
Aramis berada di rumah Anna karena gadis itu memaksanya belajar. Walau tak bersemangat Aramis mendengarkan Anna karena kalau tidak Anna akan memukul kepalanya.
"Sudah aku bilang, angkat kepalamu!!" seru Anna.
Mereka duduk di atas karpet dan menggunakan meja yang tingginya sesuai untuk belajar, di ruang tamu.
Anna memukul kepala Aramis dengan buku namun Aramis tidak bergeming.
"Aku ngantuk sekali, biarkan aku tidur dulu!!" keluh Aramis.
"Baiklah, tidurlah setengah jam... Kau mengerti?"
Aramis langsung naik ke sofa dan tidur dengan cepatnya. Sedangkan Anna berbaring di atas karpet sambil memainkan handphone-nya.
"Sebaiknya kau bilang pada ayahmu kalau kau ingin melukis saja seperti dirinya." ujar Anna pada Aramis. "Kau dengar tidak?"
Anna menoleh pada Aramis yang sudah terlelap.
"Aku akan mendukungmu kalau kau ingin melukis." lanjut Anna tanpa memedulikan apakah Aramis mendengarnya atau tidak. "Ayahmu pasti juga akan mendukungmu, aku yakin."
Anna bangun dan melihat Aramis yang sudah tidak bergeming. Muncul niatnya untuk mengerjai sahabatnya itu.
Anna mengambil spidol merah, dan mendekati Aramis yang terlelap, lalu mendekatkan spidol tersebut ke bibir Aramis.
Siapa sangka kalau Aramis terbangun dan menarik Anna hingga wajah Anna mendekat padanya.
"Aku tahu kau masih mendengarku tadi." ucap Anna walau wajahnya sangat dekat dengan Aramis.
Lalu Aramis bangun dan menarik Anna ke posisi tidur di sofa sedangkan Aramis mendekatkan wajahnya.
"Jangan main-main denganku!" seru Anna tanpa rasa takut sedikitpun.
Wajah Aramis semakin mendekati wajah Anna seperti akan mencium gadis itu.
Anna mencoretkan spidol merah di bibir Aramis, sehingga Aramis menjauh.
"Jangan mengerjaiku seperti itu!!" seru Anna bangun.
"Aarrghh... kenapa kau terus menggangguku dengan ocehanmu?" ujar Aramis menatap Anna. "Kau tidak perlu ikut campur masalahku!!"
"Aku hanya ingin membantumu." jawab Anna.
"Kau terlalu ikut campur masalahku!! Urus saja dirimu sendiri dan belajarlah, kau juga ujian besok!!" seru Aramis kesal.
Anna hanya diam duduk di sofa.
"ARRRGGGHH... " teriak Aramis meremas tangannya kesal. "Aku akan tidur dan jangan paksa aku belajar lagi."
Aramis beranjak bangun dan berjalan ke pintu, namun berhenti sebelum keluar.
"Sudah aku bilang, jangan menyentuhku!! Dan kau juga perlu ingat, aku pria normal!!" ucap Aramis setelah itu keluar.
"Kau memang pria normal yang menyukai wanita berdada dan bokong yang besar karena nyaman untuk diremas." gumam Anna mengingat kata-kata Aramis dulu.
...***...
Waktu menunjukan jam tiga sore, ketika Athos mengambil minuman dan makanan kecil untuknya dan Tasya.
"Kita istirahat dulu." ujar Athos meletakan nampan berisi minuman dan makanan ringan di meja belajarnya.
"Aku lelah sekali." keluh Tasya setelah itu meminum jus yang dibawa Athos. "Ato, setelah lulus kau berencana kuliah jurusan apa?"
"Aku masih belum yakin, tapi untuk sementara yang terpikirkan olehku adalah kedokteran." jawab Athos tersenyum menatap kekasihnya yang duduk di samping kanannya. "Bagaimana denganmu?"
Tasya menggeleng.
"Aku tidak ingin kuliah. Aku hanya ingin menikah dan menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak-anak nanti." ucap Tasya membuat Athos terkejut. "Apa kau keberatan?"
Athos tersenyum dan memegang telapak tangan kiri kekasihnya itu.
"Tentu saja tidak. Aku yang akan bekerja 'kan?"
Tasya tersenyum sumringah.
"Tapi ayahku ingin aku melanjutkan kuliah ke luar negeri." ucap Tasya dengan wajah berubah sedih. "Aku tidak ingin berpisah darimu, kalau mengingatnya membuatku sedih."
"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa bicara dengan ayahmu agar kau tidak perlu keluar negeri." jawab Athos meyakinkan Tasya.
"Benarkah?" tanya Tasya senang. "Aku sangat mencintaimu."
Tanpa sadar Tasya mengecup bibir Athos.
"Maafkan aku... Aku lupa kalau aku tidak boleh..."
Tiba-tiba Athos mencium bibir Tasya sebelum sempat Tasya menyelesaikan kalimatnya.
"Kau menciumku?" tanya Tasya senang.
Athos mengangguk malu menjawabnya dan Tasya merangkul lengan Athos senang.
"Sudahku bilang, jangan macam-macam..." seru Prothos memergoki mereka berdua.
"Sejak kapan kau disana?" tanya Tasya.
"Sejak kalian saling cium." jawab Prothos yang berdiri di ambang pintu.
Tiba-tiba handphone Athos berbunyi, muncul nomer tidak dikenalnya.
"Aku jawab telepon dulu." ujar Athos.
"Apa kau Athos?" tanya suara di ujung telepon. "Aku baru saja mengirim pesan untukmu, datanglah sekarang ke alamat tersebut."
Athos menutup teleponnya, dan Prothos yang dari tadi memperhatikannya menatapnya.
"Aku akan pergi, kau pulanglah." ujar Athos pada Tasya setelah kembali menerima telepon. "Tiba-tiba aku ada keperluan osis."
Tanpa menunggu jawaban Tasya, Athos langsung pergi setelah mengambil dompetnya di atas meja. Prothos menatapnya penasaran namun diacuhkannya.
...***...
Athos sampai di alamat yang diberikan padanya. Dia duduk di hadapan seorang pria berumur sekitar empat puluh tahunan dan di sampingnya duduk seorang pria yang kemarin bertemu dengannya.
Pria tersebut adalah ayah Tasya dan pria yang di sampingnya adalah tunangan Tasya, Dion. Saat ini Athos berada di ruangan sebuah perusahaan kosmetik milik ayah Tasya.
"Aku sudah mencari tahu tentangmu." ujar ayah Tasya. "Ayahmu seorang pelukis dan ibumu sudah meninggal, dulu adalah seorang penyanyi. Kau mempunyai dua orang kembaran yang juga laki-laki dan seorang adik perempuan."
Athos hanya diam mendengarkan tanpa gerakan yang berarti.
"Aku tidak mengira selain berwajah tampan ternyata kau sangat pintar. Selalu ada diurutan pertama sejak sekolah dasar hingga sekarang. Kau juga pernah memenangkan lomba Olimpiade matematika dan beberapa lomba bergengsi lainnya dan terakhir, saat ini kau adalah ketua osis di sekolahmu."
"Aku rasa aku dipanggil kesini bukan untuk mendengarkan pujian dari anda." ucap Athos.
Ayah Tasya tertawa mendengarnya, sedangkan Dion terlihat tidak senang mendengar semua tentang Athos.
"Oh iya, kau juga mengelola sebuah café kalau tidak salah?"
"Benar."
"Aku tidak tahu bagaimana putriku yang bodoh itu bisa menarik hati pemuda cerdas sepertimu."
"Maafkan aku, aku tidak suka kalau pacarku dihina, walau dengan orangtuanya sendiri." ucap Athos. "Aku tidak suka hal yang bertele-tele dan memakan waktu. Sebaiknya anda langsung saja pada intinya. Ah, tidak perlu. Aku mengerti apa yang ingin anda katakan padaku, Presdir." tatap Athos.
Athos mengambil jeda sebentar untuk bicara.
"Aku juga tidak akan mengatakan panjang lebar. Tapi yang pasti aku akan tetap bertahan. Aku akan buktikan kalau aku bersungguh-sungguh dengan Tasya." lanjut Athos. "Aku juga akan membuktikan padamu kalau aku layak duduk di sampingmu."
Setelah berkata demikian Athos berdiri.
"Aku pamit." ucap Athos setelah itu keluar.
"Tunggu dulu!!" Seru Dion yang mengikutinya keluar ruangan.
Athos berhenti dan menoleh.
"Layak katamu?" tanya Dion kesal. "Berani sekali kau menyindirku."
"Aku tidak mau mendengar ocehanmu."
"Kau kira kau layak dan pantas di posisiku? Ayolah, bercerminlah, pria sepertimu terlalu percaya diri. Dasar rendahan!!"
Athos mendekati Dion dan melayangkan tinjunya ke wajah pria itu.
"Berani sekali kau memukulku!!"
"Benar kata Tasya, kau memang pengecut." senyum Athos.
Athos berjalan pergi meninggalkan Dion yang sangat kesal.
"Hadapi aku tanpa minta bantuan siapapun!! Bahkan kau tidak berani membalas pukulanku." seru Athos menatap Dion dari dalam lift yang kosong.
...***...
Waktu menunjukan pukul tujuh malam ketika Athos kembali ke rumahnya. Semua keluarganya sedang berada di meja makan untuk makan.
"Athos, dari mana saja kau?" tanya ayah yang menghampirinya.
"Tenang saja ayah, aku tidak pernah mengecewakanmu dan akan tetap begitu seterusnya." seru Athos berjalan tanpa memedulikan tatapan keluarganya. "Akan aku bungkam semua orang yang memandangku sebelah mata!!"
Ayah memandang dengan aneh putra tertuanya yang naik ke atas dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.
"Ada apa dengannya?" tanya ayah menatap yang lainnya di meja makan.
Semua menggeleng tidak tahu.
"Padahal aku ingin menyuruhnya makan malam." ucap ayah.
Di kamar, Athos memikirkan kata-katanya dan merasa kalau kata-katanya tadi sangat berlebihan.
"Aku malah menyulut api." keluh Athos.
Athos mengecek handphone dan ada puluhan telepon dan pesan dari Tasya. Athos pun segera menelepon kekasihnya itu.
"Ato, aku kira kau tidak akan menghubungiku karena telepon ku tidak dijawab dan pesanku tidak dibalas." ucap Tasya terdengar menangis.
"Kenapa kau mengira begitu?"
"Kau pasti habis menemui papaku 'kan? Dia mengancammu?"
"Tidak" jawab Athos. "Aku menantangnya."
"Apa?"
"Sepertinya terdengar seperti itu." jawab Athos menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. "Kau tidak perlu khawatir, aku akan menyelesaikannya."
Setelah menutup teleponnya, Athos mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya.
"Aku pasti bisa!!"