
Athos bangun pukul lima pagi dan langsung membuka pintu kamar Prothos. Prothos masih berbaring di tempat tidurnya, kalau biasanya jam segini dia sudah bersiap-siap untuk lari pagi. Athos tahu kalau Prothos tidak tidur semalaman, lampu kamarnya terus hidup, padahal kalau biasanya Prothos selalu mematikan lampu saat tidur dan tidak bisa tertidur dengan lampu yang menyala.
"Kau tidak lari pagi?" Tanya Athos.
"Tidak." Jawab Prothos masih berbaring.
"Kau baik-baik saja kan? Apa kau sakit lagi?" Tanya Athos masih berdiri di ambang pintu. "Istirahat lah di rumah kalau kau merasa tidak enak badan."
"Sebentar lagi aku akan bersiap ke sekolah." Jawab Prothos mengubah posisi tidurnya.
Athos langsung menutup pintu kembali dan hendak turun, saat yang bersamaan Aramis keluar dari kamarnya sudah rapi menggunakan seragam sekolah.
"Ini masih terlalu pagi untuk ke sekolah. Tumben sekali." Ujar Athos sambil berjalan menuruni tangga, Aramis berjalan di belakangnya.
"Aku akan berangkat bersama Anna, dia harus pergi pagi-pagi sekali karena dia ketua OSIS." Jawab Aramis setelah turun dari lantai dua langsung mengambil pisang dan memakannya. "Ato, buatkan aku susu saja."
"Ini terasa aneh, kau biasanya susah bangun tapi sekarang kau yang sudah siap ke sekolah sedangkan Oto yang selalu rajin lari pagi, dia masih saja berbaring." Ujar Athos sambil membuatkan susu untuk Aramis.
"Ada apa dengannya?" Tanya Aramis. "Apa ada masalah dengan pacarnya?"
"Sepertinya begitu."
"Benarkah? Bukannya mereka baru saja berpa..." Aramis menghentikan ucapannya, dia baru teringat kalau sebenarnya Prothos tidak baru berpacaran. "Gadis berkacamata itu, apa dia benar-benar pacar Oto? Oto sudah beberapa bulan berpacaran dengan pacarnya yang sekarang, jadi gadis itu bukan pacarnya?"
"Kau memang lambat dalam berpikir, Ars." Jawab Athos sambil meletakan segelas susu ke hadapan Aramis.
"Lalu siapa pacarnya?" Tanya Aramis penasaran.
"Kau tidak perlu tahu, karena mereka sudah tidak lagi bersama." Ucap Athos kembali ke dapur.
...***...
Jam pelajaran dimulai, Melody masih duduk sendiri di mejanya. Niko tidak datang, bahkan hingga jam istirahat pun Dia tidak datang. Hari ini Niko bukannya terlambat tapi dia membolos.
Melody terus saja memikirkan Niko. Dia masih tidak tahu apakah akan meneleponnya atau tidak. Apakah dia sakit atau dia hanya membolos saja? Melody masih berpikir terus.
Tiba-tiba seseorang duduk di kursi Niko. Melody menoleh dan terkejut saat tahu orang itu adalah Lion. Melody menjadi sedikit gugup dengan kehadiran Lion di sampingnya, di kursi miliknya dulu.
"Kau harus meneleponnya." Ujar Lion. "Dia pasti menunggu telepon darimu."
Melody tak menjawab, dia malah sibuk berpikir kenapa Lion mendekatinya saat ini, padahal biasanya dia selalu menjauhi dirinya.
"Niko bertanya padaku kenapa kita tidak sedekat dulu, baginya itu terasa aneh." Ucap Lion membuat Melody menoleh padanya. "Jadi setelah aku pikir sebaiknya kita tidak saling menjauh, dia pun tidak masalah dengan itu. Bagaimana menurutmu?"
Lion menoleh pada Melody yang menatapnya, secara spontan Melody menarik tatapannya karena tidak bisa melihat mata Lion saat ini, setelah dirinya merasakan kerinduan yang besar pada pemuda itu.
"Kau mendengarku kan?"
"Baiklah." Jawab Melody mengarahkan pandangannya keluar jendela. "Selama ini pun yang menjauh adalah kau."
"Ya, seperti biasanya kau selalu menyalahkan aku." Seru Lion bangkit berdiri. "Ingatlah, walau aku akan bersikap biasa tapi jangan menghubungiku untuk meminta bantuan apapun. Yang harus kau hubungi adalah calon suamimu. Kau mengerti?"
"Aku tidak pernah menghubungimu untuk apapun." Melody masih tidak mau mengakui.
"Kalau begitu cepat hubungi dia." Ujar Lion hendak pergi.
"Lion." Panggil Melody menghentikan langkah Lion. Lion menoleh padanya dengan ekspresi bertanya. "Apa yang harus aku katakan padanya?"
Melody tidak mengerti dengan ucapan Lion. Kenapa dia menyuruhnya berkata seperti itu? Itu terasa aneh kalau tiba-tiba dia berkata begitu pada Niko.
Apa dia mengerjaiku? batin Melody pada Lion.
Dengan segera Melody menghubungi Niko. Beberapa kali dia meneleponnya tetapi tidak diangkat, namun Melody merasa tidak ingin menyerah, dia mencoba untuk kelima kalinya.
"Maaf Melody, aku baru saja bangun." Ucap Niko di ujung telepon. Suaranya terdengar sangat parau. "Hari ini aku tidak ke sekolah, aku lupa memberitahumu."
"Kau baik-baik saja?"
"Anemiaku kambuh, aku belum menghisap darah siapapun semalam." Jawab Niko dengan bergurau. "Apa kau ingin aku menghisap darahmu?"
"Apa aku harus melakukannya? Minum obatmu dan beristirahatlah, semalam pasti kau tidak tidur lagi kan?" Seru Melody. "Baiklah aku tutup teleponnya agar kau bisa beristirahat."
"YA tebya lyublyu." Ucap Niko dan Melody langsung mematikan teleponnya karena dia sangat tahu arti kalimat itu.
...***...
Untuk pertama kalinya Prothos tidak ke gudang untuk tidur siang saat jam istirahat. Dia memilih berada di kelasnya sambil mencoba membaca buku pelajaran namun saat ini dia sama sekali tidak berkonsentrasi.
Wilda berjalan masuk ke dalam kelas Prothos dan menghampiri pemuda itu. Wajah Prothos langsung berubah marah saat gadis itu mendekatinya. Beberapa murid di kelas memperhatikannya.
"Kak, kau baik-baik saja?" Tanya Wilda dengan nada suara terdengar polos seperti biasanya. "Aku sangat mengkhawatirkanmu setelah kau pergi dari apartemenku."
Prothos mengerti dengan ucapan Wilda. Dia sengaja bilang begitu agar yang lainnya mendengar ucapannya itu. Dengan wajah marah, Prothos berjalan keluar kelas tak menanggapi perkataan gadis itu.
Tampak dari kejauhan, Prothos melihat Widia. Tanpa berpikir apapun, Prothos mengejar Widia. Widia yang melihatnya langsung berjalan agak berlari karena dia tidak mau kalau Prothos menghampirinya di sekolah. Dia pun juga merasa kalau hubungannya dengan muridnya itu sudah berakhir.
Wilda yang memperhatikannya merasa tidak bisa menerimanya karena beberapa orang berbisik tentang Prothos yang mengabaikannya. Prothos yang lebih mengejar Widia pun membuatnya sangat cemburu hingga rasanya gadis itu sudah tidak bisa menahan rasa cintanya lagi pada Prothos.
Wilda memasuki ruangan guru dan langsung duduk di hadapan Widia, yang duduk di kursi meja kerjanya. Widia yang melihat kehadiran Wilda secara tiba-tiba membuatnya sedikit takut.
'A–ada apa, Wilda?" Tanya Widia masih berharap kalau Wilda menemuinya karena urusan pelajaran. "Apa ada materi yang tidak kau pahami?"
"Ya, bu guru." Jawab Wilda. "Aku ingin bertanya tentang sistem reproduksi."
Widia mengernyitkan dahinya mendengar nada bicara Wilda yang tidak terdengar seperti biasanya. Wajahnya juga terlihat tertekuk seperti marah.
"Apa mungkin seorang pria berhubungan badan dengan wanita tanpa ada rasa cinta?" Tanya Wilda dengan nada bicara yang biasa padahal apa yang ditanyakannya sangat sensitif dan bukan dari bagian dari pelajaran biologi. Untung saja tak ada guru lainnya di ruangan tersebut. "Jawablah, bu."
"Wilda, itu bukan pelajaran bio–"
"Kami melakukannya, bu." Potong Wilda. "Tiba-tiba dia datang saat pagi menjelang dan kami melakukannya. Aku dengan kak Oto, pacarmu."
Widia terkejut dan air mata langsung keluar dari pelupuk matanya. Perkataan muridnya itu benar-benar menghancurkan hatinya saat ini.
"Sudah aku bilang kalau dia menyukaiku, hanya saja dia tak enak denganmu atau selama ini kau mengancamnya ya?" Tatap Wilda dengan sinis pada Widia. "Sebaiknya bu guru pergi saja kalau tidak ingin kak Oto semakin hancur. Aku pun tak tega melihatnya seperti sekarang ini."
"Apa maksudmu, Wilda?"
"Hanya ada dua kemungkinan bu, kalian berdua dikeluarkan atau kau saja yang menyerahkan kak Oto padaku, dengan kata lain sebaiknya kau pergi dari hidupnya. Dia akan lulus sebentar lagi, kalau dia dikeluarkan dari sekolah sebelum lulus, itu semua salahmu, bu."
...@cacing_al.aska...