
David masuk ke kamarnya setelah sampai dari pulang sekolah. Melihat seseorang yang sedang berbaring di tempat tidurnya membuat dirinya kesal. Ya, orang itu adalah Aramis.
Sejak semalam Aramis datang ke rumahnya setelah Lion mengusirnya, dan sekarang Aramis mengambil alih tempat tidurnya. Aramis berbaring di tempat tidur sambil menonton acara televisi dengan tertawa.
Melihatnya tertawa seperti itu membuat David menjadi semakin kesal. Dia membanting tas miliknya pada Aramis yang berbaring.
"Kenapa kau membanting tasmu padaku?" tanya Aramis tersulut emosi.
"Kau tahu? Aku bertemu Anna tadi, dia benar-benar terlihat kacau. Tapi di sini kau malah bersantai dan tertawa." marah David. "Lagi pula, aku bukan temanmu, tidak seharusnya kau menumpang di rumahku!!"
"Kau teman Lion, jadi kau temanku juga sekarang." jawab Aramis masih santai.
David kesal dan malas menanggapi perkataan Aramis lagi. Dia duduk di kursi meja belajarnya.
Aramis menatap punggung David dengan serius. Dia beranjak duduk karena ingin bertanya sesuatu pada David.
"Apa Anna sekacau itu?" tanya Aramis. "Tapi dia baik-baik saja kan? Maksudku, dia masih terlihat seperti biasanya-."
"Sudah aku bilang kalau dia sangat kacau, tidak mungkin baik-baik saja, bodoh!!" ujar David sangat marah hingga beranjak dari duduknya dan berbalik pada Aramis. "Lakukan sesuatu kalau kau memang tidak melakukan apapun pada wanita itu!! Jangan bersantai saja disini sedangkan Anna terus memikirkanmu hingga sekacau itu!!"
Aramis kembali merebahkan badannya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa. Saat Anna tidak percaya padaku, aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti." jawab Aramis.
David semakin kesal hingga dia keluar dari kamarnya dengan membanting pintu sangat keras.
...***...
Anna meminta Athos dan Prothos membawakannya foto-foto Jessica yang bersama Aramis, dan hasil pemeriksaan kehamilan Jessica.
"Apa kau yakin ingin melihat lebih jauh foto-foto tersebut?" tatap Athos pada Anna yang duduk di sofa.
"Ya, aku rasa tidak masalah aku melihatnya." jawab Anna.
Athos langsung memberikan foto-foto tersebut yang jumlahnya ada 4 lembar. Anna memperhatikan setiap foto. Semua foto tersebut hampir sama, hanya menunjukan Aramis yang tertidur bersama Jessica yang mengambil fotonya. Hanya sudutnya saja yang berbeda-beda.
Mereka berdua hanya ditutupi oleh selimut. Jessica memeluk tubuh Aramis yang hanya tertutup selimut dari pinggang ke bawah sedangkan Jessica berusaha menutupi dadanya sendiri. Foto lainnya Jessica mencium bibir Aramis.
Anna berusaha menahan air matanya lagi.
"Sudahlah, Anna." seru Prothos duduk di samping Anna agar Anna berhenti melihat foto-foto itu.
Anna tersenyum penanggapi perkataan Prothos.
"Aku pinjam dulu ini semua ya." pinta Anna menatap Athos yang berdiri di hadapannya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Athos.
"Tidak ada. Aku hanya mencoba untuk percaya padanya." jawab Anna.
"Jangan menyiksa dirimu karena perbuatan Ars, Anna." ucap Prothos memegang punggung Anna. "Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk percaya pada kata-kata Ars. Si bodoh itu selalu bertindak tanpa berpikir dulu. Kalau ternyata semua yang terjadi benar, kau akan semakin terluka karena percaya padanya."
"Apa yang dikatakan Oto benar. Ars terlalu buruk untuk mendapatkan kepercayaanmu." ujar Athos.
Tidak berapa lama Athos dan Prothos keluar dari rumah Anna dan berjalan masuk ke rumah mereka.
"Semoga saja psikologi terbalik yang kita ucapkan membuatnya melakukan sesuatu untuk si bodoh itu." ucap Prothos.
"Aku yakin, Anna akan melakukan sesuatu." jawab Athos. "Dia gadis yang pintar."
...***...
Hari terus berlalu hingga hari jumat tiba. Selama itu Aramis tidak masuk sekolah dan tak ada yang tahu dimana Aramis berada.
Lion menghubungi David karena sebenarnya dia tahu Aramis selama ini berada di rumahnya.
"Kau tahu, aku memiliki akses CCTV di manapun." jawab Lion. "Aku bercanda. Temanku melihat Ars keluar masuk rumahmu beberapa hari ini."
"Bahkan dia sudah menganggap rumahku ini adalah rumahnya." gumam David kesal. "Lakukanlah sesuatu, dia membuatku tidak bebas berada di kamarku sendiri."
"Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk si bodoh itu." jawab Lion.
"Dia bilang besok wanita itu akan membeberkannya ke sekolah agar Ars dikeluarkan segera jika masih tidak ingin bertanggungjawab." ujar David.
"Apa? Kau serius?" Lion terkejut.
"Karena itu lakukan sesuatu. Aku yakin kau bisa."
"ARRGGHH!!" geram Lion.
...***...
Sepulang sekolah Anna yang sibuk dengan kegiatan OSIS, langsung pulang ke rumah untuk beristirahat. Dia hanya menatap dan memperhatikan foto-foto Aramis bersama Jessica. Dia juga melihat hasil pemeriksaan kehamilan Jessica yang berusia delapan minggu.
Anna mulai teringat saat dirinya melihat Jessica saat di rumah sakit. Jessica masuk ke ruang obgyn pasti untuk memeriksakan kandungannya. Namun yang membuat Anna curiga adalah pria yang bersama Jessica waktu itu.
"Siapa pria itu?" tanya Anna pada dirinya sendiri. Anna sedang duduk di meja belajar yang berada di kamarnya. "Apa pria itu yang sebenarnya menghamili Jessica?"
Mata Anna teralih pada salah satu foto yang di letakannya di atas meja. Foto yang memiliki sudut pandang yang luas. Jessica mengambil foto sambil duduk dan di belakangnya adalah Aramis. Di meja samping tempat tidur terletak sesuatu benda. Anna sedikit memperhatikan benda tersebut yang ternyata adalah jam tangan.
Dia mengingat jam tangan yang dipakai Aramis bentuknya berbeda dengan yang berada di meja tersebut.
"Jam tangan siapa ini?"
Ting tong, ting tong...
Suara bel berbunyi. Anna segera beranjak turun dari lantai dua untuk membuka pintu.
Lion berdiri di balik pintu dengan tampang serius. Tidak seperti biasanya dia memasang tampang seperti itu.
"Masuklah!!" seru Anna langsung masuk ke dalam di ikuti Lion di belakangnya. "Ada apa?"
"Apa yang akan kau lakukan mengenai Ars?" tanya Lion.
Anna menggeleng.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan." jawab Anna.
"Aku mendengar kalau Jessica akan membeberkan hal ini ke sekolah besok jika Ars tetap tidak mau bertanggungjawab." ujar Lion yang berdiri saling berhadapan dengan Anna. "Sebagai ketua OSIS seharusnya pun kau bertindak saat mengetahui hal ini. Nama sekolah akan tercoreng jika kabar Ars tersebar luas di masyarakat dan Ars akan didepak segera."
Anna terdiam memikirkannya. Air matanya mengalir keluar namun dia langsung menghapusnya dengan cepat karena Lion menatapnya saat ini.
Lion menjadi sangat kesal memikirkan sahabatnya yang terancam dikeluarkan dari sekolah dan ditambah kesedihan Anna.
"Kalian berdua ini sangat merepotkan!! Terutama si bodoh itu!! Kalian benar-benar pasangan yang paling menyedihkan di dunia ini!!" seru Lion kesal. "Di tambah adik si bodoh itu yang selalu memasang tampang sedihnya di depanku!! Aku jadi tidak bisa menikmati semuanya dari jauh!!"
Anna tidak berkata apapun dan hanya mendengarkan Lion saja. Anna tahu kalau Lion pun sebenarnya sangat mengkhawatirkan nasib Aramis, sahabatnya.
"Tapi sepertinya posisiku yang paling menyedihkan di antara kalian bertiga orang bodoh." gumam Lion.
Lion mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Asal kau tahu saja, sebelumnya aku menikmati semua dan ingin bersenang-senang dengan semua yang akan terjadi nanti. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi sebelumnya, karena itu jauh-jauh hari aku mencari tahu sendiri. Tapi tidak aku sangka karena ketiga orang bodoh ini aku jadi tidak bisa duduk santai menikmati kesenanganku dan malah menjadi tukang cuci piring seperti ini."
Lion menyodorkan sebuah flashdisk pada Anna.
"Ambilah, setidaknya susunlah semua piring yang sudah aku cuci bersih."
Anna menatap Lion mencoba memahami perkataan sahabat dari pria yang dicintainya itu sebelum menerima pemberiannya.