MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Balon Ulang Tahun



Lion berhenti di depan sebuah toko perlengkapan pesta. Dia tidak mau memikirkan lagi apa yang diperbuat Anna padanya, walau sebenarnya dia sangat kesal. Karena Anna dia tidak jadi ikut pergi mendaki gunung bersama Kevin dan yang lainnya. Dan sekarang dia sama sekali tidak punya kerjaan di hari ulang tahunnya.


Lion turun dari motornya dan berjalan masuk ke toko tersebut.


Tidak berapa lama Lion kembali ke rumahnya dan langsung berganti pakaian dengan gayanya yang seperti biasa. Neneknya merasa aneh karena Lion kembali sangat cepat padahal dia bilang akan mendaki gunung dan akan pulang besok.


"Kenapa kau sudah kembali?" tanya neneknya heran saat Lion turun dari tangga.


"Tiba-tiba aku tidak ingin mendaki gunung, nek. Disana tidak ada toilet, itu akan sangat merepotkan untukku." jawab Lion dengan sebuah bungkusan plastik di tangannya


Lion berjalan ke taman yang tidak terlalu besar di belakang rumahnya. Dia duduk di bawah rumput dan mengeluarkan sesuatu di dalam bungkusan yang dibelinya tadi.


Beberapa bungkus balon dikeluarkannya. Dia mulai meniup satu per satu balon tersebut dengan mulutnya, hingga beberapa balon warna warni sudah menggelembung.


"Kau sedang apa?" tanya Prothos yang tiba-tiba datang. "Kau benar-benar kurang kerjaan."


Lion menoleh pada Prothos yang berdiri dari arah luar menatapnya dengan wajah heran dan sebuah tawa kecil.


"Hari ini ulang tahunku, aku akan membuat pesta untuk diriku sendiri." jawab Lion santai. "Kenapa kau kesini? Mengganggu kesibukanku saja."


Prothos berjalan mendekati Lion yang awalnya berada di jarak sepuluh meter darinya. Lion kembali meniup balon-balonnya.


"Aku ingin meminta pendapatmu." jawab Prothos. "Kau kenal dengan teman sekelasmu? Namanya Wilda."


"Hhmm." jawab Lion masih meniup balon lalu mengikatnya.


Lion menoleh kembali pada Prothos.


"Kemarin kau datang ke kelas kami menemuinya, dan sekarang gosip berkembang di antara kalian berdua." ujar Lion mengambil sebuah balon lagi dan meniupnya.


"Dia tahu tentang hubunganku dengan Widia."


"Apa?" Lion tampak terkejut mendengarnya dengan berhenti meniup balon dan menatap Prothos.


"Buku yang aku kembalikan adalah jurnal pribadi miliknya. Di sana dia menuliskan kalau dia beberapa kali melihat aku dan wali kelasmu bersama. Walau di salah satu kalimat dia bilang itu bukan urusannya, tapi Widia khawatir kalau dia akan memberitahu pihak sekolah atau pun membocorkannya pada orang lain."


"Oto, aku tidak ingin ikut campur masalah rumit itu." ucap Lion sambil mengikat balon yang berhasil ditiupnya.


"Aku akan bicara pada gadis itu untuk memperingatkannya agar tidak membocorkannya. Aku hanya mau minta pendapatmu."


"Sudah aku bilang aku tidak ingin ikut campur."


"Widia sangat khawatir karena jika hubungan kami diketahui pihak sekolah, kami berdua akan dikeluarkan."


Lion tidak menanggapi lagi dan hanya meniup balon-balon yang jumlahnya sudah sangat banyak di taman. Prothos menjadi kesal dan dia langsung menginjak beberapa balon yang sudah menggelembung hingga lima balon pecah.


"Apa yang kau lakukan, bodoh?" seru Lion sambil menghalangi Prothos melakukannya lagi dengan melindungi balon-balon tersebut dengan tubuhnya.


Prothos tertawa melihat tingkah bodoh Lion.


"Pergilah, jangan ganggu aku." ucap Lion menatap Prothos kesal.


"Dasar bodoh, seharusnya kau membeli pompa balonnya sekalian." ujar Prothos.


Lion jadi tersadar, karena sebelumnya dia tidak terpikirkan untuk membelinya.


"Kau benar juga ya." jawab Lion.


Prothos hanya tertawa mendengarnya sambil berjalan ke arah luar.


"Oto." panggil Lion dan Prothos menoleh padanya. "Fokus saja pada hubunganmu, manusia itu gampang berubah hanya karena mendengar beberapa kalimat di waktu yang salah."


"Kau ini bicara apa." kata Prothos sambil kembali berjalan meninggalkan Lion.


Lion meniup balon terakhir berwarna putih namun balon tersebut pecah. Setelahnya dia merebahkan badannya ke rumput dan melihat langit yang sangat terik siang hari ini. Di sekitarnya penuh balon warna warni dengan jumlah sangat banyak yang selesai dia tiup.


...***...


Athos bersama ayahnya, Leo sibuk memasak dengan Melody membantunya ketika waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Prothos hanya duduk di meja makan sambil membaca buku pelajarannya.


Hari ini adalah hari ulang tahun ayah, hari yang sama dengan hari ulang tahun Lion. Setiap tahun mereka selalu merayakan bersama dengan makan malam di rumah Melody.


"Kenapa akhir-akhir ini Lion tidak datang ke rumah?" ucap Leo sambil sibuk memasak.


Tak ada yang menjawab, ketiga anaknya tidak ingin menjawabnya. Ayah mereka langsung mengambil handphone-nya dan menelepon Lion.


"Lion, datanglah kita akan merayakan ulang tahun bersama seperti tahun-tahun sebelumnya." ucap Leo pada Lion di telepon.


"Maaf, ayah, tahun ini aku mau merayakan sendiri saja, aku sudah menghias kamarku dengan sangat bagus jadi aku tidak mungkin meninggalkannya." jawab Lion sambil memperhatikan setiap sudut kamarnya yang sudah selesai dia dekorasi dengan ornamen-ornamen ulang tahun.


"Datanglah, jangan merayakan ulang tahunmu sendirian." seru Leo.


"Paman, aku tidak sendirian, aku punya banyak teman yang merayakannya bersamaku."


"Benarkah? Baiklah kalau begitu." jawab Leo. "Selamat ulang tahun, Lion."


"Selamat ulang tahun juga untukmu, ayah." ucap Lion.


Leo menutup teleponnya dengan merasa aneh pada sikap Lion. Namun dia tidak terlalu memikirkannya lagi.


"Kami datang." seru Anna saat masuk bersama Aramis.


Anna langsung ikut membantu di dapur sedangkan Aramis duduk di meja makan di hadapan Prothos sambil memakan apel di meja.


Tidak berapa lama Tasya juga datang dan dia bersama Niko.


Semua mata langsung menatap kehadiran mereka terutama Athos.


"Kami hanya bertemu di depan." jawab Tasya tersenyum.


Niko melambaikan tangannya pada Melody yang menoleh ke arahnya. Melody hanya melihatnya tanpa merubah ekspresi di wajahnya.


"Kalian berdua duduklah dulu." seru Leo. "Sebentar lagi semuanya siap."


"Kau masih saja belajar di saat seperti ini, Oto." ujar Niko duduk di samping Prothos. "Sebaiknya kau jadi selebriti saat lulus nanti tidak perlu melanjutkan pendidikanmu. Kau akan cepat kaya."


Prothos menoleh pada Niko dengan senyum sinis.


"Sepertinya aku tidak perlu menanggapi ocehan dari orang yang tidak naik kelas dua tahun." ujar Prothos dingin.


Aramis terus menatap Niko dengan tajam. Niko melihat kearahnya dengan sebuah senyum.


"Bonnie, apa dia menjadi sangat lemah hingga harus berlindung padamu?" tanya Niko mencoba memancing amarah Aramis yang gampang tersulut.


Niko bertanya pada Anna yang sedang berada di dapur. Semua orang menatap Niko termasuk Leo.


"Kau bicara denganku?" tanya Anna. "Namaku Anna bukan Bonnie."


Tiba-tiba Aramis menendang kaki meja karena amarahnya sudah membuncah dan dia beranjak berdiri.


"Hentikan, Ars!!" seru Anna langsung memegangi pundak Aramis.


Aramis mencoba menahan emosinya dengan duduk kembali.


Sedangkan Niko tersenyum dengan menatap Aramis yang kesal.


"Niko, setidaknya jaga sikapmu." seru Tasya.


Leo hanya memperhatikan mereka berdua dan tidak ingin ikut campur jika keadaan tidak terlalu buruk. Sedangkan Melody menoleh, menatap apa yang terjadi di meja makan.


"Niko, seharusnya kau bersikap baik dan tidak memancing di air keruh. Kami bisa mengusirmu keluar." ujar Prothos menolah pada Niko.


Niko tersenyum skeptis pada Prothos.


"Aku rasa tidak begitu. Ingat Ars, kau masih berhutang sesuatu padaku. Aku bisa menagihnya kapanpun aku mau, dan aku pastikan kau akan membayarnya dengan sesuatu yang kalian anggap berharga."


Melody melihat perubahan ekspresi dari ketiga kakak mereka. Apa yang dikatakan Niko pasti bukanlah hal yang baik bagi mereka. Tetapi mereka semua menjadi diam saja dan membiarkan Niko berkata sesukanya.


...----------------...


LION





Visual Model :


Kim Tae-hyung a. k. a V (BTS)