MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Pesta Pertunangan



Aramis membuka pintu rumah Anna. Hari ini dia tidak ke café lagi karena setelah pulang sekolah, dia harus menemani Anna yang baru saja pulang ke rumah tadi pagi.


"Kau sudah pulang?" tanya Anna pada Aramis.


Anna sedang duduk di sofa ruang tamu sambil mencoba memotong kuku tangannya, namun sejak tadi dia berusaha begitu sulit untuk dirinya melakukannya karena tangan kanan Anna masih dibalut gips.


"Makanlah dulu!!" seru Aramis meletakan sekotak pizza di meja dan lalu mengambil gunting kuku yang di pegang Anna.


Aramis duduk di samping Anna, dan mulai menggunting kuku tangan Anna.


"Untung saja kau datang." senyum Anna melihat apa yang dilakukan Aramis padanya. "Kau sudah makan?" tanya Anna mengambil sepotong pizza dan memakannya.


Aramis tidak menjawab karena fokus menggunting kuku tangan kanan Anna yang terbalut gips saat ini.


"Seharusnya kau tidak perlu ke sini, dan pergi ke café saja."


"Jangan mengatur apa yang harus aku lakukan!!" seru Aramis dingin sambil memegang tangan kiri Anna untuk dia gunting kukunya sekalian.


"Dihari pertama aku menjadi ketua osis, aku malah tidak masuk sekolah. itu sangat menyebalkan sekali." ucap Anna.


"Tidak masalah, besok kau bisa masuk ke sekolah kan?" tanya Aramis.


"Ya, besok aku akan masuk saja. Aku bosan di rumah sendirian." ucap Anna.


"Bosan di rumah sendirian, lalu kenapa kau menyuruhku ke café?" gumam Aramis. "Selesai."


Aramis meletakan gunting kukunya ke meja.


"Kakiku sekalian, Ars." pinta Anna dengan senyum.


"Kau benar-benar memanfaatkan aku!!"


Ting tong!! Ting tong!!


Terdengar suara bel berbunyi, Aramis bangkit berdiri dan melihat keluar jendela terlebih dahulu untuk lihat siapa yang datang.


"Siapa Ars?" tanya Anna.


"Sepertinya teman-teman sekelasmu. Akan aku buka pintunya."


"Tunggu dulu!!" seru Anna bangkit berdiri dengan panik. "Naiklah ke atas, dan bersembunyi di kamarku!!"


"Kenapa aku harus bersembunyi?" tatap Aramis.


"Aku tidak ingin mereka tahu kalau kau ada disini!! Aku tidak mau mereka melihat kita bersama berdua saja di rumahku." jawab Anna panik. "Naiklah ke atas, Ars."


"Tumben sekali, biasanya kau biasa saja tentang hal itu." jawab Aramis.


Namun dia pun menurut dan segera naik ke atas dan masuk ke kamar Anna.


Anna membuka pintu yang sudah dari tadi belnya terus berbunyi.


"Kalian kenapa datang?" tanya Anna pada kelima temannya yang hadir. "Masuklah!!"


Teman-teman Anna yang terdiri dari tiga wanita dan dua pria masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Bagaimana keadaanmu, Anna? kami semua mengkhawatirkanmu saat tahu kau jatuh dari tangga." ujar salah satu dari teman wanitanya.


"Seperti yang kalian lihat." jawab Anna.


"Benarkah di depan itu rumah Musketeers?" tanya salah seorang pria.


Anna mengangguk.


"Kau benar-benar dekat dengan mereka."


...***...


"Model seperti apapun untukmu semuanya sesuai, Oto." ujar Ricky memotong rambut Prothos. "Pacar Ato cantik sekali. Tasya, Ato beruntung sekali punya pacar secantik kau." kata Ricky pada Tasya yang sedang di creambath oleh karyawan wanita lainnya."


"Aku yang beruntung jadi pacar, Ato." jawab Tasya tersenyum pada Ricky melalu cermin di depan mereka. "Jadi, kau sering menjadi model di salon ini, Oto? Kenapa kau tidak menjadi selebriti saja?"


Prothos tertawa mendengar pertanyaan Tasya.


"Aku juga sudah sering bilang begitu padanya." tambah Ricky. "Wajah setampan ini, pasti sangat mudah mencapai puncak popularitas. Bahkan tidak menjadi seorang selebriti pun anak ini sudah sangat terkenal dan punya banyak penggemar. Dia memiliki aura seorang bintang."


"Binggo!!" seru Prothos. "Kemanapun aku melangkah aku selalu menjadi pusat perhatian, menurutku itu sudah sangat menyusahkan ketika aku sedang tidak ingin dilihat. Bagaimana jadinya kalau aku menjadi seorang selebriti? Aku tidak mau selalu dihadang orang untuk minta foto. Sangat menyusahkan."


"Aku akan menyuruh Ato untuk membujukmu menjadi selebriti." ucap Tasya tersenyum meledek Prothos.


"Ngomong-ngomong bagaimana dengan kabar gurumu? Maksudku, pacarmu? Astaga, aku bahkan tidak tahu pasti wanita itu siapamu?"


Prothos tampak cemas ketika Ricky berbicara mengenai Widia, dia tidak ingin Tasya tahu akan hal itu.


"Maksudnya apa? guru?"


"Bukan apa-apa, Tasya." jawab Prothos mencoba terlihat santai. pada Tasya.


Prothos menatap Ricky dari cermin agar dia tidak membahas hal itu di depan Tasya.


...***...


Setelah hampir dua jam Anna mengobrol dengan teman-teman sekelasnya, akhirnya mereka semua pulang. Anna memanggil Aramis agar turun namun Aramis tidak turun juga bahkan dia tidak menjawabnya.


Dengan perlahan dan hati-hati, dia menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya.


Aramis berbaring di ranjangnya sedang tertidur.


"Dia malah tertidur disini." gumam Anna melihat Aramis yang sangat terlelap.


Anna membiarkannya karena semenjak kembalinya Aramis setelah Anna terjatuh, dia terus menjaga Anna dan hampir tidak beristirahat. Tadi pagipun ketika mereka kembali dari rumah sakit, Aramis langsung berangkat ke sekolah. Saat menjaga dirinya juga Aramis hanya tertidur dengan menidurkan kepalanya ke sisi tempat tidur. Pastinya saat ini dia sudah sangat lelah.


Anna tidak berniat membangunkan Aramis dan membiarkan pemuda itu beristirahat di tempat tidurnya.


Anna melihat dompet Aramis yang berada di luar tasnya bersama handphone milik Aramis ada di atas meja belajar. Anna jadi teringat perkataan Melody mengenai Aramis yang menyimpan foto saat mereka masih kecil di dompetnya.


Dengan penuh penasaran Anna mengambil dan membuka dompet Aramis dan benar, dia melihat foto dirinya sewaktu kecil bersama dengan Aramis kecil di dompet itu.


Anna tersenyum melihatnya. Lalu mengembalikannya ke tempatnya semula. Namun Anna melihat sesuatu di atas meja. Spidol berwarna merah, dan muncul ide jahilnya.


...***...


Prothos dan Tasya masuk ke sebuah acara di pinggir kolam renang di suatu hotel berbintang. Mereka terlambat ke acara itu karena Tasya lama sekali memilih gaun yang ingin dipakainya, dan di tambah jalanan macet.


"Cepatlah, Tasya!!" seru Prothos pada Tasya yang masih sibuk melihat riasannya di layar handphone-nya. "Gadis sepertimu kenapa sangat lambat. Ato, pasti orang tersabar di dunia ini karena harus menghadapimu." gumam Prothos.


"Apa aku cantik?" tanya Tasya pada Prothos.


"Cepatlah!!" tarik Prothos agar Tasya berjalan lebih cepat memasuki area acara yang sudah dimulai sejak tadi.


Semua mata memandang kehadiran mereka karena selain terlambat, penampilan Prothos beserta Tasya dengan warna putih menarik perhatian siapapun di tempat itu.


"Aku akan mengadu pada Ato, kalau kau kasar padaku." bisik Tasya kesal karena Prothos menariknya.


Di kejauhan seseorang menatap kehadiran Prothos bersama Tasya dengan sangat terkejut.


"Bukankah dia muridmu?" tanya Selly menunjuk ke arah Prothos. "Widi, dia Prothos 'kan? Lalu siapa wanita cantik yang datang bersamanya? Bukannya kau bilang kalau anak itu menyukaimu?"


Widia menoleh dan melihat Prothos, bersamaan dengan Prothos yang melihat dirinya dari seberang kolam renang.


Mereka berdua sama terkejutnya.