
Paman Ronald datang setelah mendapat laporan kalau Prothos melarikan diri dari perawatan di rumah sakit setelah seorang suster melapor padanya.
"Kalian tidak ada yang tahu kemana dia?" tanya paman Ronald.
"Sepertinya dia habis menelepon tadi." jawab Tasya.
Athos dan Aramis melihat pada Anna karena Anna memberikan handphone-nya pada Prothos.
"Aku tidak tahu." jawab Anna berbohong.
"Hubungi handphone Anna, suruh dia kembali segera!!" seru paman Ronald setelah itu keluar.
"Kau pasti tahu kemana dia, Anna?!" ujar Athos melihat Anna.
"Aku tidak tahu pasti. Dan aku juga tidak akan bilang pada kalian." jawab Anna.
"Kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari kami ya?" tanya Tasya mendekati Anna yang duduk di ranjang Prothos.
"Apa ada kaitannya dengan seorang wanita?" selidik Athos.
"Bisa jadi." seru Aramis. "Tidak mungkin sang Casanova sudah lama sekali menjomblo. Apa ini ada kaitannya dengan perempuan yang kita temui di mall, Anna?"
Anna tidak menjawab walau di interogasi.
...***...
Prothos terus menatap lekat Widia saat duduk berhadapan di meja bulat di apartemen kekasih barunya itu. Wajahnya benar-benar merona senang saat ini hingga di pipinya muncul merah-merah seperti sapuan blush on.
Widia salah tingkah ditatap muridnya yang berubah menjadi kekasihnya itu. Dia terus mengalihkan pandangannya dari Prothos.
"Bu guru, aku sangat senang saat ini." ucap Prothos.
"Aku tahu, terlihat dari wajahmu." jawab Widia yang duduk menyamping tidak ke arah Prothos.
Widia memikirkan sesuatu agar rasa canggungnya hilang, namun dia bingung harus bagaimana.
"Ke, kenapa kau kesini? Bukannya kau masih dirawat?" tanya Widia melirik pada Prothos.
Prothos jadi tersadar dan melihat bekas jarum yang terasa sakit, serta terdapat sedikit darah di lengannya tersebut.
"Astaga, kau kenapa?" seru Widia memegang lengan kiri Prothos yang bekas infusan.
"Aku baik-baik saja." jawab Prothos tersenyum.
Widia bangkit berdiri mengambil plester di dapur, dan segera memplester bekas jarum infusan di lengan Prothos.
"Kau bilang, kau selalu memikirkan apapun sebelum bertindak. Lalu apa kau juga memikirkan ini? Kau kabur kan?" tanya Widia kembali ke kursinya.
Prothos hanya tersenyum menatap Widia.
"Sudah cukup, jangan memandangku dengan wajah seperti itu!!" seru Widia menatap Prothos. "Kau terlihat menggemaskan."
Prothos langsung merubah ekspresinya saat mendengar kalimat terakhir Widia.
"Tidak!! Aku keren bukan menggemaskan." komplain Prothos menatap dingin Widia.
Widia terkekeh namun berhenti karena Prothos menatapnya dengan tajam.
"Maaf." ucap Widia. "Aku minta maaf karena waktu itu mengatakan hal yang menyakitkan padamu."
"Aku sama sekali sudah lupa." jawab Prothos. "Bu guru, apa aku boleh bilang pada yang lainnya?"
"Apa maksudnya?"
"Tentang hubungan kita pada Athos dan Aramis." jawab Prothos. "Aku ingin mereka tahu."
"Jangan!!" seru Widia terkejut. "Kau ini muridku, aku tidak ingin siapapun tahu!!"
"Apa sangat memalukan berpacaran dengan murid sendiri?" tanya Prothos terlihat sedih.
"Bukan begitu, kalau sekolah tahu maka bisa saja kita berdua dikeluarkan." jawab Widia melirik Prothos.
"Baiklah, bu guru." jawab Prothos dengan senyum mengembang.
"Dan apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Widia ragu-ragu.
Prothos mengangguk mantap.
"Kalau bisa saat kita berdua berhentilah memanggilku bu guru." ucap Widia malu. "Terdengarnya terlalu aneh untuk orang yang berpacaran."
"Tapi aku suka memanggilmu bu guru." seru Prothos menggoda. "Tapi baiklah. Bagaimana kalau sayang?"
"Panggil nama saja, itu sudah cukup."
Widia terkejut Prothos langsung memanggil namanya. Dia masih belum terbiasa hingga membuat jantungnya berdegup kencang.
"Dan satu lagi bu guru... ah maksudku Widia..." ucap Prothos mesem-mesem. "Di sekolah tidak mungkin kita bertemu, dan aku juga tidak punya handphone, lalu bagaimana kalau aku lebih sering kesini?"
"Tidak!!" jawab Widia tegas.
"Ayolah bu guru, lalu bagaimana caranya kita bertemu?" tanya Prothos memandang Widia dengan mata berkedip-kedip seperti kucing yang memelas.
"Pertama, ini terakhir kalinya kau ke sini. Tidak baik seorang pria dan wanita bersama di ruangan tertutup."
"Kita bisa membuka pintunya."
"Tetap tidak!! Adikku akhir-akhir ini sering datang dan menginap. Aku tidak ingin dia tahu."
"Baiklah." jawab Prothos terpaksa.
"Kedua, aku rasa kita tidak perlu terlalu sering bertemu." lanjut Widia.
"Apa? Kau serius bu guru? Ayolah bu guru jangan begitu."
"Bukannya kau pernah bilang kalau kau tipe yang tidak suka selalu saling menghubungi dan kau juga bilang jika ada rasa saling percaya semua akan berjalan dengan seharusnya?"
Prothos terdiam menggigit bibirnya. Dia jadi menyesal pernah mengatakan hal itu pada Widia.
"Aku rasa aku setuju denganmu dan kita akan menerapkannya dalam hubungan ini."
"Ini berbeda, bu guru."
"Ketiga, sudahku bilang jangan panggil aku bu guru saat kita berdua!!"
Prothos tersenyum karena tanpa sadar dia memanggilnya begitu.
"Kau sudah paham?" tanya Widia menatap Prothos. "Sekarang sebaiknya kau kembali ke rumah sakit." tambah Widia tanpa menunggu jawaban Prothos.
Widia langsung menarik Prothos bangkit berdiri saat dia hendak protes. Lalu mendorongnya ke pintu.
"Bu guru- maksudku, Widia, dengarkan aku dulu!!" seru Prothos namun Widia tak menghiraukan.
Prothos sudah berdiri di luar pintu, Widia membiarkan kekasih barunya itu bicara.
"Apa kau serius? Apa kau yakin kau tidak akan merindukan pacarmu yang tampan ini kalau kita jarang bertemu?" senyum Prothos menatap Widia.
Widia menutup pintu kamarnya tanpa memedulikan Prothos yang mengetuk pintunya dan memprotes keputusannya. Namun tidak berapa lama Prothos menyerah.
"Baiklah, kita lihat saja siapa yang akan tahan. Selama ini semua wanita yang berpacaran denganku tidak ada yang mampu bertahan." gumam Prothos. "Bu guru, kau tega sekali!!" seru Prothos.
"Sudahku bilang jangan panggil aku bu guru." bisik Widia kesal.
...***...
Tengah malam, Anna keluar dari ruangan Melody di rawat dan menuruni lift. Hingga akhirnya dia duduk di lobby rumah sakit seorang diri. Keadaan rumah sakit benar-benar sangat sepi dan hanya ada beberapa karyawan di ruang pendaftaran dan petugas keamanan berjaga di pintu masuk.
Anna hanya duduk diam saja tanpa melakukan sesuatu. Dia tidak bisa tidur saat ini, walau dia sudah mencoba untuk tidur.
Dia memikirkan raut wajah paman Ronald ketika memberikannya obat-obatan. Semua itu terlihat jelas kalau dia tidak baik-baik saja.
Dia mengambil handphone di saku celananya dan melihat foto Aramis yang tertidur dengan wajah penuh coretan spidol, tempo hari. Anna memposting-nya di akun sosial media miliknya dengan caption 'bodoh 🐶'.
Melihatnya Anna tersenyum.
"Ars akan membunuhmu kalau dia tahu." ucap Lion yang berdiri di belakang Anna.
Anna menoleh pada Lion, dan Lion segera duduk di samping kanan Anna.
"Aku pikir tadi kau hantu." lanjut Lion.
"Dari mana kau?" tanya Anna melihat Lion yang tengah malam masih berada di rumah sakit. "Melo sudah tidur."
"Ya, aku baru dari sana. Saat aku datang dia sudah tidur." jawab Lion. "Argh, padahal aku berniat menakutinya."
Anna terkekeh.
"Aku benar-benar iri padamu, kau selalu bersenang-senang tanpa memedulikan apapun. Lion, aku mau tanya. Apa ada hal di dunia ini yang kau khawatirkan?" tatap Anna lekat. "Aku yakin sekali pasti tidak ada 'kan?"
"Dengarlah, semua hal selalu terjadi dalam hidup mau hal buruk ataupun sebaliknya. Tapi saat kita memikirkannya terlalu keras maka semua itu akan berubah menjadi benar-benar buruk." jawab Lion. "Sebaiknya jangan pernah memikirkan semuanya terlalu keras, cukup melangkah tanpa rasa khawatir pasti hal buruk pun tidak akan terasa begitu buruk."
Lion langsung tersenyum pada Anna.
"Pandangan manusia yang selalu menikmati hidupnya memang sesederhana itu." gumam Anna ikut tersenyum.
"Yang pasti, aku ini anak baik!"