
Prothos berada di salah satu café The Three Musketeers saat malam tiba. Athos memintanya untuk melihat café tersebut karena sejak mereka jarang datang ke café, pengunjung sedikit berkurang.
Benar saja. Ketika Prothos datang, entah bagaimana kabar beredar. Banyak pengunjung wanita lain berdatangan yang hanya ingin melihat Prothos atau mengobrol dengannya.
"Kenapa saat aku tidak ada kalian tidak datang?" tanya Prothos di salah satu meja pengunjung yang isinya wanita semua. "Ah, kalian membuatku kecewa."
"Oto, kau semakin tampan memakai kacamata." ujar salah seorang wanita dari delapan wanita di meja tersebut.
"Kau sudah punya pacar lagi pasti kan, Oto?" tanya yang lainnya.
Prothos hanya tersenyum menjawabnya.
"Kami memberimu handphone saat ulang tahun, kenapa kau mengembalikannya? Apa yang salah denganmu, Oto?"
"Apa jangan-jangan kalau kau sekarang jadi tidak normal setelah siapa itu namanya? Pria keren yang menciummu itu?"
"Niko. Si orang rusia itu kan? Astaga, dia keren sekali padahal, dia terlihat seperti vampir dengan kulitnya yang pucat. Kalau dia gay, sangat sayang sekali."
"Apa jangan-jangan dia benar vampir? Ahh, aku jadi ingin digigit olehnya."
"Kalian semua ini memuji pria lain tampan di depanku." gumam Prothos.
"Tidak Oto, kalau untuk ketampanan kau yang paling tertampan. Jadi pacarku yuk."
Semua wanita lain yang mendengar bersorak tak setuju. Prothos hanya tersenyum sambil geleng-geleng kembali ke meja kasir.
Tidak berapa lama datang seorang pengunjung wanita yang hanya datang sendirian. Wanita berkacamata itu langsung duduk di salah satu meja yang berada di pojokan.
Prothos menghampirinya dan memberikan buku menu padanya. Prothos tidak kenal dengan wanita tersebut, ini pertama kalinya wanita itu mengunjungi café-nya. Namun sebenarnya wanita itu mengenal Prothos.
"Apa ini pertama kalinya kau kesini?" tanya Prothos.
Wanita itu mengangguk.
"Kalau begitu biar aku rekomendasikan menu terbaik kami." ujar Prothos langsung duduk di kursi meja wanita itu duduk. "Siapa namamu?"
"Wilda." tatap Wilda pada Prothos yang sibuk melihat menu.
Prothos tidak mengenali wanita itu, kalau sebenarnya dia adalah murid Widia yang melihat dirinya dan Widia berdua di minimarket.
Wilda memperhatikan Prothos yang menyebutkan menu-menu rekomendasinya. Sejak melihat Widia bersama dengan seorang pria di minimarket, Wilda merasa pernah melihat pria itu, dan dia menduga kalau pria itu adalah Prothos. Karena itu sejak hari itu, Wilda selalu memperhatikan Prothos di sekolah bahkan sekarang dia berani ke café untuk lebih memastikannya.
"Jadi mana yang kau pilih?" tanya Prothos menoleh.
"Ini dan ini." jawab Wilda menunjuk ke menu.
"Baiklah, Wilda. Tunggu sebentar ya. Kalau ada yang ingin di pesan lagi, kau bisa memanggilku." senyum Prothos.
Wilda terus memperhatikan Prothos dan semakin yakin kalau dia adalah pria yang bersama wali kelasnya.
Prothos masuk ke ruang ganti untuk beristirahat. Dia meregangkan tubuhnya di sofa yang berada disana.
"Arrghh, sekarang aku merindukan bu guru." gumam Prothos. "Ternyata aku baru merasakan sulitnya tidak memiliki handphone. Bu guru sedang apa ya?"
Tiba-tiba Wisnu masuk ke ruangan itu dan melihat Prothos yang duduk di sofa.
"Bu guru?" tanya Wisnu yang mendengar ocehan Prothos. "Kau merindukan gurumu?"
Prothos berpura-pura tertawa mendengar pertanyaan Wisnu.
"Pacarku sangat cerewet, dia selalu mengguruiku banyak hal, ini itu, harus ini harus itu. Makanya aku memanggilnya bu guru." ujar Prothos berbohong.
"Tidak aku kira pria sepertimu kuat berpacaran dengan wanita yang selalu mengatur-ngaturmu." seru Wisnu.
"Mana mungkin aku kuat." gumam Prothos dengan suara sangat kecil hingga Wisnu tak mendengarnya.
"Tapi bukankah aneh, kalau wanita secerewet itu kuat dengan pacarnya yang tidak memiliki handphone?" tanya Wisnu membuka lokernya. "Kau memang aneh, jaman sekarang tidak memiliki handphone. Bagaimana kalian berkomunikasi?"
"Aku akan langsung menemuinya saat aku ingin bertemu." jawab Prothos.
"Lalu pacarmu? Apa dia juga akan menemuimu saat ingin bertemu?"
"Tidak. Aku yang selalu menemuinya di tempatnya." ucap Prothos.
"Aneh." gumam Wisnu.
...***...
Lion menemani Athos berlatih memukul golf. Dia hanya duduk dan memberikan teorinya saja pada Athos.
"Memukul dalam golf bukan seberapa kuat kau memukul bola dengan club, tapi teknik memukul yang benar akan membuat pukulanmu bagus." seru Lion, dimulutnya terselip tusuk gigi. "Tekuk sedikit lututmu dan buka kakimu selebar bahu."
Athos mengikuti perkataan Lion.
Lion membuka sebuah pesan.
Hasilnya sudah keluar. Semua seperti yang kau bilang.
Lion langsung menghubungi orang yang mengiriminya pesan.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengirimkan foto-foto itu. Aku akan menepati janjiku untuk menghancurkannya." ujar Lion dengan senyum mengembang.
...***...
Widia berada di apartemen-nya sedang bersantai di tempat tidur setelah kembali sehabis berbelanja. Dia membuka handphone-nya dan melihat-lihat galeri foto yang ada di handphone-nya. Sebagian besar adalah foto Prothos yang diambil secara diam-diam oleh dirinya.
"Aku tidak pernah menyangka akan memiliki pacar setampan ini." gumam Widia tersenyum melihat foto-foto Prothos. "Aku jadi merindukannya."
Tiba-tiba masuk sebuah pesan bergambar dari nomer yang tidak dikenal.
Widia terhentak hingga bangun dari posisi berbaringnya. Sebuah gambar yang dikirimkan seseorang saat dirinya dan Prothos ketika duduk bersama makan mie instan di minimarket tempo hari.
"Si- siapa yang mengirim ini?" tanya Widia terkejut. "Apa yang harus aku lakukan?"
...***...
Widia membuka matanya ketika bel pintu masuknya berbunyi. Dengan malas Widia mengambil handphone-nya dan melihat kalau saat ini baru pukul enam pagi.
Dengan langkah enggan Widia beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu.
"Kau pasti merindukan aku kan, bu guru?" tatap Prothos dengan senyum menawannya.
Widia langsung menarik masuk Prothos karena takut ada yang melihat kehadirannya.
"Kenapa kau kesini? Bagaimana kalau adikku ternyata menginap disini?" tanya Widia kesal.
"Kau tenang saja, semalam aku sudah memastikannya. Aku bertanya langsung pada Wisnu." jawab Prothos.
"Bertanya? Kau tidak memberitahunya kan tentang hubungan kita?"
"Tenang saja bu guru." jawab Prothos. "Aku datang sepagi ini juga untuk menghindari kalau saja hari ini adikmu akan ke sini."
"Kau benar-benar membuatku takut." ucap Widia.
"Aku baru pulang lari pagi, aku menumpang mandi ya."
"Ini bukan pertama kalinya kau menumpang mandi disini." jawab Widia langsung ke meja dapur untuk membuat minuman.
"Tapi ini pertama kalinya aku menumpang mandi setelah kita pacaran, bu guru." ujar Prothos mendekati Widia.
"Segera mandi sana, kau berkeringat." celetuk Widia. "Kau melanggar semua yang aku larang."
Prothos hanya tertawa sambil masuk kamar mandi.
Widia membuatkan sarapan sambil menunggu Prothos mandi. Dia mulai teringat mengenai pesan yang dikirimkan seseorang semalam padanya.
"Mandi pagi memang paling menyegarkan." ujar Prothos keluar dari kamar mandi.
Widia sudah duduk di meja bulat dengan makanan dan minuman sudah tersedia disana.
"Duduklah, dan sarapan." ucap Widia.
Prothos langsung duduk di hadapan Widia.
"Ah, ini terlihat sangat lezat." Prothos mulai memakan sarapannya yang berupa nasi goreng. "Kau tidak sarapan?"
"Aku tidak terbiasa sarapan sepagi ini." jawab Widia meminum teh hangatnya. "Lihatlah ini."
Widia menyodorkan handphone-nya ke hadapan Prothos. Prothos mengambilnya dan melihat apa yang ingin Widia tunjukan padanya.
"Semalam ada nomer tak di kenal mengirim foto tersebut." ucap Widia. "Apa ada yang tahu tentang hubungan kita? Apa dia akan mengancam kita atau orang itu akan membocorkan hubungan kita ke sekolah?"
"Perbuatan siapa ini? Apa murid yang bertemu disana saat itu?" tatap Prothos.
"Tidak mungkin. Dia anak yang baik dan kemarin dia tidak melihatmu." jawab Widia. "Lalu bagaimana sekarang? Kita harus apa?"
"Tenanglah, akan aku pikirkan." ujar Prothos memegang tangan Widia. "Kau tidak perlu khawatir."
"Kalau orang itu membocorkan hubungan kita, aku bisa dipecat dan kau pun bisa-bisa akan dikeluarkan dari sekolah juga."
"Tenanglah Widia, aku akan memikirkannya dan mencari orang iseng ini." seru Prothos mencium tangan Widia. "Kita tidak bisa berbuat apapun sebelum tahu siapa pelakunya."
"Apa kau punya seseorang yang kau curigai?" tanya Widia.
"Ya, sepertinya ada." jawab Prothos.