MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Genangan Rasa



Sekitar dua puluh menit kemudian hujan mulai reda.


Melody mengulurkan tangannya untuk merasakan hujan apakah sudah reda atau belum. Dia merasa kalau sudah cukup reda sehingga dia dapat segera pulang. Entah kenapa berdiri disamping Lion saat ini membuatnya tidak nyaman karena itu dia ingin segera menjauh darinya.


Ketika Melody hendak mengambil kantong belanjaan yang dia letakan di bawah, tiba-tiba Lion lebih dulu mengambilnya.


"Aku tidak yakin kau bisa membawanya." ucap Lion. Mata mereka saling bertemu. Lion juga membuka jaketnya dan memberikannya pada Melody. "Aku kepanasan." ujarnya.


Tanpa kata Melody langsung bergegas meninggalkan mini market tersebut setelah mengenakan jaket Lion. Dia berjalan lebih dulu tidak memedulikan Lion yang ada di belakangnya.


Sebenarnya saat ini Melody ingin bertanya banyak hal pada Lion. Terutama mengenai Sandra. Apa yang terjadi dengan kencan mereka? Bukankah seharusnya mereka bersama hingga malam seperti yang di katakan Lion kemarin? Lalu apa yang terjadi? Padahal saat ini baru jam setengah enam sore, bahkan hari belum gelap.


Di trotoar, Melody terus berjalan di depan Lion mencoba terlihat tidak peduli pada pria itu walaupun begitu saat ini dia ingin sekali menoleh untuk melihatnya. Yang membuatnya semakin bertanya-tanya adalah sikap Lion yang hanya diam saja ketika Melody bersikap dingin padanya, padahal kalau biasanya Lion akan berusaha mengganggu Melody.


Hujan belum berhenti dan hanya turun rintik-rintik, perjalanan ke rumah menjadi terasa begitu panjang jika keadaannya seperti ini terus.


Ketika mereka memasuki kawasan perumahan, Melody tidak tahan lagi menahan rasa penasarannya dan berhenti berjalan, dia menoleh pada Lion yang menatapnya dengan mengernyitkan dahinya.


"Ada apa?" tanya Lion bingung.


"Apa yang terjadi?" Melody balik bertanya, "Bukankah kau bilang akan pergi bersama Sandra hingga malam dan menghabiskan sepanjang hari bersama dengannya?" tatap Melody yang berdiri di jarak tiga meter dari Lion. "Sekarang belum malam kan?"


"Itu... itu karena..." Lion menarik tatapannya dari mata Melody. "Tiba-tiba Megan sakit sehingga kami lebih cepat." jawab Lion.


"Benar seperti itu?" selidik Melody memastikan.


Tiba-tiba Lion menendang genangan air yang ada di hadapannya hingga air tersebut terciprat ke Melody.


"Jangan bersikap seperti Ars!!" seru Lion.


Melody menjadi geram dan kesal namun sekali lagi Lion menendang genangan airnya. Melody ingin membalas dengan menendang genangan air tersebut juga namun Lion lebih dulu berlari maju untuk menghindar.


"Coba saja kalau bisa!!" ejek Lion setelah itu berlari.


Dengan perasaan kesal Melody berlari mengejar Lion untuk membalas perbuatan yang di lakukan Lion padanya.


Tiba-tiba Lion berhenti berlari dan membalik tubuhnya hendak menendang genangan air pada Melody lagi, namun Melody tidak bisa menghentikan larinya dan terpeleset.


Lion mencoba menggapai Melody dengan melangkah maju namun Melody lebih dulu menabraknya hingga menimpa Lion dan terjatuh di atas genangan air. Minuman kaleng yang di bawa Lion pun berhamburan jatuh.


Sesaat mata mereka bertemu, saling mencoba membaca apa yang ada di pikiran antara satu dan yang lain. Namun tidak lama kemudian mereka tersadar dan segera mengalihkan pandangan masing-masing.


Melody segera bangun dari atas tubuh Lion yang ditimpanya. Dia langsung bangkit berdiri sedangkan Lion duduk di tanah karena pakaian putihnya sudah terlanjur basah dan kotor setelah terjatuh di atas genangan air.


"Itu bukan salahku." ucap Melody saat Lion menatapnya dengan tatapan mata minta pertanggungjawaban. "Aku tidak memintamu untuk menangkapku tadi."


Lion tertawa tidak percaya pada sikap Melody yang masih membuatnya kesal.


"Ya, seharusnya aku tidak menangkapmu tadi!! ini memang salahku." ujarnya kesal.


Melody menatap Lion yang masih duduk di tanah dengan perasaan bersalah. "Maaf."


"Jadi kau sudah mengakui kalau tadi itu salahmu?"


"Maaf karena kata-kataku kemarin." lanjut Melody membuang muka dari tatapan Lion karena baginya berkata seperti itu membuatnya malu. "Aku menyesal sudah berkata hal yang buruk padamu."


Lion bangkit berdiri.


"Sebenarnya yang kau katakan benar." ucap Lion.


Melody kembali menatap pada Lion tapi kali ini Lion yang langsung mengalihkan tatapannya dari Melody.


"Apa maksudmu?" tanya Melody pada Lion yang berdiri di hadapannya di jarak tiga meter.


"Sebenarnya sejak awal aku tidak tertarik padanya tapi karena mendengar kata-katamu di tambah kata-kata Ars, itu membuat aku jadi kesal." jawab Lion, mata mereka bertemu. "Setelah tadi pergi dengannya ternyata aku memang tidak bisa, kami berdua memang tidak cocok. Aku sudah bilang padanya agar berhenti menghubungiku." lanjut Lion.


Tanpa sadar Melody tersenyum mendengarnya.


"Kenapa kau tersenyum? Kau ingin meledekku kan?" ujar Lion.


Melody segera menahan senyumnya dan berbalik lalu berjalan melewati Lion. Setelah itu tersenyum melanjutkan senyumnya tadi sambil berjalan kembali.


"Aku tidak peduli kau dan Ars mengejekku lagi!!" gumam Lion yang berjalan di belakang Melody setelah memungut minuman kaleng yang berjatuhan. "Aku sudah siap!!"


"Ada apa?" Lion mundur lima langkah karena hampir saja dia menabrak Melody.


"Kenapa kau menutup tirai kamarmu?" Melody menatap Lion.


"Ars bilang padaku kau ingin bertukar kamar." jawab Lion menggaruk kepalanya sambil menyampingkan tubuhnya mencoba menghindar dari tatapan Melody. "Pasti karena aku yang sering mengganggumu jadi aku pikir kalau sebaiknya aku menutup tirainya saja."


Melody terdiam sesaat, dia menyadari kalau pada awalnya dia memang berniat bertukar kamar karena Lion yang sering mengganggunya, namun saat ini setelah mendengar ucapan Lion entah kenapa semua itu tidak benar.


"Bodoh, kau memang sering menggangguku, tapi kau pikir siapa dirimu hingga aku ingin bertukar kamar karenamu? Apa jangan-jangan kau berpikir kalau aku kalah darimu dengan meminta bertukar kamar ya?"


"Apa?" Lion menoleh pada Melody.


Dengan cepat Melody menendang genangan air di hadapannya hingga airnya terciprat pada Lion.


"Aku tidak akan kalah dari orang aneh sepertimu!!" seru Melody sekali lagi menendang genangan airnya setelah itu berlari karena Lion mulai terlihat kesal.


"Awas kau ya!!" ancam Lion berlari mengejar Melody.


"Berhenti jangan mengejarku!! aku akan bilang pada kak Ars kalau kau berani melakukannya lagi padaku!!" ancam Melody mencoba berlari dari kejaran Lion. "Dia akan membunuhmu nanti!!"


"Biar saja, aku tidak peduli!!" teriak Lion masih mengejar Melody.


...***...


Sambil terus meledek satu sama lain Lion dan Melody melanjutkan perjalanan pulang hingga akhirnya mereka berdua sampai.


Hujanpun sudah berhenti sepenuhnya ketika mereka berdua sampai. Ayah dan Aramis sudah menunggu Melody dengan cemas di depan pintu.


"Lion, kemari!!" seru Aramis ketika Melody masuk ke dalam pagar rumahnya sedangkan Lion hendak berjalan menuju rumahnya.


Melody berjalan masuk namun terdiam di balik punggung Aramis yang berdiri di depan pintu. Dia merasa ingin tahu kenapa Aramis memanggil Lion. sedangkan ayah langsung memberikan handuk padanya.


"Kau baik-baik saja kan? Kenapa pakaianmu basah dan kotor seperti ini?" tanya ayah memperhatikan keadaan puterinya. Athos dan Prothos khawatir sampai belum kembali mencarimu. Biar ayah buatkan susu hangat untukmu." setelah itu ayah berjalan ke dapur.


"Ada apa?" tanya Lion berjalan mendekati Aramis.


"Kenapa Melo kotor seperti itu?" ujar Aramis. Pertanyaannya membuat Melody terkejut. Sedangkan Lion terlihat menjadi sangat bingung. "Pasti kau melakukan sesuatu padanya kan? Jawab aku!!" seru Aramis dengan tatapan tajam pada Lion. "Kenapa kau mematikan teleponnya ketika Ato menelepon?"


"Apa? Aku tidak mematikan teleponnya, teleponnya terputus karena baterai handphone-ku habis." jawab Lion. "Yang terpenting dia sudah kembali. Kau terlalu berlebihan." Lion terlihat kesal dengan tersenyum sinis.


"Apa kau sedang menantangku?" geram Aramis. "Katakan kenapa pakaiannya sampai kotor seperti itu?" bentak Aramis. "Ayo jawab!! Aramis menarik kerah kaos Lion dan menatap matanya dengan tajam."


"Hentikan kak! Aku sudah pulang dan semua baik-baik saja kan?!" seru Melody mencoba menghentikan Aramis. "Pakaianku kotor memang karena dia tapi kak Ars lihatkan kalau aku juga sudah membuat pakaiannya kotor."


"Ars, sudah hentikan aktingmu itu!!" ucap paman Ronald yang baru saja turun dari tangga dan berjalan mendekati mereka.


Tiba-tiba Aramis tertawa sambil melepaskan Lion.


"Seharusnya kau tidak mengganggu, paman!! Padahal aku sudah hampir berhasil membuat bocah ini mati ketakutan." ujar Aramis.


Melody merasa lega mengetahui kalau Aramis tidak bersungguh-sungguh.


"Cih, mati ketakutan katamu? Apa aku terlihat ketakutan tadi?" ucap Lion kesal. "Kau pikir aku takut padamu. Dengar! Aku tidak akan kalah darimu."


"Jangan banyak bicara!! Bahkan kau tidak bisa mengalahkan Melo." kata Aramis tidak mau kalah. "Jadi kau membalas perbuatannya hingga pakaiannya kotor seperti itu ya, Melo? Aramis menoleh pada Melody."


"Kak Ars lihat sendirikan, pakaian siapa yang lebih kotor." jawab Melody. "Tidak mungkin aku kalah dari orang aneh sepertinya." tatap Melody mengejek Lion.


"Itu bagus, kau memang adikku Melo." puji Aramis. "Jangan pernah kalah darinya!! Aramis berjalan masuk ke dalam."


"Ya, terserah kalian sajalah." kata Lion sambil berjalan. "Dasar kakak adik yang menyebalkan." gumam Lion.


"Lion..." panggil paman Ronald.


Lion berhenti dan menoleh.


"Kau mau ikut makan malam bersama kami?"


Lion tidak menjawab dan langsung berjalan pergi.