
Anna berada di ruang OSIS hendak memulai rapat hari ini. Seharian beberapa orang membahas mengenai pemilihan wakil sekolah untuk kompetisi kejuaraan nasional karate.
"Ini sangat aneh bukan, kenapa yang terpilih adalah Panji dan buka David? Padahal kita semua tahu prestasi David dan kemampuannya jauh melebihi Panji." ujar seorang anggota OSIS yang sorang pria.
"Anna kenapa begitu? Apa kau tahu sesuatu?" tanya seorang anggota OSIS wanita pada Anna. "Pasti ada pertimbangan lain kan kenapa Panji yang terpilih?"
"Bisa saja guru yang memilih karena ingin memberi kesempatan pada yang lainnya." jawab Anna walau sebenarnya dia tahu jawabannya tidak masuk akal.
"Memberi kesempatan di kejuaraan sebesar ini? Apa itu bukan keputusan yang bodoh?" seru yang lainnya.
Anna setuju dengan ucapannya. Kejuaraan tingkat nasional adalah ajang bergengsi yang akan mengharumkan nama sekolah jika wakilnya memenangkan kompetisi tersebut, pasti seharusnya yang terbaiklah yang akan dikirim untuk mewakilkan membawa nama sekolah.
Anna merasa ada keanehan dalam keputusan tersebut. Pelatihnya pasti tahu siapa yang terbaik untuk mewakili sekolah untuk kompetisi itu, tapi siapa yang mengambil keputusan akhirnya?
...***...
Ketika seluruh anggota keluarga hendak makan di meja makan, Lion masuk ke rumah karena ayah Melody mengajaknya ikut makan bersama juga. Hanya paman Ronald yang tidak ada karena masih bekerja.
"Aroma ini sangat lezat." ujar Lion langsung menuju dapur melihat masakan yang sedang di siapkan Athos dan ayah. "Cumi asam manis? Pantas saja selezat ini aromanya."
Prothos yang sudah duduk di meja makan merasa tidak suka dengan kehadiran Lion. Dia langsung bangkit berdiri sedangkan yang lainnya sudah duduk di meja makan.
"Kau mau kemana, Oto?" tanya ayah yang membawa sepiring besar cumi asam manis. "Kau tidak ikut makan?"
"Tiba-tiba saja aku tidak lapar." jawab Prothos langsung naik ke atas.
"Tumben sekali, padahal ini makanan favoritnya." ujar ayah.
Lion tahu yang sebenarnya kenapa Prothos pergi, namun dia berpura-pura tidak tahu dan langsung duduk di kursi kosong di hadapan Melody, dan tersenyum bodoh pada gadis yang hanya melihatnya datar tanpa ekspresi.
Begitu pula dengan Athos, Aramis dan Anna yang mengetahui alasan Prothos meninggalkan meja makan. Namun mereka hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apapun.
"Dia masih saja marah." gumam Anna.
Hujan turun ketika mereka selesai makan malam. Seperti biasa Aramis dan Lion langsung bermain game di ruang TV. Melody dan Anna mencuci piring sedangkan Athos membersihkan meja makan dan mengurus sisa makanan. Sedangkan ayah menemani kakek di kamarnya.
"Ato, apa kau tahu sesuatu tentang pemilihan wakil sekolah di kompetisi karate tingkat nasional?" tanya Anna.
"Tidak. Aku tidak tahu menahu lagi masalah apapun di sekolah setelah kau ketua OSIS nya." jawab Athos sambil membuka kulkas memasukan beberapa makanan ke dalamnya.
"Siapa yang memiliki kuasa dalam memilih wakil tersebut?" tanya Anna lagi. "Pelatih atau guru yang bertanggungjawab di klub?"
"Pelatih tahu siapa yang terbaik di anggotanya, tapi guru lah yang mengambil keputusan akhir untuk memilih wakil sekolah." ucap Athos sambil mengelap meja.
"Ini sangat aneh." ujar Anna.
Melody hanya menyimak pembicaraan tersebut sambil menyusun piring-piring yang sudah bersih. Dia hanya berpikir dua orang pintar yang sedang berbicara di dapur sangat berbeda dengan dua orang bodoh yang sedang bermain game di ruang TV dan hanya membuat keributan karena saling mengejek.
Selesai mengerjakan urusan dapur, Athos langsung masuk ke kamarnya sedangkan Anna menonton pertandingan dua orang bodoh yang sedang bermain pertandingan sepak bola di video games. Melody sedang duduk di meja makan membaca-baca artikel di handphone-nya sambil menghabiskan sisa susu di gelasnya.
Melody membuka akun sosial medianya dan melihat sebuah akun mengajukan pertemanan dengannya. Akun tersebut memakai gambar seekor macan kumbang berbulu hitam, namun melihat namanya Melody tahu siapa dia.
X. Nikolayevich Mordashov.
Gadis itu mengabaikannya dan menutup aplikasinya segera dan kembali membuka artikel yang hendak dibacanya lagi.
Prothos turun ke bawah dan langsung ke dapur untuk membuat susu.
"Kak Oto, tidak makan?" tanya Melody tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone.
Tiba-tiba Lion berjalan ke dapur untuk mengisi gelas kosong yang di bawanya. Namun karena Prothos ada di dapur, Lion jadi menghampiri Melody dan berdiri di samping gadis yang sedang duduk itu.
"Kau sedang baca apa, Melon?" tanya Lion mencondongkan tubuhnya untuk melihat layar handphone Melody.
Prothos menoleh dan dari tempatnya dia merasa posisi Lion sangat dekat dengan adik perempuannya. Hal itu membuatnya emosi.
"Menyingkir dari adikku!!" seru Prothos menarik kasar Lion.
Melody terkejut melihat sikap kakaknya yang tidak seperti biasanya.
Aramis dan Anna langsung menghampiri mereka.
"Oto, ada apa ini?" tanya Aramis bingung.
"Jangan dekati Melo!!" seru Prothos menunjuk pada Lion dengan tatapan penuh kemarahan. "Pergilah, sebelum kesabaranku habis melihat tingkahmu!!"
Lion hanya diam dan langsung berjalan pergi, keluar dari rumah itu.
"Kak Oto, ada apa? Kenapa kakak seperti itu pada Lion?" tatap Melody heran.
"Mulai sekarang kau tidak boleh dekat-dekat dengannya!!" seru Prothos pada Melody setelah itu berjalan menaiki tangga.
Athos yang mendengar apa yang terjadi mengikuti Prothos masuk ke kamarnya sebelum sempat Prothos menutup pintu.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Oto? Kenapa kau menjadi membenci Lion seperti itu?" tanya Athos menatap Prothos yang duduk di kursi.
"Sebaiknya kau juga mulai menjauhkan Melo darinya. Aku tidak ingin Melo terlalu dekat dengan bocah itu." ucap Prothos. "Aku tidak mempercayainya sekarang. Pasti dia punya maksud lain selama ini."
Athos tidak percaya mendengar perkataan Prothos. Saat ini kembarannya itu sangat membenci Lion yang selama ini selalu membantu mereka menjaga Melody.
"Apa terjadi sesuatu padamu sampai kau membenci Lion seperti itu? Kenapa kau tidak mau bercerita padaku?" tatap Athos. "Sebenarnya ada apa? Aku pasti akan membantumu."
"Keluarlah, aku mau tidur." ucap Prothos dingin.
"Sebaiknya kau jangan terlalu keras mengatakan kalau kau membencinya. Karena suatu hari bisa saja kau menyesal sudah mengatakannya." ujar Athos menepuk pundak Prothos.
...***...
Lion turun dari motornya dengan jas hujan yang dipakainya ketika sampai di depan sebuah gedung hotel. Sebelum masuk, dia melepas jas hujannya terlebih dahulu.
Tiba-tiba handphone-nya bergetar.
"Mereka sudah keluar?" tanya Lion sambil berjalan dengan hanya penutup kepala di jaketnya sehingga dia masih kehujanan. "Baiklah, aku sudah sampai di depan, tolong persiapkan saja semuanya ya."
Lion menutup teleponnya dan memasukan kembali ke saku celana panjangnya.
Tiba-tiba Lion bersin-bersin.
"Astaga, sepertinya aku akan flu."
Sesampainya di dalam hotel tersebut, Lion hanya duduk di lobby hotel yang tidak terlalu ramai. Walau sebenarnya saat ini dia menggigil kedinginan namun dia tetap berada disana untuk menunggu seseorang.
Hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Lion sudah menunggu selama tiga jam disana. Lion beranjak berdiri saat melihat sepasang pria setengah baya dan wanita muda berjalan keluar hotel tersebut.
Lion menunggu sesaat sebelum dia menaiki lift tersebut karena bersin-bersin.
"Aku benar-benar menggigil." gumam Lion saat masuk ke dalam lift.