MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Syarat



Hari berlalu dengan sangat cepat. Sejak Melody menjawab telepon dari Sandra, Lion hanyai berbicara seperlunya dengannya. Melody merasa kalau Lion pasti marah padanya.


Setiap pulang sekolah, Sandra masih menemui Lion dan menunggu di depan pagar sekolah, hal itu membuat Lion selalu terburu-buru meninggalkan kelas untuk menemuinya saat bel pulang berbunyi.


Melody juga selalu bergegas menuju balik tembok sekolah untuk mencuri dengar percakapan Lion dan Sandra.


"Melody..." Panggil ibu guru ketika Melody hendak mengikuti Lion yang sudah berlari keluar sekolah.


Melody berhenti tepat di depan pintu ketika guru di mata pelajaran terakhir memanggilnya. Ternyata guru tersebut adalah Widia.


"Ada apa, bu?"


"Sejak kemarin Prothos tidak masuk sekolah. Apa benar dia sakit?" tanya Widia menata perkataannya agar tidak mencurigakan.


"Benar bu. Kak Oto kehujanan hari minggu kemarin makanya sejak kemarin dia disuruh paman istirahat dulu." jawab Melody.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Widia lagi sambil mencoba menjaga wibawanya sebagai guru.


"Sepertinya sudah membaik. Kemungkinan besok sudah masuk sekolah lagi." ucap Melody. "Memang ada apa bu? Apa ada perlu dengan kak Oto?"


"Ti... tidak... hanya ingin tahu saja kabar murid yang sakit." jawab Widia setelah itu berjalan pergi.


"Aneh... apa semua guru juga begitu ya kalau ada murid sakit?" gumam Melody polos.


...***...


Sekembalinya dari café, Melody mengunjungi kamar Prothos untuk melihat keadaan kakaknya tersebut.


"Kak Oto, bagaimana kondisimu?" tanya Melody masuk ke kamar dan naik ke tempat tidur, disamping Prothos. "Infusannya sudah dilepas?"


"Baru saja paman melepasnya." jawab Prothos menunjukan tangan kanannya yang bekas di infus.


"Kakak sudah makan?"


Prothos mengangguk.


"Oh iya kak, tadi ada yang aneh." ucap Melody menatap Prothos yang juga menatapnya ingin tahu. "Ada yang bertanya padaku tentang kondisi kak Oto."


"Siapa?"


"Wali kelasku, bu Widia." jawab Melody.


"Lalu kau jawab apa?"


"Aku bilang kalau kak Oto sudah membaik, dan besok sudah masuk sekolah lagi." kata Melody. "Lalu aku bertanya apa dia ada perlu dengan kakak?"


"Apa katanya?"


"Katanya hanya ingin tahu kondisi murid yang sakit." lanjut Melody. "Tapi apa itu tidak aneh, kak? Setahuku bu Widia hanya mengajar kelas sepuluh, tapi kenapa dia tahu tentang kakak, dan sampai menanyakan kondisi kakak? Apa semua guru juga begitu?"


Prothos tertawa terkekeh.


"Kenapa tertawa?"


"Kau tidak tahu kakakmu ini ya? ujar Prothos. "Tidak ada yang tidak kenal aku 'kan?"


"Iya tapi kenapa dia menanyakan kondisi kakak?"


"Mungkin kebiasaannya menanyakan kondisi setiap murid yang tidak masuk di sekolah." Prothos mengangkat pundaknya, mengisyaratkan ketidaktahuannya.


...***...


Di kamar, Athos duduk di meja belajar, namun kali ini dia tidaklah belajar, melainkan terus menatap layar handphone.


Sudah berpuluh-puluh pesan dia kirimkan pada Tasya yang isinya permintaan maaf. Namun tidak ada balasan dari gadis itu. Bahkan saat di telepon, Tasya tidak menjawabnya.


Hal itu mengganggu pikirannya dan membuat Athos tidak bisa melakukan aktifitasnya.


"Masih tidak dijawab." Athos menggerutu setelah teleponnya tidak ada jawaban dari Tasya.


Athos menyerah, dia berpikir harus menemui kekasihnya tersebut, namun dia tidak tahu dimana rumahnya.


"Sebaiknya aku tanya Oto saja."


Athos langsung beranjak dan berjalan menuju kamar Prothos. Tanpa mengetuk, dia langsung membuka pintu kamar tersebut.


Prothos sudah tertidur dan lampu kamarnya sudah dimatikan, karena waktu sudah menunjukan pukul sebelas tiga puluh malam.


Tanpa ragu Athos menghidupkan lampu kamar Prothos sehingga membuat kembarannya tersebut terbangun.


"Siapa yang menghidupkan lampunya?" keluh Prothos menutupi matanya karena silau.


"Oto, kau harus membantuku." pinta Athos dudu di sisi ranjang Prothos. "Ayo bangun dulu."


"Ada apa sampai membangunkan ku malam-malam begini?" tanya Prothos agak kesal.


"Ya ampun, kau kan bisa bertanya besok." protes Prothos yang masih berbaring.


"Tidak bisa, aku harus bertanya sekarang biar perasaanku tenang."


"Handphone-ku rusak, besok aku akan bertanya pada teman sekelasku yang rumahnya tidak jauh dari Tasya." seru Prothos.


"Janji ya!! beritahu aku sebelum jam istirahat besok." ucap Athos memastikan. "Karena pulang sekolah besok aku akan ke rumahnya."


"Iya aku janji." jawab Prothos. "Sekarang keluarlah!! Biarkan aku tidur!!"


...***...


Keesokannya, ketika jam istirahat, Prothos berjalan menuju ruang klub basket yang dia ketuai, setelah menemui Athos untuk memberikan alamat rumah Tasya.


"Dasar Ato, dia masih saja mengomel hanya karena aku telat kirim alamatnya. Apa bedanya sebelum atau saat istirahat? Toh, dia akan kesana saat pulang nanti." gumam Prothos berhenti berjalan ketika sampai di depan pintu ruangan basket.


"Prothos." panggil Widia yang masih memperhatikan kondisi sekitar.


"Ya, ada apa bu guru?" tanya Prothos santai. "Bagaimana kabarmu? Ternyata kau lebih kuat dibanding aku ya."


Widia menghampiri Prothos dengan terburu-buru.


"Ini jamu bagus untuk daya tahan tubuh." ucap Widia masih sibuk melihat sekitar. "Anggap saja rasa terimakasih sekaligus minta maaf untuk kopi dan sudah membuatmu jadi sakit kemarin." lanjut Widia dengan cepat.


"Tidak masalah." Prothos menerima tas tangan yang disodorkan Widia. "Padahal aku lebih berharap kalau bu guru menjengukku kemarin."


"Jaga kesehatanmu karena senin depan kau ujian." Ujar Widia tidak mendengar apa yang diucapkan Prothos.


Setelah itu Widia langsung berjalan pergi karena takut siswa atau guru lain melihatnya memberikan sesuatu pada Prothos.


Prothos hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah guru tersebut.


"Oto..." panggil seorang siswi mendekati Prothos yang masih memperhatikan kepergian Widia. "Oto, bagaimana kondisimu?"


Prothos menoleh pada gadis yang mendekatinya. Prothos bingung karena tidak mengenal gadis itu.


"Aku menghubungimu kemarin malam untuk meminta alamat rumahmu agar bisa menjengukmu, tapi sepertinya nomermu tidak aktif."


"Ya, aku tidak punya handphone sekarang, jadi jangan menghubungiku." jawab Prothos. "Tapi maaf, aku tidak mengenalmu, dan ada perlu apa?"


"Aku Dara kelas sebelas dua."


"Oke Dara, ada perlu apa denganku?" tanya Prothos dapat menebak maksud tujuan gadis itu.


"Aku dengar kau sudah putus dengan pacarmu, apa itu benar?"


Prothos tersenyum skeptis mendengarnya. Dia tidak mengira kalau kabar itu cepat sekali beredar.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Ya, boleh. Tanya saja."


"Sebenarnya aku tahu tujuanmu menemuiku, tapi aku ingin tahu alasanmu terlebih dulu." ucap Prothos. "Kenapa kau ingin aku berpacaran denganmu?" tatap Prothos.


"Tentu saja karena kau tampan, dan kau ketua klub basket, kau sangat keren."


"Apa kau tahu tentangku?" selidik Prothos agak membungkuk untuk menatap Dara.


"Apa?" tanya Dara tampak bingung. "Apa maksudmu reputasimu yang di cap playboy oleh semua orang?" tanya Dara lagi tapi Prothos hanya menatapnya lekat tidak merespon. "Aku tidak masalah dengan itu. Aku pikir mungkin selama ini kau hanya belum menemukan wanita yang tepat."


"Dan kau merasa tepat untukku?" tanya Prothos masih terus menatap Dara lekat.


Gadis itu mengangguk ragu karena tatapan Prothos.


"Baiklah." jawab Prothos. "Tapi aku akan menjelaskan sesuatu dan memberimu waktu untuk berpikir ulang. Hal ini juga aku lakukan kepada mantan-mantanku."


"Apa itu?" tanya Dara menjadi semangat.


"Berhubung aku tidak punya handphone, dan tidak berniat untuk membelinya lagi, apa kau bisa untuk tidak berkomunikasi denganku?"


"Lalu bagaimana caraku menghubungimu?"


"Saat aku punya handphone, syarat ini juga aku ajukan kepada mantan-mantanku. Aku tidak suka jika harus selalu menghubungi ataupun dihubungi setiap waktu. Aku juga lumayan sibuk untuk sering bertemu."


"Tapi ini berbeda, kau tidak punya handphone, lantas bagaimana aku bisa menghubungimu?"


"Aku yang akan menghubungimu." kata Prothos. "Sebaiknya kau pikir kembali dan jika setuju, temui aku disini besok saat jam istirahat."


Prothos tersenyum setelah itu masuk ke ruang klub basket.


"Dengan adanya handphone saja tidak ada yang bisa bertahan lebih dari sebulan. Bagaimana dengan tak adanya handphone?"


Prothos tersenyum skeptis.