MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Tantangan



Anna terbangun di kamar Aramis. Dia memperhatikan sekeliling kamar Aramis.


"Kamar ini berantakan sekali... ckckckck..." ucap Anna sambil membuka-buka tiap laci di meja belajar.


"Kak Anna, apa kau sudah bangun?" tanya Melody mengetuk pintu kamar. "Kalau sudah cepat bersiap-siap, kak Ato sudah menyiapkan sarapan."


Anna menuruni tangga setelah bersiap-siap ke sekolah. Dia menuju meja makan yang di mana yang lainnya sudah menunggunya.


Melody, Paman Ronald, Athos dan Prothos sudah duduk di meja makan.


"Dimana Ars?" tanya Anna sambil duduk di samping Prothos.


"Dia sudah berangkat tadi bersama Lion." jawab Prothos menoleh pada Anna.


"Lion, masih tinggal di samping rumah ini?" tanya Anna memastikan. "Tunggu, kau pasti Prothos ya? Astaga, wajahmu seperti patung dewa Yunani." seru Anna sambil menatap dengan seksama wajah Prothos dan membolak-baliknya. "Semalam aku sudah mengantuk jadi tidak sadar saat melihatmu."


"Anna, sudah duduklah." seru paman Ronald.


"Arrgghh... kau benar-benar jadi pria tampan, Oto." ujar Anna menatap Prothos.


"Terimakasih pujiannya, tapi maaf aku tidak suka wanita berambut pendek." ucap Prothos tersenyum memperlihatkan lesung kembar di kedua pipinya.


"Kau bicara denganku?" tanya Anna kembali duduk. "Tenang saja Oto, aku juga tidak suka dengan pria berwajah wanita sepertimu." Anna menepuk-nepuk keras pundak kiri Prothos.


Semua orang tertawa mendengarnya.


"Tapi ini sangat aneh, kalian bertiga saudara kembar tapi kenapa tidak ada miripnya sama sekali." seru Anna sambil melahap roti bakar di piringnya. "Kenapa bisa begitu paman?"


"Semua itu bisa terjadi karena saat di rahim mereka di kantung yang berbeda." jawab paman Ronald.


"Kantung? Kantung apa?"


"Kau ini berisik sekali ya." protes Prothos mengusap telinga kirinya.


"Melo, di antara mereka bertiga siapa kakak terbaikmu?" tanya Anna pada Melody yang sejak tadi hanya menyimak.


"Aku tidak tahu." jawab Melody tanpa berpikir.


"Anna, habiskan sarapannya, nanti kita terlambat." seru Athos yang sudah selesai sarapan dan membawa piringnya ke dapur.


"Siap, ketua osis yang terhormat."


"Kenapa kau memakai celana olahragamu?" tanya Prothos dan yang lainnya ikut melihat.


"Karena aku tidak suka memakai rok." jawab Anna setelah itu tertawa.


...***...


"Ars..." panggil Anna ketika jam istirahat tiba.


Anna berlari mendekati Aramis yang berjalan sendirian dan langsung merangkulnya, ikut berjalan di sampingnya.


Semua mata memperhatikan mereka.


"Kau tahu, sejak kejadian kemarin aku langsung terkenal." seru Anna.


"Lepaskan tanganmu dan jangan ikuti aku!!" ujar Aramis sedikit malu bercampur kesal.


"Apa kau tahu klub basket?" tanya Anna tidak menghiraukan perkataan Aramis. "Aku ingin mendaftar ikut klub basket."


Aramis berhenti berjalan. "Di sekolah ini tidak ada klub basket wanita." ujar Aramis.


"Tidak, aku akan daftar di klub basket pria."


"Heh, kau ini wanita!!"


"Memang kenapa? Ada masalah?" Anna malah balik bertanya.


"Baiklah, akan aku antar."


Aramis mengetuk pintu ruangan klub basket, dan satu-satunya orang yang ada di ruangan itu membukanya.


"Oto?" tanya Anna bingung.


"Ada apa, Ars?" tanya Oto menatap Aramis yang terlihat malas. "Kalian ganggu tidur siangku tahu!!"


"Dimana ketua klub basket nya?" tanya Anna melongok ke dalam ruangan dan tidak melihat siapapun, hanya terdengar alunan musik klasik saja. "Heh, kenapa tidak ada orang?"


"Aku ketua klub basket disini." jawab Prothos dengan mata sayu karena mengantuk. "Memang ada perlu apa?"


Prothos mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuknya, lalu mengambil bola basket yang ada di dalam ruangan dan langsung melempar bola tersebut pada Anna.


Dengan mudah Anna menangkapnya.


"Reflekmu bagus juga." senyum Prothos. "Aku tahu maksudmu kesini. Kau ingin gabung ke klub basket kan?"


Anna mengangguk.


"Ayo lawan aku, kita akan bermain satu lawan satu, jika kau bisa merebut bolanya dariku dan mencetak three points satu saja dalam sepuluh menit, kau menang."


Prothos dan Anna berdiri di tengah lapangan bola basket, di sekeliling mereka tampak semua murid menyaksikannya. Banyak dari mereka memuji keberanian Anna karena setelah melawan Aramis kemarin, sekarang dia akan menantang Prothos. Hampir semua wanita yang menyaksikannya menjerit histeris melihat Prothos berdiri di lapangan.


"Oto, kau tidak perlu melakukannya." bisik Aramis yang diminta menjadi wasit oleh kembarannya.


Prothos hanya tersenyum, membuat semua wanita yang melihatnya berteriak histeris.


Permainan dimulai, dengan mudahnya Prothos mencetak three points berkali-kali. Sekuat apapun Anna mencoba merebut bola, dia selalu gagal.


Sepuluh menit hampir berakhir dan usaha Anna selalu sia-sia. Namun begitu Anna tidak pantang menyerah. Dengan sekuat tenaga dia menepis bola ketika Prothos lengah, lalu membawanya sedikit maju dan melompat di area three points.


Namun Prothos melompat dan menghalau bola tersebut tepat di depan Anna.


Waktu habis. Anna kalah dan Prothos menang.


"Sekarang kau mengerti kan?" tanya Prothos. "Ada jarak di antara wanita dan pria dalam hal fisik." lanjut Prothos. "Tapi aku akan membantumu untuk membuat dan mendirikan klub basket wanita." Prothos mendekati Anna dan mengusap kepala Anna.


Semua murid wanita berteriak histeris lagi. Tak sedikit di antara mereka mulai membenci Anna.


"Tunggu dulu!!" seru Felix maju mendekati mereka. "Pertandingan ini tidak adil." protes Felix.


"Diamlah! Kau tidak tahu apa-apa!!" kata Prothos.


Tiba-tiba suara bel berbunyi, namun hanya sedikit murid yang pergi dan lebih banyak yang masih bertahan untuk melihat apa yang ada di lapangan basket.


"Melon, ayo masuk!!" seru Lion menatap Melody yang masih memperhatikan Felix.


Melody mengikuti Lion masuk ke kelas.


"Anna, kau sangat hebat... aku akan mendukungmu kalau kau berniat mengalahkannya, maksudku... mengalahkan Three Musketeers." rangkul Felix pada Anna. "Aku tidak mengira teman sekelasku sekeren kau."


Anna hanya bingung melihat Felix, karena tidak mengerti maksudnya.


"KALIAN SEMUA MASUK KE KELAS KALIAN!! Teriak Widia membubarkan para murid.


Akhirnya semua murid masuk ke kelasnya masing-masing.


"Anna, ayo pergi!!" seru Aramis berjalan dan Anna langsung mengikutinya.


Felix tampak bingung melihat Anna yang berjalan bersama Aramis.


"Ternyata dia anjing kalian juga." seru Felix sarkas berjalan meninggalkan Prothos.


"Aku jadi tidak tidur siang." keluh Prothos mengambil bola basket yang ada di bawah.


"Cepat kembali ke kelasmu!!" seru Widia yang berdiri di belakang Prothos tanpa Prothos sadari.


"Iya. Aku akan kembalikan bola ini dulu." ucap Prothos setelah mengambil bolanya.


"Berikan padaku. Biar aku yang kembalikan."


Prothos tidak memgindahkannya dan malah men-dribble bola tersebut menuju ruang klub basket.


"Kenapa kau tidak mendengarkanku?" seru Widia mengikuti Prothos dari belakang.


"Badanku jadi penuh keringat." ucap Prothos memberantaki rambutnya setelah menaruh bola basket di tempatnya. "Bu guru, ijinkan aku mandi dulu ya?"


Prothos melirik Widia yang berdiri di ambang pintu. Widia sempat terpaku melihat Prothos, terpesona.


"Cepat kembali ke kelasmu!!" seru Widia menyadarkan dirinya.


"Tolong biarkan aku mandi sebentar!!" kata Prothos sambil membuka kancing seragamnya.


"CEPAT KEMBALI KE KELASMU!!" bentak Widia. "Aku akan melaporkanmu ke wali kelasmu kalau tidak kembali ke kelasmu sekarang!!"


"Oke oke." jawab Prothos berjalan menuju pintu. "Matamu masih terlihat sembab walau kau menutupinya dengan kacamata, bu guru." ujar Prothos saat melewati Widia.


"Dasar bocah sok keren." gumam Widia saat Prothos sudah jauh.