terlambat. Kau bukan vampir sungguhan yang tidak butuh tidur, Er."


Nausha beranjak meninggalkan Niko sendiri. Dan Niko kembali seperti tadi. Tetapi kali ini dia memikirkan semuanya lagi. Terutama memikirkan kenapa Melody menangis saat menatap kamar Lion dari jendela kamarnya.


...@cacing_al.aska...