MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Maaf Karena Mencintaimu



Widia bersama Selly hadir berdua di acara pertunangan sahabat mereka, Rara. Tanpa di sangka kalau Prothos juga hadir di acara tersebut menemani Tasya. Widia sebelumnya pernah melihat Tasya bersama dengan Prothos di dalam mobil, hal itu membuatnya menjadi semakin yakin kalau Prothos benar-benar mempermainkannya.


Prothos dan Widia saling tatap sesaat. Prothos masih merasa kesal pada gurunya tersebut karena tidak percaya dengan pernyataan cintanya, karena itu dia membuang mukanya dari Widia. Seolah-olah tidak memedulikan kehadiran Widia disana.


Widia hanya bisa tertegun dengan perlakuan Prothos tersebut. Entah kenapa hatinya begitu sakit saat ini. Padahal sejak Prothos bilang kalau dia mencintainya, Widia selalu meyakinkan dirinya kalau Prothos tidak serius dan hanya mempermainkannya.


Akan tetapi, kehadiran Prothos bersama wanita cantik di hadapannya, hatinya bagai tertikam sebilah pisau. Sangat menyakitkan hingga rasanya dia ingin menangis.


"Kau baik-baik saja?" tanya Selly berbisik pada Widia. "Wanita itu cantik sekali. Kau bukan saingannya."


"Aku ke toilet dulu." ucap Widia.


Prothos menoleh kembali pada Widia ketika gadis itu berjalan dengan mengusap airmatanya.


"Tasya, aku kira kau tidak hadir." sapa Zara teman Tasya menghampiri mereka. "Astaga, jadi pacarmu Oto?" ujar Zara melihat kehadiran Prothos bersama Tasya. "Pantas saja kau selalu datang ke TTM café, dan pulang saat akan tutup."


"Bukan, bukan." jawab Tasya. "Pacarku sedang bekerja dan aku meminta bantuan Oto untuk menemaniku." jawab Tasya.


"Benarkah?" tanya Zara memastikan.


"Itu benar. Aku hanya membantunya karena tidak ingin datang ke pesta ini sendirian." jawab Prothos tersenyum.


"Jika tahu begitu, seharusnya aku memintamu lebih dulu untuk menemaniku, Oto." tatap Zara manja pada Prothos. "Di hari tunangan kakakku malah aku datang sendiri tanpa pasangan."


"Lain kali aku pasti menemanimu." ucap Prothos membuat Zara tersenyum senang.


"Dimana Rara? Aku ingin mengucapkan selamat padanya." ujar Tasya.


"Sepertinya sedang masuk ke dalam." jawab Zara.


Prothos mengerti kenapa Widia juga hadir ke pesta ini bersama Selly. Semua itu karena Rara sahabat mereka yang bertunangan.


Di toilet Widia menghapus air matanya dan membenarkan riasannya. Dia merasa seharusnya dia tidak menangis dengan hal yang bagus. Dengan begitu, dia harus berhenti mencari alasan untuk menjawab pernyataan cinta Prothos.


Tiba-tiba handphone miliknya bergetar.


"Ada apa, Wisnu?" tanya Widia pada adiknya.


"Kau baik-baik saja? Kenapa suaramu bergetar?" ujar Wisnu di ujung telepon.


"Disini dingin." jawab Widia mencari alasan.


"Sampaikan ucapan selamatku pada Rara, aku harus lembur jadi tidak bisa hadir ke acara pertunangannya."


"Aku sudah mengatakannya, kau tidak perlu khawatir." jawab Widia.


Tasya berfoto dengan handphone-nya. Dia berniat mengirim foto tersebut pada Athos, kekasihnya. Karena terlalu sulit mengambil foto sendiri dia meminta bantuan Prothos untuk memotretnya.


"Oto, tolong ambil gambarku." seru Tasya pada Prothos memberikan handphone-nya.


"Kau ini." gumam Prothos malas namun tetap mengambil handphone Tasya.


Prothos memotret Tasya beberapa kali. Dan Tasya senang dengan hasilnya. Tasya langsung mengirimkannya pada Athos.


"Ya ampun, aku kesini cuma jadi tukang foto." gumam Prothos membalikan badannya dan melihat Widia yang kembali.


"Ayo kita foto berdua, Oto." tarik Tasya. "Aku akan mengedit wajahmu menjadi wajah Ato." bisik Tasya.


Widia melihat Prothos yang berfoto dengan Tasya, dia hanya memperhatikannya saja tanpa mau berpikir apapun.


"Mereka serasi sekali. Yang pria tampan dan yang wanita cantik. Ternyata kau benar Widi, anak itu hanya mempermainkanmu." ujar Selly.


"Ayo kita berfoto disana, lampu-lampu disana bagus sekali." seru Tasya menarik Prothos ke arah dekat dengan Widia dan Selly berdiri.


Prothos hanya menurut saja karena tidak fokus.


"Maaf, boleh minta tolong fotokan kami?" pinta Tasya pada Widia yang berdiri di dekat mereka.


Widia hanya tertegun karena Prothos menatapnya juga.


"Biar aku saja..." ucap Selly.


Widia langsung mengambil handphone Tasya sebelum Selly mengambilnya. Tasya langsung menarik Prothos dan merangkulnya.


"Tolong ambil dari atas hingga bawah ya." senyum Tasya.


"Terimakasih." ucap Tasya menerima handphone-nya. "Ahh ini lucu sekali... aku akan edit kepalamu dengan Ato."


Prothos heran mendengar Tasya tapi tak ingin menggubrisnya.


"Tasya, aku ke sana sebentar." ujar Prothos langsung berjalan karena Tasya sibuk dengan handphone-nya.


Prothos mengikuti Widia yang sendirian berjalan di pinggir kolam. Tiba-tiba seorang pramusaji tidak sengaja menyenggol Widia dengan nampan yang berisi minuman, Widia menghindar hingga hampir jatuh ke kolam jika Prothos tidak langsung memeganginya.


"Maaf maaf." ucap Pramusaji tersebut sambil lalu.


Widia menatap Prothos yang masih memegangi punggungnya, mata mereka bertemu.


"Ikutlah denganku." seru Prothos menarik Widia.


Mereka berhenti di dalam hotel yang sepi tak ada siapapun disana. Hanya mereka berdua.


"Untuk apa lagi berbicara denganku?" tanya Widia matanya mulai berkaca-kaca.


"Pasti kau berpikir kalau wanita..."


"Sudahlah, jangan ganggu aku lagi." potong Widia menitihkan airmatanya. "Aku rasa sudah cukup aku dipermainkan oleh semua pria. Setidaknya biarkan aku sendiri dan jangan muncul di hadapanku lagi. Aku lupa, kau memang seorang playboy, seharusnya aku tidak beranggapan kalau julukan itu salah dulu. Ternyata memang benar, aku yang salah. Jadi apa yang dikatakan mantanmu itu benar. Aku yang salah menilaimu."


Prothos terdiam mendengar perkataan Widia. Ucapan itu masuk ke hatinya.


"Baiklah, aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi." jawab Prothos menahan rasa sakit di hatinya. "Aku minta maaf karena mencintaimu."


Setelah berkata demikian Prothos berjalan pergi meninggalkan Widia yang menghapus airmatanya.


...***...


Aramis terbangun ketika Lion menghubunginya. Dia langsung mencari handphone-nya dan mengambil di atas meja.


"Ars, ayo main games." ujar Lion.


"Berisik!! Kau ganggu tidurku saja!!" seru Aramis setelah itu menutup teleponnya.


Aramis melihat saat ini pukul sepuluh malam, dan dia terkejut karena dia berada di kamar Anna. Dia tertidur sejak sore tadi disana.


Di bawah Anna yang masih bangun mendengar Aramis terbangun. Ketika Aramis membuka pintu kamarnya dia langsung berpura-pura tidur.


Setiap kali memikirkan perbuatan jahil yang dilakukannya pada Aramis membuatnya sangat ingin tertawa, karena itu dia berpura-pura tidur saja agar tidak melihat coretan spidol di wajah Aramis.


Aramis menuruni tangga dan melihat Anna sudah tertidur di sofa. Dia berhenti sebentar dan mengambil selimut di dekat Anna, lalu menyelimuti gadis itu.


Anna tidak berani membuka matanya, dan terus berpura-pura tidur. Tapi dia tidak mendengar pergerakan dari Aramis lagi, hingga sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Dia sangat terkejut hingga membuka sedikit matanya dan melihat Aramis mencium bibirnya. Seketika Anna menjadi keringat dingin dan bingung harus bagaimana.


Anna berpura-pura merubah posisi tidurnya, itu membuat Aramis langsung menjauh dan segera keluar dari rumah Anna.


"Berani sekali dia menciumku lagi." ujar Anna kesal, namun tersenyum setelahnya.


Prothos baru kembali dari pesta dan berbicara dengan Athos di meja makan.


"Aku tak akan mau lagi menemani pacarmu, Ato!" seru Prothos berdiri di hadapan Athos yang duduk di kursi meja makan dengan handphone-nya. "Dia hanya menjadikan aku tukang fotonya. Arrgghh... kenapa kau masih bertahan dengan wanita sepertinya?"


Athos memperlihatkan sesuatu di handphone-nya pada Prothos. Semua foto-foto yang di kirim Tasya bersama Prothos sudah si edit menjadi wajah ataupun kepala Athos.


Athos tertawa saat menunjukannya pada Prothos.


"Wanita itu parah sekali." gumam Prothos.


Tiba-tiba Aramis masuk ke rumah. Melihatnya Athos dan Prothos langsung tertawa. Aramis bingung kenapa mereka berdua tertawa saat melihatnya.


"Si bodoh ini." ucap Athos geleng-geleng.


"Ars!!" seru Prothos menunjuk cermin yang ada di ruang tamu.


Aramis mundur untuk berdiri di cermin dan melihat wajahnya penuh dengan spidol. Alis yang tebal, kumis melingkar, dan bulatan merah di pipinya.


"Sepertinya kau lebih tampan seperti itu." ejek Prothos tertawa.


"Awas saja kau, Anna!!" ancam Aramis kesal.