
Seperti biasanya setiap hari sabtu atau minggu, setelah lari pagi, Prothos akan langsung menemui Widia di apartemennya. Biasanya mereka akan belajar dengan mencoba menjawab soal-soal sebagai persiapan ujian kelulusan Prothos.
"Kau tahu bu guru, saat ini nilaiku benar-benar sangat bagus. Aku yakin sekali kalau aku belajar sedikit lagi aku akan mengalahkan Ato dan menduduki peringkat pertama." Ucap Prothos.
"Belajarlah lebih giat lagi kalau begitu." Senyum Widia.
"Kalau tahu Ato yang jarang belajar membuatku sangat kesal. Padahal dibanding dengannya aku yang lebih sering belajar, aku selalu mencari kesempatan saat ada waktu luang untuk belajar tapi kenapa Ato yang selalu memiliki nilai sempurna. Dia benar-benar jenius."
"Benarkah? Aku pikir dia seorang kutu buku."
Prothos menggeleng. Itu semua adalah anggap yang salah. Banyak orang yang mengira seperti itu mengenai kembarannya tersebut namun nyatanya itu sebuah kesalahan besar.
"Kau ingin ku beritahu satu rahasia tentangnya bu guru?" Tatap Prothos. "Sebenarnya sebelum berpacaran dengan pacarnya sekarang, Ato sengaja membuat kesan kutu buku pada siapapun karena dia tidak ingin ada wanita yang mendekatinya. Dia itu sangat kaku dan alergi pada wanita. Dia takut untuk berhubungan dengan seorang wanita. Tapi sekarang dia sudah berubah semenjak berpacaran dengan Tasya. Dia semakin keren, ya walaupun tidak sekeren aku."
Widia tertawa mendengar ucapan Prothos.
"Tapi menurutku Aramis yang paling keren di antara kalian."
"Kenapa begitu?" Tatap tajam Prothos dengan kesal karena rasa cemburu.
"Setiap wanita pasti akan bilang dia keren karena dia sudah membuat kepastian tentang hubungannya dengan Anna."
Prothos terdiam mendengar perkataan Widia. Entah kenapa dia merasa tersindir dengan kata-kata gadis itu.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Kau jangan berpikiran macam-macam." Ujar Widia memegang lengan Prothos.
Prothos langsung menariknya berdiri dan langsung mencium kekasihnya itu. Akan tetapi entah bagaimana, pemuda itu tiba-tiba mengingat ciuman Wilda kemarin, dan merasakan perbedaannya. Ciuman gadis itu sudah sangat membekas untuknya. Prothos mulai dipengaruhi oleh ciuman gadis itu walau saat ini dirinya sedang menikmati bibir kekasihnya sendiri.
Prothos segera berhenti mencium Widia dengan merasa bersalah. Dia membuang mukanya dan tidak berani menatap kekasihnya.
"Ada apa?" Tanya Widia melihat ekspresi Prothos yang tampak kesal setelah menciumnya.
"Tidak apa-apa." Senyum Prothos.
Ciuman Wilda memengaruhinya sekarang, Prothos merasa sangat bersalah karena saat mencium kekasihnya dia malah mengingat ciuman gadis lain dan membandingkannya.
"Widi, aku sangat mencintaimu." Ucap Prothos memeluk Widia.
***
Lion berpakaian serba putih menunggangi kuda yang juga berwarna putih, sedangkan Niko sebaliknya, dia menggunakan pakaian serba hitam dan dengan kuda hitam juga. Mereka saling kejar-kejaran dan memacu kuda mereka saling beriringan
Tidak berapa lama mereka turun dari kuda mereka masing-masing setelah hampir dua jam menungganginya.
"Maaf ya Toni, aku lama sekali datang menjengukmu." Ucap Lion mengelus kuda miliknya yang berusia tujuh tahun. "Kau tahu? Meganku dicuri orang, sekarang aku tidak punya siapapun. Apa kau bisa menemaniku? Kemanapun aku akan menunggangimu."
Niko hanya tertawa mendengar ocehan Lion yang sambil mengelus dan memeluk kuda miliknya. Tingkah aneh Lion memang sudah tidak dipungkiri lagi oleh siapapun.
Mereka berdua berjalan keluar dari area menunggang kuda bersama setelah menghentikan sesi berkuda mereka.
"Sebaiknya kita nikahkan mereka. Toni dan Debora, kudaku." Ujar Niko. "Biar kita benar-benar menjadi saudara."
"Maaf saja ya, Toni tidak suka dengan wanita yang lebih tua darinya." Jawab Lion memicingkan matanya pada Niko.
"Kau menyindir Nausha?"
"Aku tidak menyindir siapapun." Jawab Lion. "Aku juga mengerti maksud omonganmu tadi. Kau ini keterlaluan, usiaku baru 16 tahun tapi dipaksa berpacaran dengan wanita berusia 23 tahun. Astaga, kakakmu benar-benar seorang pedofil."
"Lalu apa ada wanita yang kau suka?" Tanya Niko. "Katakan padaku aku akan membantumu."
"Ada, tapi seseorang sudah merebutnya dariku." Jawab Lion setelah itu menghela napas.
"Siapa yang berani melakukannya? Dan siapa wanita itu?"
"Megan." Jawab Lion. "Mengingatnya membuatku ingin menangis lagi."
"Aku serius, Lion."
"Aku juga serius." Jawab Lion tak mau kalah. "Semua salahku karena tidak bisa menjaganya dengan baik."
"Kau bisa memakai salah satu motorku." Ujar Niko merangkul Lion. "Sepertinya aku juga tidak akan memakainya lagi karena tangan kiriku ini."
"Sialan kau, Niko!!" Seru Lion tampak marah. "Setelah kau mengambilnya dariku, kau pikir kau bisa menggantinya begitu saja?" Tatap Lion dingin.
"Ada apa denganmu? Aku tidak mengerti perkataanmu."
"Maaf, karena frustasi kehilangan Megan aku jadi berpikiran yang macam-macam padamu. Aku menduga kalau kau yang juga mengambil Meganku."
Niko tertawa mendengar ocehan Lion yang terdengar sangat membingungkannya.
"Lion, apa maksudnya dengan kata juga?" Tatap Niko.
***
Prothos kembali dari apartemen Widia saat jam satu siang. Saat turun dari taksi di depan rumahnya, dia melihat Lion yang juga baru pulang sehabis berkuda dengan Niko, berjalan melewati rumahnya.
"Lion, aku dengar motormu hilang?" Tanya Prothos saat Lion berjalan mendekatinya.
"Kau benar." Jawab Lion. "Sudah jangan membahasnya lagi, aku benar-benar sangat sedih dan ingin menangis kalau mengingatnya. Padahal aku selalu menjaganya dengan baik selama ini, tapi dia pergi dariku."
"Apa yang kau katakan?" Tanya Prothos. "Sebenarnya motormu dicuri atau bagaimana?"
"Ya, seseorang mencurinya dariku karena kebodohanku." Jawab Lion. "Aku sangat kehilangannya sekarang."
Prothos mencerna perkataan Lion. Semua yang dikatakan Lion bukan mengenai motornya. Dia sangat yakin sekali pada hal itu.
Prothos tertawa mendengar semua ocehan Lion yang dia mengerti.
"Kenapa kau malah tertawa?" Protes Lion kesal. "Kalian semua sama saja, padahal aku selalu membantu kalian, tapi kalian tidak berbuat apapun saat ini untukku. Seharusnya kau membantuku membawa kembali Megan, dan menghajar orang yang sudah mengambilnya dariku, dan jangan menertawakanku."
Prothos masih tertawa sambil meninggalkan Lion masuk ke dalam rumahnya.
"Sekarang kau malah meninggalkan aku juga!!" Seru Lion kesal.
***
Prothos langsung masuk ke kamar dan memikirkan apa yang saat ini mengganggu pikirannya sekembalinya dari tempat Widia.
Dengan perasaan yang sangat bersalah Prothos duduk di kursi meja belajarnya. Dia melihat kacamata pemberian Widia di atas mejanya, dia teringat dengan perkataan Tasya kemarin yang mengatakan seolah-olah dirinya memakai kacamata tersebut untuk menyamai penampilan Wilda yang berkacamata. Itu membuatnya semakin kesal.
Prothos langsung memasukan kacamata tersebut ke laci meja belajarnya dan tidak berniat memakainya lagi. Dia tidak ingin siapapun berpikir sama seperti yang dikira Tasya.
Drrrttt drrrtt
Handphone yang ada di atas meja menampilkan notifikasi dari Wilda. Dengan enggan Prothos membukanya.
Sebuah foto dirinya tadi saat keluar dari gedung apartemen Widia sedang menunggu taksi.
Aku kira kau akan langsung ke tempatku, kak. Padahal aku berharap begitu karena setelah kejadian kemarin aku ingin melanjutkannya lebih jauh bersamamu.
Membaca pesan dari Wilda membuat Prothos semakin kesal. Dia sama sekali tidak mengira kalau gadis berpenampilan yang terlihat tampak polos itu sesungguhnya bertolak belakang dengan aslinya.
Prothos mendapatkan satu pesan lagi dari Wilda.
Kau bisa datang kapanpun ke tempatku. Aku akan menantikanmu, kak. Aku yakin kau pun ingin melakukannya denganku kemarin.
"Gadis itu sangat keterlaluan!!" Geram Prothos.
Tiba-tiba Athos membuka pintu kamar Prothos tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Prothos terkejut dengan kehadiran kembarannya tersebut.
"Ada apa?" Tatap Prothos.
Athos berjalan masuk dan duduk di sisi tempat tidur untuk berbicara sesuatu pada Prothos.
"Kau sudah membeli handphone lagi?" Tanya Athos melihat handphone digenggaman Prothos.
Prothos tidak menjawab dia hanya tersenyum simpul.
"Menurutmu apa yang harus kita lakukan untuk masalah Melo?" Ujar Athos menatap Prothos. "Ayah disana selalu menelepon dengan khawatir. Dia bilang Melo selalu mengiriminya pesan dan bilang sangat merindukannya."
"Merindukan siapa?" Tanya Prothos.
"Ayah." Jawab Athos karena heran pada pertanyaan Prothos.
Prothos tertawa kecil karena dia tahu yang sebenarnya. Adik perempuannya itu tidak sedang merindukan ayah mereka, tetapi orang lain.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Biarkan Melo berbuat apa yang dia mau. Saat sudah tak dapat menahannya dia pasti akan berhenti. Masalahnya ada pada bocah aneh itu."
"Apa maksudmu?"
"Mereka berdua sama saja. Yang satu merindukannya dan yang satu merasa kehilangannya. Aku tidak habis pikir pada mereka berdua, kenapa mereka tidak jujur saja? Mereka berdua itu sebenarnya saling mencintai tapi entah kenapa seperti itu."
"Maksudmu—"
"Lion dan Melo." Jawab Prothos.
...@cacing_al.aska...