
Widia merebahkan badannya ke tempat tidur sambil membuka handphone setelah sahabat-sahabat dan adiknya pergi. Ada pemberitahuan di salah satu sosial media. Sebuah komentar di salah satu foto ulang tahun yang di unggahnya tadi.
"Ini bukannya Anna?" tanya Widia melihat sebuah kalimat.
Bu guru, selamat ulang tahun.
Widia pun membalasnya,
Terima kasih ucapannya.
Widia jadi penasaran dengan Anna dan menerima permintaan pertemanannya, lalu membuka akun tersebut dan melihat foto-foto Anna bersama Prothos dan Tasya.
"Mereka sedang berlibur?"
Melihat Prothos dia kembali teringat kejadian saat Prothos menciumnya, secara reflek Widia memegang bibirnya. Entah kenapa Widia tak lagi kesal saat mengingatnya malah tanpa di sadari dia mulai merindukan Prothos.
"Bu gurumu ulang tahun, tapi kau malah asyik liburan dan tidak memberi selamat ya." ucap Widia kesal. "Siapa wanita ini? Cantik sekali, seperti boneka wajahnya. Apa dia pacar barunya? Mereka memang cocok kalau pacaran. Aku bukan tandingan gadis ini. Hhuft."
Di lain tempat, Prothos yang berbaring di tempat tidur di kamar melihat balasan komentar dari Widia.
Prothos hanya tersenyum.
Anna masuk ke kamar dan merampas langsung handphone miliknya. Lalu melihat apa yang dilakukan Prothos pada akun sosial media miliknya.
"Kenapa kau memberi komentar dengan akun ku?" tanya Anna melihat balasan komentar dari Widia.
"Sekali-sekali bantu aku." jawab Prothos beranjak bangun.
Anna gantian merebahkan badannya ke tempat tidur. Dan menekan tombol panggilan video ke Widia tapi menghidupkan kamera belakang mengarah pada Prothos yang berdiri.
Widia terkejut hingga dengan cepat menerimanya.
"Cepat keluar!! Aku mau mandi!!" seru Prothos membuka kaosnya. "Badanku penuh keringat."
Anna menahan tawanya, karena dia melihat Widia menerima panggilan video-nya, dan Widia melihat Prothos yang bertelanjang dada.
"Kau dengar tidak?" seru Prothos sambil naik ke tempat tidur berusaha mengambil handphone Anna sehingga wajahnya semakin jelas di tangkapan layar Widia.
Panggilan video berakhir.
Widia terduduk dengan apa yang barusan dilihatnya.
"Itu kan anak itu?!" tanya Widia masih terkejut. "Ahh, seharusnya tadi aku merekamnya dulu." gumam Widia mengingat Prothos yang membuka bajunya di video.
Tidak berapa lama dia tersadar dengan ucapannya.
"Kau ini bicara apa? Dia itu muridmu!!" ujar Widia menepuk-nepuk wajahnya.
Di kamar Prothos, Anna tertawa terbahak-bahak sambil menghindar dari Prothos yang hendak merebut handphone-nya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Prothos curiga.
Anna menggeleng dan langsung berlari keluar kamar.
...***...
Makanan sudah hampir jadi, Athos dan Tasya sejak tadi sibuk di dapur. Sebelumnya Melody membantu mereka namun dia meminta ijin untuk beristirahat di kamarnya.
Tasya melihat sekeliling ruangan mencari Prothos namun dia sadar kalau Prothos tak ada di sana bahkan tak ada siapapun disana ini.
"Ato..." panggil Tasya.
"Ada apa?" tanya Athos masih sibuk dan tidak menoleh.
Tak ada jawaban dari Tasya membuat Athos menoleh. Namun siapa sangka Tasya langsung menciumnya, dan Athos menyambutnya dengan baik. Mereka berciuman tanpa seorangpun mengganggu.
"Aku sangat menyayangimu, Ato." peluk Tasya. "Aah, kalau tahu Oto tidak ada, aku akan langsung menciummu." senyum Tasya menatap Athos yang terlihat kikuk. "Kau masih saja kaku."
"Aku harus cuci piring dulu." ucap Athos.
"Kau takut kalau Melo datang dan melihat kita kan?" ujar Tasya menyipitkan matanya.
Athos mengangguk tipis.
"Baiklah, aku mandi dulu ya." senyum Tasya menekan kedua pipi kekasihnya dengan gemas. "Nanti kita cari tempat yang aman." goda Tasya setelah itu pergi.
Wajah Athos semakin merah dan tatapannya langsung kosong setelah mendengar ucapan kekasihnya yang menggoda.
Akan tetapi ternyata Jessica melihat mereka dari lantai dua. Ketika Tasya naik ke tangga, dia langsung masuk ke kamar dan duduk di atas tempat tidur memainkan handphone saat Tasya masuk.
"Kau sudah mandi?" tanya Tasya sambil mengambil pakaiannya di lemari. "Jessica, aku sangat iri padamu."
"Kenapa?" tanya Jessica melihat Tasya.
Tasya duduk di sisi tempat tidur menghadap Jessica.
"Aku iri karena dadamu sangat besar. Tubuhmu sangat bagus. Pasti semua pria selalu melihat ke arahmu." ujar Tasya memanyunkan bibirnya. "Lihat tubuhku, arrghh... sepertinya Ato tidak terlalu suka pada tubuhku karena itu dia tidak pernah..."
"Jangan begitu. Aku yang iri padamu." ucap Jessica memotong perkataan vulgar Tasya dan melihat gadis itu. "Kau wanita tercantik yang pernah aku lihat. Wajahmu sangat kecil dengan mata yang besar. Pantas saja Ato yang dingin itu bertekuk lutut padamu. Kalau dilihat-lihat kalian seperti sepasang pangeran dan putri. Aku sangat iri padamu."
"Hah, kau tidak tahu kan bagaimana aku berjuang mendapatkan Ato. Aku selalu menghubunginya pagi siang sore malam hingga akhirnya dia merasa terpojok dan menyerah. Bisa dibilang aku memaksanya agar menerimaku menjadi kekasihnya." tawa Tasya. "Sudahlah aku akan mandi dulu."
Tasya langsung masuk ke kamar mandi.
Jessica melihat Tasya dan memastikannya masuk ke kamar mandi setelah itu dia beranjak ke luar kamar.
Di dalam kamar mandi, Tasya dengar kalau Jessica keluar kamar, dia pun kembali mengingat perkataan Prothos tadi siang.
Athos sedang mencuci piring dan tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, dan mendekapnya erat.
"Tasya..."
Perkataannya terhenti ketika berbalik dan ternyata bukan Tasya melainkan Jessica yang menempel padanya. Jessica menempel sangat dekat hingga Athos bisa merasakan dadanya yang menonjol menempel di punggungnya. Secara reflek Athos menyingkir dan membuat Jessica hampir jatuh namun Athos memeganginya lagi sehingga Jessica berpegangan dengannya.
"Maaf, kau baik-baik saja?" tanya Athos melepas pegangannya pada Jessica.
"Aku yang minta maaf, tadi aku terpeleset saat ingin membantumu dan secara spontan memelukmu dari belakang agar tidak jatuh." senyum Jessica.
"Tidak apa-apa." jawab Athos mengalihkan pandangannya karena dari posisinya dia bisa melihat kedua gunung Jessica yang membumbul.
"Terimakasih sudah memegangiku." senyum Jessica memegang lengan Athos.
"Berani sekali wanita itu menggoda pacarku." gumam Tasya yang sejak awal melihat kejadian itu dari atas.
Dia menuruni tangga segera dan menghampiri mereka ke dapur.
"Ato... Jessica..." panggil Tasya menghampiri.
Athos langsung menyingkirkan tangan Jessica yang memegang tangannya. Athos takut Tasya akan marah saat melihat dirinya berdua saja dengan Jessica.
"Ada apa?" tanya Anna yang baru keluar dari kamar Prothos untuk merebut kembali handphone-nya.
"Kau tidak jadi mandi, Tasya?" tanya Jessica. "Kenapa turun ke bawah lagi?"
"Aku lupa menaruh handphone-ku, aku pikir meninggalkannya disini." jawab Tasya menatap Athos yang terlihat bersalah. "Tapi sepertinya tidak ada juga. Ya sudah kalau begitu aku mandi saja."
Tasya kembali menaiki tangga karena merasa lega saat Anna hadir, dan duduk di meja makan. Dia jadi bisa meninggalkan kekasihnya tersebut walau ada Jessica di sana.
Di kamar mandi Tasya sangat kesal karena Athos menangkap Jessica tadi, tapi diapun merasa maklum karena berpikir kekasihnya adalah pria yang baik dan tidak ingin siapapun terluka.
"Tapi aku akan tetap memberimu pelajaran, Ato!!"