
Di lantai bawah, Tasya datang dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa memencet bel ataupun mengetuk pintu.
"Selamat pagi." senyum Tasya.
"Kau datang?" ujar Paman Ronald yang masih di meja makan bersama Melody. "Athos masih di kamarnya. Tunggulah dulu. Kau sudah sarapan?"
"Iya Paman, aku sudah sarapan." jawab Tasya sambil duduk di kursi meja makan di hadapan Paman Ronald dan di samping Melody.
"Kak Tasya dan kak Athos ikut berlibur?" tanya Melody.
"Berlibur?" tanya Tasya.
"Kau harus ikut ya Tasya!! Athos pasti juga ikut." seru Anna menghampiri Tasya dan merangkulnya.
"Baiklah kalau begitu." senyum Tasya.
...***...
Di lantai atas di kamar Athos, ketiga saudara kembar Three Musketeers masih membicarakan Anna yang mendapatkan peringkat pertama di tingkatnya.
"Anak itu benar-benar diluar dugaan." ucap Prothos.
"Tidak aku sangka dia sepintar itu. Aku pikir tidak jauh beda denganku." ujar Aramis yang masih berbaring.
"Ato, kita calonkan Anna menjadi ketua OSIS selanjutnya, bagaimana menurutmu?" tanya Prothos. "Aku yakin dia akan menang mengalahkan Felix, dengan begitu Melo akan aman dari Felix."
"Wanita keras kepala dan susah diatur sepertinya mana mau menjadi ketua OSIS." ujar Aramis.
"Sepertinya ide bagus. Aku akan bicara dengannya." jawab Athos.
...***...
Di lantai bawah Lion bersama Anna sedang karaokean dan meniru gerakan dance dari boyband ternama. Tasya menonton mereka dari meja makan dengan senang, sedangkan Melody dan paman Ronald hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka berdua.
"Kau keren sekali, Lion. Seharusnya kau jadi salah satu member mereka." seru Anna mengomentari Lion yang mengikuti irama.
"Ayo kita bersama-sama." ujar Lion merangkul Anna.
Aramis turun dari lantai dua langsung bergabung dengan dua orang yang sedang bersenang-senang itu, dan ikutan meniru gerakan dance dari video clip yang diputar. Dia melepaskan rangkulan Lion dan merangkul Anna dan Lion bersamaan di tengah-tengah mereka.
"Let's dance together!!" seru Aramis melompat.
"Masih pagi mereka sudah menggila." ujar paman Ronald geleng-geleng kepala.
"Lion sangat pintar dance ya, Melody." ucap Tasya.
"Mereka seperti orang gila." gumam Melody.
Athos turun dari lantai dua sambil menerima telepon dari ayahnya.
"Tidak ayah, aku tidak butuh pujian untuk hal yang sudah biasa aku dapatkan." ucap Athos turun tangga. "Ya, semuanya nilainya naik dan aman. Walau si bodoh, Ars hanya naik satu peringkat."
Athos tersenyum pada Tasya dan duduk di kursi antara Tasya dan paman Ronald.
"Tidak masalah. Aku akan mengurus semuanya seperti biasa." tambah Athos setelah itu mengakhiri teleponnya. "Mereka bertiga berisik sekali."
"Apa kata ayahmu?" tanya paman Ronald.
"Setelah pameran selesai lusa, ayah akan menjemput kakek dan menginao semalam di rumah nenek kecil." jawab Athos. "Paman, apa kau tahu kalau Anna peringkat pertama?"
"Ya, dia memberitahuku. Di sekolah sebelumnya dia juga selalu peringkat pertama."
"Benarkah?" tanya Tasya tidak menyangka. "Anna benar-benar wanita keren."
"Kak Anna sangat keren." tambah Melody.
"Ato, apa kita akan ikut berlibur?" tanya Tasya. "Sepertinya aku ingin ikut. Bolehkan paman?"
"Ya, asal kalian jangan melakukan hal macam-macam." jawab paman Ronald. "Terutama kau ya, Tasya!!"
"Ah, paman ini." ucap Tasya tersenyum.
Tiba-tiba bel berbunyi, Athos segera membuka pintunya.
"Selamat pagi, Ato." senyum Jessica. "Maaf, aku meng... "
"Masuklah. Ars ada di dalam." ujar Athos memotong pembicaraan Jessica dan langsung jalan masuk. "Ars, ada tamu untukmu!!"
Aramis tidak mendengar dan masih asyik menyanyi bersama Lion, tetapi Anna menengok ke belakang dan melihat Jessica berdiri menatap pada Aramis.
"Bodoh, berhenti dan balik badan!!" bisik Anna.
"Apa?" tanya Aramis. "Ayo menyanyi lagi." Aramis merangkul Anna lagi.
"Ars, aku datang." ucap Jessica.
Aramis berbalik dan langsung menjaga tingkahnya. Lion dengan segera mematikan TV. Semua mata memandang Jessica yang berdiri dengan pakaian yang lumayan ketat untuk tubuhnya. Namun tidak dengan Athos yang langsung mencuci piring setelah membukakan pintu untuknya.
"Ada apa kau ke sini?" tanya Aramis menghampiri Jessica yang berdiri.
"Wow." bisik Prothos spontan melihat pakaian dan bentuk tubuh Jessica.
Prothos duduk di kursi yang sama dengan Anna, namun Anna bukannya duduk melainkan bersandar malas dan agak berbaring. Posisi duduk Prothos di sisi sofa atas kepala Anna.
"Siapa dia?" tanya Prothos.
Tetapi Anna diam dan tak menjawab, malah sibuk dengan handphone-nya.
"Lion..." panggil paman Ronald. "Tolong antar Melo kursus ya."
"Baiklah. Ayo Melo." jawab Lion langsung berjalan keluar dan di ikuti Melody.
"Sepertinya kalian jadi canggung ya aku datang kesini?" ucap Jessica. "Maaf ya Ars, aku menghubungimu tapi kau tidak menjawabnya... makanya aku pikir lebih baik langsung ke rumahmu."
"Ya, tidak apa-apa." jawab Aramis ringan.
"Siapa dia Ars?" tanya paman Ronald. "Pacarmu?"
"Paman..."
"Ah, bukan,,, kami hanya berteman saja." ujar Jessica tersenyum.
"Dia teman sekelasku di SMP dulu, paman. Icha." jawab Aramis.
"Silahkan duduk." sapa Tasya mempersilahkan Jessica duduk di kursi yang tadi di duduki Melody.
"Tidak apa-apa kan, kalau aku datang ke sini?" tanya Jessica agak ragu karena dia merasa suasananya berubah setelah kehadirannya.
"Ya, tidak masalah." senyum paman Ronald. "Ars, ternyata besok aku ada janji dengan pasien, aku jadi tidak bisa ikut kalian."
"Tidak masalah paman. Kami akan tetap berangkat." jawab Aramis yang masih berdiri di depan tangga. "Oto, kau yakin tidak ikut? Melo juga tidak ingin ikut."
"Ya, aku akan di rumah menjaga Melo." jawab Prothos.
"Kenapa kau tidak ikut?" tanya Anna dengan suara pelan karena posisi Prothos tepat di atas kepalanya.
"Menikmati sisa liburan." jawab Prothos. "Aku malas kemana-mana."
Anna bangun dan duduk menatap Prothos.
"Kau harus ikut atau ku bocorkan rahasiamu?!" bisik Anna.
Prothos tidak menjawab dan hanya memberantaki rambut Anna.
"Kalian mau kemana? Apa aku boleh ikut juga?" tanya Jessica.
"Tentu kau boleh ikut. Benar kan semua?" ujar Tasya.
"Dasar bodoh." gumam Prothos.
"Iya tentu, ikutlah juga besok." jawab Aramis.
"Oto, kau harus ikut!!" seru paman Ronald. "Gantikan aku untuk memantau keadaan disana!! Jangan ada yang berbuat macam-macam, paham?"
"Paman tenang saja, kami wanita akan menjaga diri kami." ucap Tasya.
"Justru kau Tasya yang harus diwaspadai Ato." kata paman Ronald membuat Ato yang sibuk di dapur menjatuhkan sendok yang dibawanya. "Jangan ada hal-hal yang macam-macam, Oto, aku serahkan padamu, kau mengerti?"
"Nasibku sial sekali." gumam Prothos bangkit berdiri dan berjalan menuju tangga.
"Kalau begitu kita akan bersenang-senang kan, Jessica?" tanya Tasya.
Prothos menoleh mendengar nama tersebut, karena merasa tidak asing, dan wajah Jessica sepertinya juga pernah dia lihat sebelumnya.
...***...
Paman Ronald mengumpulkan ketiga kemenakan lelakinya di kamarnya. Ada yang wajib dia sampaikan kepada mereka bertiga. Ketiga Musketeers berdiri di hadapan paman Ronald.
"Mungkin ayah kalian tidak pernah melarang kalian untuk berpacaran, tapi dia pasti tidak ingin jika kalian melewati batas. Kalian boleh bersenang-senang karena saat ini adalah masa yang indah untuk kalian. Tapi ingatlah satu hal, kalian juga punya adik perempuan. Kalian juga tidak akan ingin kalau adik kalian disakiti seorang pria kan?"
"Aku pasti membunuh orang itu." jawab Aramis.
"Ya, karena itu jangan buat macam-macam sampai melewati batas. Kalian mengerti?" tegas paman Ronald.
"Dari dulu aku selalu mengerti, paman." jawab Prothos. "Jomblo seumur hidup sepertimu tahu apa?"
"Kau hanya buang-buang waktu kami dengan mengatakan hal yang kami sudah tahu, paman." ujar Athos.
"Kau yang harus waspada bodoh!! Pacarmu selalu menempel tanpa peduli ada siapa di sekitar kalian." geram paman Ronald. "Ars, jangan dekat-dekat dengan temanmu itu."
"Kalau dia yang mendekatiku bagaimana?"
Paman Ronald cukup menahan emosi mendengar perkataan para kemenakannya tersebut.
"Kenapa kakakku harus menyerahkan tanggungjawab anak-anaknya yang susah diatur ini padaku?" gumam paman Ronald ketika sendirian.