
Tasya pulang ke rumahnya, dan Dion sudah menunggu lama disana. Pria itu melihat tunangannya dengan kesal, terlihat jelas dari wajahnya yang langsung geram menghampiri Tasya.
"Kenapa kau tidak membalas pesanku dan teleponku juga kau abaikan terus?" tanya Dion kesal.
"Pulanglah, aku sangat lelah." jawab Tasya berjalan hendak meninggalkan Dion.
Tiba-tiba Dion menarik Tasya kasar hingga gadis itu hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada sofa.
Tasya menatap tunangannya itu dengan kebencian.
"Kemarin kau juga tidak pulang kan? Padahal ada makan malam keluarga? Kemana kau? Pasti kau bersama pria berengsek itu kan?"
"Kau yang berengsek!! Jangan bicara sembarangan mengenai pacarku!" tatap Tasya dingin.
"Apa? Memangnya kau bisa apa?" geram Dion langsung memukul wajah Tasya bagian kiri hingga Tasya tersungkur.
Tasya hanya menatap penuh kebencian pada tunangannya tersebut sambil memegangi wajahnya yang terasa sangat menyakitkan.
"Aku peringatkan kau, jangan mempermainkan aku!! Apalagi keluargaku!!"
Dion meninggalkan Tasya dan Tasya mulai terisak menangis sebelum seorang asisten rumah tangga wanita yang usianya sekitar tiga puluhan membantunya berdiri.
"Non baik-baik saja? Ini sudah keterlaluan non... dia sering kasar pada non."
"Tidak apa-apa Keke, aku baik-baik saja."
...***...
Athos kebingungan mencari Aramis yang belum pulang dan handphone-nya tidak bisa dihubungi. Padahal sudah jam sebelas malam. Lion pun tak tahu dia dimana.
"Sudahlah, nanti dia juga pulang." ujar Prothos pada Athos mereka duduk di meja makan.
"Ayah sudah tidur kan? Jangan sampai dia bangun ketika Ars belum pulang." ucap Athos. "Paman Ronald di rumah Anna?"
"Sepertinya begitu."
"Aku akan ke rumah Anna untuk bicara mengenai pergantian ketua osis. Dia harus mendaftar karena minggu ini akan ditutup pendaftarannya." kata Athos sambil berjalan. "Kabari aku kalau si bodoh Ars sudah pulang."
Athos masuk ke rumah Anna, pintunya tidak terkunci. Dia melihat paman Ronald sedang berbicara dengan Anna di ruang tamu.
"Ada apa Ato?" tanya paman Ronald.
"Infusmu sudah dilepas?" ujar Athos melihat Anna yang sudah duduk di sofa.
"Aku sudah sembuh, besok aku akan masuk sekolah lagi." jawab Anna tersenyum senang. "Tumben sekali kau kesini?"
"Ars sudah pulang?" tanya paman Ronald.
Athos yang masih berdiri menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Jangan beritahu ayahmu jika malam ini dia tidak pulang. Kau mengerti Ato?" ujar paman Ronald.
Anna terdiam karena memikirkan Aramis yang belum pulang. Aramis pergi dengan Jessica, kalau dia tidak pulang itu berarti mereka bersama-sama.
"Anna, besok daftarlah menjadi calon kandidat Ketua osis. Minggu ini pendaftaran ditutup."
"Aku?" tanya Anna terkejut dan menoleh ke paman Ronald.
"Tidak, Ato. Jangan Anna..."
"Tidak apa-apa paman, aku rasa aku tertantang menjadi ketua OSIS." ucap Anna tersenyum. "Baiklah, Ato. Aku akan mendaftar besok."
"Aku sudah bilang kalau kau harus banyak istirahat." ujar paman Ronald dengan penuh kekhawatiran pada Anna. "Baru saja aku menyuruhmu untuk mengurangi aktifitas."
"Paman, kau terlalu mengkhawatirkan aku. Aku masih muda. Aku akan bekerja keras seperti Ato."
...***...
Dengan pandangan yang masih sempoyongan Aramis membuka matanya. Dia mencoba memfokuskan indera penglihatannya yang kabur.
Dia melihat ruangan asing dimana tempatnya berada saat ini. Dengan terkejut Aramis melihat Jessica yang tertidur di sampingnya. Dan dia semakin terkejut ketika melihat di dalam selimut kalau saat ini baik dirinya maupun Jessica tidak menggunakan apapun.
"Ini masih terlalu pagi kalau kau mau pergi." ucap Jessica yang memeluk Aramis dari atas ranjang. "Jangan tinggalkan aku, Ars."
Aramis membalikan tubuhnya dan melihat Jessica yang hanya berbalut selimut.
"Sebenarnya apa tujuanmu?" tanya Aramis dingin.
"Aku ingin kita selalu bersama." jawab Jessica. "Aku mencintaimu, dan aku rasa kau juga mencintaiku."
Aramis tak habis pikir dengan kelakuan Jessica.
"Apa kau tidak ingat? Semalam kau berkata begitu selagi kita melakukannya..."
"Diamlah!!" seru Aramis. "Jangan menipuku, aku tidak bilang apapun padamu, apalagi melakukannya denganmu!!"
"Tega sekali kau bilang begitu setelah melakukannya denganku." ucap Jessica.
Tiba-tiba Jessica menarik wajah Aramis dan mencium paksa.
Aramis melepaskannya dengan sebuah tamparan ke pipi Jessica.
"Aku tidak pernah kasar pada wanita, tapi apa yang kau lakukan sudah melampaui batasanku!!" seru Aramis. "Berhentilah menemuiku!!"
Setelah berkata begitu, Aramis memungut kemejanya dan mengambil handphone beserta kunci mobil di atas meja, lalu ke luar kamar hotel dengan penuh amarah.
"Kita lihat saja, apa kau bisa menolakku?" ucap Jessica berbisik.
...***...
Pukul empat pagi Aramis mengendap-endap masuk ke rumahnya, namun tanpa diduga olehnya kedua kembarannya sudah berada di meja makan menunggunya.
"Hah, ternyata kalian sudah bangun." ucap Aramis sambil mengambil minuman kaleng di kulkas dan duduk di hadapan kedua kakak kembarnya.
"Dari mana saja kau?" tanya Athos tajam.
"Aku tertidur di rumah temanku." jawab Aramis sambil menenggak minumannya. "Aku lelah sekali sampai tertidur saat menonton pertandingan sepak bola."
"Tidak biasanya kau menginap di rumah temanmu selain rumah Lion. Bukannya kau tidak punya teman selain Lion?" ujar Prothos melihat keanehan dari wajah Aramis. "Kau terlihat lusuh sekali."
"Kalian berdua ini bukan ayahku, jangan menginterogasiku!!" seru Aramis sambil berjalan menghindar dari kedua kembarannya dan menaiki tangga.
Aramis masuk ke kamarnya lalu dengan kesal meninju tembok, saat mengingat apa yang terjadi padanya.
"Wanita itu menjebakku!!" gumam Aramis.
Tiba-tiba Prothos masuk ke kamar Aramis tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada apa?" tanya Aramis sambil membuka kemejanya.
"Kau tidak habis bersama Jessica kan?" tatap Prothos duduk di sisi tempat tidur Aramis.
Aramis hanya berdiri melihat kembarannya. Dia berusaha memasang wajah natural. Dia tahu kalau Prothos adalah manusia terpeka yang dia kenal, ditambah mereka adalah saudara kembar. Kalau dia terlihat mencurigakan, Prothos pasti akan langsung tahu.
"Kau ini bicara apa? Jangan berpikiran yang tidak-tidak padaku!!" ujar Aramis. "Keluar sana, aku lelah sekali. Aku akan tidur sebentar sebelum berangkat ke sekolah."
Prothos bangkit berdiri dan menuju pintu.
"Ars, aku rasa kau harus berhati-hati dengan Jessica. Entah kenapa aku merasa kalau ada yang disembunyikan gadis itu dari kita."
"Apa?"
"Sebaiknya kau jaga jarak dan kalau bisa jangan menemuinya lagi. Kau tahu kan kalau instingku terhadap wanita selalu benar?" lanjut Prothos. "Aku tidak ingin kau salah langkah."
Setelah berkata demikian Prothos langsung keluar kamar Aramis.
Aramis terdiam setelah mendengar ucapan Prothos, dan apa yang dikatakan kembarannya itu memang benar. Namun semuanya sudah terjadi.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku dari kemarin, bodoh?!" ucap Aramis sangat pelan, sekali lagi meninju tembok sangat kuat.
Di luar Prothos terdiam dan rupanya dia mendengar perkataan Aramis barusan.