MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Menghibur



Langkah Prothos terhenti ketika melihat Dara berdiri di depan ruang klub basket. Dia sempat lupa mengenai hal tersebut. Sekarang dia harus menghadapi gadis itu.


"Oto, aku sudah memikirkan semuanya." ucap Dara ketika Prothos muncul. "Aku tidak masalah dengan syarat itu."


Prothos tersenyum, walau dalam hatinya merasa tidak yakin.


"Sebutkan nomer handphone-mu."


"Aku akan menuliskannya untukmu."


"Sebutkan saja." pinta Prothos.


"08xxxxxxxxxx" jawab Dara.


"08xxxxxxxxxx" ucap Prothos mengulanginya.


"Kau langsung mengingatnya?" seru Dara takjub. "Ingatanmu bagus sekali."


"Aku mengingat semua nomer handphone seseorang yang penting bagiku." senyum Prothos.


Tapi semuanya akan aku lupakan ketika kita berpisah, bahkan namamu. batin Prothos.


"Kalau begitu pulang sekolah nanti aku ikut ke café mu ya?"


"Kau lupa dengan syarat nya?" tanya Prothos. "Aku yang akan menghubungimu. Dan kau tidak boleh ke café ku."


"Tapi aku ingin semua pengunjung di café mu tahu kalau kau sudah punya pacar agar tidak ada yang menggodamu." keluh Dara.


Prothos membuang napas.


"Dara, sepertinya kau belum mengerti." ucap Prothos. "Kalau begitu kita tidak jadi berpacaran."


"Apa? Kau tega sekali padaku." ucap Dara mulai menangis. "Kau memang keterlaluan. Hanya karena kau tampan kau mengajukan syarat semaumu dan itu mustahil!! Mana ada wanita yang setuju dan bisa bertahan dengan keegoisanmu!!"


Setelah itu Dara pergi dengan berlinang air mata.


"Egois, ya?" tanya Prothos pada dirinya sendiri.


"Benar kau memang egois."


Prothos menoleh pada sumber suara dan melihat Widia berdiri di belakangnya.


"Bu guru..."


"Jangan membuat para wanita menangis dengan keegoisanmu." seru Widia. "Hah, semua pria memang seperti itu!!"


"Apa wanita tidak egois juga?" tanya Prothos. "Ketika berpacaran mereka selalu ingin menguasai pacar mereka. Harus inilah itulah... sama saja kan?"


"Kau ini ya." kesal Widia mendengar ucapan Prothos. "Berhentilah berpacaran dan fokus pada pelajaran. Nilai try out susulananmu parah sekali tahu!!"


"Eh..." Prothos mendekati Widia namun Widia mundur menghindar. "Matamu bengkak, jangan bilang kau masih menangisi pria yang sudah selingkuh darimu ya?"


"Bukan urusanmu!!"


"Para wanita memang bodoh, buat apa menangisi pria yang berbuat jahat pada mereka? Kau harus membalas pria yang menyakitimu itu, bukan menangisinya."


"Balas?"


"Bu guru, kau naif sekali, ah tidak kau bodoh!!" seru Prothos membuat Widia ingin marah. "Ubahlah penampilanmu jadi lebih baik, dan tunjukan padanya kalau kau baik-baik saja setelah putus dengannya. Jangan malah menangisinya." lanjut Prothos. "Untuk usiamu penampilanmu juga sangat norak, bu guru. Kau tidak akan menemukan pria lain dengan penampilanmu itu."


Setelah berkata seperti itu Prothos berjalan pergi dan tidak jadi ke ruang klub basket.


"Bocah itu berani sekali mengolok-olok aku?!" gumam Widia kesal.


...***...


Jam pelajaran kembali dimulai. Melody duduk di kursinya dan tetap tidak fokus pada pelajarannya. Sesekali dia melirik pada Lion yang tampak serius mengikuti pelajaran.


Melody merasa seharusnya dia minta maaf pada Lion. Saat ini Lion pasti marah padanya karena itu dia tampak tidak seprti biasanya.


"Lion..." panggil Melody sedikit ragu.


Lion berhenti menulis dan menoleh pada Melody.


"Maafkan aku..."


"Fokus saja belajar. Hari senin sudah akan ujian." seru Lion sedikit berbisik karena keadaan kelas hening.


Melody terdiam karena Lion tidak membiarkannya meminta maaf. Dia yakin sekali kalau Lion sangat marah karena itu tidak membiarkannya meminta maaf.


...***...


Aramis menekan bel rumah yang ada di depan rumahnya. Tangan satunya membawa sekotak pizza.


Anna membuka pintu dan melihat Ars.


"Aku sudah meminta ijin ayahku untuk membantumu, dan tidak ke café." seru Aramis masuk ke dalam rumah Anna.


"Aku sudah menyapunya berkali-kali tapi masih saja kotor. Aku juga sudah menyewa orang untuk membersihkannya saat sekolah tadi, tapi sepertinya rumah ini tidak mau dibersihkan." kata Anna.


"Kau pasti belum makan 'kan? Makan dulu." Aramis menyodorkan pizza yang dibawanya.


"Ternyata kau masih ingat ya kalau aku suka pizza." Anna mengambil pizza tersebut dan segera membukanya, lalu melahapnya di atas lantai. "Aku dengar dari semua murid di sekolah katanya kau adalah yang paling kuat. Aku tidak mengira anak cengeng yang dulu sering aku ganggu sudah tumbuh jadi kuat." ucap Anna dengan mulut yang dipenuhi pizza.


"Telan dulu makananmu baru bicara, kau ini wanita atau pria?" seru Aramis yang duduk di jarak tiga meter dari Anna. "Memangnya karena siapa aku jadi begini?" gumam Aramis.


Tiba-tiba Anna tertawa dan itu membuat Aramis menggelengkan kepalanya karena melihat sikap Anna yang seperti seorang pria.


"Kau ingat dulu? Aku selalu mengganggumu dan kau selalu menangis. Karena kau selalu menangis matamu jadi seperti mata udang."


"Kenapa kau selalu menggangguku dulu?" tanya Aramis kesal.


"Kenapa?" tanya Anna. "Ato terlalu pintar untukku ganggu, dan Oto... wajahnya sangat lucu saat kecil, jadi aku mana tega mengganggunya. Makanya kau saja yang aku ganggu, tubuhmu sangat kecil dulu ditambah reaksimu saat diganggu itu semakin membuatku ingin mengganggumu. Padahal kau lebih tua setahun dariku, tapi tinggimu hanya setelingaku dulu."


Anna terkekeh menjelaskannya hingga tersedak dan batuk-batuk. Aramis segera melempar minuman botol miliknya untuk gadis itu.


"Bahkan kau belum punya minuman di rumah ini." keluh Aramis. "Wanita ceroboh sepertimu seharusnya tidak tinggal sendirian."


"Mau bagaimana lagi." jawab Anna. "Kalau tidak, bagaimana jika kau tinggal bersamaku disini?"


"Baiklah, sekarang waktunya bersih-bersih, ayo bangun kita bersihkan rumahmu ini." seru Aramis tidak menghiraukan perkataan Anna.


Mereka berdua pun segera membersihkan setiap sudut rumah tersebut. Menyapunya dan mengepelnya.


"Ceritakan tentang Ato dan Oto, apa mereka sudah punya pacar?" tanya Anna sambil mengelap pintu.


"Ato baru saja punya pacar dan Oto..."


"Aku tahu..." sela Anna. "Oto si playboy yang hari ini tadi menolak salah satu siswi di kelasku kan? Kasian gadis itu menangis terus."


"Benarkah? Aku malah baru tahu." ujar Aramis masih sibuk mengepel lantai. "Oto memang keterlaluan, sudah berapa banyak wanita yang dibuatnya menangis."


"Bagaimana denganmu?" tanya Anna tanpa menoleh pada Aramis.


"Walau seperti ini aku sama sekali tidak pernah membuat wanita menangis."


"Pacar! Maksudnya kau sudah punya pacar belum?" Anna menoleh sambil mengulangi pertanyaannya.


"Aku? Bagiku percintaan hanya sebuah fiksi belaka!!" seru Aramis. "Wanita itu sangat merepotkan, aku tidak ingin menambah beban hidupku."


"Ya kau benar. Wanita memang merepotkan, karena itu aku tidak suka wanita."


"Ya, aku setuju!!" seru Aramis membuat Anna menoleh dan berjalan ke arahnya. "Bukan begitu maksudku!!" sanggah Aramis tersadar.


"Kau tidak menyukai pria 'kan?" selidik Anna menatap lekat Aramis.


"Maksudku aku setuju kalau wanita itu merepotkan."


Anna menatap Aramis lekat.


"Jangan salah ya, walau aku tidak ingin punya pacar tapi aku suka wanita berdada dan bokong yang besar. Sepertinya sangat nyaman saat meremasnya." kata Aramis sambil memeragakan saat meremas.


Tanpa sadar wajah Anna memerah mendengarnya. Aramis juga baru menyadari seharusnya dia tidak mengatakan hal tersebut di depan seorang wanita.


"Maaf, aku lupa kalau kau wanita." ucap Aramis menggaruk kepalanya. "Tapi ingat, aku ini pria normal ya!! Karena itu juga jangan memintaku untuk tinggal disini bersamamu, bodoh!!"


"Ckckck... semakin kau menjelaskannya aku semakin curiga."


"Kau ini!!" geram Aramis kesal


"Oh iya, apa kau masih melakukan hobimu?" tanya Anna sambil berjalan menuju tempat Aramis meletakkan tasnya.


Aramis tidak menjawab dan berpura-pura fokus mengepel lantai.


Dengan cepat Anna membuka tas Aramis dan mengambil satu-satunya buku yang ada di sana. Lalu membukanya.


"Ternyata kau masih suka membuat sketsa ya. Ini sketsa pemandangan malam hari kan? Kenapa kau tidak coba mewarnainya?"


Aramis menoleh dan segera merampas bukunya dari Anna lalu memasukannya kembali ke tas miliknya.


"Jangan membuka barang orang seenaknya!!" seru Aramis marah.


"Apa keluargamu masih tidak tahu tentang bakatmu?" tanya Anna sambil memegang pundak Aramis yang membelakanginya.


Secara reflek Aramis berbalik dan mendorong Anna hingga terjatuh.


"Ahh, tanganku sakit." keluh Anna kesakitan.


"Maaf..." ucap Aramis khawatir. "Tapi mulai sekarang jangan sentuh barangku ataupun menyentuhku!!"


"Baiklah, maafkan aku."