
"Duduklah, Melo." Ujar Athos.
Dan Melody duduk di sebelah kiri Niko, di hadapan Tasya. Gadis itu masih memikirkan apa yang terjadi, kenapa Niko duduk di meja makan bersama kakaknya, Athos?
"Aku membuat beberapa makanan Rusia untuk pertama kalinya. Semoga saja sesuai dengan seleramu." Ucap Athos pada Niko.
Melody memperhatikan makanan yang ada di atas meja makan, beberapa seperti yang dia sudah pernah makan di rumah Niko dan beberapa lagi terlihat baru untuknya. Namun yang membuatnya penasaran adalah sikap kakaknya Athos, kenapa dia membuat makanan itu dan mengundang Niko untuk makan bersama?
Niko mengangguk-anggukan kepalanya dengan sebuah senyum yang dibuat-buat menatap tajam Athos. Melody tahu kalau sebenarnya hal ini pun terasa aneh untuk Niko.
"Kakova vasha nastoyashchaya tsel'? (Apa tujuanmu sebenarnya?)." Tatap Niko dengan senyum miring. "Vashe otnosheniye ochen' strannoye. (Sikapmu sangat aneh)."
"Eto vse dlya moyey sestry. YA ne khochu, chtoby ona plakala, tak chto s etogo momenta ya budu dobr k tebe. (Ini semua demi adikku. Aku tidak ingin membuatnya sedih, karena itu aku akan bersikap baik padamu mulai sekarang)." Jawab Athos.
Niko tertawa kecil mendengarnya. Melody menatap Niko mencoba menyimak pembicaraan yang membuatnya bingung itu karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"Kalian ini bicara apa? Pakai bahasa yang semua orang disini mengerti." Seru Tasya, dan Melody setuju dengannya. "Sudah sebaiknya makan saja, aku sudah penasaran dengan makanan-makanan ini."
"Yesh'te pozhaluysta. (Silakan di makan)." Ucap Athos.
"Spasibo. (Terimakasih)." Jawab Niko. "Kemampuan memasakmu sepertinya tidak usah diragukan lagi, kak Ato." Ujar Niko setelah mencicipi satu Pelmeni.
Athos menyunggingkan senyum simpulnya mendengar ucapan Niko. Sedangkan Melody masih memperhatikan mereka dan belum memegang makanannya.
"Kalian seumuran kenapa kau memanggilnya kakak?" Tanya Tasya.
"Dia akan menjadi kakak iparku, sepertinya sekarang aku juga akan memanggilmu dengan sebutan kakak juga, Tasya." Jawab Niko.
"Ah, kau ini. Itu terdengar sangat menggelikan." Timpal Tasya. "Ya ampun, sup ini enak sekali Ato, kau yang membuatnya?" Tatap Tasya saat menyeruput sup di sendoknya.
"Sup itu namanya Shchi. Ini memang enak." Seru Niko pada Tasya. "YA rad, chto my budem brat'yami. (Aku senang kita akan menjadi saudara)." Ucap Niko pada Athos yang ditanggapi dengan senyum simpul Athos.
"Melo, kau tidak makan?" Tanya Tasya.
Niko menoleh pada Melody yang sejak tadi memperhatikannya. Melody sangat penasaran dengan pembicaraan kakaknya dengan Niko sehingga gadis itu terus menatap Niko agar Niko mengerti untuk mengatakan semuanya padanya. Namun Niko hanya tersenyum pada Melody yang ada di sampingnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Akhirnya Melody bertanya karena dirinya sangat penasaran.
"Kami hanya sedang berkumur-kumur." Jawab Niko menyipitkan matanya pada Melody, sengaja menggoda gadis itu.
Melody sangat kesal mendengarnya, dia langsung memakan makanannya. Sedangkan Niko tersenyum melihat kekesalan gadis itu. Athos yang memperhatikan mereka merasa keputusannya untuk mulai bersikap baik pada Niko adalah tepat.
"Kau lihat bagaimana dia sangat menyukai adikmu?" Bisik Tasya pada Athos, tangannya memegang lengan kekasihnya itu.
"Tasya, aku mendengarnya." Ucap Niko.
Tasya tertawa karena bisikannya terdengar oleh Niko. Sedangkan Melody yang masih kesal lebih sibuk dengan makan makanannya sehingga tidak mendengar perkataan Tasya yang duduk di hadapannya.
"Terimakasih untuk makanannya." Ucap Niko setelah selesai makan. "Znachit li eto, chto v sleduyushchiy raz ya mogu poyest' zdes'? (Apa itu berarti aku boleh makan disini lain kali?)."
"Pozhaluysta. (Silakan)." Jawab Athos.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Niko, membuat Melody menoleh padanya.
"Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Tasya.
"Aku masih ada urusan." Ucap Niko. "Melody, aku pergi dulu ya." Pamit Niko setelah itu berjalan menuju pintu keluar.
Niko berhenti dan menatap Melody. Pemuda itu hanya tersenyum simpul padanya. Tapi Melody tidak langsung berbicara karena gadis itu juga bingung kenapa dia memanggil Niko.
"Kau tidak ingin aku pergi?" Tanya Niko.
"Tidak, aku hanya ingin mengantarmu ke depan rumah." Jawab Melody mencari alasan. "Rasanya tidak sopan kalau membiarkan tamu pulang tanpa diantar."
"Tidak perlu, aku akan lebih sering datang kesini mulai sekarang. Aku bukan tamu disini, ini juga akan menjadi rumahku juga. Dan juga aku akan ke tempat Lion." Ujar Niko. "Ada yang ingin aku tanyakan padanya. Kau mau ikut?"
"Tidak!" Jawab Melody dengan cepat. "Baiklah kalau begitu."
Niko segera berjalan menuju rumah Lion. Dia membuka pintu kamar Lion tanpa mengetuk dan langsung melihat Lion yang berbaring di tempat tidurnya dengan posisi sepertiga badan bagian atasnya menggantung terurai ke bawah tempat tidur. Wajahnya terlihat memerah karena Lion sedang menahan napasnya dengan posisi kepala menjuntai ke bawah.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Niko aneh.
Wajah Lion terlihat memerah karena pemuda aneh itu sedang menahan napasnya dengan posisi bagian dada ke kepala menggantung ke bawah dan tubuhnya berada di atas tempat tidur.
"Kau semakin aneh, Lion." Tambah Niko yang berdiri di hadapan Lion melihat tingkah aneh temannya itu.
Lion melepaskan napasnya dengan wajah yang sangat memerah karena darah mulai turun ke kepalanya.
"Aku sedang mencoba menambah rekorku menahan napas, kenapa kau menggangguku? Mau apa kau kesini?" Tanya Lion masih di posisinya sehingga dari pandangannya Niko yang berdiri terlihat terbalik. "Kau menggangguku saja."
"Lion, kau semakin aneh akhir-akhir ini. Apa kau tidak menyadarinya?" Tanya Niko. "Aku dengar motormu sudah ditemukan, ternyata sikap anehmu bukan karena kau kehilangan motormu. Benar begitu kan?"
Lion terdiam sebentar mencari jawaban yang tepat. Lalu segera bangkit dari posisinya dan duduk di atas tempat tidur, sedangkan Niko langsung menarik kursi ke hadapan Lion.
"Aduh kepalaku jadi sakit." Keluh Lion memukul-mukul kepalanya. "Kepalaku jadi sedingin es rasanya."
Niko tak bereaksi dan menunggu Lion dengan tenang. Dia memperhatikan Lion dengan seksama. Lion menyadari Niko menunggu jawabannya, lalu menatapnya segera.
"Kau tahu, ternyata itu bukan Megan. Aku belum menemukannya." Jawab Lion. "Dan aku rasa sikapku sejak dulu memang seperti ini, kau saja yang tidak tahu. Kau itu baru pindah kesini."
Niko tak menanggapi, dia masih mencoba memperhatikan Lion yang selalu tampak misterius dengan tingkah anehnya itu.
"Niko, temani aku makan ramen. Aku belum makan siang dan terakhir kali aku makan ramen sudah sangat lama. Apa kau sudah makan siang?" Tanya Lion beranjak turun dari tempat tidur dan bercermin. "Ya ampun, rambutku jadi kusut semua." Lion merapikan rambutnya dengan jari-jari tangannya.
"Aku sudah makan di rumah Melody. Kau tahu, Ato mengundangku makan siang tadi, dia juga berkata akan bersikap baik padaku mulai sekarang. Sepertinya dia setuju kalau aku menikah dengan Melody." Jawab Niko berjalan ke arah tirai yang tertutup
Perkataan Niko membuat Lion tertegun.
"Itu kabar bagus." Jawab Lion masih berdiri di depan cermin dan memperhatikan mimik wajahnya sendiri.
"Ini sudah siang, kenapa kau masih menutup tirainya?" Niko langsung menggeser tirai kamar Lion, dan dia terdiam saat melihat ke seberang kamar.
Lion yang melihat Niko membuka tirai kamarnya langsung menutup kembali tanpa tahu apa yang dilihat Niko.
"Aku akan keluar jadi biarkan tertutup saja. Ayo temani aku makan ramen, Niko." Rangkul Lion secepatnya dan menuntun Niko menjauh dari pintu beranda kamarnya yang tirainya sempat dibuka oleh Niko.
Niko terus terdiam saat keluar kamar Lion, dia memikirkan semuanya, ditambah apa yang dilihatnya di seberang kamar Lion saat tirai kamar itu dibuka. Dia melihat seorang gadis di seberang kamar Lion. Gadis itu sedang berdiri di depan jendela kamarnya sedang menangis dan menghapus air matanya.
Gadis itu adalah Melody.
...@cacing_al.aska...