
Anna masuk ke ruang kerja paman Ronald setelah paman Ronald meneleponnya dan memintanya datang. Anna tahu maksud dan tujuan paman Ronald memanggilnya.
Paman Ronald menatap kehadiran Anna di ruangannya di rumah sakit.
"Anna, hasilnya sudah keluar." ucap Paman Ronald yang duduk di kursi meja kerjanya. Jubah dokternya tidak dipakai dan dibiarkan menggantung di kursinya. "Seperti katamu aku tidak akan memberitahumu."
Anna tertegun menunggu kata selanjutnya yang keluar dari paman Ronald yang sudah dia anggap seperti ayahnya itu.
Paman Ronald mengambil sesuatu dari laci mejanya dan meletakkannya ke atas meja, mengarah pada Anna. tumpukan obat-obatan yang jumlahnya cukup banyak.
"Minumlah semua itu." ujar paman Ronald.
Anna tersenyum dengan hati yang berat. Dia mengambil semua obat tersebut dan menatap paman Ronald.
"Sudahku bilang jangan pasang wajah sedihmu padaku, paman." ucap Anna setelah itu keluar dari ruangan paman Ronald.
Anna berada di salah satu toilet di rumah sakit. Tak ada siapapun disana. Walau perban yang ada di dahinya sudah dilepas tapi ada hal lainnya yang mengganggu kepalanya. Dia melihat semua obat yang diberikan paman Ronald dan tahu kalau dirinya tidak baik-baik saja.
Dia menahan air matanya walau sulit tapi dia sudah berjanji pada diri sendiri kalau semua tidak akan ada yang berubah pada dirinya. Dia akan tetap menjadi Anna seperti biasanya.
Dia membasuh wajahnya dengan kasar beberapa kali hingga air membasahi pakaiannya juga. Dia berusaha menghilangkan air mata yang tidak bisa dibendung olehnya dengan cara tersebut.
Namun dia berhenti karena semua sia-sia. Dia menangis sesungukan di tempat itu, sendirian.
...***...
Sekitar jam delapan malam akhirnya tak ada lagi yang datang menjenguk ketiga Musketeers. Setelah para gadis pelanggan café datang tak henti-hentinya, Teman-teman sekolah mereka, dan teman-teman dari tempat lainnya. Sebagian besar adalah wanita yang sangat mengidolakan mereka bertiga.
"Besok kita pulang saja, aku lelah kalau mereka datang tanpa hentinya." gumam Aramis sambil memakan buah-buahan.
Di meja mereka semua tertumpuk banyak sekali makanan yang dibawakan oleh para penjenguknya.
"Tasya, kau dimana?" tanya Athos menelepon Tasya. "Kemarilah, aku menunggumu dari tadi."
Anna masuk ke ruangan sambil mengetik handphone-nya.
"Dari mana saja kau?" tanya Aramis sedikit berteriak melihat Anna.
Anna diam saja dan berjalan menunduk fokus pada handphone-nya.
"Kenapa bajumu basah begitu?" tanya Aramis.
Anna tidak menghiraukan Aramis, dia malah berhenti di dekat Prothos dan memberikan handphone-nya pada Prothos. Barusan dia mengetik mengenai Widia.
Bu guru menanyakan tentang Tasya. Aku jawab semuanya. Berterimakasihlah padaku!! Sepertinya bu guru juga menyukaimu. Aku mendukung kalian 💪. Demikian pesan yang di ketik Anna.
"Kau dengar aku tidak?" Aramis masih terus bertanya pada Anna. "Kenapa kau memberikan handphone-mu? Apa yang kalian sembunyikan?"
"DIAMLAH, ARS!!" teriak Anna kesal menoleh pada Aramis dengan tajam.
"Kenapa kau marah-marah?" ujar Aramis ikut kesal.
Prothos membawa handphone Anna keluar ruangan dengan tangan yang masih di infus.
Anna langsung naik ke ranjang Prothos untuk berbaring. Tidak memedulikan Aramis yang memanggilnya ataupun menendangnya, minta perhatian.
"Kalian berdua benar-benar seperti anak kecil." gumam Athos melihat pasangan itu.
Anna menutup wajahnya dengan selimut dan berusaha untuk tidak menangis lagi, walau sulit.
...***...
Prothos duduk di sebuah kursi tunggu tidak jauh dari ruangannya dirawat. Dia menekan nomer handphone Widia. Saat ini dia sangat ingin berbicara dengan wanita yang dicintainya itu.
"Bu guru, ini aku." ucap Prothos saat Widia menerima teleponnya. "Aku merindukanmu."
Widia tak menjawab dan hanya diam karena bingung harus menjawab apa.
"Aku tidak ingin kau menghindar lagi." lanjut Prothos. "Aku tahu kau juga menyukaiku. Jadi jangan menghindar lagi dan jangan terus berpikir. Itu terlalu menyakitkan untukku kalau kau tidak mau jujur. Kita bisa mulai dari sekarang tanpa harus memikirkan hal yang menyakitkan."
"Aku tidak bisa meyakinkanmu lebih dari ini. Jika kau juga menyukaiku aku ingin kau menerimaku dan tidak mementingkan hal lainnya. Semakin lama ini terasa semakin menyakitkan."
Widia masih diam karena saat ini masih ada perdebatan di batinnya. Sejujurnya gadis itu pun juga menyukai muridnya itu, namun kenyataan perbedaan usia dan status mereka membuatnya ragu.
"Apa kau mendengarku?" tanya Prothos karena tak ada jawaban dari Widia. "Baiklah, aku rasa..."
"Maafkan aku." jawab Widia setelah itu mengambil napas dalam-dalam sebelum bicara lagi. "Maafkan aku karena juga mencintaimu."
Mendengar pernyataan Widia, Prothos langsung menutup teleponnya. Dia mencoba melepaskan sendiri infusan yang terpasang di lengan kirinya walau terasa sakit. Dia hendak berlari.
"Oto, ada apa?" tanya Tasya bingung melihat Prothos melepas infusannya.
Prothos tidak menjawab dan langsung berlari pergi. Beberapa perawat melihat Prothos yang kabur dari perawatannya.
Tasya masuk ke ruangan dengan heran pada Prothos.
"Ada apa dengan, Oto? dia melepas infusannya sendiri dan berlari pergi."
"Apa?" tanya Athos, Aramis dan Anna bersamaan.
"Dasar Oto, bodoh." gumam Anna yang masih berbaring di tempat Prothos.
...***...
Lion berjalan masuk ke sebuah pabrik tua yang gelap. Kedua tangannya dimasukan ke saku celananya, dan di hadapannya sudah ada Mario yang berdiri ketakutan melihat kehadiran Lion.
Lion mendekati Mario dan menarik kaosnya. Menatapnya sangat tajam seperti seekor singa yang menatap mangsanya.
"Sudah berapa kali aku peringatkan agar kau tidak menyentuh mereka?!" senyum Lion walau dengan tatapan tajam. "Bahkan kau melukai adik mereka."
"Bara yang melakukannya." jawab Mario tidak berani menatap Lion.
Lion tertawa skeptis. "Apa kau tahu siapa gadis itu?"
Mario mengangguk.
Lion melepaskan Mario dan berbalik. Di hadapannya berdiri banyak orang yang langsung maju saat Lion berbalik.
"Chto my budem s nim delat'? (Apa yang akan kita lakukan padanya?)." tanya Niko mendekati Lion.
Niko adalah teman Lion yang tinggal di kota yang jaraknya lumayan jauh. Pemuda itu memiliki kulit putih pucat dengan tinggi badan yang sama dengan ketiga Musketeers dan lima sentimeter lebih tinggi dari Lion. Siapapun yang melihatnya akan tahu kalau pemuda itu berdarah campuran. Dia memakai mantel panjang berwarna biru dongker, dengan tangan kiri yang berada di saku mantelnya. Dengan kulit pucat dan penampilan seperti itu membuatnya terlihat seperti vampir.
"Tinggalkan saja dia disini." jawab Lion berjalan maju. "Biarkan takdir yang berkata padanya."
Lion berhenti melangkah.
"Ah, tidak. Bagaimanapun aku adalah temannya." lanjut Lion dan berbalik menatap Mario lagi. "Mario dengar!! Aku akan memutuskan pertemanan kita. Pulanglah ke rumahmu dan coba keluar keesokan harinya. Kita lihat sejauh mana kau mampu melangkah dari rumahmu."
Setelah berkata begitu Lion menaiki motornya.
"Niko, terimakasih pertolonganmu." senyum Lion pada Niko. "Dengarlah semua, panggil aku kalau butuh bantuanku. Aku adalah teman kalian."
Lion memakai helmnya dan langsung melaju cepat keluar dari tempat itu.
Niko berjalan mendekati Mario yang babak belur.
"Vy znayete? (kau tahu?), Kau berurusan dengan orang yang salah." seru Niko menatap Mario. "Saat kau berkhianat dengannya sama saja kau berkhianat pada kami semua. Da, kau juga pasti sudah tahu sejauh mana sang singa memperlebar hutannya dalam sekejap."
...***...
Bel berbunyi saat Widia duduk di tempat tidurnya. Dia bingung kenapa tiba-tiba telepon Prothos terputus. Widia segera berjalan menuju pintu dan membuka pintunya.
Betapa terkejutnya dia melihat Prothos berdiri di depan pintu dengan napas yang terengah-engah.
"Kau? Kenapa kau..."
Prothos langsung memeluk gurunya tersebut sebelum sempat menyelesaikan pertanyaannya. Prothos memeluk Widia sangat erat, walau Widia masih bingung dengan yang terjadi.