MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Sebuah Jurnal



Saat selesai belajar, Prothos meregangkan tubuhnya dan menutup laptopnya. Sepulang sekolah Prothos langsung belajar. Akhir-akhir ini dia selalu belajar setiap kali ada kesempatan. Sebenarnya jika dibandingkan Athos, Prothos lebih giat belajar namun sejak dulu Athos yang cerdas lebih unggul dalam menyerap pelajaran.


Prothos meletakan kacamata kesayangannya setelah dipakai. Dia melihat buku catatan yang bentuknya kecil tidak terlalu besar. Buku itu milik Wilda yang dijatuhkannya tadi saat di gudang.


Pemuda tampan itu mulai mengingat perkataan Wilda saat di telepon.


"Argh, dia wanita yang sangat bodoh. Dia masih mau menerima pacarnya yang sudah selingkuh? Bahkan sampai memohon seperti itu."


Prothos menatap kembali buku tersebut. Dengan ragu dia membuka halaman pertama buku itu. Disitu tertulis nama Wilda dan kelas sepuluh empat.


"Dia sekelas dengan Melo?" ujar Prothos terkejut.


Lalu dia membuka halaman selanjutnya, dan melihat sebuah catatan mengenai apa yang dia rasakan dihari tersebut. Disana tertulis singkat.


Kami bertemu dan pergi bersama, aku sangat mencintainya, dan aku rasa dia pun juga sangat mencintaiku.


"Ini jurnal pribadi miliknya?" ucap Prothos. "Tidak sopan jika aku membacanya."


Prothos menutup buku tersebut, namun rasa penasarannya membuatnya membuka buku tersebut lagi.


"Wanita itu membuat aku penasaran." gumam Prothos.


Prothos pun membuka halaman demi halaman. Jurnal tersebut ditulisnya tidak setiap hari. Dia hanya menulisnya dengan durasi hari yang tidak beraturan, terlihat dari kejadian yang tidak tersambung setiap harinya. Disitu juga tidak tertulis tanggalnya dan tak ada nama siapapun.


Kami berciuman dan ini ciuman pertamaku. Hari ini aku senang karena juga mendapat nilai sempurna di ujian. Hari terbaik dalam minggu ini.


Kakak kelas dan gerombolannya mengejekku lagi, tidak masalah, mereka hanya sekumpulan wanita bodoh yang merasa cantik.


Sekolah jadi membosankan. Aku ingin cepat bertemu dia.


Kami bertemu dan dia memintaku agar pindah ke apartemen. Aku mengikutinya dan semua itu terjadi. Kami melakukannya.


"Astaga, gadis ini benar-benar polos. Aku akan membunuh Niko kalau dia sampai menyentuh Melo." ujar Prothos menjadi kesal karena dia tahu Wilda seusia dengan adiknya.


Prothos kembali membuka halaman selanjutnya.


Aku pindah apartemen yang dekat sekolah.


Minimarket, wali kelas, dan seorang pria.


Prothos terkejut membacanya. Dia mulai mengingat ketika dia dan Widia mampir ke minimarket untuk sekedar makan mie instan. Ada seorang murid perempuan yang menghampiri mereka. Prothos sama sekali tidak sadar kalau Wilda adalah gadis itu.


"Astaga, apa dia tahu itu aku?"


Aku yakin pria yang bersama wali kelas adalah dia, si tampan. Ini membuatku penasaran.


Prothos langsung membalik-balik setiap halaman yang membahas dirinya dan Widia.


Aku ke café itu untuk lebih memastikannya. Ternyata memang dia yang ada di minimarket.


"Ternyata memang benar perasaan anehku tadi."


Aku mengembalikan buku ke apartemen wali kelas, dan melihat sepatu seorang pria disana. Kacamata si tampan juga ada di meja. Mereka sedang bersama.


Pagi ini aku melihat mereka berdua di restoran. Wali kelasku beruntung sekali berpacaran dengan si tampan. Tapi itu bukan urusanku.


"Ini benar-benar sangat gawat." ujar Prothos mengusap-usap wajahnya.


Prothos berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Jika saja Wilda membocorkan rahasia itu atau buku ini ditemukan oleh orang lain. Hubungannya dengan Widia akan terancam.


Prothos langsung beranjak dan keluar kamarnya. Mengetuk pintu kamar Melody dan segera masuk setelah Melody menyuruhnya.


"Melo, kau sibuk? Ada sesuatu yang kakak ingin bicarakan." ucap Prothos pada Melody yang duduk di kursi meja belajarnya.


"Aku baru saja selesai belajar. Masuklah, kak." jawab Melody.


Prothos duduk di sisi tempat tidur menghadap Melody.


"Tidak, dia tidak macam-macam padaku. Dia selalu mendengarkan perkataanku."


"Beritahu kakak kalau dia macam-macam, akan langsung aku bunuh dia." seru Prothos kesal. "Semua pria akan mencari alasan untuk menyentuh wanita yang disukainya. Kalau kau melihat ada gelagat aneh padanya kau harus segera menghindar dan pergi, jangan dengarkan semua perkataannya saat itu! Kalau perlu tutup telingamu segera, karena saat itu semua yang keluar dari mulutnya adalah sampah. Kau mengerti Melo?"


Melody cukup terkejut mendengar perkataan kakaknya. Dia sedikit malu karena hal yang dikatakan Prothos sangat tabu untuknya.


Melody hanya bisa mengangguk pelan.


Prothos berhenti sebentar untuk menanyakan sesuatu selanjutnya.


"Di kelasmu ada yang bernama Wilda, apa kau mengenalnya?" tanya Prothos dengan nada bicara perlahan agar Melody tidak curiga.


"Aku tahu, tapi kami tidak pernah bicara. Dia gadis terpintar dan pendiam. Kami berdua sama-sama tidak suka bicara karena itu kami tidak pernah bicara." jawab Melody. "Aku juga tidak pernah melihat dia berbicara lama dengan teman yang lainnya, kalau bukan masalah pelajaran."


Prothos sedikit merasa lega mendengarnya. Kalau begitu gadis itu tidak mungkin bergosip dengan murid lainnya. Mungkin itu juga yang membuat gadis itu mengatakan semua pikirannya ke jurnal miliknya. Begitu yang di pikirkan Prothos.


"Ada apa memangnya, kak?"


"Ah tidak ada apa-apa." jawab Prothos. "Baiklah, tidurlah cepat biar tidak mengantuk di sekolah besok."


Prothos bangkit berdiri namun Melody memegang lengan Prothos untuk menanyakan sesuatu pada kakaknya itu.


"Kak, apa kakak tahu kenapa Niko berpakaian seperti itu dan tangan kirinya juga selalu memakai sarung tangan?"


Prothos sempat terkejut mendengar pertanyaan Melody.


"Aku rasa kalian semua pasti tahu alasannya."


"Tidak, aku tidak tahu. Tanyakan saja padanya langsung." jawab Prothos.


"Dia tidak pernah menjawab dengan serius semua yang aku tanyakan."


"Suatu saat dia pasti akan bilang padamu." ujar Prothos setelah itu berjalan keluar.


"Aku yakin pasti mereka bertiga tahu alasannya." gumam Melody.


...***...


Aramis masuk ke rumah Anna. Anna yang sedang sibuk dengan handphone-nya langsung menatap tajam kehadiran Aramis.


Aramis hanya berdiri di depan pintu masuk.


"Kenapa kau kesini? Ini sudah malam, pulang sana!!" seru Anna ketus. "Aku juga sudah ingin tidur."


"Aku sudah mulai melukis untuk lomba itu, besok temani aku ke gedung tua tempat biasa aku melukis sepulang sekolah."


Anna menarik tatapannya pada Aramis yang berdiri di depan pintu. Dia ingat kalau besok itu dia harus ke rumah sakit, jadi dia tidak bisa menuruti permintaan Aramis.


"Aku ada urusan sepulang sekolah besok." jawab Anna.


"Kemarin kau juga bilang begitu. Kau tidak sedang menemui seorang pria kan?" tanya Aramis curiga.


Anna menoleh pada Aramis tajam, dia kesal dengan kecurigaan Aramis padanya.


"Aku rasa itu bukan urusanmu, Ars. Jangan melarang aku melakukan apapun, kita tidak memiliki komitmen apapun sehingga kau bisa mengaturku."


"Aku sudah bilang pada ayah dan yang lainnya tentang rencanaku tahun depan setelah kau lulus." ucap Aramis. "Walau mereka menertawakanku tapi ayah tidak melarang. Aku rasa dia setuju saja."


Aramis menunggu respon dari Anna, namun gadis itu diam saja tanpa menatap padanya. Anna tidak ingin menjawab apapun karena gadis itu tidak tahu apa yang harus dia katakan pada pemuda yang menatapnya saat ini.


"Baiklah, kau istirahat saja, kau terlihat sangat lelah." ujar Aramis setelah itu keluar.


Anna menoleh ke arah pintu tempat dimana Aramis tadi berdiri. Matanya memerah karena menahan air mata yang meronta keluar saat mendengar perkataan Aramis.


"Dasar bodoh." ucap Anna dengan sebutir air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya.