
Pagi hari di hari minggu, hujan turun rintik-rintik membuat siapapun ingin selalu menempel di tempat tidur mereka.
Namun tidak dengan Athos. Si paling rajin tersebut sibuk membuat cheesecake kesukaan Melody. Sambil sesekali mengambil bukunya yang diletakkan di meja makan. Setiap ada waktu dia akan membaca buku pelajarannya tersebut.
Waktu menunjukan pukul sembilan pagi. Di rumah hanya ada Melody, Athos, Prothos, dan Ayah. Kakek sedang pergi mengunjungi sepupunya diantar oleh paman Ronald, sedangkan Aramis belum juga pulang dari rumah Lion.
"Kak Ato buat apa?" Melody menuruni tangga dan berjalan ke dapur setelah mencium aroma lezat di penjuru rumah.
"Buat cheesecake kesukaanmu." jawab Athos sambil mengeluarkan cake yang sudah matang dari oven. "Duduk dulu Melo, kakak mau menghias cake-nya dulu. Sabar ya." ujar Athos yang sibuk mengeluarkan perlengkapan menghias cake.
Melody menuruti perkataan Athos dan segera duduk di meja makan.
"Ya ampun, akhirnya perutku merasa lega." Prothos keluar dari WC dan langsung duduk di samping Melody. "Ayah, nanti siang aku pakai mobil ya."
"Jangan bermain terus, belajarlah, minggu depan ujian." jawab ayah yang sibuk membaca dokumennya di ruang tamu.
"Aku tidak akan lama."
Tiba-tiba pintu masuk terbuka, ternyata adalah Aramis yang baru pulang.
"Jangan bermain game terus dan belajarlah Ars!!" seru ayah yang melihat Aramis datang.
"Wah, bau apa ini?" Aramis berjalan ke dapur mengabaikan perkataan ayahnya. "Hujan begini lebih enak makan mie instan, buatkan aku mie instan ya Ato." perintah Aramis pada Athos yang sibuk mengoleskan butter ke cake buatannya.
Aramis lalu duduk di hadapan Prothos sambil memakan pisang dan kaki yang terangkat satu.
"Selamat pagi, ayah." ucap Lion yang membuka pintu.
Kemunculan Lion membuat Melody sedikit salah tingkah. Namun gadis itu mencoba bersikap biasa saja dengan memainkan handphone.
"Wah, ini pasti lukisan ayah?" Lion duduk disebelah ayah dan mengambil beberapa foto lukisan ayah di meja. Lion sesekali memang sering memanggil ayah Melody dengan sebutan ayah, karena itu yang lain sudah biasa mendengarnya. "Bisa tidak mengajariku melukis?"
"Kau sudah sarapan?" tanya ayah pada Lion.
"Sudah." jawab Lion tersenyum.
"Jangan bilang tadi kau sarapan sendiri ya?" seru Aramis sambil mengunyah pisang yang kedua. "Kenapa tidak mengajakku?"
"Pertunjukan mana yang kau bilang?" Lion berjalan ke meja makan dan duduk di kursi di depan Melody. "Aku datang di waktu yang tepat." Lion melihat cake yang hampir jadi, yang masih dihias Athos.
"Lion, nanti siang aku pinjam motor ya?" tanya Prothos.
"Pakai saja, tapi nanti jam dua belas, kau ambil di bengkel biasa ya?" jawab Lion.
"Semoga saja hujan sudah berhenti nanti." Prothos melihat keluar jendela dapur.
Tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Ayah segera bangkit berdiri untuk melihat siapa yang datang.
"Lion, pertunjukan akan segera dimulai." Aramis terkekeh.
Ayah membuka pintu dan melihat seorang gadis yang cukup dikenalnya berdiri di depan pintu dengan membawa tas tangan.
"Tasya?" tanya Ayah heran.
Semua orang yang berada di dalam melongok untuk lihat siapa yang datang, kecuali Aramis yang duduk santai memakan apel karena dia tahu siapa yang akan datang. Athos juga masih sibuk menaburkan keju ke atas cake.
"Selamat pagi, pak Leo. Ah, seharusnya selamat pagi ayah." senyum lebar Tasya.
"Ayah?" ayah mengernyitkan dahinya semakin heran. "Ada perlu apa kesini?"
"Sepertinya Athos tidak bilang padamu ya? Aku dan Athos sudah berpacaran, dan dia memintaku untuk datang hari ini." terang Tasya.
"Akhirnya selesai juga." ucap Athos yang tidak tahu kehadiran Tasya. "Melo, cheesecake-nya sudah jadi."
Athos membawa cheesecake buatannya ke meja makan namun ketika dia hendak meletakkannya, Tasya lebih dulu muncul dan membuatnya terkejut hingga melepas cheesecake tersebut dari tangannya.
Untungnya Aramis yang duduk di dekat Athos berdiri dapat menduga hal itu akan terjadi. Dengan sigap dia menangkap cheesecake tersebut dan meletakkannya ke meja makan.
"Ta... Tasya... kenapa kau ada disini?" tanya Athos yang terlihat sangat terkejut.
"Ato, kemarin kau mengirim pesan padaku, memintaku datang jam sembilan pagi ke rumahmu. Kau juga mengirimiku alamat rumahmu." jawab Tasya tersenyum. "Tapi setelah mengirimiku pesan kenapa kau tidak menjawab teleponku?"
"Pesan?" Athos semakin bingung.
"Ini pesannya." Tasya menunjukkan layar handphone-nya yang berisi pesan singkat dari Athos.
Athos menatap sekeliling, semua orang berdiri memperhatikan dirinya dan Tasya, termasuk ayah yang menatap Athos dengan tatapan meminta penjelasan.
"Aku tidak mengirim pesan apapun padamu."
Tiba-tiba Aramis tertawa, sambil beranjak dari duduk santainya.
"Athos, ikut denganku!!" seru ayah berjalan menaiki tangga, dan Athos mengekor.
...***...
Ayah hanya berdiri menatap Athos menunggu anak tertuanya bicara. Sedangkan Athos masih tampak kebingungan harus mengatakan apa.
"Se... sebenarnya ini semua salah paham, ayah. Maksudku, aku tahu mengenai peraturan itu, karena itu... " Kata-kata Athos berantakan karena dia tidak mengira ini akan terjadi. "Aku dan Tasya sebenarnya... tidak, semua ini hanya salah paham. Si berengsek itu mengacaukan segalanya!!"
"Dengar!!" seru ayah yang menyadari kebingungan Athos. "Aku tidak akan memaafkanmu jika nilaimu turun karena hal ini!!" lanjut ayah. "Sehabis ini, ganti dan cuci semua tirai dan seprei di semua kamar, dan pergilah belanja untuk kebutuhan satu bulan."
"Tapi aku harus belajar, besok ada try out." keluh Athos.
Ayah tidak peduli dan langsung berjalan meninggalkannya lalu masuk ke dalam kamar.
...***...
Di meja makan, Prothos, Aramis, Lion dan Melody duduk bersama Tasya. Dengan tanpa basa-basi ataupun sungkan Tasya mengeluarkan isi dari tas tangan yang dibawanya. Tiga botol besar kopi brand ternama isinya.
"Apa benar ini Ato yang buat?" tanya Tasya memperhatikan cheesecake buatan Athos.
"Sebenarnya Ato tahu kau akan datang makanya dia membuatnya." Jawab Aramis mengarang.
"Cantik sekali." kagum Tasya. "Cocok sekali dengan minuman yang aku bawa. Sebentar aku ambil gelas dulu ya."
Tanpa jawaban Tasya langsung ke rak dapur mengambil gelas-gelas. Semua mata menatap padanya karena sikapnya yang seakan-akan dirinya sering datang ke rumah itu, padahal ini kali pertamanya.
"Aku akan sering datang kesini mulai saat ini." ujar Tasya sembari berjalan membawa gelas-gelas ke meja makan. "Ngomong-ngomong kau siapa? Aku baru pertama kali melihatmu." tanya Tasya pada Lion sambil sibuk menuangkan kopi ke gelas dan membagikannya. "Ah, kau pasti pacarnya Melody ya?"
Melody tersedak kopi yang diminumnya karena mendengar apa yang dikatakan Tasya.
"Aku ini pacarnya Ars." jawab Lion sambil memeluk Aramis yang duduk disamping kanannya.
"Lepaskan tanganmu, atau kubunuh kau?!" geram Aramis tampak jijik pada Lion.
Tasya tertawa melihatnya.
"Jadi kau siapa?" tanya ulang Tasya sambil memotong cheesecake buatan Athos.
"Kau tidak pernah melihatku di café?" tanya Lion. "Beberapa kali aku datang kesana."
"Yang dilihatnya hanya Athos, tidak mungkin dia melihat pria lain." Prothos menjawab santai sambil mengutak-utik handphone-nya.
"Ya, itu benar." Tasya terkekeh.
"Apa benar kak Ato berpacaran denganmu?" tanya Melody ragu menatap Tasya yang duduk di hadapan Lion dan dirinya duduk di kursi yang biasa di duduki kakek, di antara mereka berdua.
"Benar Melody, aku ini pacar Ato." setelah menjawab, Tasya mencicipi cheesecake-nya. "Hmm, ini enak sekali."
Athos berjalan menuruni tangga dengan langkah lunglai. Dia tidak percaya kalau ayah akan memberinya tugas sebanyak itu, padahal dia berencana untuk belajar setelah ini.
"Athos, cheesecake buatanmu numero uno." Tasya mengacungkan jempol pada Athos yang tak melihatnya. "Kau kenapa?" Tasya menghampiri Athos yang lesu dan merangkul tangannya.
Semua mata memperhatikan mereka.
"Pulanglah." Athos menatap Tasya yang tampak ceria. "Masih banyak pekerjaan rumah yang harus aku lakukan, sedangkan aku harus belajar karena besok try out."
Aramis tertawa terbahak-bahak karena menyadari saat ayah kesal pada Athos, dia akan menghukum Athos dengan banyaknya pekerjaan rumah, hingga Athos tak ada waktu untuk belajar.
"Diam kau!! Ini semua salahmu!! Kau harus membantuku!!" geram Athos pada Aramis.
"Aku ngantuk, aku mau tidur."
Aramis tidak menghiraukan Athos dan berjalan santai menaiki tangga, menghindar.
"Ato, aku akan membantumu ya." ujar Tasya tanpa ragu. "Apa saja yang harus dikerjakan?"
"Mengganti dan mencuci semua seprei. Ayah juga menyuruhku belanja kebutuhan sebulan."
"Aku bisa pergi belanja, kak Ato."
"Oto, kau pergi belanja dengan Melo ya?" pinta Athos merespon Melody.
"Maaf sekali, aku sudah ada janji... aku akan pergi." jawab Prothos.
"Aku bisa pergi sendiri." Melody meyakinkan Athos. "Aku akan naik taksi."
"Lion..." Athos menatap Lion lekat. "Tolonglah pergi berbelanja dengan Melo ya?"