
Prothos berjalan keluar kelas saat jam istirahat. Bersamaan dengan Widia yang keluar dari kelas sebelahnya.
Prothos sempat bersandar di tembok samping pintu kelasnya ketika Widia melintas berpura-pura tidak melihatnya.
"Bagaimana caraku minta maaf ya?" gumam Prothos melihat Widia yang pergi.
Sedangkan Widia merasa salah tingkah ketika melihat Prothos sekarang. Hal itu yang membuatnya bersikap seolah-olah tidak menyadari keberadaan pemuda itu.
"Bu guru, aku ingin bertanya tentang PR ini." ujar seorang murid wanita berkacamata mengejar Widia.
Widia menanggapinya dan berhenti.
"Oto..." panggil Aramis menghampiri kembarannya. "Tasya ingin bicara padamu."
Prothos langsung mengambil handphone Aramis.
"Sebaiknya kau beli handphone baru." seru Aramis kesal.
Prothos hanya mengacungkan jempolnya dan berjalan menjauh dari Aramis.
"Nanti sepulang sekolah aku akan menjemputmu. Ada yang ingin aku bicarakan mengenai Jessica. Sebaiknya jangan beritahu Ato dan Ars."
"Baiklah, Tasya. Aku akan menunggu." jawab Prothos melewati Widia yang sedang bersama muridnya.
Widia mencuri dengar perkataan Prothos.
...***...
Sepulang sekolah Prothos menunggu saudara-saudaranya pergi dulu sebelum dia keluar sekolah untuk menemui Tasya yang sudah menunggu.
"Maaf, menunggu lama." ucap Prothos masuk ke mobil duduk di sebelah Tasya.
Widia yang semula memperhatikan Prothos, melintasi mobil Tasya dan melihat Prothos bersama Tasya di dalam mobil.
"Ternyata benar dia sudah punya pacar baru." gumam Widia berjalan cepat.
Di dalam mobil, Tasya memperlihatkan surat Jessica yang ditujukan untuk Athos pada Prothos.
"Jessica pernah mengejar-ngejar Ato." ucap Tasya memberikan surat-surat Jessica yang jumlahnya ada tujuh pada Prothos. "Dulu dia mengirim surat-surat ini untuk Ato."
Prothos menerimanya dan membuka beberapa.
"Sudah aku duga." ujar Prothos. "Dulu dia juga pernah menyatakan cintanya padaku, tapi aku tolak."
"Benarkah?" tanya Tasya. "Apa tujuan wanita itu sebenarnya? Apa benar kalau dia serius mendekati Ars karena mencintainya? Atau ada maksud lain?"
"Aku rasa dia menyembunyikan sesuatu. Sebaiknya aku bicara pada Ars." ucap Prothos.
"Ya, lebih baik kau peringatkan Ars!! Tampaknya dia benar-benar tergoda dengan wanita itu!!"
...***...
Aramis meminta ijin untuk tidak bekerja ke café pada Athos. Dia berniat kembali pulang dan menjaga Anna yang saat ini pasti sedang sendirian.
Sebelumnya dia mampir ke sebuah toko untuk membelikan sesuatu untuk Anna. Dia berniat membelikan hadiah untuk sahabatnya itu.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang pramuniaga menghampiri Aramis.
"Hadiah apa yang sebaiknya aku berikan kepada seorang gadis?" ujar Aramis.
"Untuk pacar ya?"
"Hah? Bukan, dia sahabatku." jawab Aramis.
"Hadiah ulang tahun?"
"Bukan. Aku hanya ingin memberikan suatu hadiah saja padanya."
...***...
Aramis masuk ke rumah Anna dan menaiki tangga hendak menemui Anna yang berada di kamarnya. Namun suara seseorang membuat langkahnya terhenti sesaat untuk mendengar siapa yang berbicara dengan Anna.
Dia menjadi kesal setelah tahu suara siapa itu. Dengan cepat dia naik ke tangga dan langsung melihat David berada di kamar Anna karena pintunya terbuka.
"Kau tidak ke café?" tanya Anna saat Aramis muncul.
David menoleh dan melihat Aramis yang datang dengan wajah kesal.
"David datang menjengukku."
"Keluarlah!! Ada yang ingin aku katakan." ucap dingin Aramis pada David.
Aramis menuruni tangga dan David mengikutinya dari belakang.
"Aku kira kau mengerti setelah aku mengusirmu waktu itu." ujar Aramis menatap David tajam. "Ternyata sebaiknya aku memang harus mengatakannya."
David tertawa sarkas mendengar perkataan Aramis, itu membuat Aramis makin tersulut emosi, namun Aramis menahan amarahnya dan hanya menatap tajam David hingga tidak berkedip.
"Tidak Ars, aku tahu maksudmu." jawab David. "Tapi kau ini sangat lucu. Aku rasa siapapun bebas menemui Anna, dan kau tidak berhak melarangnya. Dan kau pun juga tidak berhak melarangku menemuinya!!"
Aramis benar-benar sekuat tenaga menahan emosinya agar tidak menyerang adik kelasnya itu.
Aramis hanya diam menahan emosinya karena dia tidak tahu harus berkata apa pada David. Karena perkataannya benar.
"Karena itu, bersikaplah selayaknya seorang sahabat. Bahkan kau harus mendukungnya saat seseorang mendekatinya." lanjut David dan setelah itu berjalan kembali ke atas dan masuk ke kamar Anna.
Sedangkan Aramis terduduk diam di sofa ruang tamu.
David tersenyum pada Anna ketika kembali masuk.
"Apa kau ingin makan jeruk, Anna?" tanya David duduk di sisi tempat tidur Anna. "Biar aku kupas ya?"
"Dimana Ars?" tanya Anna.
Namun David tak menjawab dan hanya mengupas jeruk.
"Ars, apa kau disana?" tanya Anna agak berteriak. "Kemarilah cepat!!"
Tidak berapa lama Aramis muncul.
"Kenapa lama sekali naiknya?" tanya Anna pada Aramis yang datang. "David membawakan aku pizza, kau pasti belum makan kan? Makanlah dulu."
David berhenti mengupas jeruk setelah Aramis datang.
"Ya, makanlah Ars." seru David tersenyum menoleh pada Aramis yang berdiri di ambang pintu. "Sepertinya sudah waktunya aku pulang, ngomong-ngomong Anna, apa sabtu ini kau ada acara?"
Aramis memperhatikan David dari belakang dengan tajam.
"Kalau kosong, aku ingin mengajakmu ke pesta pernikahan kakakku. Temani aku di pesta itu. Bagaimana?"
Anna sempat melihat Aramis, namun Aramis buang muka darinya.
"Baiklah. Aku rasa aku tidak ada acara." jawab Anna.
"Bagus sekali. Semoga kau sudah sembuh ya Anna." ucap David menggenggam telapak tangan kanan Anna. "Baiklah, aku pulang. Sampai bertemu di sekolah."
"Terimakasih sudah menjengukku, David." ucap Anna.
Aramis dan David sempat saling tatap sebelum David pergi. Setelah kepergian David, Aramis mendekati Anna dengan kesal.
"Kenapa kau diam saja saat dia memegang tanganmu?" protes Aramis. "Aku sangat tidak suka pada orang itu!!"
"Apa yang kalian bicarakan tadi? Kenapa setelahnya kau tidak masuk?"
"Oh itu, aku tadi ke kamar mandi. Kami tidak bicara apapun hanya bertanya kabar saja." jawab Aramis menggaruk kepalanya.
"Memangnya kalian tidak bertemu di sekolah sampai harus menanyakan kabar segala?" gumam Anna.
Aramis duduk di sisi tempat tidur Anna hendak memberikan sesuatu untuk Anna. Dia mengeluarkan sebuah kalung dan langsung memakaikannya pada Anna.
Kalung yang terbuat dari kulit tersebut berwarna hitam dan di tengahnya terdapat liontin berbentuk tulang. Sangat pas di leher Anna.
"Apa ini?"
"Hadiah untukmu."
"Maksudku, kenapa kau memberiku kalung anjing begini?" ujar Anna kesal.
Anna tertawa dengan kesal.
"Aku bukan seekor anjing, tahu!!" seru Anna mencoba melepas kalungnya namun Aramis memegangi tangannya agar tidak melepasnya.
"Kau anjingku!!" senyum ledek Aramis menepuk-nepuk kepala Anna. "Awas kalau kau melepasnya!!"
Setelah itu Aramis bangkit berdiri.
Anna menatap Aramis kesal namun tidak berniat melepas kalung tersebut.
"Apa kau akan pergi ke pesta itu?" tanya Aramis dengan nada serius dan tidak menatap Anna.
"Sepertinya aku harus pergi." jawab Anna. "Aku akan makan banyak di pesta itu. Akan aku habiskan semuanya."
Aramis kembali menatap Anna dan duduk di sisi tempat tidur.
"Apa aku harus membiarkanmu pergi?" tatap Aramis.
Anna menatap Aramis lekat juga.
"Aku akan pergi walau kau melarangku."
"Baiklah." ucap Aramis. "Mulai sekarang aku akan mendukungmu."
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam dan tidak berkata apapun.
Mendengar kata-kata Aramis membuat hati Anna keluh seketika.
Aramis dengan berat hati harus membiarkan Anna pergi bersama David. Karena benar apa kata David, mereka berdua hanya sahabat.
"Tapi ingat!! Jangan lepas kalung itu!!" seru Aramis tersenyum simpul.