
Hari minggu, keesokan harinya.
Ketiga Musketeers berada di meja makan pagi-pagi sekali, sekitar jam enam. Athos sudah selesai membuat sarapan dan duduk di hadapan Prothos. Aramis yang sedang melahap sarapannya duduk di samping Prothos dengan kedua kaki terangkat ke kursinya.
"Kau mau kemana, Ars?" tanya Athos sambil memakan donat sisa kemarin yang baru dia ambil dari kulkas.
"Aku akan menyelesaikan lukisanku." jawab Aramis. "Hari ini jangan ganggu aku!"
"Anna bersamamu?" tanya Prothos.
Aramis menggeleng.
"Dia ada rapat OSIS di sekolah." jawab Aramis setelah menenggak air putih.
"Kau serius dengan ucapanmu kemarin?"
"Apa?" tanya Aramis pada Prothos.
"Apa Anna juga mau menikah denganmu?" ujar Prothos memperjelas pertanyaannya. "Kau sudah bilang padanya juga?"
"Walaupun dia tidak menjawab tapi tidak ada alasan dia menolakku." jawab Aramis percaya diri. "Kalian berdua pasti iri kan padaku?"
Prothos tertawa mendengarnya.
"Benar, aku iri padamu." jawab Athos dengan wajah serius. "Hubunganmu dengan Anna berjalan dengan sangat mulus, berbanding terbalik dengan hubunganku dan Tasya."
Prothos mulai berpikir dan dia pun juga merasa hal yang sama dengan yang Athos rasakan. Hubungan dirinya bersama kekasihnya Widia tidak terlalu mudah karena perbedaan usia mereka. Bahkan kemarin ketika Prothos bercerita kalau dirinya akan mengambil S2 setelah lulus S1 membuat perubahan di wajah Widia.
"Benar juga, aku juga iri padamu." ucap Prothos.
Kedua kembarannya menatapnya karena mereka tidak tahu menahu mengenai pacar Prothos yang dirahasiakan dari mereka.
"Kau juga bisa menikah setelah lulus kan?" tanya Aramis.
Prothos menggeleng.
"Aku punya rencanaku sendiri." jawab Prothos setelah itu menghabiskan sisa susu di gelasnya. "Aku harus lebih hebat dari pacarku."
Athos sedikit terkejut mendengar perkataan Prothos, hal itu membuatnya jadi berpikir siapa kekasih kembarannya tersebut. Kenapa Prothos berkata harus lebih hebat dari kekasihnya itu?
"Ato, pikiran sesuatu tentang Melo!! Aku benar-benar jengkel padanya semalam. Kenapa dia jadi marah pada kita?" ujar Aramis setelah menghabiskan semua sarapannya.
"Aku rasa dia memang patut marah pada kita." jawab Athos. "Kita tidak suka dengan Niko tapi kita membiarkannya mendekati Melo. Bagi Melo itu hal yang aneh. Jelas saja dia marah."
"Ars, bersikaplah sedikit baik pada Niko." seru Prothos.
"Kau bilang apa?"
"Bagaimana pun kau pernah melakukan kesalahan padanya."
"Tutup mulutmu, bodoh!!" seru Aramis. "Jangan bahas hal itu, kau dengar?"
"Sekarang Melo akan membela Niko, sebaiknya kau memang harus lebih melunak padanya." ucap Athos menatap Aramis. "Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada adikku."
"Melo itu adikku juga, kau berkata seolah-olah hanya kau yang menyayanginya!!" seru Aramis kesal. "Kau dengar sendiri kan, si tengik itu selalu membuat kita kesal dengan kata-katanya."
"Kau selalu menatapnya dengan penuh kebencian, mungkin karena itu dia melakukannya dan lagi aku rasa dia pantas membencimu, Ars." kata Prothos menoleh pada Aramis di sampingnya.
...***...
Prothos mengetuk pintu kamar Melody untuk meminjam handphone milik adik perempuannya itu. Dia berniat menelepon Wilda dan tentunya kemungkinan Melody memiliki nomer handphone gadis itu karena mereka sekelas.
"Ada apa, kak?" tanya Melody saat membuka pintu kamarnya.
"Apa kau punya nomer Wilda?" tanya Prothos tanpa basa basi.
Melody menjadi berpikir mengenai gosip yang berkembang di sekolah mereka. Apakah ternyata benar jika kakaknya itu mendekati Wilda teman sekelasnya?
"Aku rasa nomernya ada di grup kelas. Sebentar aku cek dulu kak." jawab Melody langsung mengambil handphone-nya yang berada di meja samping tempat tidur. "Ini nomernya kak. Ada perlu apa?"
"Boleh pinjam handphone-mu untuk meneleponnya?"
"Ya, pakai saja."
Setelah itu Prothos berjalan masuk ke kamarnya untuk menelepon Wilda menggunakan handphone adiknya.
Melody masih berpikir kalau ternyata gosip itu benar. Setelah kemarin Prothos datang ke kelasnya, sekarang kakaknya itu ingin menelepon Wilda.
...***...
Prothos langsung menelepon Wilda untuk mengajak gadis itu bertemu. Hari ini dia berniat memperingatkan Wilda agar tetap tutup mulut dan tidak membeberkan rahasianya dengan Widia.
"Halo, ada apa Melody? Tumben sekali kau meneleponku." ucap Wilda di ujung telepon.
"Ini Prothos, aku memakai handphone adikku untuk meneleponmu." ucap Prothos. "Wilda, bisa kita bertemu?"
"Untuk apa?" tanya Wilda dengan gugup.
Setelah memberitahu tempat dimana mereka akan bertemu. Prothos keluar kamarnya dan bersamaan dengan Melody yang juga keluar kamar.
"Terimakasih, Melo." ujar Prothos sembari memberikan handphone Melody. "Kau ingin kursus? Bukannya hari ini libur?"
"Aku akan pergi bersama Niko." jawab Melody tanpa melihat kakaknya karena sambil memasukan handphone ke tas yang dibawanya.
"Melo, jangan marah pada kami lagi." ucap Prothos.
Melody tidak menjawab dan langsung pergi meninggalkan kakaknya yang menatapnya lekat.
Melody keluar rumah dan menghampiri Niko yang sudah menunggunya di luar mobil miliknya. Seperti biasa Niko melambaikan tangan kanannya pada Melody dengan sebuah senyuman.
"Ty takaya krasivaya segodnya, ty mne ochen' nravish'sya." ucap Niko dengan bahasa Rusia.
Melody hanya menatap Niko karena tidak mengerti kata-katanya. Ucapan Niko hanya terdengar seperti sedang berkumur-kumur di telinganya sehingga dia pun tidak bisa mencari artinya.
"Silakan, tuan putri." ujar Niko membukakan pintu mobil untuk Melody.
Melody segera masuk dengan terus menatap Niko yang berjalan masuk juga ke dalam mobil setelah menutup pintu mobil untuknya. Sebenarnya Melody penasaran dengan perkataan Niko tadi, tapi rasanya malu jika harus bertanya langsung padanya.
"Ada apa?" tatap Niko melihat Melody yang menatapnya terus.
Melody langsung mengalihkan pandangannya ke depan untuk menghindari tatapan Niko.
"Aku tahu kau menatapku terus tadi." ucap Niko tersenyum. "Pasti kau ingin tahu kan aku bilang apa tadi?"
Melody menggelengkan kepalanya berbohong.
Tiba-tiba Lion keluar dari rumahnya dengan menaiki motor, dia berjalan ke arah sebaliknya dengan mobil Niko, dan ketika melintasi mereka, Lion membunyikan klakson tanpa sekalipun melihat pada Melody.
Niko pun membalas klaksonnya.
Melody berpikir kalau hubungan Lion dan Niko sangat baik. Semua itu sangat terlihat jelas dari unggahan Niko di akun sosial medianya semalam. Niko merangkul Lion yang tersenyum lebar. Mereka berdua sangat dekat.
"Mau kemana dia?" tanya Niko sambil menggunakan sabuk pengaman. "Lion itu sangat keren, jika aku wanita pasti aku akan mengejar-ngejarnya. Bukan begitu, Melody?" tatap Niko.
"Sebaiknya cepat kita berangkat." seru Melody tidak menanggapi perkataan Niko.
"Baiklah, tuan putri." jawab Niko.
"Kita mau ke mana?" tanya Melody setelah Niko menjalankan mobilnya.
"Sejujurnya aku tidak terlalu suka berkeliaran di tempat umum. Jadi kita ke rumahku saja lagi." jawab Niko sambil fokus menyetir.
"Kenapa tidak suka?"
"Kau lupa? Aku ini vampir." Ucap Niko dengan sedikit tawa tanpa menoleh pada Melody karena dia sedang fokus menyetir. "Sebisa mungkin aku akan menghindari kerumunan manusia kalau tidak bisa saja aku lapar dan menghisap darah mereka. Dan aku juga tidak ingin berada di bawah sinar matahari, kulitku bisa terbakar nanti."
Melody hanya bisa diam saja mendengar semua perkataan Niko yang selalu tak pernah mengatakan hal yang sebenarnya pada dirinya. Gadis itu hanya menatap keluar jendela mobil tidak ingin berbicara apapun lagi.
"Kau sangat cantik hari ini, aku sangat menyukaimu."
Melody menoleh pada Niko yang menatapnya lekat karena saat ini mereka berada di lampu merah sehingga Niko menghentikan mobilnya.
"Itu yang tadi aku ucapkan padamu." ujar Niko.
...----------------...
Xander Nikolayevich Mordashov
Visual Model :
Vernon Seventeen
...----------------...
Melody Quattro Sanzio
Visual Model :
Joo So-Min
...----------------...
PROMO NOVEL LAIN
Baca karya author yang ini juga ya.
Cerita terinspirasi dari kisah Melody dan Niko, serta Aramis.