MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Akhir dari Musketeers



Melody yang berlari dan langsung memeluk Prothos, menghalau pisau yang ditujukan ke kakaknya hingga pisau tersebut mengenai dirinya. Darah keluar dari pundak kiri gadis itu.


Dua orang yang memegangi Prothos melepaskan Prothos karena ketakutan, begitu pun dengan Bara yang langsung membuang pisau tersebut ke jalan.


"Melo, Melo..." panggil Prothos terkejut dan panik ketika melihat darah Melody.


"Aku baik-baik saja." jawab Melody melepas pelukannya pada Prothos.


Prothos menatap Melody dan memastikannya baik-baik saja.


"SIALAN KAU!!" pekik Prothos pada Mario dan hendak menyerangnya.


Namun Mario mundur dan menyuruh orang-orangnya menyerang Prothos.


Saat yang bersamaan kedua kembarannya dan David datang membantu. Perkelahianpun tak dapat dihindari lagi.


"Melo, kau baik-baik saja?" tanya Anna melihat darah di pundak Melody.


"Apa yang kau lakukan pada adikku?" seru Athos sangat marah melihat Melody terluka.


"Anna, bawa Melo." ujar Aramis sambil menghindar dari serangan demi serangan.


Anna membawa Melody keluar dari sana. Namun mereka harus berjalan kaki lumayan jauh karena mobil yang dibawa Prothos masih terjebak di sana.


Ketiga Musketeers bersama David mampu mengatasi serangan-serangan dari lawan mereka. Namun jumlah lawan mereka tujuh kali lipat dari mereka yang hanya berempat sehingga tak henti-hentinya mereka berkelahi.


Hanya Mario dan Bara yang tidak ikut berkelahi dan lebih memilih menonton pertarungan tersebut. Mereka berdua terlalu pengecut untuk ikut berkelahi.


...***...


Lion menghentikan motornya ketika melihat Melody dipapah oleh Anna mencoba menuju mobil Athos. Jaraknya masih terlalu jauh untuk mereka sampai.


"Kau baik-baik saja, Melon?" tanya Lion turun dari motornya dan melepas helm. Dia melihat darah di pundak Melody.


"Lion, bantulah ketiga kakakku." ucap Melody yang menangis.


"Anna, pakai motorku ke mobil." seru Lion memberikan helm-nya. Ekspresinya terlihat sangat marah. "Akan aku beri pelajaran mereka berdua karena tidak mendengar perkataanku."


Setelah berkata demikian Lion berlari menuju tempat pertempuran dengan sangat marah.


...***...


David mendapat serangan dan hampir tumbang namun Aramis membantunya.


"Bagaimana? Ini lebih mudah dari pada kompetisi kan?" tanya Aramis pada David.


Mereka berempat berdiri saling memunggungi karena saat ini mereka terkepung dengan musuh mereka yang melingkari mereka.


"Ya kau benar. Tak ada peraturan pasti disini." jawab David tersenyum walau keningnya sudah berdarah.


"Oto, sudah aku bilang kau harus mulai belajar bela diri." ujar Athos melirik pada Prothos.


"Diamlah!! Mereka tetap tidak bisa mengalahkan aku walau aku tidak sekuat kalian." jawab Prothos tersenyum.


Lawan mereka kembali menyerang dan mereka pun berkelahi lagi, dan lagi hingga setengah dari lawan mereka tumbang.


"Ars, cepat selesaikan ini... Aku sudah lelah." ujar Prothos saat Aramis membantunya menyerang.


"Istirahatlah!! Dan tidur yang nyenyak." ledek Aramis. "Kemana si bodoh Lion? Hanya dia yang bisa menghentikan mereka." gumam Aramis sebelum menendang lawannya.


"MARIOOOOO!!!" geram Lion langsung menyerang Mario yang hanya menonton saja.


Lion datang langsung menendang Mario hingga Mario tersungkur. Namun Bara membantu Mario dengan menyerang Lion. Dengan mudah Lion mengalahkan Bara dan mengejar Mario yang berlari dan masuk ke mobil.


Mario langsung kabur dengan mobilnya melihat ke datangan Lion.


Lion kembali menghajar Bara hingga Bara tak berdaya.


"Sudahku bilang, jangan sentuh mereka!!" seru Lion memukuli Bara.


Perkelahian terhenti setelah beberapa orang melihat kehadiran Lion dan beberapa dari mereka tidak menyerang lagi.


Lion menoleh pada orang-orang yang masih mencoba menyerang Musketeers, dan berlari hendak menghajar mereka namun saat mereka melihat Lion, mereka semua berhenti. Lion tersenyum kesal melihat orang-orang itu yang menatapnya dengan takut.


"Sejak kapan kalian semua menuruti si berengsek Mario?" tatap tajam Lion pada orang-orang tersebut.


Ketiga Musketeers dan David melihat semuanya berubah setelah Lion datang. Ketiga Musketeers hanya tersenyum lega karena perkelahian mereka terhenti hanya karena kehadiran Lion.


"Ars, sebenarnya siapa anak ini?" bisik David.


"Dia hanya seorang teman dari temannya temanmu." jawab Aramis tertawa menjatuhkan dirinya dan berbaring di jalan, kelelahan.


"Tidak, Lion." jawab salah satu dari mereka. "Mario bilang kalau Ars berkhianat padamu karena kembarannya, dan Mario bilang kau meminta kami menghajar mereka."


Lion menoleh pada Ketiga Musketeers, dan dia segera menahan emosinya. Berjalan mendekat ke salah satu orang yang ada di dekatnya.


Lion tersenyum ke arah Musketeers dan David, namun berbalik sebentar.


"Berani sekali si berengsek itu menyerang mereka saat aku berada di tempat jauh." gumam Lion dengan suara kecil hingga tak ada yang mendengar.


Lion berbalik kembali dan menghampiri teman-temannya.


"Maaf ya, aku datang terlambat." ucap Lion. "Kalian baik-baik saja?" tatap Lion pada teman-temannya yang berbaring dan duduk di bawah, kelelahan. "Aku pikir hari ini adalah akhir dari Musketeers."


Lion diam-diam berjalan ke mobil yang dinaiki Melody dan mengambil handphone Melody yang masih merekam perkelahian tersebut. Memasukannya ke saku jaketnya, tanpa siapapun tahu.


...***...


Lion masuk ke ruangan dimana Melody dirawat di rumah sakit. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Melody masih shock dengan pemandangan yang dilihatnya tadi saat kakaknya, Prothos dihajar habis-habisan.


Ayahnya berada di sana menemaninya.


"Melon, kau baik-baik saja?" tanya Melody yang hanya diam berbaring melihat langit-langit kamar rumah sakit.


"Lion, Melo masih shock dia tidak mau bicara dari tadi." ujar ayah yang melihat kehadiran Lion. "Kau bisa menjaganya sebentar? Aku ingin menghabisi mereka bertiga sekarang juga." seru ayah langsung keluar kamar.


Lion menarik kursi mendekat ke ranjang Melody berbaring.


"Ini handphone-mu, aku letakan disini ya." ujar Lion meletakkan handphone Melody di meja samping ranjang. "Kau baik-baik saja kan, Melon?"


Melody tetap pada posisinya dan tidak menjawab.


"Apa rasanya sakit? Pasti sakit ya?" tanya Lion tidak menyerah. "Mau aku belikan makanan? Es Krim? Atau apapun yang kau mau?"


Melody menoleh pada Lion dan mencoba duduk, Lion membantunya. Namun Melody masih diam tak bicara. Lion mencari cara agar Melody membuka mulutnya.


"Aku dengar di rumah sakit banyak hantu, aku keluar ya?"


"Bodoh!!" ucap Melody akhirnya bicara.


Lion tersenyum karena akhirnya usahanya berhasil.


"Maaf ya, aku datang telat." kata Lion menatap Melody yang hanya memandang ke depan. "Pasti kau ketakutan tadi..."


"Seharusnya kau ikut menemaniku ke kompetisi, bodoh!!" seru Melody. "Kau malah pergi jauh entah kemana. Ini semua salahmu!!"


"Iya, ini semua memang salahku." ucap Lion. "Aku minta maaf, Melon."


Melody menoleh pada Lion.


"Sebenarnya aku tidak memberikan nomermu pada Monik." ujar Melody menatap Lion.


"Ya, aku tahu." jawab Lion tersenyum.


"Dari mana kau tahu?"


"Karena dia tidak menghubungiku sampai sekarang."


"Aku hanya tidak ingin kejadian seperti Sandra, makanya tidak aku berikan."


"Iya aku mengerti." jawab Lion tersenyum lagi. "Istirahatlah, kau pasti kelelahan karena terus tegang tadi. Pasti kau sangat ketakutan saat berada di situasi seperti tadi."


"Jangan keluar tinggalkan aku ya!!" seru Melody.


"Dasar Melon penakut." gumam Lion meledek.


"Aku tidak takut, aku hanya masih ingin bersama... maksudku, aku tidak suka sendirian di rumah sakit." ucap Melody hampir keceplosan bicara. Sebenarnya dia masih ingin bersama Lion saat ini.


"Iya, iya, aku tahu." jawab Lion setelah itu membantu Melody yang kembali berbaring.


...***...


Ketiga Musketeers dirawat di satu ruangan di rumah sakit. Walaupun tidak ada luka serius, mereka mendapat perawatan pada luka-luka mereka setelah babak belur dalam perkelahian.


"Ars, kau pasti kentut ya?" tanya Prothos yang duduk di ranjangnya, berada di tengah-tengah kedua kembarannya.


"Bau sekali, kau habis makan bunga Raflesia Arnoldi?" ujar Athos yang berbaring di samping kanan Prothos dekat pintu.


"Diamlah!! Aku sudah mengantuk." seru Aramis berbaring memunggungi kedua kembarannya.


Tiba-tiba pintu terbuka kasar dan muncul ayah mereka di ambang pintu.


"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN BERTIGA KALAU INI TERJADI LAGI PADA PUTRIKU!!" teriak Ayah setelah itu menutup pintunya kembali dan pergi.


"Dia benar-benar marah. Kata-katanya keterlaluan sekali." ucap Athos.


"Dia bicara begitu seolah-olah kita bukan anaknya juga." tambah Prothos.


"Jangan-jangan kita memang bukan anaknya. Bahkan dia membedakan kita dengan Melo yang dirawat di kelas VIP." gumam Aramis.