
Dia pria yang tampan dan pemberani, aku mendukungnya.
Siapapun yang menyuruh mereka menghajar pria itu sangat keterlaluan. Pasti keluarga tunangan wanita itu yang menyuruhnya.
Dia hanya anak muda yang berjuang untuk cintanya. Beruntung sekali wanita itu mendapatkan lelaki sempurna seperti dia.
Dia semakin keren dengan wajah penuh luka seperti itu. Bibirnya yang luka jadi ingin ku cium biar sembuh.
Dia mantan ketua OSIS di sekolahku, namanya Athos, dia dan kedua kembarannya memang terkenal keren. Athos anak teladan yang pintar, sering memenangkan Olimpiade matematika dan selalu di peringkat pertama.
Si keren Ato memang luar biasa. Aku paling menyukainya dari kedua kembarannya. Tidak aku sangka dia sudah punya pacar. Oh iya, dia punya beberapa café.
Benarkah? Beritahu apa nama café-nya? Aku akan kesana hari ini juga. Dia sudah menjadi idolaku.
The Three Musketeers Café. Sekedar info, kedua kembarannya juga sama kerennya. Aku sudah sering ke Café mereka.
Itu benar. Mereka sudah terkenal di kotanya tinggal. Si pintar Athos, si tampan Prothos dan si kuat Aramis. Itu julukan mereka bertiga.
Aku akan memacari salah satu dari mereka. Apa kedua kembarannya sudah punya pacar?
Sepertinya belum. Prothos kembarannya terkenal playboy karena ketampanannya di atas rata-rata, tapi semenjak putus dengan mantannya yang terakhir tak ada kabar lagi kalau dia memiliki pacar. Sedangkan Aramis, dia tak tersentuh, maksudnya tak ada wanita yang berani mendekatinya karena tatapan tajamnya. Tapi itu daya tariknya.
Apa ada yang punya nomer handphone mereka? Beritahu aku, aku bayar berapapun.
Aku punya, tapi Prothos tidak punya handphone sekarang. Aku beritahu, kalian berani bayar berapa?
Athos berjalan sambil membaca komentar-komentar yang ada di video yang viral semalam.
"Mereka malah salah fokus." gumam Athos. "Pantas saja banyak nomer asing menghubungiku sejak semalam, sepertinya aku memang harus membeli handphone lain."
"Ato." panggil seorang murid perempuan, dia mantan sekertaris OSIS saat Athos menjabat sebagai ketua OSIS. Gadis itu juga yang dulu pernah memberikan surat pada Athos. "Aku mendukungmu. Pacarmu sangat beruntung."
Setelah itu murid perempuan itu pergi. Sepanjang perjalanan menuju ruang kepala sekolah banyak murid lain memberi dukungannya pada Athos dan berbisik-bisik mengenainya.
...***...
"Sepertinya kau tidak perlu khawatir lagi, Ato." ucap Anna berjalan bersama Ato setelah keluar dari ruangan kepala sekolah. "Tampaknya sekarang kau semakin terkenal setelah video itu."
"Ya, handphone-ku tidak berhenti-henti bergetar sejak semalam." ujar Athos.
"Apa-apaan ini? Banyak wanita yang menghubungiku. Dari mana mereka tahu nomerku?" ujar Aramis yang berjalan mendekati Anna dan Athos. "Aku akan beli nomer baru."
Anna tertawa mendengar keluhan Aramis dengan wajah kesal.
"Pergilah ke café, kemungkinan hari ini kita akan untung besar." seru Athos. "Aku juga akan menyuruh Oto ke café yang satunya."
"Lalu kau?" tanya Aramis.
"Aku ada urusan." jawab Athos lalu berjalan pergi.
"Heh, enak sekali kau memerintah sedangkan kau pergi entah kemana." protes Aramis kesal. "Aku minta bonus yang besar!!"
Seruan Aramis tidak digubris Athos yang berjalan terus.
"Arrgghh, aku harus segera membeli nomer baru." gumam Aramis melihat handphone-nya di telepon nomer tak di kenal.
"Pergilah ke café." ucap Anna.
"Kau ikut denganku!!" seru Aramis.
"Aku ada urusan lain." jawab Anna.
"Urusan apa?"
"Aku bukan pacarmu jadi aku tidak perlu memberitahumu!!" jawab Anna sambil berjalan pergi.
"Heh, kau itu anjingku!!" seru Aramis kesal pada Anna yang meninggalkannya.
...***...
Setelah itu berjalan keluar studio tersebut dengan wajah datar karena bosan.
"Kau sudah mau pergi?" tanya seorang pria yang merupakan pemilik studio musik tersebut saat melihat Lion keluar dari salah satu ruangan studio. "Kau baru datang sepuluh menit yang lalu."
"Maaf ya aku mematahkan salah satu stik. Saat sudah punya uang akan aku ganti." ujar Lion sambil jalan meninggalkan temannya itu.
Temannya itu hanya tersenyum geli mendengar ucapan Lion yang sambil berlalu begitu saja.
Lion kembali memasuki suatu tempat. Dia masuk ke sebuah coffee shop yang kemarin juga dia datangi. Dengan santai dia langsung duduk di salah satu kursi yang mejanya di hadapan meja kasir. Tempat yang sama seperti kemarin saat dia ke coffee shop tersebut.
"Aku pikir kau tidak akan kesini lagi setelah kemarin kesini." ujar Mona yang berdiri di balik meja kasir. "Kau tidak suka kopi, lalu kenapa kesini?"
"Aku suka padamu, makanya aku kesini." jawab Lion tersenyum bodoh.
...***...
Anna memasuki ruangan paman Ronald yang berada di rumah sakit di mana paman Ronald bekerja.
"Aku akan mengganti pengobatannya." ucap paman Ronald.
"Memangnya ada apa, paman?" tanya Anna yang hanya berdiri dan tidak duduk. "Aku sudah baik-baik saja."
"Sepertinya kau pun lupa kalau kemarin kau bilang padaku, kau jadi sering melupakan sesuatu." jawab paman Ronald.
Anna terdiam. Dia mencoba mengingatnya dan itu membuat kepalanya sakit. Namun dia mengingat ketika bagaimana dia melupakan Aramis waktu itu. Entah bagaimana saat itu ketika Aramis menariknya sebelum tertabrak motor dia tidak mengenali Aramis.
"Mulai minggu besok datanglah ke rumah sakit seminggu dua kali." seru paman Ronald. "Tapi pengobatan ini lebih keras sehingga ada efek sampingnya."
"Iya paman, aku mengerti." jawab Anna dengan wajah sayu. "Sudah aku bilang, aku akan mengikuti perkataanmu agar aku bisa sembuh."
"Anna, aku akan memberitahu Ars."
"Kau sudah berjanji padaku, kau harus menepatinya!!" seru Anna setelah itu pergi keluar ruangan.
...***...
Athos memasuki kantor ayah Tasya. Disana Presdir sudah menunggu di meja kerjanya. Athos berdiri di hadapan ayah dari wanita yang dicintainya.
"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan dengan semua yang kau lakukan." ucap Presdir. "Tapi aku tahu kalau semua video itu kau sendiri yang menyebarluaskannya."
Athos tidak menjawab, hari ini dia berniat untuk tidak berkata apapun pada Presdir.
"Bagaimana aku harus mengatakannya padamu?" tanya Presdir menghela napasnya. "Semua tindakanmu akan percuma, kau tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah pertunangan mereka. Kau anak yang luar biasa, kau bisa mencari gadis lainnya, dan aku rasa kau bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dari Natasya."
Athos tersenyum kesal sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan buang-buang waktu untuk permainan seperti ini. Aku dengar café yang kau kelolahpun berkembang sangat pesat, maka dari itu lebih baik kau fokus saja dengan masa depanmu."
"Jadi kapan?"
Presdir menghentikan kata-katanya mendengar perkataan Athos.
"Kapan Tasya akan dinikahkan dengan tunangannya?" tatap Athos tajam, akhirnya dia tidak bisa untuk tidak mengatakan apapun.
"Darimana kau tahu masalah itu?" tanya Presdir terkejut karena keputusan itu seharusnya menjadi rahasia kedua keluarganya, dan baru diputuskan semalam. "Kenapa kau tahu kami akan segera menikahkan mereka?"
Athos tertawa mendengarnya karena sebenarnya dia hanya menebak hal itu.
"Firasatku selalu tepat, mungkin hal itu juga yang membuatku seperti sekarang ini." jawab Athos. "Tapi tidak aku sangka kalau kau akan menjawabnya dengan pertanyaan pancingan itu, Presdir."
"Kau memang anak yang luar biasa, aku heran bagaimana ayahmu membesarkanmu seorang diri." ucap Presdir cukup terkejut. "Tapi aku rasa ini peringatan terakhirku untuk masalah ini. Kau membuat opini masyarakat agar mereka semua memihak padamu sehingga membuat kami tidak bisa berbuat apapun padamu. Di jaman sekarang ini menggunakan opini publik memang sangat efektif untuk semuanya. Jika kami salah langkah maka bisa saja kami kehilangan bisnis kami. Tapi kau tetap tidak bisa menghentikan rencana pernikahan mereka berdua."
"Kita lihat saja nanti."