
David menemui Aramis untuk mengkonfirmasi kabar yang sejak kemarin beredar. Kabar tentang kematian Mario. Mereka bertemu saat jam istirahat di belakang gedung sekolah.
"Ya, kami sudah mendengarnya." jawab Aramis
"Ini aneh Ars! Penabrakan itu pasti disengaja kan?" tanya David. "Apa kau tahu sesuatu?"
"Sepertinya salah satu dari teman Lion yang sejak awal tidak suka dengan Mario. Atau bisa juga kelompok anti Lion."
"Apa?" tatap David aneh. "Apa maksudmu? Anti Lion?"
Aramis tertawa.
"Aku serius, Ars."
"Aku juga serius." jawab Aramis.
David mencoba memahami perkataan Aramis.
"Jadi siapa sebenarnya Lion?" tanya David penasaran.
"Kemarin sudah aku katakan, dia adalah seorang teman dari temannya temanmu."
David kesal lagi mendengar jawaban Aramis.
"Sebenarnya hubunganmu dengan Lion seperti apa, Ars? Aku kira selama ini kalian bersahabat. Tetapi melihat kejadian kemarin mereka semua lebih mendengarkan kata-kata Lion."
"Apa Lion menemuimu setelah pertandingan karate kemarin?" tanya Aramis dan David mengangguk. "Lion punya prinsip 'musuh dari teman adalah teman'. Dia selalu melakukannya. Semua orang yang adalah musuhku, setelah kalah dariku, Lion akan menemui mereka dan menawarkan pertemanan. Hingga tanpa disadari olehnya dia memiliki begitu banyak teman bahkan di kota-kota lain. Ya, walaupun mereka juga masih menjadi musuhku."
"Aku juga sudah mendengar kalau Lion memang punya banyak teman di manapun dan dari kalangan apapun. Tapi persahabatan kalian berdua memang aneh." kata David.
"Karena loyalitasnya pada teman-temannya, anak itu terkenal di manapun. Percayalah, saat salah satu temannya meminta bantuan, di manapun mereka berada dia akan menemuinya." tambah Aramis sambil meminum minuman kaleng yang dibawanya. "Rumus pertemanan yang dibuatnya, Temannya temanmu adalah temanmu juga, itu terkenal oleh para temannya sehingga saat orang itu adalah teman Lion, dia akan merasa aman. Dan itupun benar terjadi. Tak ada yang berani mengusik siapapun yang masuk dalam rumus pertemanannya itu."
"Jadi itu alasan kenapa dia datang hanya seorang diri dan mereka langsung berhenti ketika melihatnya datang." gumam David.
"Padahal kalau dia mau dia bisa membawa teman-temannya yang lain dan jumlahnya berkali-kali lipat untuk mengalahkan mereka. Tapi tujuan Lion datang hanya untuk menghentikan semuanya itu, bukan mengalahkan mereka." jawab Aramis.
"Jadi orang-orang itu pun teman Lion, begitu?"
"Mario menghasut teman-temannya menggunakan nama Lion dan bilang aku mengkhianati Lion, mereka semua yang sejak awal adalah musuhku langsung bertindak." lanjut Aramis. "Dan begitu pun sebaliknya. Setelah kejadian kemarin, Lion memutuskan pertemanannya dengan Mario dan itu terdengar seperti auman seekor singa bagi siapapun. Sehingga salah satu dari mereka yang tidak menyukai Mario ataupun yang mempunyai dendam padanya langsung bertindak. Selama ini Mario memang terkenal selalu berlaku seenaknya. Tapi ada juga orang-orang yang tidak mau masuk dalam rumus pertemanan dan menganggap mereka anti Lion. Tapi sayangnya mereka tidak bisa berbuat apapun karena begitu banyaknya teman Lion di penjuru negeri. Bisa juga salah satu dari mereka yang menabrak Mario, setelah mendengar kabar Lion bukan lagi temannya."
"Aku sangat tidak mengira dibalik wajah bodohnya dia benar-benar orang menyeramkan."
"Tidak. Dia memang bodoh!! Punya banyak teman adalah tindakan bodoh yang menyusahkan dirinya sendiri. Lebih baik punya banyak musuh dari pada teman yang merepotkan. Bergerak sendirian lebih bebas ketimbang bergerak bersama orang yang menjadi bebannya."
"Sebenarnya kalian berdua saling diuntungkan 'kan?" tatap David sinis.
"Tidak! Hanya dia yang diuntungkan. Dia menjadikan aku umpan agar dia bisa menarik mereka menjadi temannya." ujar Aramis. "Jawablah, jika seekor singa dan harimau bertarung siapa yang akan menang?"
David melihat Aramis agar menjawabnya.
"Harimau akan menang." jawab Aramis. "Kalau harimau lebih unggul dari singa, kenapa singa yang disebut raja hutan?"
"Karena singa selalu bergerak secara berkelompok. Singa memburu mangsanya secara berkelompok sedangkan harimau berburu secara individual." ujar David.
"Seperti itulah aku dan Lion." senyum Aramis.
"Karena itulah aku bilang kalian saling diuntungkan." jawab David yang sejak awal duduk bersandar ke tembok. "Kau mengalahkan musuhmu setelah itu Lion datang menjadikan musuhmu temannya, sehingga kau yang adalah sahabat Lion otomatis bernaung dalam rumus pertemanan Lion dan terlindungi dari para musuhmu itu."
Aramis hanya tertawa mendengarnya sambil berjalan meninggalkan David.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Anna?"
Sambil berjalan pergi, Aramis mengangkat jari tengahnya pada David.
...***...
Melody berada di kelas saat waktu istirahat. Hari ini Lion masih belum masuk ke sekolah. Tak ada kabar darinya. Terakhir kali Melody melihat pesannya pada Lion juga belum dibaca.
Dia masih memikirkan perkataan Mona. Tampaknya Lion benar-benar menyalahkan dirinya atas kematian Mario. Tapi itu masih jadi pertanyaan untuknya kenapa Lion merasa seperti itu. Mario meninggal karena tertabrak bukan dia yang membunuhnya.
"Melon, maaf ya. Apa kau bisa bilang ke bu Widia kalau aku ijin dua hari?" tanya Lion, suaranya terdengar seperti biasanya.
"Kau sudah tidak masuk dua hari, minta ijin sekarang sudah sangat terlambat. Dan lagi kau juga punya nomer handphone bu Widia, kenapa tidak kau sendiri yang minta ijin?" jawab Melody dingin seperti biasanya.
Lion tertawa mendengar jawaban Melody.
"Kau tenang saja, kak Anna sudah bilang pada bu guru mengenaimu yang tidak masuk dua hari." jawab Melody.
"Benarkah? Aku harus berterimakasih padanya kalau begitu."
"Kau dimana?" tanya Melody.
Lion tidak menjawab.
"Kenapa tidak sekolah?"
"Aku tertidur dan baru saja bangun." jawab Lion lagi.
"Kau pulang jam berapa? Saat berangkat sekolah tadi pagi aku tidak lihat motormu. Apa kau tidak pulang ke ru-"
"Melody."
Deg!
Melody terkejut mendengar Lion memanggil namanya. Selama ini Lion tidak pernah sama sekali memanggilnya dengan namanya itu. Ditambah suaranya terdengar berbeda dari sebelumnya.
Gadis itu tertegun. Dia tahu ada sesuatu yang aneh saat Lion memanggil namanya.
"Dengarkan." ucap Lion. "Alasan sebenarnya aku meneleponmu adalah karena aku ingin meminta maaf padamu."
"Minta maaf?"
"Baru saja aku bermimpi kalau temanku ingin meminta maaf padamu. Aku mewakili Mario meminta maaf padamu karena sudah membuatmu terluka dalam perkelahian kemarin. Apa kau memaafkannya?" tanya Lion dengan suara parau.
"Ya, itu tidak masalah untukku, aku sudah memaafkannya." jawab Melody.
"Aku berterimakasih padamu karena mau memaafkannya." ujar Lion.
"Lion dengarkan aku, se-"
"Aku akan tinggal dengan kedua orang tuaku."
"Apa? Apa yang kau katakan?" suara Melody bergetar mendengar ucapan Lion.
"Apa kau tidak mendengarnya?" tanya Lion. "Dengan kata lain... Ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku menghubungimu." lanjut Lion.
"Ke- kenapa tiba-tiba?" tanya Melody. "Kapan kau akan pergi?"
"Aku sudah dalam perjalanan." jawab Lion.
"Apa ini tidak terburu-buru?" jawab Melody. "Apa kak Ars dan yang lainnya tahu? Kau sudah berpamitan pada mereka?"
Lion terdiam dan tak menjawab membuat dia paham kalau tak ada yang tahu akan kepergian Lion yang tiba-tiba.
"Aku akan tutup teleponnya." ucap Lion.
"Tunggu dulu!!" seru Melody. "Tunggu dulu, Lion!!"
"Hhmm."
"Ini terasa aneh. Rasanya... Kau terlalu dingin." ujar Melody.
"Sampai jumpa."
Lion langsung menutup teleponnya.
Melody terkejut mendengar perkataan Lion di telepon. Dadanya terasa sesak mendengar salam perpisahan dari Lion, tanpa sadar airmatanya mengalir deras membasahi pipinya.