MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Olimpiade The Three Musketeers



Hari Olimpiade The Three Musketeers tiba. banyak sekali orang-orang yang datang ke tempat dimana pertandingan akan berlangsung.


Pertandingan pertama adalah renang, akan dimulai jam sembilan. Beberapa menit lagi waktu menunjukan jam sembilan pagi. Athos, Prothos dan Aramis sudah berganti pakaian renang, masuk ke aula kolam renang indoor.


Seluruh penonton yang sebagian besar murid SMA dan wanita, berteriak histeris melihat ketiga saudara kembar tersebut keluar. Banyak dari mereka membawa spanduk untuk mendukung salah satu dari mereka atau bahkan ketiganya.


"Cepat jalan, kau!!" Anna menendang Aramis agar mengambil posisi di lintasannya. Anna masih kesal kalau mengingat kejadian semalam.


Aramis hanya bergumam kesal melihat perlakuan Anna padanya.


"ARS..." panggil Jessica yang ada di salah satu penonton.


Aramis hanya tersenyum padanya dan membuat beberapa wanita yang di sekitar Jessica ikut histeris senang. Anna melirik pada Jessica sesaat namun segera mengambil posisi sebagai juri pertandingan di ujung kolam.


Athos, Prothos dan Aramis sudah berdiri di posisi perlintasannya. Athos, dan Prothos terlihat sangat serius namun tidak dengan Aramis. Prothos yang biasanya tersenyum menebar pesona hanya diam dengan tatapan serius.


"Oto tampak berbeda kan dari biasanya? Sudah ku bilang pasti mereka bertengkar karena seorang wanita." bisik seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat Tasya sehingga dia bisa mendengar ucapannya.


"Kalau itu benar, beruntung sekali wanita itu." jawab wanita lainnya.


"Seperti apa ya wanitanya sampai mereka bertengkar dan menyelesaikannya dengan cara ini?" tambah wanita lainnya.


"Tapi bukan kah ada yang aneh dari Olimpiade ini?" tanya Tasya ikut menanggapi perbincangan wanita-wanita yang tidak dikenalnya. "Kenapa Ato yang harus memenangkan semua pertandingan agar menjadi juaranya?"


"Itu benar juga ya?" jawab wanita pertama. "Apa kau tahu sesuatu?"


"Bisa saja mereka hanya berbeda pendapat dan bukan karena memperebutkan wanita." jawab Tasya.


Lion menembakan aba-aba tanda dimulainya pertandingan renang. Athos dan Prothos langsung melaju cepat, tetapi Aramis tidak secepat mereka berdua.


Seperti yang sudah diduga, pertandingan tersebut dimenangkan oleh Athos yang hanya berbeda satu detik dengan Prothos.


Pertandingan selanjutnya adalah pertandingan lari 100 meter, akan dimulai satu jam lagi. Setelah berganti pakaian Three Musketeers masuk ke dalam ruangan untuk menunggu pertandingan ke dua. Hanya ada mereka dengan Lion di sana.


"Aku hanya dijadikan badut." gumam Aramis kesal.


"Salahmu sendiri, Ars." jawab Lion.


Aramis bangkit berdiri dan melihat kedua kembarannya.


"Dengar ya, di pertandingan selanjutnya aku akan menang!!" seru Aramis.


"Itu bagus, biar pertandingan ketiga tidak perlu diadakan." ucap Prothos yang duduk di kursi.


"Baik Ars, keluarkan seluruh kemampuanmu!!" ujar Athos.


Tidak lama kemudian pertandingan kedua segera dimulai. Three Musketeers berjalan ke posisi masing-masing.


Tiba-tiba Aramis melihat Anna berbicara dengan David di pinggir lapangan, dan mereka tampak tertawa.


"Kenapa anjing itu tidak menurutiku?" gumam Aramis kesal sambil ambil posisi.


Lion memberikan aba-aba dimulai. Pertandingan sangat sengit karena mereka bertiga saling kejar-kejaran. Aramis memimpin hingga tiba-tiba gerakannya melambat dan disusul Athos beserta Prothos. Namun dia kembali menambah ritme kecepatannya dan dapan memimpin kembali, sayangnya ketika akan sampai di garis finish Athos menyusulnya.


Sekali lagi Athos memenangkan pertandingan.


Dengan kesal Aramis berjalan ke arah Anna dan menarik Anna ke tempat yang tak ada orang.


"Kenapa kau menarikku?"


"Kenapa kau tidak mendengarkan aku?" tanya Aramis kesal. "Kenapa kau masih berhubungan dengan David?"


"Kenapa? Ah, tadi dia hanya memberiku selamat karena ternyata hasil ujian sudah keluar." jawab Anna. "Kenapa kau marah begitu?"


"Ars..." panggil Jessica yang muncul. "Aku mencarimu kemana-mana."


"Aku pergi ya." ucap Anna langsung berjalan.


"Ada apa denganmu, padahal kau hampir menang tadi."


"Tadi tiba-tiba kakiku sakit." jawab Aramis.


"Benarkah? Dimana yang sakit? Biar aku pijat." seru Jessica mencondongkan badannya memegang kaki Aramis.


Aramis bisa melihat belahan dada wanita itu, namun dia mengalihkan pandangannya segera.


"Sudah tidak apa-apa." ucap Aramis.


Dilain tempat, Prothos yang baru keluar kamar mandi di kagetkan dengan Tasya yang menunggunya.


"Oto, ada yang ingin aku katakan padamu." ucap Tasya.


Mereka berdua berbicara di tempat sepi yang tak ada siapapun.


"Kalau kau memintaku mengalah, itu tidak akan terjadi." ujar Prothos.


"Kemarin aku melihat Ato berlatih. Dia sangat yakin di dua pertandingan tadi akan menang dan ternyata dia memang benar-benar memenangkannya." senyum Tasya. "Tapi saat dia membicarakan pertandingan ketiga, aku merasa dia tidak begitu yakin. Walaupun dia berkata agar aku tidak khawatir tapi dari tatapannya aku bisa melihat kalau dia sendiri sangat mengkhawatirkannya."


Prothos menoleh pada Tasya yang semula tidak dilihatnya.


"Dia bahkan berharap kalau tanganmu digigit serangga saat melempar bolanya. Itu sangat lucu." Tasya tertawa kecil. "Padahal sebelumnya dia bilang bahkan kau bisa melempar dengan mata tertutup. Jadi ucapannya tentang serangga sangat menggelikan."


"Jangan menertawainya!!" seru Prothos menatap kesal Tasya.


"Tapi karena ucapannya itu aku mulai sedikit ragu padanya." lanjut Tasya. "Aku berharap dia memenangkan pertandingan nanti, tapi rasanya mustahil... seperti katamu, hubungan kami sepertinya memang mustahil."


"Apa maksudmu, Tasya?"


"Jika dia kalah nanti, aku yang akan pergi, bahkan aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal padanya."


"Jadi kau tidak percaya kata-katanya dan meragukan kesungguhannya?" tanya Prothos tidak suka pada perkataan Tasya dan semakin kesal.


Tasya mengangguk.


"Bagaimana aku bisa percaya jika kau yang adalah kembarannya juga meragukannya?!" lanjut Tasya.


Prothos diam sesaat mendengar ucapan kekasih kembarannya tersebut.


Prothos tertawa skeptis.


"Baiklah, sepertinya aku harus bersiap-siap dari sekarang." ujar Tasya pergi.


Prothos tertawa sarkas setelah mendengar ucapan Tasya. Dia merasa dipermainkan saat ini, dengan keputusan apa yang harus dia ambil.


"Gadis itu benar-benar keterlaluan." geram Prothos kesal.


Setelah makan siang pertandingan ketiga dimulai. Pertandingan kali ini adalah lemparan Three Points. Dimana masing-masing orang harus melempar bola dari luar garis dan memasukan bolanya ke keranjang sebanyak tiga kali lemparan. Jika pertandingan imbang maka Athos tetap yang akan menang.


"Biar aku saja yang melempar pertama." seru Aramis.


"Baiklah. Kalau begitu kita undi untuk kalian berdua." ujar Anna yang menjadi wasit. "Ato kau kepala, dan Oto ekor."


Anna melempar koin dan yang muncul adalah ekor.


"Oto, kau mau melempar ke berapa?"


"Terakhir." jawab Prothos sambil berjalan keluar lapangan basket.


Aramis mulai melempar bola, dan hanya dua dari ketiga lemparan yang masuk. Athos sedikit bernapas lega.


Giliran Athos yang melempar. Ia mengambil napas setiap kali akan melempar. Lemparan pertama bola tidak masuk. lemparan kedua bola masuk. Saat di lemparan ketiga dia memfokuskan dirinya karena jika tidak masuk, dia kalah.


Athos mengambil napas dan melihat ke arah Tasya yang tersenyum padanya. Lalu melempar bolanya.


Masuk.


Kedudukan imbang dengan Aramis sehingga untuk saat ini Athos menang. Sisa menunggu hasil akhir Prothos.


Dengan pikiran yang di penuhi ucapan Tasya, Prothos memasuki lapangan.


Setelah mendengar perkataan Tasya, dia menjadi sangat kesal. Dia sadar kalau Tasya hanya ingin mengganggunya dengan ucapan itu. Tapi kenyataan kalau Athos kalah di pertandingan, itu akan membuat Athos akan berpisah dari Tasya dan kesungguhannya mengenai Tasya pun patut diragukan. Pada akhirnya Prothos tidak mau itu terjadi.


Dua lemparan Prothos masuk dengan mulus. Saat di lemparan ketiga Prothos cukup lama menembaknya. Dia masih berkutat dengan pikirannya.


Semua perkataan orang-orang mengenai hal ini bermunculan dibenaknya. Perkataan Widia, Anna, Aramis dan Tasya. Semuanya bercampur aduk membuat Prothos semakin bingung.


Prothos melirik ke Athos yang menatapnya.


"Arrrggghhh!!" seru Prothos sambil melempar bola basket sangat kuat hingga membentur ke papan ring dan memantul ke tanah.


Bolanya tidak masuk.