
Lion mengantar Melody ke tempat kursusnya dengan mobil ayah Melody. Saat ini motornya sedang dipinjamkan pada Anna.
"Kak Anna benar-benar sangat keren tadi." ujar Melody tampak senang dari raut wajahnya. "Kak Ars sangat beruntung memilikinya."
Lion tersenyum melihat Melody yang memancarkan raut kebahagiaan di wajahnya.
"Anna memang gadis terkeren yang aku kenal." tambah Lion yang menyetir. "Kakakmu yang bodoh itu tidak cocok dengannya."
Melody menoleh pada Lion.
"Apa maksudmu? Kau menyukai kak Anna?"
Lion tertawa mendengarnya. Tertawa hingga terpingkal-pingkal dan membuat Melody kesal.
"Meganmu juga kau pinjamkan padanya." gumam Melody. "Heh, dengar ya!! Jangan ganggu kak Anna, dia milik kak Ars!!" kesal Melody menunjuk dengan jarinya ke wajah Lion.
"Aku tidak suka pada Anna." jawab Lion menurunkan jari Melody yang mengacung padanya. "Aku hanya suka pada Meganku."
Melody menarik tangannya dari Lion yang memeganginya.
"Dasar aneh." gumam Melody melihat keluar jendela mobil.
Lion hanya tersenyum simpul pada Melody yang tidak melihatnya.
...***...
Anna menarik Aramis yang turun dari motor dan melihat Jessica duduk di dalam restoran. Aramis hendak berjalan pergi dan tidak ingin menemui wanita itu.
"Ikutlah denganku, Ars!!" seru Anna menarik jaket Aramis.
"Tidak. Aku jijik melihat wanita itu." jawab Aramis menatap Anna. "Untuk apa kau mengajakku menemuinya?"
"Percaya saja padaku." tatap Anna lekat.
Anna dan Aramis memasuki restoran yang baru buka tersebut. Belum ada pengunjung lainnya, hanya ada Jessica yang duduk menyeruput minumannya.
Jessica melihat kehadiran Anna bersama Aramis dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
"Seharusnya kau tidak meminum kopi ketika sedang hamil muda, Jessica." ujar Anna yang duduk tepat di hadapan Jessica. Aramis duduk di sampingnya. "Mulailah perhatikan apa yang kau makan dan minum."
Jessica tertawa sinis mendengar perkataan Anna. Sejak awal Jessica memang tidak suka dengan Anna karena dia tahu Aramis menyukai gadis itu.
"Jadi ada perlu apa lagi menemuiku seperti ini?" tatap sinis Jessica pada Anna.
Aramis tertawa skeptis melihat Jessica.
"Semua bukti sudah aku berikan pada keluarganya." ujar Jessica.
Anna mengambil amplop yang dia bawa di dalam jaketnya, dan mengeluarkan foto-foto dan hasil pemeriksaan kehamilan yang disebut bukti oleh Jessica barusan.
"Ini semua kan bukti yang kau maksud?" tanya Anna. "Katakan padaku kenapa kau sangat ingin memiliki si bodoh ini hingga menjebaknya seperti itu, hingga hamil anaknya?"
"Anna!!"
Anna mengisyaratkan Aramis agar diam setelah dia memprotesnya keras.
"Apa kau sangat mencintainya? Atau... hanya karena obsesimu?"
"Kau ini bicara apa?" protes Jessica mendengar ucapan Anna. "Sangat jelas aku mencintainya sampai-sampai melakukan semua ini agar bisa bersama dengannya."
"Dari ketiga saudara kembar ini kau lebih memilih si bodoh ini?"
Aramis hanya bisa diam mendengar Anna menjelekkan dirinya dan dibandingkan dengan kedua kembarannya.
"Kau pun bukannya sama? Kenapa kau lebih memilihnya dari pada Ato yang sangat pintar dan Oto yang sangat tampan itu?"
"Kau salah Jessica!! Hubunganku dengan si bodoh ini tidak sedangkal kata pintar dan tampan. Buatku itu semua tidak penting melebihi dirinya sendiri." ucap Anna.
Aramis merasa sangat terkejut mendengar pengakuan Anna barusan.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku." ujar Anna dingin. "Apa karena si bodoh ini jauh lebih naif dari kedua kembarannya makanya kau menjebaknya seperti itu?"
Jessica tidak menjawab karena apa yang diucapkan Anna adalah benar. Aramis lebih naif dan mudah ditipu dari pada Athos maupun Prothos.
Jessica hanya bisa terdiam mendengar ucapan Anna yang semuanya adalah benar.
"Bahkan di villa kau kembali menggoda mereka namun karena si bodoh yang terlalu naif ini mudah tergoda jadi kau menargetkan dirinya. Bukan begitu?"
"Sudah cukup!!" seru Jessica. "Semua yang kau katakan tidak ada hubungannya dengan yang sudah terjadi sekarang. Bagaimanapun aku sudah mengandung anaknya."
"Ya, kau benar." jawab Anna. "Sekarang kau sedang mengandung..."
Anna menoleh pada Aramis yang tertunduk.
"Heh, katakan sesuatu!!" seru Anna menyenggol kaki Aramis hingga pemuda itu menoleh padanya. "Kenapa kau hanya diam saja? Ini masalahmu bukan masalahku."
"Apa yang akan kau lakukan, Anna?" ujar Jessica. "Kau bilang akan membuatnya bertanggungjawab padaku 'kan?"
Anna mengangguk, membuat Aramis terkejut.
"Tadi aku bilang aku sendiri yang akan memintanya untuk bertanggungjawab padamu, walau harus mematahkan kedua kakinya, jika benar kalau anak itu anaknya." ucap Anna menatap Jessica. "Sayangnya, itu bukan anaknya." lanjut Anna dengan ekspresi mengejek pada Jessica.
"Apa kau bilang?" Jessica terlihat sangat kesal.
"Kau sengaja menipunya dengan memakai kehamilanmu dengan pria lain itu. Kau menjebaknya agar Ars berpikir dia menghamilimu. Tapi bahkan jika memang kalian melakukannya, itu tetap bukan anak Ars. Kau sudah hamil sebelum kau menjebaknya."
Aramis terkejut mendengar ucapan Anna.
Jessica tertawa. "Mana buktinya aku sudah hamil sebelum melakukannya dengan Ars?"
"Usia kandunganmu dua belas bulan dan bukan delapan bulan." Anna mengeluarkan hasil pemeriksaan yang asli yang dia dapatkan dari Lion. "Kau memalsukan hasil pemeriksaannya."
"Kau benar-benar keterlaluan!!" geram Aramis pada Jessica.
"Tidak! Itu pasti kau sendiri yang memalsukannya." sanggah Jessica. "Ini anakmu Ars."
"Saat di villa bahkan kau muntah-muntah karena memang kau sudah hamil 'kan?"
"Tidak Ars, dia hanya menuduhku!!" seru Jessica dengan air mata membasahi wajahnya. "Aku benar-benar hamil anakmu, Ars."
Tiba-tiba dari pintu masuk muncul Athos dan Prothos yang membawa seorang pria yang masih mengenakan seragam kerjanya. Athos mendorong pria itu agar menuju ke meja dimana Aramis dan Anna bersama Jessica berada.
Jessica terkejut melihat kehadiran pria itu.
"Jangan bilang kalau pria ini ayah dari anak itu?" tatap Anna tersenyum skeptis.
Ketiga Musketeers pun terkejut mendengar perkataan Anna.
Anna mengeluarkan beberapa foto dimana Jessica bersama Rico berjalan bersama dalam waktu yang berbeda. Anna juga menunjukan sebuah foto yang memperlihatkan jam tangan berada di meja samping tempat tidur dimana Aramis tertidur.
"Bahkan jam tangan itu dipakai olehnya sekarang." ucap Anna menggeleng tidak percaya dengan perbuatan Jessica.
Ketiga Musketeers melihat jam tangan yang dipakai oleh pria yang tampak ketakutan tersebut.
Anna membuka rekaman CCTV saat Jessica dibantu Rico membawa Aramis masuk ke kamar hotel.
Deg!
Anna merasakan sesuatu yang tidak baik pada dirinya saat ini. Tiba-tiba pandangannya kabur. Gadis itu tetap berusaha menyelesaikan masalah ini sebaik mungkin. Meski sekarang dia sudah keringat dingin. Anna menahan napasnya sesaat untuk menenangkan dirinya.
"Semuanya sudah jelas sekarang." kata Anna dengan tempo perlahan karena sakit di kepalanya. "Hey, katakan kau ayah dari anak yang dikandungnya 'kan?" Anna menoleh pada Rico yang berdiri di samping Jessica.
Anna mencoba mengeluarkan suaranya sejelas mungkin, tapi Anna tersadar kalau dirinya sulit bicara sekarang. Semua karena penyakitnya. Dia tidak mampu mengeluarkan suaranya lagi.
"Jessica, semuanya sudah berakhir sekarang. Pergilah sebelum kami menuntutmu." seru Prothos.
Jessica tampak kesal pada Anna. Wanita itu menunjukan wajah marah pada Anna karena kebohongannya terbongkar dan semua yang dilakukannya demi mendapatkan salah satu Musketeers sia-sia.
Anna bangkit berdiri menatap Jessica dengan pandangan kabur. Sebenarnya banyak hal yang sangat ingin dikatakan olehnya pada wanita itu. Namun kerongkongannya tercekat dan membuatnya tidak mampu mengeluarkan kata-katanya.
Lalu Anna merubah pandangannya, menoleh pada Aramis yang menatapnya. Anna mencoba tersenyum namun pandangan yang tidak fokus dan wajah yang terasa kaku membuatnya sulit melakukannya.
Ars, kau adalah milikku! ucap Anna dalam hatinya.
Setelah itu Anna tak sadarkan diri. Sebelum terjatuh, Aramis menggapainya erat.