MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Tirai Pemisah



Di sekolah Melody tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Pikirannya saat ini terpecah setelah mendengar perkataan Lion mengenai dirinya dan Sandra yang akan pergi seharian.


Seberapa usaha agar dia tidak memikirkan hal itu ternyata sia-sia setiap kali dia melihat kursi kosong disampingnya, kursi milik Lion. Hal tersebut juga membuat Melody bingung, kenapa dia menjadi memikirkan Lion terus, dia berpikir mungkin karena perkataannya kemarin pada Lion sehingga membuatnya merasa bersalah seperti ini padanya.


Sepulangnya dari sekolah, Melody terus duduk di kursi meja belajar, memandang kamar Lion melalu jendela kamarnya. Tirai kamar Lion sudah tidak pernah dibuka seperti dulu, hal itu juga menjadi pertanyaan Melody, menambah pikirannya saat ini.


"Apa aku minta maaf saja ya?" tanya Melody pada dirinya sendiri.


"Paman boleh masuk tidak?" tiba-tiba paman Ronald berada di balik pintu, ucapannya membuyarkan pikiran Melody. "Ayahmu bilang kau ingin tukar kamar, kalau begitu bisa tukar kamar dengan paman." ujar paman sambil bersandar di meja belajar.


"Tukar kamar?" tanya Melody memastikan.


"Besok saja kita pindahkan barang-barangnya karena hari ini paman sangat lelah setelah lima jam melakukan operasi." seru paman berjalan mendekati jendela. "Kau lihat apa dari tadi?" Paman Ronald mencondongkan tubuhnya keluar jendela. "Bukankah itu kamar Lion?" tanya paman Ronald menoleh pada Melody. "Jadi dari tadi kau memandang kamarnya?" tatapnya tepat di wajah Melody.


"Tidak! Aku hanya melihat langit saja tadi." ucap Melody berbohong.


"Bahkan Mimi tahu kalau kau berbohong. Matamu memerah seperti hantu." kata paman Ronald sambil duduk di sisi tempat tidur. "Apa yang kau lakukan sampai harus minta maaf pada Lion?"


"Apa?" Melody terkejut mendengar pertanyaan paman Ronald.


"Kau terus menatap kamar Lion hingga tidak sadar kalau paman sudah membuka pintu sejak tadi." kata Paman Ronald. "Cepat mandi, kau jelek sekali tahu!!" Paman Ronald bangkit berdiri. "Ayahmu memanggilmu, karena café tidak buka kita akan makan bersama malam ini." ujarnya sambil berjalan menuju pintu.


"Paman Ron, aku tidak bohong." ucap Melody meyakinkan.


"Iya, kau tidak bohong. Dan satu lagi." Paman Ronald menoleh. "Minta maaf saja jika dengan begitu membuatmu merasa lega dan lebih baik." lanjutnya sebelum menutup pintu.


...***...


"Ini gawat, minuman kalengnya habis." ucap Prothos membuka lemari pendingin ketika Melody masuk ke dapur.


"Beli saja! Gampangkan?" kata Athos sibuk menggoreng ayam.


"Aku ingin mandi." ujar Prothos. "Aku sudah tidak nyaman ingin segera membersihkan diri."


"Panggil Ars dan suruh dia pergi beli minuman kalengnya!" seru ayah yang sedang mengaduk sup yang dibuatnya.


"Saat ini pasti dia tidur atau bermain game dan tidak ingin di ganggu." jawab Athos.


"Biar aku saja yang pergi membelinya." ujar Melody mengajukan diri. "Mini marketnya tidak terlalu jauh jadi aku bisa berjalan kaki."


"Tidak! Bangunkan saja Ars!!" seru ayah.


"Tidak apa-apa yah. Biar aku yang membelinya."


Aramis yang berada di dalam kamarnya sedang bermain game sejak sepulang sekolah.


"Di bawah berisik sekali." gumam Aramis sambil meletakan stick game-nya. Tiba-tiba terbesit sesuatu di kepalanya. "Ato pasti tidak membawa handphone-nya."


Dengan sangat cepat Aramis langsung bangkit berdiri, membuka pintu dan berjalan menuju kamar Athos yang berada disamping kamar Prothos. Kamar Prothos ada diantara kamar Athos dan Aramis.


Sebelum masuk ke dalam kamar Athos, Aramis memeriksa keadaan sekitar. Saat di dalam kamar Athos, Aramis mengambil handphone milik kembarannya yang terletak di atas meja belajar.


Handphone tersebut terkunci oleh PIN. Tanpa pikir lagi dia memasukan tanggal lahir mereka, dan benar saja, handphone tersebut langsung terbuka.


"Bodoh, dia pikir hanya dia yang lahir di tanggal itu di rumah ini. Lagi pula jaman sekarang siapa yang mengunci handphone dengan tanggal lahir sendiri? " Ucap Aramis sambil mengutak-atik handphone Athos.


...***...


Waktu sudah menunjukan pukul lima lebih sepuluh menit ketika gadis itu sampai. Melody memasukkan sepuluh minuman kaleng ke keranjang yang dibawanya.


"Untung saja disini stoknya banyak." bisik Melody menghela napas.


Tiba-tiba dia merasakan dingin di pipinya. Ternyata seseorang menempelkan minuman kaleng dingin ke pipi Melody. Dia menoleh ke arah orang itu, dan terkejut ketika tahu siapa orangnya.


"Melon, kau sendirian?" senyum Lion.


Entah kenapa Melody jadi merasa tidak bisa menatap Lion sehingga dia mengalihkan wajahnya dari Lion.


"Kenapa hanya sendirian? Mini market ini kan jauh dari rumah?" tatap Lion.


"Minuman kaleng yang di pesan stoknya habis di mini market dekat rumah." jawab Melody. "Kenapa kau ada disini?" tanyanya tanpa menatap Lion.


"Aku melihatmu masuk ke sini karena itu aku menghampirimu."


Melody menatap Lion karena jawaban yang diberikan Lion bukan jawaban yang di maksud dengan pertanyaannya. Maksud pertanyaan Melody adalah bukankah seharusnya saat ini dia sedang bersama Sandra, lalu kenapa dia ada disini?


"Traktir aku minuman ini ya." senyum Lion memperlihatkan


minuman kaleng yang di bawanya. "Dengan ini kau masih berhutang dua kali traktiran."


Melody berjalan ke kasir untuk membayar minuman kaleng yang dibelinya. Tiba-tiba hujan turun sangat deras setelah Melody membayar.


"Hujan!!" seru Lion memandang keluar melalui pintu kaca.


Melody menoleh keluar melihat hujan yang sangat deras. Dia menjadi menyesal kenapa tidak membawa payung. Dia segera berjalan keluar mini market dengan diikuti Lion.


Dia mencari handphone di kantongnya untuk menghubungi orang rumah namun dia tidak menemukannya.


Apa aku meninggalkannya dirumah ya? Tanyanya dalam hati.


"Kau tidak membawa handphone-mu?" tanya Lion.


Belum sempat Melody menjawab, handphone Lion berbunyi.


"Ini Ato, pasti menanyakanmu. Ya ampun kenapa mereka meneleponku memangnya aku ini panggilan darurat yang di telepon pertama kali saat keadaan darurat." gumam Lion.


"Tenang saja, aku bersamanya, kau tidak perlu..." perkataan Lion terhenti saat menjawab telepon itu, lalu memperhatikan layar handphone-nya, "Baterainya habis." ucap Lion.


Melody membuang napas sambil memandang hujan yang jatuh tepat di hadapannya.


"Kenapa kau selalu membuang napas seperti itu?" ujar Lion. "Tenang saja, hujan ini tidak akan lama, sebentar juga berhenti. Kita tunggu saja."


"Dimana motormu?" tanya Melody tanpa menoleh pada Lion.


"Megan ya? Dia sedang masuk rumah sakit saat ini." jawab Lion. "Aku jadi merindukannya." lanjut Lion.


Melody tidak bertanya lagi dan hanya diam sambil memandang hujan begitu juga dengan Lion. Mereka berdiri bersebelahan tanpa berkata apapun setelah itu.


Dalam benak Melody masih dipenuhi pertanyaan tentang apa yang terjadi dengan Lion dan Sandra, namun gadis itu tidak berani menanyakannya langsung.


Hanya suara rintik hujan yang terdengar.