MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Perkelahian Saudara Kembar



Taman dimana Prothos dan gurunya Widia sangat sepi, tak ada siapapun di tempat itu, akan tetapi karena taman tersebut berada di tengah kota, di sekelilingnya banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang.


Widia yang memeluk Prothos melupakan statusnya yang sebagai seorang guru karena dengan gerakan spontan, dia melakukannya.


Untuk sesaat gadis itu memeluk muridnya, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Bu guru, kenapa kau memelukku?"


Pertanyaan Prothos menyadarkannya, gadis itu segera menjauh dan berbalik badan tidak berani menatap wajah muridnya yang tampan itu, karena malu.


Prothos tersenyum di balik punggung Widia, karena sesaat tadi hatinya merasa ketenangan saat gurunya memeluknya hangat.


"Aku pergi." ujar Widia setelah itu menaiki motor sekuternya dan pergi meninggalkan Prothos.


Prothos membuang napas dan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


"Aku pasti sudah gila." ucap Prothos menatap langit malam.


...***...


Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Langit tampak mendung dengan awan hitam bergerombol berkumpul di atas kota. Beberapa menit lagi pasti akan turun hujan.


Melody masuk ke kamarnya sehabis mengantar ayah, paman dan kakek pergi, tiba-tiba terdengar sesuatu di jendela, dengan cepat Melody bangkit berdiri dan melihat keluar jendela kamarnya.


"ES MELON!!" teriak Lion yang berada di beranda kamarnya.


Melody terkejut melihat Lion kembali membuka tirai kamarnya dan memanggilnya seperti dulu. Dia merasa senang, akan tetapi dia menyembunyikan rasa senangnya itu dengan memasang tampang kesal.


"Dengar ya, mulai sekarang aku akan kembali mengganggumu bahkan aku akan lebih sering mengganggumu! Aku tidak akan peduli siang atau malam, aku akan terus mengganggumu sampai kau kalah dan pindah dari kamarmu itu!!"


"Aku tidak peduli!!" jawab Melody.


"Kau pasti akan segera pindah kamar!!" ucap Lion.


"Diam kau!!" seru Melody kesal setelah itu menutup tirai jendela.


"Kau menutup tirai jendela apa itu berarti kau mengaku kalah?" ujar Lion. "Baiklah, ternyata mudah sekali mengalahkanmu!!"


Melody kembali membuka tirai jendela, "Siapa yang bilang aku mengaku kalah?!" ucapnya kesal. "Aku tidak akan menutup tirainya dan tidak peduli itu malam sekalipun! Jika di antara kita menutup tirai itu berarti dia mengaku kalah, bagaimana?"


"Baik, aku setuju." jawab Lion tersenyum skeptis. "Yang kalah harus mengabulkan keinginan yang menang ya!! Apapun itu, yang kalah harus menurut! Bagaimana?"


"Apapun? Tapi jangan minta yang macam-macam ya, seperti biaya jalan-jalan keliling dunia atau makan gratis selama setahun." ujar Melody.


"Kalau begitu aku akan minta tiket menonton pertandingan El Clasico.”


"Itu juga tidak termasuk!!" seru Melody.


Lion tertawa mendengarnya,


"Aku hanya bercanda" ucapnya. "Baiklah, mulai sekarang siapapun yang menutup tirai jendela berarti mengaku kalah dan harus mengabulkan keinginan yang menang." ujar Lion menjelaskan. "Kau pasti kalah Melon!!"


...***...


Widia melihat salah satu grup chat di sekolahnya, salah seorang muridnya memposting kejadian semalam yang dialami Prothos.


Seseorang merekam kejadian itu dan menyebarkannya ke grup sekolah.


"Ternyata dia memang sedang sedih tadi malam." ucap Widia mengingat wajah Prothos saat di taman. "Gadis SMA ini memang sangat keterlaluan. Kalau aku di sana, pasti aku juga akan melakukan apa yang dilakukan Melody."


Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik.


"Kenapa harus hujan disaat aku mau ke laundry?" gumam Widia kesal melihat ke jendela apartemen-nya. " Kalau begini aku harus jalan kaki."


...***...


Aramis beranjak dari posisi tidurnya ketika melihat sebuah pesan yang dikirimkan salah seorang temannya. Matanya benar-benar terbuka lebar dan rasa kantuknya menghilang padahal semalaman dia bergadang. Dan baru tidur pukul enam, sedangkan saat ini baru jam sembilan pagi.


Dia langsung bergegas keluar kamarnya dan menuju kamar Prothos. Tanpa mengetuk pintu, Aramis langsung membuka pintu kamar kembarannya tersebut.


"Kau ingin bilang tentang kejadian semalam yang sudah viral itu kan?" tanya Prothos yang duduk di kursi meja belajarnya dengan laptop yang menyala. "Aku sudah tahu."


"Bukan itu." jawab Aramis lalu menunjukan sebuah foto yang dikirimkan temannya tersebut ke Prothos.


Prothos langsung merampas handphone Aramis dan berjalan keluar segera. Dia terlihat marah. Aramis mengikutinya dari belakang. Melody keluar kamar saat mendengar teriakan Prothos.


"ATO!!" teriak Prothos memanggil kembarannya.


"Sebentar lagi aku sampai setelah membeli makanan untukmu." suara Tasya terdengar di ujung telepon.


"Sudah aku bilang, kau tidak perlu membeli makanan atau apapun saat ke rumahku." jawab Athos.


Prothos muncul bersama Aramis. Tatapan Prothos pada Athos tampak tajam.


"Aku tutup dulu teleponnya."


Prothos menjulurkan tangannya memperlihatkan sebuah gambar yang ada di handphone Aramis pada Athos, setelah Athos menutup telepon.


"Putus dengannya sekarang juga!!" ujar Prothos dingin.


Athos melihat foto tersebut adalah Tasya bersama seorang pria sedang berciuman. Athos tahu kalau pria itu adalah Dion, tunangan Tasya.


Melody memperhatikan ketiga kakaknya dari lantai atas.


"Dia mengkhianatimu!! Kau harus berpisah dengannya sekarang juga." seru Prothos.


Athos menatap Prothos dan mencari kata yang tepat untuk dia ucapkan pada kembarannya itu.


"Ini tidak seperti yang kau kira." ucap Athos. "Aku percaya padanya."


Prothos tertawa muak menatap kembarannya.


"Sepertinya kau sudah buta karena mencintainya." tatap Prothos menarik Athos menatapnya dekat. "Aku bilang putus dengannya sekarang juga!!"


Aramis hanya diam saja melihat kedua kembarannya itu berbicara. Dia tidak mengerti sama sekali dengan masalah ini. Melody yang menonton di lantai atas mencemaskan mereka.


"Jangan ikut campur masalah ini!!"


"Kau adalah saudaraku, bagaimana bisa aku membiarkan seorang wanita mengkhianatimu?" kata Prothos sangat geram pada Athos. "Aku mohon padamu, berpisahlah dengan Tasya, Ato." lanjut Prothos menahan emosinya dan melepaskan Athos.


"Sudah aku bilang, ini tidak seperti yang kau kira. Aku akan meminta penjelasan Tasya nanti, tapi aku percaya padanya." ucap Athos.


Tiba-tiba Prothos meninju wajah Athos.


"Oto, jangan begitu!! Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik!!" seru Aramis.


"Kau juga salah, bodoh!!" ujar Athos yang tersulut emosi setelah Prothos meninjunya. "Kenapa kau tidak menanyakannya dulu padaku dan malah memberitahu si bodoh ini?" tatap Athos ke Aramis.


"Apa kau bilang?" tanya Aramis yang mudah terbakar emosi. "Kenapa sekarang kau menyalahkan aku?"


Melody semakin panik, sekarang ketiga kakaknya sersulut emosi semua. Sedangkan saat ini ayah, paman Ronald dan kakek tidak ada di rumah.


"Seharusnya kau berpikir kalau lebih baik bertanya langsung dulu kepadaku!! Aku lupa, tidak mungkin si bodoh ini bisa berpikir seperti itu." ucap Athos menatap Aramis.


"Jangan mengalihkan pembicaraan!!" seru Prothos menarik Athos lagi.


Tanpa di duga, Aramis malah memukul Prothos.


"Kenapa kau malah memukulku?" geram Prothos pada Aramis.


"Semua ini salahmu, biarkan saja si bodoh ini menderita karena cintanya pada gadis itu." jawab Aramis. " Kenapa kau harus ikut campur?"


Prothos membalas pukulan Aramis.


"Apa kau serius dengan ucapanmu? Kau memang bodoh, tapi kenapa kau tega membiarkan saudaramu menjadi korban pengkhianatan?"


Athos meninju Aramis karena merasa pertengkaran ini disebabkan karena kembaran terkecilnya yang tidak bisa berpikir sebelum bertindak.


"Ini salahmu, Ars!!"


"Jangan mencari kambing hitam!!" seru Prothos memukul Athos sekali lagi. "Saat ini kau buta karena cintamu padanya jadi kau tidak melihat sebuah pengkhianatan dimatamu!!"


Pada akhirnya mereka bertiga berkelahi.


Melody hanya bisa menangis dan tidak tahu bagaimana menghentikan mereka karena dia sangat ketakutan. Yang terpikirkan olehnya hanya meminta bantuan Lion.


"Lion..."


"Melon, kenapa menangis?" tanya Lion menjawab telepon.


"Tolong aku, mereka bertiga berkelahi."