
Hari minggu yang cerah.
Waktu menunjukan pukul sepuluh siang ketika Melody mengantar ayahnya keluar rumah.
Ayah harus pergi karena ada urusan mendadak, paman Ronald membawa kakek kontrol kesehatan di rumah sakit, dan ketiga kakak kembarnya sedang pergi bersama ke gymnasium sejak sejam yang lalu. Anna sedang ke sekolah jadi tidak bisa menemani Melody, karena itu Melody akan ditinggal sendirian di rumah saat ini.
"Melo, apa sebaiknya ikut ayah saja?" tanya ayah pada Melody saat dia hendak meninggalkan putrinya tersebut. "Ayah khawatir meninggalkanmu sendirian."
"Ayah, aku sudah besar dan lagi aku hanya tinggal di rumah sendirian bukan pergi kemanapun." jawab Melody meyakinkan ayahnya. "Ayah tidak tahu kapan pulang kan? Besok aku sekolah. Ayah akan marah kalau aku bolos sekolah kan?"
Ayah tersenyum mendengar jawaban putrinya.
"Baiklah, ayah sudah meminta agar kakak-kakakmu segera pulang." ucap ayah. "Jaga diri di rumah ya, kunci pintu dan jangan menghidupkan kompor, kalau ada apa-apa telepon ayah segera. Mengerti?"
"Ayah, aku bukan anak kecil lagi!!" seru Melody merasa malu mendengar kata-kata ayahnya.
"Bagi ayah kau masih seperti anak kecil."
"Sudah sana pergi, nanti ayah bisa telat."
Setelah mengecup kening anak perempuannya, ayah masuk ke dalam mobil. Dengan lambaian tangan ayah meninggalkan Melody sendiri dirumah.
Setelah itu Melody segera masuk dan mengunci pintu rumah. Lalu dia bergegas naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Melody merebahkan dirinya ke atas tempat tidur ditemani Mimi, kucing kesayangannya. Dia merasa senang karena ini pertama kalinya dia berada sendiri di rumah. Setelah berusia hampir enam belas tahun akhirnya ayah berani meninggalkan Melody seorang diri di rumah. Bagi Melody ini adalah saat-saat yang dia tunggu.
"Mimi, sekarang kita hanya berdua, apa yang akan kita lakukan?" tanya Melody pada kucingnya. "Apa ya? Ayah melarangku menghidupkan kompor jadi kita tidak bisa memasak. Kenapa aku jadi bingung seperti ini?"
"ES MELON, MELON MELON MELON!!" teriak Lion.
Melody mendekati jendela kamarnya dan di sambut lambaian tangan dan senyum bodoh Lion yang berdiri di beranda kamarnya.
"Kau di rumah sendirian kan?" tatap Lion. "Kau tidak takut kalau ada hantu? Sebaiknya kau hati-hati!!"
"Aku tidak takut." jawab Melody kesal.
"Apa flu-mu sudah sembuh?" tanya Lion.
Melody malas menjawab dan menatap Lion dingin. Walaupun sudah sembuh, dia masih kesal karena Lion menulari flu tersebut padanya.
"Lihat di belakangmu ada hantu, Melon." ujar Lion berekspresi ketakutan.
Melody semakin kesal melihat tingkah bodohnya.
"Awas saja kalau nanti ada hantu jangan memanggilku ya!!" seru Lion menjadi malas karena Melody hanya diam saja.
Namun siapa sangka, Lion masuk ke dalam untuk mengambil pemutar musik dan menghidupkan musik dengan sangat keras di beranda kamarnya.
Melody kesal, dia langsung duduk di kursi meja belajarnya berusaha terlihat tidak terganggu dengan ulah Lion.
Hampir satu jam berlalu, Melody membaca buku di meja belajar mencoba tidak memedulikan Lion yang menghidupkan musik sangat keras dan nge-dance di beranda kamarnya. Melody tahu kalau saat ini Lion sedang berusaha untuk mengganggunya namun dia akan berusaha agar tidak terpancing oleh Lion.
Melody terus membaca seolah-olah tidak terganggu dengan yang di lakukan Lion. Sampai akhirnya Lion bosan dan masuk ke dalam kamarnya lalu bermain video game karena Melody tidak merespon apa yang di lakukannya. Lion bermain video game walau masih tetap menghidupkan musik dengan volume yang keras.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Melody. Melody berpikir kalau ketiga kakaknya sudah pulang. Dia segera keluar dari kamar dan berlari turun menuju pintu. Tanpa melihat dan mencari tahu siapa yang datang Melody langsung membuka pintu.
"Melody, bagaimana kabarmu?" tanya Felix.
Melody terkejut ketika melihat Felix berdiri di depan pintu rumahnya.
"A... ada apa kakak datang kesini?" Melody tampak gugup dengan kedatangan Felix.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." jawab Felix sambil memperlihatkan biola yang dibawanya. "Aku boleh masuk kan?" tatap Felix dengan senyum.
Melody berpikir sejenak apakah Felix boleh masuk atau tidak, tapi melihat kedatangannya sepertinya tidak masalah jika Felix masuk ke dalam rumah.
"Kalau kakak-kakakmu tahu pasti mereka tidak akan mengijinkan aku masuk." ucap Felix sambil berdiri di depan pintu.
"Mereka sedang keluar..."
"Benarkah? Lalu Melody di rumah sendiri?"
Melody mengangguk menjawabnya.
"Ada perlu apa kakak kesini?" tanyanya.
"Sebaiknya kita duduk dulu ya." senyum Felix setelah itu duduk di sofa. "Melody tidak duduk?" Felix menatap Melody yang masih tetap berdiri. "Tenang saja aku tidak akan lama, aku hanya ingin minta bantuanmu."
Melody segera duduk di sofa depan Felix.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Melody.
"Begini, sebentar lagi klub teater akan mengikuti lomba, tapi aku merasa kalau musik yang akan mengiringi teater tidak cocok. Aku menggunakan biola, tapi sepertinya petikan gitar lebih cocok mengiringinya." jawab Felix. "Kalau tidak keberatan apa Melody mau ikut serta dalam pembuatan musiknya?"
Melody berkutat dalam pikirannya. Dia merasa kalau tawaran itu harus dia tolak karena dia tidak ingin berurusan lagi dengan Felix. Dia sudah berjanji untuk tidak mendekati Felix lagi.
"Maaf kak, sepertinya aku tidak bisa." ucap Melody.
"Sulit juga ya." kata Felix. "Baiklah aku tidak akan memaksa tapi sebagai gantinya apa bisa Melody mengajari aku beberapa kunci gitar, aku rasa aku akan berusaha sendiri saja dengan mempelajarinya darimu. Melody tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak." Melody tersenyum. "Aku akan mengambil gitarku dulu. Kakak tunggu disini saja."
Felix mengangguk menjawabnya.
Melody langsung bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya di kamar dia mengambil gitar miliknya yang terletak di samping jendela kamar. Perhatiannya berhenti pada kamar Lion. Dia merasa kesal karena Lion belum juga menghentikan musik yang di hidupkannya dengan volume sangat keras.
"Padahal tengah hari begini, kenapa si bodoh itu masih menghidupkan musik sekeras itu?" gumam Melody kesal.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dengan cepat Melody membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang terjadi. Dia sangat terkejut ketika melihat Felix berdiri di depan pintu dengan mengunci pintu kamarnya.
"Kak, kenapa kakak... Aku bilang agar kakak menunggu dibawah. Kenapa pintunya dikunci?" ucap Melody dengan terbata-bata karena rasa takut yang melanda dirinya. Dia menoleh pada Mimi yang berada di atas tempat tidur, berharap Mimi melakukan sesuatu untuk menolongnya.
"Maaf, Melody." ucap Felix tersenyum. "Seharusnya kau tidak membolehkan pria masuk disaat kau sendirian dirumah."
Felix mulai berjalan mendekati Melody.
"Sudah lama aku menunggu kesempatan ini, dan tidak sabar lagi aku ingin main-main dengan boneka yang ada di dalam pembungkus kaca."
"Apa maksud kakak?" tanya Melody dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa takut menimbulkan air mata di pelupuk matanya.
Dengan cepat Melody membalikkan tubuhnya kembali menghadap keluar jendela melihat kamar Lion. Dia berniat berteriak memanggil Lion namun suara musik yang sangat keras mematahkan semangatnya untuk meminta bantuan pada Lion.
Felix langsung menarik Melody dan mendorongnya ke atas tempat tidur. Lalu membuat Melody tidak bisa berkutik karena Felix menghadang Melody dengan tubuhnya.
Felix menatap Melody yang ada di bawah tubuhnya dengan senyum menyeringai seperti seekor serigala. Melody mencoba mendorong tubuh Felix sekuat kemampuannya namun sia-sia. Air mata yang mengalir membuat tenaganya hilang.
"Dengarkan skenario yang sudah aku buat." ujar Felix menatap Melody yang ada di dekat pandangannya. "Aku sudah membeli tiket pesawat ke luar negeri yang akan berangkat malam ini. Setelah puas bermain-main denganmu dan menghancurkan Musketeers sialan itu, aku akan langsung meninggalkan negara ini."
"Aku mohon, jangan lakukan ini padaku." ucap Melody menangis.
"Dengan begitu ketiga kakakmu tidak akan punya kesempatan untuk membalas perbuatanku yang sudah menghancurkan hidup adik perempuan mereka." lanjut Felix sambil menarik lengan kiri baju Melody. "Jika harus ada yang di salahkan, salahkan saja ketiga kakakmu yang tidak mau mengikuti kata-kataku." lanjut Felix setelah itu menarik kerah pakaian Melody hingga sobek lalu berniat mencium leher gadis itu.
"Tolong, hentikan!! Aku mohon!!" seru Melody seraya memberontak dan meronta dari perbuatan yang di lakukan Felix padanya.
Tidak mau kalah, Felix memegang kedua lengan Melody agar tidak memberontak.
Melody tak mampu berbuat apapun lagi.