
Melody bersama Niko berada di dekat mobil Niko setelah jam pelajaran usai. Melody akan memulai semuanya dengan Niko seperti permintaan Lion dan sekarang dia berniat menjelaskannya pada Niko.
"Sebelumnya aku minta maaf padamu karena kemarin aku terus memaksamu." ucap Niko berdiri di hadapan Melody. "Aku tidak akan memaksamu lagi mulai sekarang. Aku juga tidak akan mendekatimu kurang dari satu meter." lanjut Niko dan langsung mundur selangkah ke belakang.
Melody hanya menatapnya aneh. Gadis itu baru menyadari warna bola mata pemuda yang saat ini ada di hadapannya berwarna hazel. Pantas saja tatapannya terlihat sangat menyeramkan untuk Melody. Warna bola matanya itu sangat mendukung penampilannya yang seperti vampir.
"Dengarkan aku, aku akan membiarkanmu mendekatiku sekarang, tapi aku hanya mau kau yang mendengarkan aku." ujar Melody.
"Baiklah, tuan putri." jawab Niko tersenyum sambil membuka pintu mobilnya. "Masuklah, kita mau kemana? Aku akan menurut saja."
"Ke tempat dimana seharusnya ini dimulai." jawab Melody sambil masuk ke dalam.
Dari kejauhan Lion memperhatikan mereka berdua di atas motornya. Dia terus menatap Melody yang sudah kembali seperti biasanya.
...***...
Ketiga Musketeers duduk berjajar di meja makan, menatap Niko yang duduk di hadapan mereka, di samping kanan Melody. Anna dan Tasya berdiri memperhatikan mereka.
Ya, Melody mengajak Niko ke rumahnya dan berniat mempertemukan Niko pada ketiga kakaknya. Jika dia mau memberi kesempatan pada Niko, itu berarti dia harus memperbaiki hubungan Niko bersama ketiga kakak kembarnya.
"Kenapa kau mengajaknya ke sini, Melo?!" tanya Athos duduk di tengah-tengah, kanannya Prothos dan kirinya Aramis.
"Ada apa ini, Melo?" tambah Prothos menatap Melody yang duduk di hadapannya.
"Apa dia mengancammu?" ujar Aramis.
Niko tertawa mendengarnya. Namun dia menghentikan tawanya ketika Melody melirik padanya.
"Sepertinya kalian pun juga sudah tahu kan? Aku yakin Lion sudah memberitahu kalian, bahkan dia bilang kalian setuju." jawab Melody. "Karena itu aku membawanya kesini karena kalian harus memiliki hubungan yang baik dengannya, seperti dengan Lion."
Athos menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya, Prothos mengusap-usap wajahnya sedangkan Aramis memegang kepalanya dengan kedua tangan. Mereka bertiga tidak menyangka dengan keputusan Melody yang diambil sangat cepat itu.
"Sudah aku bilang kalian adalah kakak-kakakku." senyum Niko sombong.
Ketiga Musketeers hanya bisa menahan emosinya di depan adik mereka yang sudah mengambil keputusan untuk membiarkan Niko mendekatinya.
"Melo, kau serius?" tanya Tasya yang berdiri bersama Anna di sisi meja makan. "Bagaimana dengan Lion?"
"Aku memecatnya." jawab Melody.
...***...
Di tempat lain, Lion duduk di salah satu sofa di tempat Billiard. Dia tidak ikut bermain dan pandangannya mengarah pada handphone miliknya.
Baru saja dia menerima pesan bergambar dari Anna. Dimana Melody duduk bersama Niko di hadapan ketiga kakaknya. Cukup lama dia menatap gambar tersebut. Entah bagaimana dia merasa benar-benar tersingkirkan sekarang.
"Ada apa Lion?" tanya Ivan yang sedang berdiri membawa stik billiard menoleh pada Lion. "Kau tidak ikut main?"
"Aku bosan sekarang. Aku mau melakukan sesuatu yang baru. Apa yang belum pernah aku lakukan?" tanya Lion.
"Berpacaran." jawab Ivan menyunggingkan bibirnya. "Carilah gadis yang tidak merepotkan seperti gadis itu."
Lion menggelengkan kepalanya.
"Kau tahu Lion, semua hal bisa kau lakukan. Tak ada yang tidak bisa kau lakukan." ucap Ivan.
"Kau ini bicara apa? Aku hanya belajar sedikit dalam semua itu, tak ada yang benar-benar aku kuasai. Jangan berbicara seolah-olah aku bisa melakukan segalanya." jawab Lion.
"Setidaknya ada satu hal yang tidak bisa kau lakukan walau sekuat apapun kau belajar."
Lion menatap Ivan dengan serius.
"Jujur dengan perasaanmu."
Jawaban Ivan disambut gelak tawa oleh Lion membuat semua teman-temannya yang berjumlah enam belas orang berhenti dengan kesibukannya dan menatap Lion. Mereka semua jadi menyimak pembicaraan Lion dan Ivan.
"Hanya orang yang sedang bersedih tertawa keras seperti itu tanpa alasan yang jelas." gumam Ivan melihat Lion. "Kau terganggu dengan Niko yang mendekati gadis itu kan? Sejak dulu kau memang tidak pernah jujur. Kau selalu menekan apa yang kau rasakan demi membuat semua orang senang. Berhentilah seperti itu!! Kami juga tahu kalau kau masih merasa bersalah pada Mario karena itu kau melakukannya, membiarkan Niko--"
"Dengarkan!!" potong Lion serius. "Kau harus tahu, manusia itu memiliki tiga wajah di diri mereka. Wajah pertama adalah wajah yang mereka perlihatkan pada orang-orang yang tidak mengenalnya. Wajah kedua adalah wajah yang diperlihatkannya pada orang-orang terdekatnya. Dan wajah yang ketiga adalah wajah yang hanya diperlihatkan kepada diri mereka sendiri."
Lion bangkit berdiri dan menatap Ivan.
"Aku rasa semua yang aku lakukan tidak ada bedanya dengan apa yang kalian semua disini lakukan." lanjut Lion pada semua teman-temannya.
"Kau tidak mengerti apa yang aku katakan." ujar Ivan melihat perubahan pada ekspresi wajah Lion yang terlihat emosi. "Aku hanya mau kau tidak melakukan apa yang tidak ingin kau lakukan hanya demi pertemananmu. Kau juga harus memikirkan dirimu sendiri."
"Kau membuatku kesal dengan kata-kata bodoh itu, Ivan." tatap Lion.
"Ivan benar Lion. Kau tidak harus selalu membantu semua teman-temanmu. Terkadang kau juga harus memikirkan egomu sendiri. Kami tahu semua yang terjadi kemarin. Kau melakukannya demi membantu Niko." ujar salah seorang lainnya.
Lion menatap temannya itu dengan tajam. Dia sangat kesal saat ini.
"Dan lupakan masalah Mario. Kami tahu, kau membiarkan Niko mendekati gadis yang selama ini kau lindungi karena kau masih merasa bersalah pada kematian Mario kan?"
Lion menahan napasnya untuk meredam emosi saat mendengar temannya yang lain berbicara seperti itu padanya.
"Kau dengar Lion? Kami semua tahu apa yang terjadi walau kau tidak mengatakannya pada kami." kata Ivan yang masih duduk di sofa. "Kau menghukum dirimu dengan melakukan semua itu karena masih merasa bersalah atas kematian Mario."
Lion melihat semua teman-temannya satu persatu di ruangan itu. Mereka menatap padanya dengan tatapan yang menurut Lion membuatnya menjadi memiliki beban berat saat ini.
"Sepertinya aku tidak akan menemui kalian semua dalam waktu dekat ini." ucap dingin Lion.
Setelah itu dia melangkahkan kakinya berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Dia benar-benar marah mendengarnya." gumam Ivan. "Kalian semua kenapa memojokannya seperti itu?"
"Kau yang memulainya Ivan. Padahal kau sendiri yang bilang pada kami agar tidak ikut campur." jawab yang lainnya.
"Kalian tahu bagaimana saat si bodoh itu marah 'kan? Dia tidak akan kembali dengan cepat. Dia tidak akan menemui kita dalam jangka waktu yang lama." ujar Ivan kesal. "Dia hampir tidak pernah semarah itu, sekalinya marah dia akan sangat menyebalkan."
Lion berjalan keluar ke tempat parkiran dengan sangat kesal. Dia langsung naik ke atas motornya dengan memikirkan semua ucapan teman-temannya itu. Dia menjadi sangat kesal hingga dia menggeram untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Kenapa mereka semua menasehatiku seperti itu?" geram Lion kesal. "Ini sangat menyebalkan!!"
Lion langsung memakai helm dan melaju dengan sangat cepat meninggalkan tempat itu.