
Hari sabtu, pagi-pagi sekali Athos datang ke rumah Tasya tanpa bilang pada kekasihnya itu terlebih dahulu. Dia langsung memencet bel dan Keke yang membukakan pintunya.
"Kau ini kan." ujar Keke terkejut melihat Athos di depan pintu karena sekarang masih pukul setengah enam pagi. "Masuklah."
Athos mengikuti Keke masuk ke dalam.
"Tapi nona Tasya belum bangun, aku bangunkan dulu."
"Tidak perlu. Jangan bangunkan dia." Jawab Athos. "Sebelumnya, aku minta maaf, apa bisa kau membantuku?"
Athos bersama Keke berada di dapur rumah Tasya. Athos berniat memberi kejutan pada kekasihnya tersebut dengan membuatkan sarapan spesial untuknya.
Beberapa asisten rumah tangga di rumah itu memperhatikan keberadaan Athos yang memasak dengan sangat memukau. Mereka memuji ketampanan dan kepiawaiannya memasak.
Tepat pukul tujuh pagi, Tasya berada di meja makan rumahnya, dan kedua orang tuanya tersebut juga ada di sana. Mereka bersiap untuk sarapan.
Keke beserta asisten rumah tangga lainnya yang menyiapkan makanan di atas meja makan.
"Masakan Italia?" tanya Presdir ayah Tasya saat melihat makanan-makanan di meja. "Aku tidak tahu kalau kau bisa memasak makanan Italia, Keke. Dan ini terlalu mewah untuk sekedar sarapan."
"Ini enak sekali, papa." seru Tasya.
"Ya, ini benar-benar membuat pagi terasa lebih cerah." tambah ibu Tasya sambil mencium aroma makanan di meja makan.
"Aku minta maaf, Presdir, kalau anda tidak suka dengan masakannya." seru Athos yang muncul ke meja makan. "Boleh bergabung?" ijin Athos.
"A.. Ato?" ucap Tasya terkejut.
Presdir menatap kehadiran Athos dengan terkejut. Di benaknya dia mempertanyakan apa maksud kehadiran Athos ke rumahnya.
...***...
Sedangkan di rumah, ayah kembali kalang kabut karena Athos pergi tanpa memberitahu siapapun dan tidak menyiapkan sarapan terlebih dahulu.
"Ayah, mana susuku?" tanya Aramis yang duduk di meja makan.
"Diamlah, atau ku bunuh kau?!" geram ayah sambil mengaduk tiga gelas susu untuk ketiga anak-anaknya.
"Aku bosan makan roti, ayah buatkan aku mie instan." ujar Prothos.
Ayah menoleh pada Prothos dengan tatapan siap membunuhnya.
...***...
Athos duduk di kursi samping Tasya. Presdir duduk di kursi antara Tasya dan istrinya. Suasana menjadi tegang. Tasya pun merasa takut kalau ayahnya akan marah melihat kehadiran kekasihnya.
"Sebelumnya aku minta maaf, kehadiranku kesini hanya untuk memberi kejutan pada Tasya." senyum Athos menatap Tasya. "Aku ingat perkataan ayahmu Tasya, katanya dia tidak melarang aku bersenang-senang denganmu. Dan aku rasa ini salah satu bentuknya. Bukan begitu, Presdir?"
Athos menoleh pada Presdir.
"Silakan dinikmati masakan spesialku untuk Tasya." senyum Athos.
"Ya, aku rasa tidak masalah." jawab Presdir setelah itu memakan makanannya dan diikuti oleh istrinya.
"Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diriku pada ibumu Tasya. Kenalkan nyonya, namaku Athos dan aku pacar Tasya."
Ibu Tasya tersenyum menjawab Athos setelah itu melanjutkan makannya.
"Ini benar masakanmu? Wah, enak sekali." ucap Ibu Tasya dan suaminya menatapnya tajam.
"Terimakasih pujiannya, tapi Keke juga membantuku." jawab Athos merendah. "Bagaimana Tasya? Kau suka?"
Tasya melihat ke ayahnya terlebih dahulu setelah itu tersenyum pada Athos.
"Masakanmu memang yang terbaik." jawab Tasya sedikit berbisik.
"Makanlah yang banyak, kalau kurang aku akan membuatkannya lagi untukmu." senyum Athos pada Tasya.
Presdir menahan amarahnya melihat kehadiran Athos di rumahnya. Dia tidak pernah mengira kalau Athos akan berbuat seberani ini padanya.
...***...
Benny menuangkan teh hangat ke cangkir yang ada di hadapan Presdir setelah Presdir menceritakan mengenai Athos yang datang ke rumahnya.
"Anak itu memang luar biasa, Presdir. Dia membalikan kata-katamu dan berbuat semaunya. Dia benar-benar anak yang cerdas." ujar Benny.
"Anak itu benar-benar mempermainkan aku." ucap Presdir.
"Saya rasa tidak begitu." sanggah Benny yang berdiri di samping Presdir. "Dia punya maksud lain ketimbang mempermainkan anda ataupun menantang anda."
...***...
"Astaga, kau juga bisa membuat cake?" tanya ibu Tasya memperhatikan Athos.
Athos sedang membuat sebuah cake di dapur rumah Tasya. Dia sedang menghias cake tersebut. Sebuah cheesecake, kesukaan Melody dan Tasya.
"Sebenarnya aku hanya bisa membuat cheesecake ini saja, karena adik perempuanku sangat menyukainya, nyonya." jawab Athos saat selesai membuat cake.
"Jangan panggil nyonya. Panggil saja tante atau mama seperti Tasya." jawab ibu Tasya tersenyum.
"Baiklah aku rasa lebih baik aku panggil tante saja." jawab Athos membawa cake buatannya ke meja dekat ibu Tasya berdiri.
"Kau bilang kau hanya bisa buat ini, tante tidak percaya. Pasti kau hanya merendah 'kan?"
"Iya, mama. Dia bohong." seru Tasya yang baru datang setelah mandi dan merias dirinya. "Tak ada yang Ato tidak bisa. Dia bisa semuanya."
"Tidak tidak. Tasya berlebihan."
"Ato bisa menjahit, merajut, bermain piano, bela diri, renang, ah pokoknya dia bisa semua, ma. Bisa dibilang Ato melengkapiku yang tidak bisa apa-apa ini." jelas Tasya berdiri di samping ibunya.
"Tasya, jangan bilang seperti itu, kau bisa membuat siapapun senang dengan keberadaanmu itu lebih bagus dari semua yang aku bisa." senyum Athos. "Baiklah, cobalah cheesecake-nya."
Athos memotong cake-nya dan memberikannya ke pada Tasya beserta ibunya.
"Ato, bukalah toko kue setelah ini." ucap Ibu Tasya terkagum-kagum pada kemampuan Athos.
"Mama, jangan bicara sembarangan!! Ato sudah sangat sibuk dengan café dan cabang-cabangnya, dia akan lebih sibuk kalau membuat toko kue. Dia tak akan ada waktu lagi denganku."
...***...
Tasya mengajak Athos ke kamarnya dengan paksa. Seperti biasanya, Athos tidak pernah bisa menolak Tasya.
"Ini kamarku, Ato." senyum Tasya saat berada di kamar Tasya.
Tasya merangkul lengan Athos dan senang dengan keberadaan kekasihnya itu di rumahnya.
"Aku senang sepertinya mama menyukaimu, Ato." ucap Tasya. "Ayo duduk Ato."
Tasya menarik Athos ke sisi tempat tidur untuk duduk, dia pun ikut duduk di samping Athos dan terus memeluk lengan kiri kekasihnya itu.
"Mama sudah pergi, Ato." bisik Tasya. "Tak ada siapapun selain para pelayan."
Athos menatap Tasya karena tahu maksud gadis itu.
"Sebaiknya ayo kita keluar." ujar Athos berniat keluar kamar tapi Tasya menarik lengannya. "Tasya, ayo kita keluar." tatap Athos.
"Kita keluar setelah kau menciumku." senyum Tasya.
Athos menggeleng.
"Ayolah, Ato." pinta Tasya memegang lengan kiri Athos. "Aku senang kau ada disini, di rumahku dan papa juga tidak marah tadi. Semoga saja pertunanganku segera dibatalkan."
Athos mengecup bibir Tasya tanpa diduga oleh gadis itu, dan setelahnya berjalan keluar.
"Kenapa hanya seperti itu?" keluh Tasya yang berharap lebih dari sebuah kecupan. "Ato!!" panggil Tasya pada Athos yang berjalan sudah di luar kamarnya.
Athos tidak berhenti dan terus berjalan agar menghindar dari Tasya. Dia takut Tasya menyerangnya lagi. Dia menuruni tangga segera.
"Ato!! Kau ini!!" gapai Tasya merangkul lengan Athos.
Tiba-tiba langkah mereka berhenti ketika melihat Dion ada di sana dan baru masuk dari luar.
Dion terlihat terkejut melihat Athos berada di rumah tunangannya. Namun kejadian kemarin membuatnya takut mendekati Athos.
Athos tersenyum angkuh melihat Dion yang terlihat menjauh saat dia berjalan mendekatinya. Tasya hanya diam melihat Athos mendekati Dion.
"Aku punya saran untukmu, sewalah dua atau tiga orang pengawal untuk menjaga pecundang sepertimu." ejek Athos dengan dingin.
Athos langsung menggandeng Tasya dan berjalan di samping Dion melewatinya. Dion menghindari Athos dengan agak menjauh saat Athos lewat.