MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Kehilanganmu Lagi



Di kelas Lion yang duduk di samping Melody menatap gadis itu ketika pelajaran sedang berlangsung. Melody merasa kalau Lion menatapnya sejak beberapa menit yang lalu, namun Melody mengabaikannya dan sibuk mencatat pelajaran.


Lion membuang napas dan menidurkan kepalanya di atas meja, menatap Melody.


"Katakan saja!!" seru Melody akhirnya bersuara.


"Jadi, apa kau sudah memberikan nomer handphone ku ke temanmu itu?"


"Apa?"


Melody mulai mengerti pertanyaan Lion. Dia langsung kembali fokus ke papan tulis.


"Sudah." jawab Melody.


"Kenapa belum menghubungiku ya?"


"Mana aku tahu." ucap Melody tidak berani menatap Lion.


Drrrrtt Drrrrtt Drrrrtt


Lion membuka pesan di handphone-nya.


Datanglah ke belakang sekolah saat istirahat. -David-


...***...


Lion meluncur dengan skateboard-nya ke belakang sekolah, dan melompat menginjak skateboard-nya untuk berhenti lalu menangkapnya, tepat di hadapan David.


"Kenapa kau selalu datang lebih dulu?" gumam Lion menurunkan headphone dari telinganya.


"Tentang penawaranmu aku setuju." seru David. "Tapi untuk permintaanmu, sebelumnya aku harus tahu. Kenapa aku harus melindungimu."


Lion tertawa mendengarnya.


"Ya ampun, kau benar-benar orang yang serius sekali." ucap Lion. "Kalimat itu kata lain dari, ayo kita berteman."


David tertawa skeptis.


"Sesama teman harus saling membantu dan melindungi. Apa kau tidak tahu hal itu?" kata Lion. "Pantas saja orang sepertimu tidak memiliki teman." gumam Lion berjalan menjauh.


"Tunggu dulu!!"


Lion menoleh.


"Tenang saja, aku akan membantumu mendapatkan apa yang tidak kau dapatkan, seperti kataku kemarin." jawab Lion setelah itu meluncur lagi dengan skateboard-nya meninggalkan David.


Tidak berapa jauh handphone Lion berdering.


"Lion, apa kau tahu tentang Prothos?" tanya seorang pria di ujung telepon.


Lion berhenti meluncur dengan skateboard-nya.


"Maksudmu, Prothos Musketeers?" tanya Lion. "Ya, aku tahu, Bara." jawab Lion dengan senyum skeptis yang mengembang.


...***...


Paman Ronald duduk di ruangannya di rumah sakit, melihat hasil rontgen Anna yang ada di tangannya. Dia teringat pada keluhan Anna yang pernah mengatakan kalau dirinya sering sakit kepala dan mengantuk.


Dengan segera dia melepas jas putih dokternya dan mengambil handphone beserta kunci mobilnya lalu berjalan cepat keluar.


...***...


Aramis bersama Anna masuk ke rumah Anna setelah pulang sekolah. Hari ini Aramis pun tidak ingin ke café karena masih mengkhawatirkan kondisi Anna.


"Pergilah ke café, Ars." seru Anna duduk di sofa ruang tamu. "Aku baik-baik saja, hanya satu tanganku yang sakit, aku masih bisa melakukan apapun dan berjalan. Kau terlalu berlebihan."


Aramis tidak menjawab dan pergi ke dapur untuk minum.


"Kau dengar aku tidak?" tanya Anna agak berteriak karena kesal Aramis tak menjawab. "Kalau kau bersamaku terus aku jadi tidak leluasa mau berbuat apapun."


Aramis tetap tak menjawab dan hanya berdiri di dapur.


"Astaga, kalau aku sedang tidak begini aku pasti sudah menendangmu keluar." tatap Anna melihat pada Aramis kesal. "DENGAR TIDAK?"


Dengan kesal Anna mendekati Aramis yang masih berdiri di meja dapur. Anna hendak memukul Aramis dengan tangan kirinya, namun Aramis lebih dulu memeluknya. Bahkan Aramis tidak sekedar memeluknya, tetapi mendekapnya sangat kuat hingga rasanya Anna sulit bernapas.


"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi." ucap Aramis. "Saat mendengarmu jatuh kemarin, membuatku hampir gila karena takut kehilangan dirimu kedua kalinya. Aku bahkan tidak bisa bernapas saat itu karena takut kau menghilang selamanya."


Anna bisa merasakan kalau saat ini Aramis mengeluarkan airmata. Anna pun meneteskan airmatanya juga, namun secepatnya dia segera menghapusnya dan melepaskan pelukan Aramis.


"Kau ini bicara apa? Aku baik-baik saja!! Kau lihat kan?" ujar Anna menatap Aramis. "Astaga, kau masih saja cengeng seperti dulu. Matamu benar-benar mirip mata udang kalau begini." tambah Anna sambil menghapus airmata Aramis.


Aramis tidak menjawab dan hanya menatap Anna.


"Kau tidak perlu khawatir, aku bahkan lebih kuat darimu. Aku baik-baik saja." senyum Anna.


Anna menatap Aramis lekat dan dengan segera menarik tengkuk Aramis untuk mencium bibirnya. Anna merasa sangat senang mendengar rasa khawatir Aramis terhadapnya.


"Aku akan ke kamarku." ucap Anna setelahnya langsung membalikkan tubuhnya karena malu dirinya mencium pemuda itu lebih dulu.


Anna berada di kamarnya sedangkan Aramis hanya duduk di sofa ruang tamu rumah Anna sambil bermain game di handphone-nya.


Paman Ronald masuk ke rumah Anna dengan tergesa-gesa. Dia melihat Aramis yang berada di sana menatap kehadirannya.


"Ars, tolong parkirkan mobilku ke garasi." seru paman Ronald melempar kunci mobil yang di tangkap Aramis.


Aramis langsung bangkit berdiri dan berjalan keluar. Paman Ronald memastikan Aramis keluar rumah dulu sebelum dia naik ke kamar Anna.


"Anna." panggil paman Ronald mengetuk pintu kamar.


Anna membuka pintu dan melihat paman Ronald.


Paman Ronald duduk di kursi meja belajar di samping pintu masuk, sedangkan Anna duduk di sisi tempat tidur.


"Besok kau harus kontrol ke rumah sakit kan?" tanya paman Ronald.


"Iya, jadwalnya setelah pulang sekolah." jawab Anna.


"Waktu itu kau bilang kau sering sakit kepala dan mengantuk? Lalu apa lagi yang kau rasakan?" tatap paman Ronald serius.


"Kadang aku juga sulit menyeimbangkan tubuhku, dan pandanganku tidak fokus, paman. Dulu aku memang beberapa kali mimisan, tetapi akhir-akhir ini itu jadi lebih sering terjadi." jawab Anna.


"Apa kau juga merasa mual atau muntah?" tanya paman Ronald.


"Hampir setiap hari aku merasa seperti itu, pasti karena maag ku kan paman?"


"Besok, aku akan menjemputmu di sekolah, dan menemanimu melakukan pemeriksaan." ujar paman Ronald.


"Pemeriksaan apa lagi, paman?"


"Aku rasa sebaiknya kita lakukan MRI untuk melihat apa yang membuatmu mengalami itu semua."


"Paman, aku baik-baik saja 'kan?" tatap Anna takut.


Paman Ronald tersenyum pada Anna.


"Kau baik-baik saja." jawab paman Ronald mendekati Anna dan mengusap kepala Anna.


Setelah itu paman Ronald membuka pintu. Aramis berdiri di sana menatapnya. Dia mendengar semua perbincangan itu dan membuat Aramis kembali merasa mencemaskan Anna.


"Paman, apa itu MRI? Dia baik-baik saja, dia tidak perlu melakukan pemeriksaan itu." ucap Aramis mengikuti paman Ronald menuruni tangga. "Aku akan menjaganya, dia akan baik-baik saja, paman."


Paman Ronald tidak menggubris perkataan Aramis dan segera keluar rumah Anna.


Anna menatap Aramis yang berdiri di pintu masuk. Aramis memukul pintu sangat kuat dengan kesal. Anna tidak berani menghampirinya dan hanya melihatnya dari atas.


Aramis duduk di depan pintu masuk di lantai, dan membuka handphone-nya. Dia mencari tahu mengenai apa itu MRI, dan ada kemungkinan apa saja jika seseorang harus melakukan pemeriksaan itu.


"Ars." panggil Anna akhirnya menuruni tangga. "Aku rasa kau tidak perlu khawatir. Itu baru pemeriksaan dan aku yakin tidak akan ada apa-apa di kepalaku. Semua baik-baik saja." senyum Anna yang berdiri melihat Aramis yang duduk di lantai menatapnya.


Aramis bangkit berdiri dan menatap Anna sejenak, lalu setelahnya berjalan keluar meninggalkan Anna.


Anna termenung di sofa dengan kesedihannya saat ini. Dia yakin dia baik-baik saja. Dia harus memperlihatkan pada Aramis kalau dirinya baik-baik saja. Setelah mendengar rasa khawatir Aramis yang besar pada dirinya, membuatnya harus meyakinkan pemuda itu kalau dia baik-baik saja.


"Aku harus tetap menjadi Anna biasanya." ucap Anna.