MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Selamat Ulang Tahun Kembaranku



Athos mengantar Tasya pulang ke rumahnya dengan motor Lion. Karena satu mobil di bawa Prothos, mobil satunya yang lain dibawa pulang oleh Aramis, Melody, Lion dan Anna.


Athos turun dari motor bersama Tasya.


"Maaf ya, dengan pakaian seperti itu kau harus naik motor." ujar Athos.


"Aku malah suka naik motor bersamamu, aku jadi bisa memelukmu terus." jawab Tasya tersenyum. "Ato, selamat ulang tahun ya. Besok malam aku sudah memesan makan malam romantis untuk hadiah ulang tahunku untukmu. Aku ingin kita menikmatinya berdua saja."


"Baiklah." senyum Athos. "Besok pagi datanglah pagi-pagi ke rumahku, karena Oto tidak ada meniup lilinnya di tunda hingga besok pagi."


Tasya mengangguk. "Aku pasti akan datang."


Athos mencium kekasihnya dengan lembut.


"Ini hari ulang tahunku yang terbaik selama ini, karena ada kau, Tasya." ucap Athos menatap Tasya.


"Kalau begitu selanjutnya hari ulang tahunmu akan menjadi yang terbaik karena aku akan ada selalu bersamamu."


Athos tersenyum mendengar perkataan kekasihnya. Tasya langsung memeluk Athos.


...***...


Aramis mengikuti Anna masuk ke rumahnya setelah pulang dari café. Anna tidak memedulikan Aramis dan langsung masuk ke kamarnya dengan mengunci pintu.


"Kau bilang akan memberiku hadiah, mana hadiah untukku?" tagih Aramis didepan pintu kamar Anna.


"Pulanglah Ars, aku mau istirahat!!" seru Anna.


"Kau ini!!" gumam Aramis. "Kenapa kau juga tidak mengucapkan selamat ulang tahun padaku?"


Anna tidak menjawab.


Aramis kesal dan menendang pintu kamar Anna. Dengan segera Anna membuka pintunya.


"Selamat ulang tahun." ucap Anna.


"Hanya itu saja?" tanya Aramis. "Mana hadiahnya?"


Anna malah menutup pintu dengan keras.


"Pulang sana, aku mau istirahat." seru Anna. "Aku tidak punya kewajiban untuk memberimu hadiah."


"Lalu kenapa kau bertanya waktu itu?"


"Tapi kau tidak menjawabnya." jawab Anna.


Aramis terdiam dengan kesal. Akhirnya dia melangkah pergi dari rumah Anna.


Aramis masuk ke dalam kamarnya dengan kekesalannya pada Anna. Dia membuka pintu kamarnya dan menghidupkan lampu, pandangannya langsung tertuju ke sesuatu yang ada di atas meja belajarnya.


Sebuah hadiah yang terbungkus dengan cantik di atas meja belajarnya. Dia membuka surat yang berada di atas hadiah tersebut.


Selamat ulang tahun, bodoh. Maaf aku sedang irit. -Anna-


Aramis tertawa tidak percaya dengan surat ucapan dari Anna. Dia segera membuka hadiah pemberian seseorang yang spesial baginya.


Sebuah mug bergambar dirinya yang saat Anna mencoret-coret wajahnya ketika dia tertidur.


"Dia selalu membuatku kesal." gumam Aramis saat melihat hadiah pemberian Anna.


Namun akhirnya dia tersenyum kembali.


Aramis mengambil handphone-nya dan mengirim pesan pada Anna.


Terimakasih.


Anna yang sedang berbaring, tersenyum membacanya.


Aku akan membunuhmu!!


Anna tertawa membaca pesan selanjutnya dari Aramis karena tahu dia akan marah saat melihat foto yang tercetak di gelas mug tersebut.


Tapi aku senang.


Sekali lagi Anna tersenyum membaca pesan selanjutnya dari Aramis.


...***...


Sekitar jam setengah dua belas malam, Athos dan Aramis menunggu kepulangan Prothos di meja makan. Aramis menyantap mie instan yang dibuatkan Athos untuknya. Sedangkan Athos sibuk menghitung pendapatan café hari ini.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Aramis yang duduk di hadapan Athos. "Apa hari ini untung banyak? Kalau tidak ayah akan membunuh kita."


"Kau tenang saja. Kita sangat untung banyak." jawab Athos melihat Aramis.


"Aku tahu kalian berdua pasti menungguku." ujar Prothos yang baru saja masuk dan langsung menghampiri kedua kembarannya. "Apa ini semua hadiah yang kita terima dari pengunjung café?"


Prothos melihat-lihat tumpukan hadiah yang berada di atas meja makan di sisi lain dari Athos dan Aramis duduk.


"Pilihlah yang ada namamu, Oto. Kau mendapat banyak sekali." ujar Aramis. "Sepertinya beberapa juga ada yang memberimu handphone."


"Benarkah? Kembalikan saja pada mereka besok." ujar Prothos melihat beberapa hadiah berbentuk dus handphone.


"Ada apa dengan pipimu?" tatap Athos melihat pipi kiri Prothos memerah.


Prothos membuang napas sambil duduk di kursi samping Aramis.


"Kau pasti kena pukul pacarmu 'kan? Aku tahu isi kepalamu. Pasti kau berencana melakukannya karena berpikir kau sudah berusia 18 tahun, tapi pacarmu malah memukulmu 'kan?" tebak Aramis tepat sekali.


"Kenapa kau bisa tahu? Astaga, jangan-jangan kau juga kena pukul Anna?"


Aramis menatap Prothos dengan tatapan sinis.


"Kau lihat? Apa ada luka di wajahku?" tanya Aramis. "Jangan samakan aku denganmu!! Penjahat kelamin!!"


"Pasti kau tidak berani karena Anna akan membunuhmu kalau kau menyentuhnya." gumam Prothos.


"Paman yang akan membunuhnya." tambah Athos.


"Diamlah, aku sudah kenyang jadi tidak akan terpancing emosi dengan ucapan kalian." ujar Aramis setelah itu meminum susu yang sudah disiapkan Athos juga untuknya. "Oto, kenapa kau menyembunyikan pacarmu? Kau tidak memacari istri orang kan?"


"Jaga ucapanmu, Ars. Aku tidak akan mau memacari pacar orang apalagi istri orang." jawab Prothos.


"Lalu kenapa kau tidak mengenalkannya pada kami?" tanya Aramis lagi.


"Jadi kau dan Anna memang sudah pacaran ya?" Prothos malah bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. "Sejauh mana hubungan kalian?"


"Sudah aku bilang tidak! Apa itu pacaran?" ujar Aramis yang mudah teralihkan. "Hanya orang bodoh saja yang menggunakan istilah fiksi itu!!"


Athos tertawa mendengarnya.


"Kenapa kau tertawa?" kesal Aramis menatap Athos.


"Kau berkata seperti itu bukan karena tidak berani mengatakannya langsung pada Anna 'kan?" tanya Athos.


"Diam kau!! Kau mengerti apa? Kau pacaran dengan Tasya juga karena salah paham kan? Kau menerimanya karena dia terus mendesakmu, Ato?"


"Pasti kau tidak berani bilang, Anna, aku menyukaimu, aku mencintaimu, mari kita berpacaran. Benarkan Ars?" Prothos tidak mau kalah menyerang Aramis.


"Diamlah, kalian ini!!" seru Aramis. "Untuk apa ada kalimat ajakan seperti itu? Seharusnya ketika sepasang pria dan wanita saling mengenal satu sama lain itu saja sudah cukup untuk mereka bersama. Ajakan pacaran, itu hanya karangan fiksi belaka yang tak ada dasar hukum dan tidak memiliki dasar apapun."


Athos dan Prothos saling tatap dan tertawa bersama mendengar jawaban Aramis kembaran mereka.


"Kalian berdua ini." gumam Aramis menahan kesalnya. "Sudahlah, aku ngantuk."


"Besok pagi kita akan meniup lilin bersama." ucap Athos pada kembarannya. "Selamat ulang tahun untuk kalian berdua." senyum Athos.


"Selamat ulang tahun untukmu juga, Ato." jawab Prothos pada Athos. "Ars, selamat ulang tahun ya." rangkul Prothos pada Aramis yang masih kesal.


"Hhmm." respon Aramis bangkit berdiri. "Selamat ulang tahun untuk kalian berdua kembaran yang paling menyebalkan."


Athos dan Prothos tertawa kembali.


"Aku menyayangi kalian berdua." ucap Aramis setelah itu memberi kecupan ke pipi kedua kembarannya dan langsung berlari menaiki tangga.


"Sialan kau, Ars!!" seru Prothos. "Sial sekali aku di ulang tahun ku kali ini. Mendapat ciuman dari seorang pria, pacarku menamparku sangat keras, dan dikecup oleh kembaranku sendiri." gumam Prothos kesal.


Athos dan Aramis hanya tertawa mendengar keluhan Prothos.