
Prothos yang berjalan keluar dari ruang ganti memperhatikan sekeliling cafè, Cafè sangat sepi hari ini, hanya ada 2 meja yang terisi oleh masing-masing dua dan tiga pengunjung.
"Hari ini benar-benar sepi."
"Sejak tadi tidak ada pengunjung lagi yang datang." Athos menanggapi perkataan Prothos sambil jalan mendekatinya yang berada di balik meja kasir".
Tiba-tiba segerombolan wanita memasuki café, salah satunya adalah seseorang yang ingin dihindari Athos.
Athos terkejut dan tampak kebingungan.
"Ada apa?" Prothos bertanya aneh melihat tingkah kembarannya.
"Kalau ada yang mencariku, bilang saja aku tidak ada." seru Athos. Lalu secepat kilat melesat masuk ke ruang ganti yang terletak di belakang meja kasir.
"Dimana Ato?" tanya seorang wanita berpakaian modis ketika Prothos memberikan menu pada segerombolan wanita yang baru masuk tadi.
"Kenapa kau selalu mencari Ato, Tasya? Ada aku disini, lihat, aku lebih tampan kan dari Athos?"
"Sorry ya, aku tidak suka playboy!!" ucap Tasya ringan. "Apa Ato tidak cerita padamu?"
"Cerita apa?"
"Aku dan Ato sudah resmi berpacaran." senyum riang Tasya.
Seketika beberapa gadis pengunjung di meja lain menatap kepada Prothos dan Tasya. Terdengar suara-suara protes dari gadis lainnya.
"Tenang tenang... ini pasti salah paham." ujar Prothos. "Kalian pilih menu dulu nanti aku kembali."
Prothos langsung bergegas masuk ke ruang ganti dimana Ato bersembunyi. Ato yang duduk risau segera menghampiri Prothos, sedangkan Aramis yang sedari tadi tidur masih saja belum bangun.
"Bagaimana? Pasti Tasya mencariku 'kan?" Ato tampak penasaran.
"Apa benar kalian pacaran?" selidik Prothos.
Athos hanya menepuk dahinya dengan tangan kanannya, sedangkan Aramis langsung membuka mata.
"Kau tahu kan, ayah melarang kita memacari pengunjung tetap di cafè?" Prothos melotot pada kembarannya yang tampak bodoh. "Aku yang seperti ini saja tidak pernah memacari salah satu dari mereka."
"Tidak, itu semua salah paham." terang Athos. "Tasya terus saja menghubungiku dan memintaku agar setuju berpacaran dengannya, karena merasa terganggu dan tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja. Aku pikir dia akan berhenti menghubungiku, ternyata dia malah lebih sering menghubungiku."
Prothos tertawa mendengar cerita polos kembarannya.
"Kemarin malam aku kelelahan disaat dia mendesakku, makanya aku iyakan tanpa pikir lagi."
"Dasar bodoh!!"
Aramis yang mendengar kedua kembarannya berbicara langsung bangkit berdiri. Berjalan menuju pintu keluar.
"Kau sudah bangun? Jangan buka pintunya!" seru Athos.
"TASYA, ATO BERSEMBUNYI DISINI." teriak Aramis saat membuka pintu.
Athos langsung menarik Aramis dan menutup mulutnya, namun Tasya sudah mendengar, dan gadis itu langsung bergegas ke ruang ganti.
"Kenapa kedua kembaranku ini bodoh?" keluh Prothos.
"Ato..." panggil Tasya dengan senang langsung memeluk Athos. "Kenapa kau harus bersembunyi?"
Semua mata pengunjung menatap ke arah ruang ganti karena penasaran dengan yang terjadi. Prothos langsung menutup pintu.
"Ta... Tasya... tunggu dulu!!" Athos melepas pelukan gadis yang tergila-gila padanya.
"Tasya, dengarkan aku." ucap Prothos. "Kau tahu kan kalau kami tidak boleh berpacaran dengan pengunjung café?"
Tasya mengangguk
"Ada 2 pilihan untukmu." ucap Prothos. "Berpura-pura ini semua salah paham tapi kalian masih berpacaran atau kau berhenti datang ke cafè." lanjut Prothos. "Jika kau berpura-pura kalau ini semua salah paham, kau boleh datang ke sini kapanpun namun harus menahan diri untuk tidak terlihat kalian berdua berpacaran. Dan jika kau pilih berhenti datang ke sini maka jadilah pacar yang baik. Ingat! Saat di cafè, kami bukan pacar siapapun."
Tasya terdiam dan berpikir sejenak.
"Tu... tunggu... tapi ini itu memang..."
"Baiklah, aku akan berpura-pura ini semua salah paham." senyum Tasya. "Oke, aku akan keluar dan berpura-pura sedih karena kesalahpahaman ini. Ato, nanti malam telepon aku ya." lanjut Tasya setelah itu keluar ruangan.
"Tunggu dulu..."
"Diamlah Ato!!" Potong Prothos pada Ato yang sejak tadi tak dapat jatah bicara. "Kau bisa mengacaukan semuanya lagi."
"Tapi kenapa harus berpura-pura kalau ini salah paham?" Aramis yang dari tadi duduk, bangkit berdiri dan menghampiri kedua kembarannya. "Bukannya ini memang salah paham?"
"Kau ingin ayah membunuh kita karena kehilangan satu pelanggan karena melanggar peraturan?" Prothos menatap mereka berdua. "Wanita itu memiliki hati yang lembut. Kalau kita bilang ini salah paham dan membuat Tasya kecewa, dia tidak akan datang lagi ke sini." terang Prothos. "Aku juga yakin Tasya pasti akan memilih pilihan pertama."
"Lalu bagaimana denganku?" Athos kebingungan.
"Ini karena kebodohanmu!! Aku hanya bisa bilang, nikmati saja masa pacaranmu dengan Tasya, dan jangan sampai kau putus dengannya!!" tawa Prothos sambil keluar ruangan.
...***...
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Lion menghentikan motornya di depan sebuah restoran.
Melody tidak mengerti maksud Lion dan bingung kenapa dia berhenti tiba-tiba disini.
"Kenapa berhenti?" tanya Melody yang duduk di belakang Lion.
"Kau tidak tahu jam berapa sekarang?" Lion balik bertanya, membuat Melody semakin bingung. "Aku lapar."
"Kalau begitu cepat kita pulang, kau bisa makan setelah sampai di rumahmu."
"Sepertinya restoran ini mahal, kira-kira makanannya lezat tidak ya?" Lion tidak memedulikan perkataan Melody.
"Kalau lapar kenapa tadi tidak makan dulu di café?" Melody mulai kesal.
"Turunlah!!" seru Lion. "Aku ingin menagih janji, kau harus mentraktirku sekarang!!" lanjut Lion.
Melody memahami maksud Lion karena itu dia segera turun dari motor.
"Baiklah, aku tidak ingin kau terus merengek minta ku traktir." ejek Melody.
"Perutku lapar, aku tidak akan terpancing ejekanmu.' ujar Lion sambil membuka helmnya dan turun dari motor. "Megan, kau baik-baik ya di luar." ucap Lion pada motor miliknya. "Aku tidak akan lama."
"Kau semakin aneh saja."
"Ya ampun dingin sekali udaranya. ucap Lion dengan maksud menyinggung Melody yang memakai jaketnya. Jaket itu tidak gratis ya!!"
"Jangan minta bayaran pada apa yang kau tawarkan padaku!!" jawab Melody ketus setelah itu berjalan menuju pintu masuk meninggalkan Lion.
"Kenapa kau selalu membawa benda besar ini padahal bertubuh kecil. Merepotkan saja." seru Lion mengambil gitar yang di bawa Melody dan berjalan melewatinya lalu masuk ke dalam restoran.
Lion dan Melody duduk berhadapan di dalam restoran. Memesan makanan dan minuman untuk mengisi perut mereka.
"Aku lelah sekali." ujar Lion menyandarkan tubuhnya ke kursi setelah memesan makanan. "Oh iya Melon, besok kenapa café tidak buka?"
"Kak Ato bilang, café akan di renovasi." jawab Melody.
"Renovasi? Kenapa di renovasi?
"Akan dibuat panggung kecil." ucap Melody. "Kak Ato ingin agar aku menghibur pengunjung dengan gitarku."
"Apa? Itu bagus sekali. Kau jadi bisa memperlihatkan bakatmu pada banyak orang." seru Lion. "Kalau begitu aku akan bilang pada Ato agar mengijinkan aku untuk memperlihatkan bakatku juga di panggung itu." lanjut Lion tampak antusias.
"Kau hanya akan membuat pengunjung pergi." ejek Melody.
"Aku tahu kau akan bilang begitu." ucap Lion tampak kesal. "Kenapa kau semakin mirip dengan Ars." gumam Lion sambil menidurkan kepalanya di atas meja seperti kebiasaannya. "Menyebalkan!!"
Melody terdiam sesaat menatap Lion yang ada di hadapannya. Dia menimbang-nimbang sesuatu yang ada di pikirannya apakah akan dia tanyakan pada Lion atau tidak, namun saat ini hal itu mengganggu pikirannya dan membuatnya penasaran.
"Besok kalian mau kemana?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
"Besok kalian mau kemana? Apa maksudmu?" Lion tidak mengerti maksud Melody.
"Kau dan Sandra?"
Lion langsung mengangkat kepalanya dan menatap Melody, hal itu membuat Melody menjadi salah tingkah.
"Kenapa kau ingin tahu?" tanya Lion menatap tajam Melody. "Kenapa kau jadi benar-benar sangat mirip dengan Ars yang selalu ingin tahu urusanku hingga memaksaku untuk memberitahunya."
"Tidak, aku tidak seperti kak Ars, aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak memberitahu!" seru Melody.
Pelayan datang mengantarkan minuman, membuat perbincangan mereka terhenti sesaat.
"Menurutmu?" tanya Lion sambil menyeruput jus jeruk yang di pesannya.
"Kenapa kau bertanya menurutku padahal kemarin saat aku bertanya bagaimana menurutmu tentang keputusanku mengenai Felix kau balik bertanya padaku!!" teriak Melody sangat kesal sehingga beberapa pengunjung menatap kearah mereka.
"Kecilkan suaramu! Kau membuat aku malu!!" seru Lion. "Kenapa kau jadi cerewet seperti ini sekarang?" tanya Lion heran. "Kau yang diam dan dingin memang menyebalkan tapi tidak aku sangka kau yang cerewet dan berisik lebih menyebalkan." ucap Lion menatap Melody. "Ternyata adik dan kakak sama saja!! kau dan Ars, sangat mirip."
"Kau ingin tahu menurutku kan?" Melody semakin kesal. "Aku rasa kau hanya akan dipermainkan Sandra karena dia terlalu cantik untuk orang aneh dan bodoh sepertimu!!"
"Melon, kau jadi sangat menyebalkan!!"
"Tanya saja semua orang kalau tidak percaya!!" lanjut Melody. "Bahkan kak Ars saja bilang begitu kan?! Karena itu memang benar!! Kau dan Sandra sangat tidak cocok!!"
"Kau membuatku jadi kesal!!" tatap Lion kehilangan kesabaran. "Besok aku dan Sandra akan pergi dari pagi hingga malam untuk menghabiskan sepanjang hari bersama-sama. Aku akan perlihatkan padamu serta kakak tercintamu itu kalau pada akhirnya aku akan bersama Sandra!!"
"Itu tidak akan mungkin!!" gumam Melody dengan nada yang melemah.
"Kita lihat saja nanti."